Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 66. Sarah Menyusup


__ADS_3

Bab 66


Sarah memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah Ali. Lalu, dia berjalan sambil mengendap-endap mendekati rumah berlantai dua yang sedang ramai di datangi oleh banyak orang. 


"Kenapa banyak sekali orang yang datang ke sini? Ini kapan selesainya?" gumam Sarah yang kini sedang berjongkok di dekat pohon anak nakal yang tumbuh di depan rumah Pak RT yang kebetulan di seberang rumah Ali.


Sarah beberapa kali menepuk tubuhnya yang dikerubungi oleh nyamuk. Wanita itu akan melancarkan aksinya setelah tidak ada lagi tamu undangan di rumah Ali. Namun, hari sudah sore tamu itu belum juga pulang.


"Mereka itu tidak ada habis-habisnya. Tubuh aku sudah penuh oleh gigitan nyamuk lagi," gumam Sarah sambil garuk-garuk tangan dan kakinya yang tidak tertutup kain.


Sarah merasa kelaparan karena dia baru makan saat sarapan. Dia berada di sana sejak acara aqiqah dimulai sampai saat ini. Dia tidak tahu berapa banyak tamu undangan yang datang ke rumah Ali. Semua kenalannya boleh datang dan tidak memakai kertas undangan, cukup sama video yang menyatakan undangan langsung oleh Ali.


Hafsah merasakan kelelahan yang teramat sangat. Maka dia pun langsung pergi tidur dan tidak bisa di ganggu. Begitu juga dengan Alika yang kecapaian diajak bermain sama Bia dan Biru. Kedua anak Bimo itu malah lengket kepadanya karena mereka sudah lama tidak bertemu.


"Bu, aku titip Ezaz, ya. Tubuh aku rasanya remuk," kata Alika sambil membaringkan tubuhnya begitu selesai sholat isya.


"Iya, sini. Biar Ezaz bersama ibu, lagian dia itu tidak rewel saat dikasih susu formula. Kalau kedua anak Hafsah tidak mau menyusu kalau bukan ASI ibunya. Padahal Aku membelikan susu khusus untuk bayi yang lahir prematur.


Alika ingin menimpali ucapan ibunya, tetapi tidak susah tidak ada lagi tenaga. Jadi, dia memilih diam dan tidur. Bagi Alika sendiri pastinya lebih memilih ASI untuk menyusui anaknya.


***

__ADS_1


Sekitar pukul 21:15 rumah Ali sudah terlihat sepi. Maka Sarah pun keluar dari persembunyiannya. Lalu, dia menaiki pagar rumah Ali dan mengendap-endap masuk lewat halaman belakang. Di tempat itu, Sarah melubangi bagian kaca dengan alat pemotong kaca yang panting sudah bisa masuk sebelah tangannya ke arah handel pintu dan membuka kuncinya.


Akhirnya Sarah bisa masuk ke dalam rumah Ali. Dia berjalan mengendap-endap naik ke lantai atas di mana kamar Ali dan Hafsah berada. 


Sarah membuka pintu kamar satu persatu untuk mencari Hafsah. Sudah tiga kamar dia masuki, tetapi tidak ada Ali dan Hafsah di lantai atas. Dia tidak tahu kalau Hafsah sekarang menempati kamar tamu karena dia belum boleh naik turun anak tangga. 


Dengan ekspresi kesal dan keluar kata-kata kasar dari mulutnya Sarah, wanita itu mulai teriak-teriak manggil Hafsah dan Ali. Tentu saja ini memancing tuan rumah yang sedang beristirahat di lantai satu.


"Bang, suara siapa itu?" tanya Hafsah yang tiba-tiba saja merasa ketakutan kalau anaknya akan diapa-apain oleh orang itu.


"Tunggu, abang akan lihat dulu ada siapa saja di lantai atas." 


Ali pun keluar dari kamar itu dan menuju ke lantai atas. Begitu Ali naik di anak tangga ketiga dari atas, terlihat Ada Sarah yang terlihat kacau penampilannya sedang berjalan menuju ke arahnya. 


"Ali, aku kangen sama kamu. Ayo, kita menikah buaknya kamu berjanji akan menikahi aku!" jawab Sarah dengan senyum manis terlukis di wajahnya.


Ali merasakan akan adanya bahaya bagi dirinya dan keluarganya. Dengan perlahan Ali pun mundur perlahan. Bagaimanapun juga saat ini dia berada di anak tangga, sangat berbahaya baginya. Bisa-bisa dia tergelincir kalau tidak konsentrasi.


"Dengar Sarah. Aku tidak mencintaimu atau menyayangi kamu. Cari laki-laki yang akan menjadi jodoh kamu itu. Yakinlah kalau Tuhan akan memberikan jodoh yang terbaik bagi kita," ucap Ali yang bicara sambil berjalan mundur.


'Bagaimana caranya aku menghentikan tindakan nekad dia?' batin Ali.

__ADS_1


Sarah menarik sebuah jarum suntik dari sakunya. Dia pun berjalan dengan cepat ke arah Ali sambil mengacungkan jarum suntik yang berisi racun mematikan.


"Jika aku tidak bisa memiliki kamu, maka tidak akan ada yang boleh memiliki kamu!" teriak Sarah.


Suara teriakan Sarah memancing Hafsah keluar dari kamarnya. Begitu juga dengan Ruqoyah dan Alika yang tidur di satu kamar, karena kamar tempat Ruqoyah dulu ditempati untuk sementara waktu oleh Ali dan Hafsah.


"Sarah!" pekik semua orang.


"Ini apa yang sebenarnya sedang terjadi?" tanya Ruqoyah yang masih antara sadar tidak sadar karena terbangun oleh suara teriakan Sarah barusan.


Wanita muda itu menatap nyalang kepada Ruqoyah. Dia juga sangat benci kepada wanita tua itu. Dulu menjanjikan kepada dirinya untuk dijadikan menantu. Namun, setelah tahu Hafsah sedang hamil, dia langsung dicampakkan begitu saja layaknya kain bekas yang sudah tidak terpakai lagi.


"Ibu ingin tahu aku sedang apa di sini?" Sarah menunjuk kepada Ruqoyah.


"Aku ke sini mau menagih janjimu kepadaku! Yaitu menikahkan Ali dengan aku," bentak Sarah.


Mata Ruqoyah terbelalak, karena dia tidak menyangka kalau Sarah akan sampai nekad berbuat jahat kepadanya karena ucapan dia dianggap serius dan tidak terima saat adanya pembatalan untuk menikahkan Ali dengan dirinya. Ruqoyah juga sudah beberapa kali meminta maaf kepada Sarah dan keluarganya, ternyata itu belum cukup bagi Sarah.


"Tapi, Sarah ... Ali tidak mencintaimu," ucap Ruqoyah.


"Tidak peduli! Kalau dia tidak mau menjadikan aku sebagai istrinya, maka sebaiknya dia mati saja biar adil, bagi aku juga Hafsah!" teriak Sarah.

__ADS_1


***


Apakah tujuan Sarah bisa tercapai? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_2