
Bab 39
Waktu terus berlalu, Ali pun sudah bisa pulang ke rumah. Ternyata efek dari beredarnya video membuat nama baik perusahaan tercoreng. Begitu juga dengan nama baik Ali yang kerap disebut-sebut sebagai laki-laki sholeh dan bertanggung jawab.
Ali dipanggil oleh Ghani untuk datang ke kantor. Dengan bantuan Hafsah sebagai sopir sekaligus pendampingnya, mereka mengunjungi perusahaan.
Hafsah setia berjalan di samping Ali dan akan membantunya jika dia mengalami kesulitan saat berjalan. Laki-laki itu berjalan masih menggunakan kruk karena belum bisa berjalan dengan lancar, tulang kakinya kadang terasa linu jika lama berdiri atau berjalan.
"Assalamualaikum," salam Ali begitu masuk ke dalam ruang kerja Ghani.
"Wa'alaikumsalam," balas laki-laki berparas tampan sambil tersenyum ramah.
Ali pun duduk dibantu oleh Hafsah. Ghani melihat kalau Hafsah begitu perhatian kepada suaminya. Dia saat ini merasa iri kepada Ali.
"Anda dipanggil ke sini karena kasus video itu. Seperti yang Pak Ali tahu, kalau skandal karyawan memberikan efek buruk bagi perusahaan maka dia akan dipecat," ucap Ghani dengan berat hati.
"Iya, Pak. Saya tahu akan konsekuensi itu," balas Ali.
Hafsah hanya terdiam sambil menunduk. Dia sedih karena suaminya akan kehilangan mata pencaharian yang selama ini sangat disukainya. Ya, Ali begitu nyaman dan suka bekerja di perusahaan ini. Namun, keadaan yang membuatnya harus kehilangan pekerjaan ini.
"Maafkan aku, Pak Ali. Ini sudah keputusan dewan direksi kalau Anda akan diberhentikan," kata Ghani dengan lirih dan ekspresi wajah sendu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Pak. Saya akan menerima keputusan ini dengan lapang dada," ucap Ali dengan senyum tipis.
Hafsah memegang tangan Ali untuk memberikan dukungan kepada suaminya. Dia sudah diberi tahu terlebih dahulu oleh Ali dahulu jika ada kemungkinan terburuk dalam karirnya di kantor gara-gara video itu.
"Anda masih berhak untuk mendapatkan gaji untuk bulan ini juga pesangon," ucap Ghani dan Ali mengucapkan banyak terima kasih.
Sebelum Ali pergi dari kantor itu dia meminta salinan rekaman saat Sarah dan Ruqoyah datang ke kantor pada hari naas itu. Ghani pun mengizinkan hal itu.
"Sayang, mumpung kita sedang keluar rumah, abang ingin mendatangi hotel tempat kejadian dahulu. Siapa tahu kita bisa mendapatkan rekaman cctv, kalau saat itu memang ada orang yang sengaja memasukan obat itu ke makanan atau minuman abang," kata Ali dan Hafsah pun mengikuti keinginan suaminya.
Ali dan Hafsah turun dari mobil dan tanpa sengaja melihat Sarah berjalan memasuki hotel. Tanpa membuang waktu Hafsah dan Ali mengikuti ke mana wanita itu berjalan.
Ali mengambil video pertemuan kedua orang itu. Siapa tahu itu bisa dijadikan bukti atau alat untuk menyerang balik Sarah. Kelihatan mereka berdua memang sudah kenal dekat. Sarah memberikan sebuah kertas atau amplop kepada laki-laki itu.
Ali yang sangat penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh mereka berdua, ingin sekali berjalan mendekati mereka. Namun, Hafsah mencegahnya karena takut terjadi sesuatu kepada sang suami.
"Bersabarlah. Mereka juga pasti nanti akan mendapatkan hukuman jika sudah berbuat jahat," bisik Hafsah sambil mengelus punggung suaminya.
Akhirnya Ali pun menurut ucapan Hafsah. Meski sebenarnya dia sudah emosi saat melihat Sarah yang sering berbuat licik. Selama ini Ali tidak pernah membenci orang lain, tetapi entah kenapa saat menghadapi Sarah sekarang ini membuat hatinya dipenuhi oleh emosi. Untung dia punya istri yang penyabar dan bisa menenangkan dirinya.
Hafsah membantu Ali bernegosiasi dengan pihak hotel untuk melihat rekaman cctv hari terjadinya insiden itu. Awalnya mereka menolak karena akan berimbas pada nama baik hotel. Namun, wanita itu meyakinkan kalau nama baik hotel akan tetap terjaga karena mereka tidak akan memberi tahu kepada publik. Setelah pembicaraan yang alot akhirnya pihak hotel mau membantu. Sebagai gantinya Ali harus bekerja di sana dan membantu mengelola hotel. Sebenarnya mereka menyukai Hafsah dan cara pandang wanita itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak Adam. Anda sudah memberikan kesempatan kepada saya meski keadaan tubuh saya seperti ini," ucap Ali dengan senyum bahagianya. Tadi dia sempat berpikir bagaimana caranya dia mencari rezeki untuk menafkahi keluarga.
"Berterima kasih juga kepada istri Anda, Pak Ali. Karena dia sudah membuka pikiran saya dan memberikan banyak ide untuk hotel ini," ucap Pak Adam selaku pemilik hotel.
Rasanya Ali ingin memeluk dan mencium istrinya saat ini juga. Betapa bahagianya dia memiliki pendamping hidup seperti Hafsah.
Hafsah sendiri merasa tidak menyangka kalau tawaran ide pikirannya untuk ditukar dengan rekaman cctv ini malah membuat peluang kepada Ali untuk bekerja di sini.
"Bang, kita mampir ke rumah makan Padang dulu, ya. Entah kenapa sejak semalam ingin sekali makan rendang dengan sambal ijo," kata Hafsah saat berjalan menuju parkiran.
"Iya. Mau makan di tempat atau di bawa pulang?" tanya Ali yang berjalan di samping sang istri.
Tiba-tiba ada sebuah motor yang melaju ke arah mereka. Ali yang melihat itu langsung membuang kruk-nya dan mendorong Hafsah agar tidak tertabrak.
"Awas!"
***
Apakah Hafsah dan Ali tertabrak? Akankah Sarah mengakui perbuatannya? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1