
Bab 38
Hafsah dan keluarga Ali mendatangi rumah sakit yang diberi tahu oleh pihak kepolisian tadi. Hati dia tidak menentu saat ini. Saat mereka sampai ke ruang UGD terlihat Ali sudah mendapatkan penanganan. Kepala di belut dengan perban, leher pakai penyangga, dan dia masih dalam keadaan tidak sadar.
"Dok, bagaimana keadaan suami saya?" tanya Hafsah ketika datang dokter.
"Pasien mengalami gegar otak ringan dan mendapatkan beberapa jahitan. Lalu, beberapa tulang rusuk retak begitu juga dengan tulang kering. Mungkin sementara waktu pasien harus menggunakan dulu kursi roda atau kruk selama proses penyembuhan," jawab dokter.
"Semua organ vital tidak ada masalah?" tanya Hafsah lagi masih dengan ekspresi khawatir.
"Alhamdulillah, Bu, semua tidak perlu dikhawatirkan. Tapi, tetap saja pengobatan akan banyak memakan waktu agar bisa pulih seperti sebelumnya," jawab dokter itu lagi.
Ruqoyah dan Alika menatap nanar ke arah Ali. Sarah dan kedua orang tuanya juga ikut menjenguk. Mereka juga merasa iba saat melihat keadaan Ali.
Malam hari hanya Hafsah yang menjaga Ali di rumah sakit. Sekarang laki-laki itu sudah dipindahkan ke ruang rawat.
"Sayang," panggil Ali dengan lemah saat membuka matanya.
"Bang," balas Hafsah dengan senyum tipis saat melihat suaminya sudah sadar.
"Ada yang mau abang ceritakan kepadamu," ucap Ali masih dengan suaranya yang lemah.
"Abang jangan banyak dulu bicara. Lebih baik istirahat agar cepat sembuh," kata Hafsah dengan tatapan nanar.
__ADS_1
"Tidak. Ini sangat sangat penting dan abang harus memberi tahu kamu," tolak Ali untuk mengikuti keinginan sang istri.
Tangan Ali memegang tangan Hafsah dan meletakkan di atas dadanya. Hafsah bisa merasakan detak jantung sang suami yang iramanya terasa stabil.
"Saat ini abang sedang mengalami kesulitan, karena kecerobohan abang sampai terjadi sesuatu yang bisa dicegah dan dihentikan," aku Ali dengan tatapan sendu kepada Hafsah.
Pasangan suami istri itu saling menatap. Hati Hafsah masih terasa sakit karena teringat kembali akan foto dan video suaminya dengan perempuan lain. Sementara Ali sedang merasa kekecewaan dan frustrasi karena kejadian itu sudah membuat dirinya dinilai buruk oleh kebanyakan orang. Dia tidak mau kalau Hafsah termasuk salah satunya.
Hafsah tahu maksud ucapan suaminya ini ke arah mana. Namun, dia memilih diam dulu biarkan suaminya melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri.
"Kemarin kamu tahu sendiri ada yang aneh dengan abang, 'kan? Dan kamu tahu kalau itu karena efek dari obat perang_sang," tanya Ali.
Hafsah tahu itu karena suaminya sudah menceritakan perasaannya semalam setelah mereka selesai bercinta entah ke berapa kalinya. Dia tahu kalau suaminya sedang berada di dalam pengaruh obat perang_sang kemarin.
Hafsah hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun. Mulutnya seakan terkunci untuk mengeluarkan suara.
"Akan abang ceritakan dengan lengkap dan detail. Jadi, dengarkan baik-baik," kata Ali dan Hafsah mengangguk.
Ali pun menceritakan sejak kedatangan Sarah dan ibunya ke kantor serta memaksanya untuk ikut makan siang bersama. Hafsah mendengar dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Sampai Ali mendatangi rumahnya untuk menuntaskan hasratnya kepada sang istri.
"Maafkan abang, Sayang. Sungguh tidak ada niatan untuk menyentuh wanita lain selain dirimu. Jika dengan memukul kedua tangan ini dan mulut ini bisa membuat kamu senang dan puas, lakukan saja. Abang ikhlas untuk mendapatkan hukuman asalkan kamu mau mempercayai abang dan tidak masuk ke dalam jerat fitnahnya," ujar Ali dengan derai air mata.
Hafsah pun mencium tangan Ali lalu mencium bibirnya. Sungguh dia ikut merasa sakit hati atas apa yang terjadi kepada suaminya. Dia berpikir kenapa ada orang jahat yang ingin memfitnah suaminya. Padahal laki-laki ini selalu berbuat baik dan tidak suka berbuat merugikan orang lain apalagi berbuat jahat.
__ADS_1
"Aku memaafkan itu semua karena ini bukan keinginan Abang. Aku bersyukur karena Allah masih menjaga Abang dari perbuatan yang lebih jauh lagi," balas Hafsah masih dengan berlinang air mata.
"Bantu abang untuk membongkar kebenaran dari fitnah ini. Sungguh seandainya penglihatan abang tidak kabur karena melihat Sarah seperti dirimu, tentu abang tidak akan pernah menyentuhnya atau menciumnya," pinta laki-laki itu kepada sang istri.
Hafsah pun akan mencari keberadaan dari beredarnya video itu. Dia juga menduga ini memang sengaja disebarkan untuk menggoyahkan kehidupan rumah tangganya.
***
Sarah tidak bisa tidur karena terus memikirkan Ali. Dia sedih melihat keadaan laki-laki yang dicintainya. Sungguh dia ingin segera bisa menikah dengan sang pujaan hati. Padahal dia mengira kalau hari ini dia dan kedua orang tuanya bisa menekan Ali untuk menikahinya. Namun, sesuatu yang tidak terlintas dalam pikirannya malah terjadi. Ali mengalami kecelakaan dan kini dirawat di ruang sakit.
"Sekarang aku harus bagaimana? Masa harus menunggu keluar dari rumah sakit dulu untuk melanjutkan masalah ini." Sarah terus meracau seorang diri.
"Kenapa aku berasa sia-sia sudah mengeluarkan banyak uang untuk membuat dan menyebarkan kejadian ini," lanjut Sarah bermonolog.
Sarah membayar beberapa orang mulai dari membeli obat perang_sang, menyewa restoran dan kamar hotel, menyogok petugas pengawas cctv hotel, makanan yang sangat mahal karena menginginkan bahan premium. Membayar orang untuk mengunggah video dan menyebarkan para netizen.
"Apalagi yang harus aku lakukan agar bisa mendapatkan Ali?" tanya Sarah kepada dirinya sendiri.
***
Apakah Sarah akan berbuat nekad demi mendapatkan Ali. Bisakah Ali membuktikan dirinya tidak bersalah karena semua ini adalah jebakan? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1