
Bab 32
Kabar pernikahan Alika sudah tersebar dikalangan tetangga. Ruqoyah masih dengan angkuhnya mengatakan keluarga calon suami anaknya itu adalah dari kalangan orang kaya. Calon besannya juga sudah menerima sang putri dengan tangan terbuka.
"Kalian sudah melihat video pernyataan yang dibuat oleh Bimo, 'kan? Mereka itu sudah dijebak oleh lawan bisnisnya," kata Ruqoyah kepada ibu-ibu yang sedang belanja di warung Mpok Noni.
Para wanita paruh baya itu mengangguk dan merasa kasihan kepada Alika karena sudah menjadi korban. Mereka juga memberikan selamat kepada Ruqoyah karena akan mempunyai menantu yang kaya dan mempunyai perusahaan.
"Nanti aku akan undang kalian semua ke gedung pernikahan putriku," ujar Ruqoyah sebelum pergi dari warung karena sudah selesai belanjanya.
Saat dia jalan menuju rumah Ali terlihat ada mobil Sarah mendekat. Senyum bahagia wanita paruh baya itu semakin mengembang. Sudah beberapa hari ini Sarah pergi ke luar kota karena ada urusan bisnis.
"Sarah, akhirnya kamu datang juga!" seru Ruqoyah sambil berjalan cepat menuju gadis yang baru saja turun dari mobil.
"Kapan kamu pulang?" tanya Ruqoyah setelah Sarah mencium tangannya.
__ADS_1
"Kemarin malam, Bu. Bagaimana kabar Ibu? Aku baru tahu kalau ada masalah yang menimpa Alika kemarin," jawab perempuan berbaju anggun yang agak tertutup, beda dari biasanya.
"Ibu sempat stress gara-gara kejadian itu. Untungnya semua sudah selesai sekarang dan Alika akan menikah dengan Bimo," balas ibunya Ali dengan penuh semangat.
Kedua wanita beda generasi itu duduk sambil berbincang-bincang di ruang depan sedangkan Hafsah sibuk membereskan dapur dilanjutkan memasak untuk makan siang.
Aktivitas istri Ali masih sibuk seperti biasa, membereskan, membersihkan rumah, dan memasak sudah menjadi tugas hariannya. Dia tidak pernah mengeluh lelah atau protes kepada mertua atau suaminya. Sebelum kedatangan Ruqoyah dan Alika ke rumah ini, semua tugas juga dilakukan oleh dirinya sendiri kecuali jika ada Ali di rumah, dia akan ikut membantu.
"Bu, Alika saja bisa menjadi istri kedua. Berarti aku juga bisa menjadi istri kedua Ali, dong!" kata Sarah mulai memprovokasi Ruqoyah lagi agar dijadikan menantu.
"Memangnya keluarga kamu tidak akan apa-apa mengetahui putri kesayangannya menjadi istri kedua?" tanya Ruqoyah pura-pura jaim dan menahan harga dirinya.
"Iya tentu saja, Bu. Mama dan Papaku itu ingin aku cepat menikah. Mereka sudah menyerahkan urusan laki-laki yang akan menjadi suami aku. Mereka tidak akan melarang siapa pun itu asal aku mau menikah dengannya. Mereka juga tahu kalau aku sangat mencintai Ali," jawab Sarah dengan senyum lebar dan penuh semangat.
Semakin besar saja kepala Ruqoyah mendengar ucapan Sarah. Dia sudah mendapatkan lampu hijau lagi dari calon besan barunya. Sekarang dia tinggal meminta Ali agar mau menikahi Sarah. Dia juga akan memaksa Hafsah untuk menyetujui dirinya mau dimadu dengan wanita yang duduk di sampingnya ini.
__ADS_1
Sarah melirik ke arah pintu yang menghubungkan ruang keluarga dengan dapur. Dia melihat ada Hafsah sedang berdiri di sana. Senyum liciknya langsung terukir begitu muncul sebuah ide dadakan di otaknya.
"Bu, bagaimana kalau kita makan siang bersama Ali dan membicarakan pernikahan ini?" Sarah sengaja meninggikan suaranya agar didengar jelas oleh Hafsah.
"Wah, benar juga. Ayo, kita ke kantor Ali dan makan siang bersama!" Ruqoyah menerima ajakan calon menantu impiannya.
Dada Hafsah terasa direm_as dengan kuat sampai terasa sakit dan sesak. Baru saja selesai dengan masalah yang menimpa Alika, kini dirinya harus kembali dihadapkan oleh masalah dengan Sarah.
'Ya Allah, aku bukannya mengingkari atau menolak poligami. Namun, aku takut kalau aku tidak sanggup melakukannya. Iman hamba-Mu ini masih lemah dan goyah. Aku takut bukan jalan ke surga yang akan aku lalui, tetapi jalan menuju ke nerakamu karena hasutan hawa nafsuku yang mudah cemburu dan iri,' batin Hafsah. Dia tahu seperti apa dirinya saat ini.
***
Apakah Ruqoyah bisa memaksa Ali agar melakukan poligami? Apa Alika akan benar-benar bahagia hidup dengan Om Bimo? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1