Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 54. Arti Keberadaan Alika


__ADS_3

Bab 54


Waktu pun cepat berlalu dan kini kandungan Hafsah sudah berusia lima bulan. Perutnya juga sudah terlihat sangat besar seperti usia kandungan tujuh bulan. Selama ini keadaan bayi mereka dalam keadaan sehat.


Ali masih saja suka menangis saat melihat hasil USG. Dia sering bilang rindu kepada anak-anaknya jika harus bagian shift malam. 


Kehamilan kali ini tidak terlalu berat bagi Hafsah. Ngidam dia alami saat awal kehamilan, sekarang sudah tidak. Hanya saja keingin bercinta dengan suaminya sering dia rasakan. Kalau dulu Ali yang sering mengajak sekarang dia yang memancing duluan.


Dokter juga memberi tahu apa yang harus mereka lakukan saat bercinta, agar jangan sampai menyakiti si bayi. Justru Ruqoyah malah sering bilang jangan melakukan hubungan suami istri sampai bulan kelahiran. Dia takut terjadi sesuatu kepada cucu-cucunya.


"Alhamdulillah, anak-anak kita sehat," kata Ali saat ditanya oleh Ruqoyah begitu datang ke rumah.


"Alhamdulillah. Meski usia kandungan kamu sudah lima bulan, jangan banyak bekerja dan banyak bersenang-senang agar perasaan kamu dan bayi kalian bahagia," ucap wanita yang melahirkan Ali.


"Oh, iya. Tadi Alika ke sini katanya ingin makan Bika Ambon buatan Mbok Sri. Tapi, dia sedang pulang kampung. Apa kamu tahu di mana yang jual Bika Ambon?" tanya Ruqoyah.


Tentu saja Hafsah tahu di mana tempat seperti itu. Sebenarnya dia juga bisa membuat Bika Ambon, tetapi dia yakin kalau ibu mertuanya tidak akan mengizinkan dia untuk membuat itu.


"Nanti aku pesankan dan biar dikirim langsung ke rumah Bimo, Bu," jawab Hafsah.


***


"Alika, kenapa halaman belakang tidak kamu bersihkan?" tanya Bu Dewi.


"Maaf, Mami. Tadi aku pergi cek up ke dokter kandungan, jadi lupa," jawab Alika.

__ADS_1


"Hah, makanya kerja itu jangan lelet!" Bu Dewi mengambil semprotan untuk tanaman hias.


Dia akan mengawasi kerja Alika. Menurutnya sang menantu ini kalau bekerja itu suka tidak benar jika tidak di pantau. Seperti saat ini calon ibu muda itu sedang menyapu dan membersihkan daun-daun yang rontok dan mati. Lalu memata pot-pot bunga agar tertata rapi.


Sebenarnya dengan kehadiran Alika di rumah itu Bu Dewi merasa ada teman. Selama ini dia selalu sendirian, karena para pekerjanya selalu menjaga jarak. Namun, ada Alika di rumah itu juga membuatnya harus sering ngomel dan memberi pengajaran untuk menantunya agar jadi serba bisa.


"Aduh, Alika! Masa tanaman hias di letakan di sana. Nanti mati, dong!" teriak Bu Dewi.


"Lalu aku harus meletakan di mana?" tanya Alika mulai kesal karena kemarin pagi bilang disuruh di letakkan di sana agar terkena sinar mentari. 


"Di sini! Di sini!" tunjuk Bu Dewi.


Anggun pun tertawa sinis begitu muncul di dalam rumah. Wanita yang berkarier di bidang fashion dan sudah merambah ke luar negeri itu pulang untuk menyusui putranya. Bu Dewi tidak mau kalau cucunya sampai kekurangan ASI. Meski Bimo mengizinkan Anggun bekerja tetap anak sama suami adalah prioritas utama.


"Eh, Anggun. Sudah selesai menyusuinya?" tanya Bu Dewi dengan lembut berbeda ketika berbicara dengan Alika tadi.


Alika merasa di anak tirikan oleh ibu mertuanya. Perlakuan dirinya kepada mereka berdua jauh berbeda. 


'Sabar Alika … sabar! Orang sabar akan mudah mendapatkan kasih Allah,' batin Alika.


"Yang bersih kalau menyapu Alika. Apa kamu mau anakmu nanti brewokan," ujar Anggun menjahili adik madunya itu.


"Tuh, di situ sampah daun masih banyak. Kamu ini masak menyapu saja tidak bisa. Bagaimana nanti mengurus bayi?" lanjut Anggun sambil menggelengkan kepalanya.


Ketika Alika mengumpulkan daun untuk dijadikan pupuk, terdengar suara orang membicarakan dirinya. Dia jadi penasaran dengan orang yang datang dan mencari tahu siapa.

__ADS_1


Terlihat Ali membawa sekantong keresek yang isinya Bika Ambon. Alika senang saat melihat kakaknya datang.


"Assalamualaikum, Kak. Kenapa Kakak yang datang ke sini?" tanya Alika.


Mata Ali terlihat berkaca-kaca. Dia sebenarnya sudah datang sejak tadi. Namun, dia minta Mang Soleh untuk tidak mengatakan kedatangannya. Dia ingin melihat sendiri seperti apa keluarga Bimo memperlakukan adiknya. Ternyata benar saja dugaan dia kalau Alika mendapatkan perlakuan tidak adil.


"Bu Dewi, apa aku boleh bawa Alika pulang ke rumah?" tanya Ali.


Tentu saja Bu Dewi merasa sangat keberatan untuk melepaskan Alika. Rumah besar itu akan sunyi kembali jika tidak ada dia. Bia juga jadi ada teman bermain di rumah.


Alika yang merasa capai ingin sekali pulang ke rumah kakaknya. Ingin bermanja sama ibunya. Dia merindukan itu. Biasanya ada Bimo yang memanjakan dirinya meski dua hari sekali, tetapi sekarang laki-laki itu sering sibuk. Bahkan sebulan ini mereka tidak tidur bersama.


"Maaf, aku rasa itu tidak bisa. Bimo mempercayakan Alika kepada kami. Saat ini dia sedang sibuk membuka cabang di kota lain, jadi aku tidak mau kalau sampai pikirannya pecah karena memikirkan Alika yang tidak ada di rumah," tolak Bu Dewi.


Alika menatap Ali dengan tatapan memohon. Dia ingin pulang ke pelukan ibunya. Menumpahkan semua kesedihannya selama ini.


Ali jadi tidak bisa apa-apa dan pulang dengan tangan kosong. Meski Alika adik kandungnya, tetapi sekarang dia berada dalam tanggung jawab Bimo, selaku suaminya.


Setelah kepergian Ali, Alika pun izin masuk ke kamarnya dengan alasan perutnya kram. Padahal dia ingin menangis karena ingin ikut kakaknya.


Saat dia menangis ada telepon masuk dari Niken. Akan tetapi begitu diangkat panggilan itu mati dan masuk sebuah pesan berupa foto.


"Astaghfirullahal'adzim. Apa ini?" Alika melihat Bimo sedang berpelukan dengan wanita lain.


***

__ADS_1


Benarkah Bimo selingkuh? Apakah Alika akan kembali ke rumah Ali? Ikuti terus kisah mereka ya!



__ADS_2