
Bab 53
Alika mendatangi villa tempat Ruqoyah menginap. Dia disambut baik oleh semua orang. Hati wanita itu merasa tersentuh akan perlakuan yang dia dapatkan di sini.
"Banyak-banyaklah mengingat Allah. Insha Allah semua pasti akan diberikan kemudahan untuk dirimu," kata Hafsah saat melihat adik iparnya ini melamun.
Tanpa Alika bicara pun Hafsah tahu apa yang sudah terjadi kepadanya. Jika memang benar keluarga Bimo menyayangi dirinya, pasti tidak akan membiarkan wanita hamil muda disuruh membawa barang banyak dan belanja seorang diri apalagi di daerah asing.
Alika terdiam dan merenungi dirinya. Sekarang dia jauh dari Allah, Sang Pemilik Segala. Dulu sebelum menikah dia sholat jika sedang di rumah saja, kalau berada di luar rumah tidak melakukan kewajibannya itu. Lingkungan yang membuat dirinya yang masih labih dan lemah iman bisa berlaku begitu. Jika di rumah ada Ibu, kakak, dan kakak iparnya yang akan mengingatkan dia untuk sholat. Sementara saat bersama teman-temannya, tidak ada seorang pun yang mengingatkan ibadah. Begitu juga saat ini setelah menikah, tidak ada seorang pun yang mengingatkan dirinya untuk beribadah.
"Aku kagum sama Mbak. Dulu aku dan ibu suka jahatin Mbak, tetapi tidak pernah marah atau membalas perlakuan buruk kami. Makanya aku pun meniru Mbak dan berharap mereka suatu hari nanti bisa sayang kepadaku," ucap Alika dengan berderai air mata.
Kandungan Alika sudah mau memasuki bulan kelima. Sementara kandungan Hafsah sudah dua bulan lebih. Namun, perut mereka sudah sama besarnya karena istri Ali mengandung dua bayi.
Hafsah ikut menangis melihat adik iparnya ini. Dulu dia sering mendapatkan perlakuan seperti itu saat dirinya sedang tidak hamil. Sementara Alika sedang dalam keadaan hamil. Dirinya sekarang malah sering ingin di manja oleh suami. Diperhatikan dan disayang setiap waktu oleh suaminya. Lalu, dia tidak bisa tidur jika tidak dipeluk oleh Ali.
Ali berdiri di balik jendela dan mendengarkan pembacaan antara Alika dan Hafsah. Dia sebagai saudaranya ikut merasa sakit hati membayangkan apa yang sudah terjadi kepada adiknya. Namun, saat ini Alika adalah tanggung jawab Bimo. Jadi, seharusnya laki-laki itu yang bertanggung jawab untuk memberikan perhatian dan keadaannya.
"Ibu masih tidur, Mbak?" tanya Alika.
__ADS_1
"Ya, ibu biasanya akan bangun saat Ashar. Jika kurang istirahat kepalanya akan sakit kembali. Mbak sering kasihan saat melihat ibu kambuh rasa sakitnya," jawab Hafsah.
Keduanya duduk di bangku yang ada halaman samping. Dari sini mereka bisa melihat villa milik keluarga Bimo. Alika bisa melihat Bimo dan keluarga sedang bermain-main di kolam renang. Ada rasa iri sekaligus sakit hati. Dia berasa pernikahan mereka itu hanya sebuah formalitas saja agar Bimo tidak di penjara dan namanya yang sudah tercoreng tidak terlalu buruk lagi karena berani menikahi wanita yang dihamilinya.
"Apa kamu akan kembali ke villa suamimu?" tanya Ali yang tiba-tiba muncul lalu duduk di samping Alika.
"Aku …."
Alika bingung harus mengatakan apa. Dia sekarang ini ingin bersama keluarga yang menganggap dirinya ada. Namun, jika tidak kembali nanti mertua dan suaminya akan menyalahkan dirinya.
Ali memeluk tubuh adiknya. Dielusnya kepala yang memiliki rambut panjang bergelombang. Meski Ali tidak dibesarkan di tempat yang sama, tetapi rasa sayangnya sebagai kakak itu besar untuknya. Melihat adiknya bersedih dia juga ikut sedih.
"Aku baru akan kembali jika sudah bertemu dengan ibu. Jangan sampai dia marah karena aku disangka tidak mengunjunginya," ucap Alika.
***
Ada perasaan rindu dan takut yang tiba-tiba menyusup ke dalam perasaanya setiap dia bersujud. Air matanya pun tanpa sadar keluar sendiri. Begitu dia mengucapkan salam ada rasa bahagia.
Alika tahu Tuhannya itu Maha Pengampun. Maka dia pun memohon ampunan atas dosa dia selama ini. Dia yang sering melupakan tugasnya sebagai seorang hamba-Nya dan sering berbuat dzalim kepada makhluk ciptaannya. Alika bertaubat dan berusaha untuk tidak berbuat seperti itu lagi.
__ADS_1
Saat akan makan malam semua orang menatap heran kepada Alika. Wanita itu kini memakai jilbab.
"Alika, kamu mau pakai jilbab sekarang?" tanya Bimo.
"Iya, bolehkan, Mas?" Alika sudah bertekad untuk menjadi seorang hamba yang berusah untuk berubah menuju kebaikan.
"Boleh. Pakai saja jika kamu mau," jawab Bimo.
"Hei, kalau kamu mau pakai jilbab harus konsisten. Jangan sekarang pakai besok buka lagi, nanti pakai lagi, buka lagi. Itu mempermainkan agama," tukas Bu Dewi.
Hati Alika terasa diremas oleh omongan ibu mertuanya. Padahal dia berharap semua orang di sini mendukung dirinya.
'Kenapa sulit sekali orang mau taubat. Bukannya mendapat dukungan, ini malah cibiran,' batin Alika.
Anggun hanya diam memandangi Alika. Secara usia madunya jelas jauh lebih muda, hampir beda 10 tahun. Dilihat dari segi wajah juga Alika lebih cantik dan berisi, membuat para lelaki tergoda untuk melihat lekukan tubuhnya yang indah.
'Jangan sampai dia menarik perhatian Bimo lebih banyak lagi,' batin Anggun.
***
__ADS_1
Apakah Alika benar-benar bisa bertaubat atau tidak? Ikuti terus kisah mereka, ya!