
Bab 44
Meski terasa berat Hafsah sudah mengambil keputusan. Dia pun melepaskan pelukan Ali.
"Bang, lakukan yang terbaik. Buat ibu bahagia, karena surgamu berada pada ibumu. Aku yakin Abang pasti bisa membahagiakan ibu. Jangan abang sia-sia waktu yang masih ada, jangan sampai menyesal," ucap Hafsah dengan tatapan tajam kepada Ali.
"Sayang …."
"Aku yakin Abang tahu mana yang terbaik yang harus dipilih," kata Hafsah tanpa ingin mendengar perkataan Ali lagi.
Bagi Hafsah, Ali sudah mengingkari janji yang sudah dia buat. Apalagi janji itu dengan atas nama Tuhan. Sekali mengingkari janji maka kedepannya akan ada lagi janji-janji yang akan diingkari olehnya.
"Hafsah sudah setuju kamu menikah dengan Sarah. Kamu jangan banyak pikir lagi, Ali. Persiapkan pernikahan kalian," tukas Ruqoyah.
Dokter dan perawat di sana sampai terdiam bisu. Keduanya merasa sangat iba kepada Hafsah. Sebagai wanita tentu saja keduanya bisa merasakan empati untuk wanita bercadar itu.
"Lakukan persiapan yang ibu minta, Bang," kata Hafsah lalu berjalan pergi menuju pintu.
Lagi-lagi Ali menghentikan langkah Hafsah dengan memeluknya dari belakang.
"Kamu tahu kalau Abang tidak menginginkan hal ini. Bagi abang kamu adalah satu-satunya belahan jiwa sampai akhir nanti," ucap Ali.
"Tadi kalian bilang aku jangan egois. Maka aku pun Abang jangan egois. Kebahagiaan ibu ada Sarah di sisimu, buatlah kebahagiaan itu dan aku pun akan buat kebahagiaan diriku sendiri," balas Hafsah.
Terdengar kembali suara erangan Ruqoyah dan Ali langsung menghampiri ibunya dengan ketakutan terjadi hal buruk kepadanya. Di saat itulah Hafsah membuka pintu dan pergi dari ruangan itu.
Langkah kaki Hafsah terasa lemas, dia berjalan dengan gontai sambil berpegangan pada dinding tembok. Dia sudah tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Mulutnya terus menggumamkan istighfar sepanjang jalan. Sampai semuanya terasa buram dan berakhir gelap.
"Hafsah. Hei, sadarlah! Apa yang terjadi kepadamu?" Ghani yang sedang mengantarkan kakek dan neneknya untuk cek up terkejut saat melihat Hafsah berjalan dengan gontai seperti orang yang tidak punya tenaga.
"Cepat bawa dia ke UGD!" titah Kakek Qomar dan Ghani pun berlari menuju lift menuju lantai dasar.
"Dokter, tolong!" teriak Ghani sambil membopong tubuh Hafsah.
"Pasien kenapa?" tanya salah seorang perawat sambil membantu Ghani merebahkan tubuh Hafsah.
__ADS_1
"Tidak, tahu. Tiba-tiba saja dia pingsan," jawab Ghani.
Seorang dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Hafsah. Ghani berdiri dengan muka pucat dan berkeringat dingin. Entah kenapa dia merasa takut terjadi sesuatu kepadanya.
***
Keadaan yang menekan Ali membuat laki-laki itu stress. Apalagi ibunya yang terus meminta untuk menikah dengan wanita pilihannya. Selain itu Hafsah juga sulit dihubungi dan itu membuatnya semakin tidak menentu pikirannya.
'Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin Ali merana.
Ali tidak bisa pergi kemana-mana karena tidak ada yang menunggui ibunya. Biasanya dia akan beristirahat gantian dengan Hafsah.
Hari sudah berubah menjadi petang, tetapi Hafsah belum juga datang. Tentu saja ini membuat Ali semakin khawatir. Melihat ibunya sedang tidur nyenyak maka dia pun memutuskan untuk pulang sebentar. Dia ingin melihat keadaan Hafsah.
Begitu Ali sampai di rumah tidak terlihat ada tanda-tanda orang di dalam sana. Semua lampu gelap dan gorden belum ditutup. Dia pun masuk dan mencari keberadaan sang istri. Dia mengira kalau Hafsah sedang berada di kamar mereka, tetapi saat pintu dibuka tidak ada siapa-siapa di sana. Semua ruangan yang ada di rumah itu tidak memperlihatkan sosok wanita bercadar yang selalu mengisi hari-harinya.
"Sayang, kamu di mana, sih?" gumam Ali.
Ali kembali ke rumah sakit dengan perasaan tak menentu. Dia sangat merasa kehilangan Hafsah, padahal mereka baru berpisah sekitar 10 jam. Terasa sangat berat bagi Ali jika nanti Hafsah benar-benar pergi meninggalkan dirinya.
Ali berjalan dengan pikiran yang melalang buana sehingga tidak fokus. Dia menabrak seseorang sampai jatuh.
Orang yang bertabrakan dengan Ali pun langsung berdiri lalu menepuk-nepuk bajunya yang kotor oleh debu. Keduanya terkejut saat netra mereka saling beradu.
"Pak Ali?"
"Bu Bidan Maryam?"
Keduanya memanggil secara bersamaan. Mereka sudah lama saling kenal. Dulu saat Ali dan Hafsah baru menikah mereka mengontrak di rumah kontrakan milik seorang bidan. Mereka bertetangga selama setahun.
"Apa kabar Pak Ali? Kenapa kaki Anda?" tanya wanita yang seumur dengan Ali.
"Alhamdulillah, baik. Beberapa hari yang lalu saya mengalami kecelakaan dan sekarang sedang masih dalam masa pengobatan agar bisa berjalan dengan normal kembali," jawab Ali.
Suasana di koridor malam ini terasa sangat sepi dan sedikit mencekam. Ditambah suhu udara yang dingin karena sedang turun hujan gerimis.
__ADS_1
"Bu Bidan sendiri sedang apa di sini?" tanya Ali karena setahu dia tempat bertugas Bidan Maryam berada di puskesmas kecamatan.
"Bapak sakit. Penyakit darah tinggi dan gula kambuh," jawab Bidan Maryam.
Merasa tidak enak berbicara sambil berdiri mereka pun memutuskan untuk ke kantin rumah sakit untuk membeli sesuatu yang hangat. Keduanya berjalan pelan karena Ali belum bisa berjalan cepat layaknya orang normal.
"Lalu, bagaimana dengan keadaan Bu Hafsah?" tanya Bidan Maryam penasaran karena Ali hanya berjalan seorang diri.
"Alhamdulillah, istri saya juga dalam keadaan baik," jawab Ali berbohong. Dia merasa kalau keadaan Hafsah dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Saat mereka keluar dari lift, Ali seperti melihat Ghani berlari di koridor seberang. Namun, dia mengabaikannya karena mereka sudah tidak punya urusan apa-apa lagi saat ini.
"Oh, iya. Dulu dengar-dengar sedang menjalani program kehamilan. Bagaimana apa kalian sudah punya anak?" tanya Bidan Maryam yang dulu menjadi tempat bertanya oleh Hafsah sekitar kehamilan.
Wajah Ali langsung terlihat sendu. Ya, dia sedih karena perjuangan mereka berdua sampai saat ini belum berhasil.
"Sepertinya Allah belum memberi kepercayaan kepada kita untuk diberi amanah," jawab Ali dengan lirih.
"Semoga saja Hafsah bisa segera hamil kembali," ujar Bidan Maryam.
"Maksud Bu Bidan apa? Hafsah segera hamil kembali?" tanya Ali dengan ekspresi terkejut dan heran sampai menghentikan langkahnya.
"Dulu Hafsah pernah mengalami keguguran akibat terlalu capai sehingga bayinya tidak bisa diselamatkan karena terlambat mendapat penanganan waktu itu," jawab Bidan Maryam.
"Apa?"
Ali merasa sukmanya ditarik keluar dengan paksa sehingga raganya seperti bangkai tak bernyawa, jatuh luruh di lantai yang kotor dan dingin. Dia pun meracau.
"I–tu … tidak mungkin. Kenapa Hafsah tidak memberi tahu aku?"
"Maaf, mungkin ini hubungannya dengan ibu mertuanya," ujar Bidan Maryam.
Bagai dipukul oleh godam, Ali menatap nanar kepada Bidan Maryam dengan perasaan sakit sekali sampai dia rasanya ingin berteriak kencang untuk melampiaskan rasa sakitnya.
***
__ADS_1
Apa yang sudah terjadi di masa lalu? Kenapa Hafsah tidak menceritakan tentang kegugurannya kepada Ali? Ikuti terus kisah mereka, ya! Stok sabar yang banyak, ya.