
Bab 49
Alika memasak dengan arahan Bu Dewi. Setelah hampir dua jam akhirnya masakan itu matang juga. Alika disuruh memasak acar ikan gurame. Terlihat wanita paruh baya itu sangat kesal kepada menantu barunya ini. Dia tidak menyangka kalau istri kedua dari putranya ini tidak bisa apa-apa dalam mengurus rumah. Padahal dulu ibunya begitu memuji-muji sebagai perempuan baik-baik dan pintar dalam segala hal.
"Kalau saja di dalam perut kamu tidak ada anak Bimo, sudah aku lempar kamu ke jalanan. Apa yang bisa di dapat dari perempuan seperti kamu ini? Tidak becus melakukan apa pun!" bentak Bu Dewi kepada sang menantu.
Alika hanya menundukkan kepala sambil memainkan ujung baju. Dia begitu takut kepada ibu mertuanya. Dulu dia pernah membalas ucapan pedas Bu Dewi, balas yang dia dapat lebih kejam lagi, bahkan dia di kurung di gudang lembab.
"Tante kenapa suka sekali membuat Oma marah-marah?" tanya Bia, putri Bimo yang berusia 5 tahun.
"I–tu …." Alika sendiri bingung harus mengatakan apa.
"Pasti Tante nakal, ya? Orang itu tidak suka suka sama anak nakal," ucap Bia sambil asyik memakan es krim.
Mungkin dari semua penghuni rumah yang masih mending memperlakukan dirinya dengan baik adalah Bimo dan Bia, walau kadang bocah ini sering menyentil perasaan Alika secara tidak langsung.
"Makanya Bia jangan meniru kelakuan Tante, karena dia itu orang nakal," ujar Bu Dewi dengan lirikan sinis.
"Tante nakal kenapa, Oma? Lalu, kenapa tidak diberi hukuman agar jangan nakal lagi," tanya Bia dengan gayanya khas anak kecil.
Bu Dewi tersenyum sinis kepada Alika. Dia menganggap menantu keduanya ini adalah sumber masalah dalam keluarga mereka. Sudah mencoreng nama baik keluarga, membuat rumah tangga anaknya diujung tanduk, dan hamil anak haram.
Alika tidak membalas ucapan anak tirinya. Dia sedang meratapi dirinya yang sedang kena karma akibat perbuatannya dan ibunya kepada istri sang kakak.
__ADS_1
***
Perlakuan Ruqoyah kepada Hafsah sudah berubah drastis. Dia sekarang memanjakan menantunya ini. Di rumah juga sekarang ada seorang asisten rumah tangga, yang bernama Mbok Sri. Wanita setengah paruh baya yang benar-benar bisa mengurus rumah. Lucunya sekarang Ruqoyah tidak mau ada wanita muda yang dekat-dekat dengan Ali. Hubungan dengan Sarah juga dia putus dan mengatakan jangan mengganggu keluarga anaknya lagi. Tentu saja ini membuat Hafsah merasa senang.
"Hafsah, kamu mau makan apa? Biar Mbok Sri yang buatkan?" tanya Ruqoyah saat duduk berdua dengan menantunya di bangku halaman belakang rumah sambil menikmati rujak yang tadi dibuat oleh Ruqoyah khusus untuk Hafsah.
"Apa saja, Bu. Saat ini tidak ingin makan makanan tertentu. Kan ini sudah ibu buatkan rujak," jawab Hafsah dengan senyum manisnya.
"Enak?" tanya Ruqoyah saat melihat Hafsah begitu lahap memakan rujak buatannya.
"Enak sekali, Bu. Ternyata ibu jago buat rujak," jawab Hafsah.
"Itu karena dulu setiap ibu hamil, ayah selalu ngidam makan rujak. Jadi, ibu belajar buat sama mertua," aku Ruqoyah sambil tertawa karena teringat kisah masa lalunya.
"Assalamualaikum, Sayang … Ibu," salam Ali.
Sudah seminggu ini Ali bekerja menjadi seorang manajer di hotel. Masalah video viral juga sudah selesai. Lagi-lagi Sarah bisa lolos dari jerat hukum. Hanya laki-laki karyawan hotel saja yang di vonis bersalah.
Hafsah senang melihat suaminya pulang. Saat ini Ali bekerja bagian shift pagi karena alasan kesehatan dirinya juga Hafsah yang sulit tidur jika tidak dipeluk olehnya. Untungnya Pak Adam sebagai pemilik hotel memaklumi hal itu dan memberikan kelonggaran untuknya. Lalu, rekan kerja Ali juga baik dan dia malah senang bisa kerja di malam hari.
"Ayo, kita makan dulu!" ajak Ali kepada kedua wanita yang disayanginya.
Keluarga Ali dan Hafsah sedang dalam keadaan bahagia. Mereka tidak tahu keadaan Alika saat ini. Setiap di telepon dan ditanya kabar selalu menjawab baik juga bahagia. Tentunya Ruqoyah dan Ali juga ikut senang.
__ADS_1
"Besok hari Minggu kita jalan-jalan, yuk!" ajak Ruqoyah yang suka sekali pergi ke suatu tempat.
"Kita ajak keluarga Alika juga, Bu?" tanya Ali.
"Iya, biar rame. Sepertinya keluarga Bimo juga baik," lanjut Hafsah.
Ruqoyah pun setuju untuk mengajak Alika dengan keluarganya liburan bersama. Sudah lama mereka tidak makan-makan di luar dan menikmati waktu bermain bersama mencari hiburan.
"Akan ibu telepon Alika nanti. Jika jam segini takut mengganggu," tukas Ruqoyah dengan perasaan senang.
'Alhamdulillah, di penghujung usiaku ini dipenuhi oleh kebahagiaan,' batin Ruqoyah.
***
Sarah menerima laporan dari orang suruhannya. Ditangannya saat ini ada beberapa foto Ali dan Hafsah yang sedang memeriksa kandungan di rumah sakit khusus ibu dan anak.
"Jadi, kalian bahagia di atas penderitaan aku! Aku ingin lihat sampai kapan kalian bisa tersenyum seperti itu," kata Sarah dengan penuh emosi.
Ruang kerja yang terlihat luas dengan gaya modern dengan fasilitas furniture yang lengkap dan mewah ini terasa sempit dan dadanya juga menjadi sesak. Keindahan ruangan ini berbanding terbalik dengan keadaan perasaan Sarah.
***
Apa yang akan dilakukan oleh Sarah kepada keluarga Ali? Akankah Ruqoyah tahu perlakuan yang didapatkan oleh Alika dari keluarga suaminya? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1