Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 24. Kemarahan Ali


__ADS_3

Bab 24


"Oh, aku kira semalam kamu pergi kencan dengan seorang laki-laki yang membayar kamu," tukas Ali masih dengan tatapan mata yang tajam ke arah sang adik.


Hafsah, Ruqoyah, dan Alika kembali terkejut mendengar ucapan Ali. Mereka tidak menyangka kalau laki-laki itu akan mengucapkan hal seperti ini.


"Kamu menjalani jasa kencan, iya, 'kan? Jawab, Alika!" Ali menunjuk muka adiknya dengan penuh emosi.


Hafsah mengusap-usap punggung suaminya. Sementara Alika menangis dalam diam hanya air matanya saja yang mengalir deras.


"Kenapa kamu menuduh adikmu seperti itu, Ali? Kamu jangan main tuduh dan fitnah kepada keluarga sendiri," tukas Ruqoyah.


Wanita paruh baya itu lupa kalau di juga sering memfitnah menantunya sendiri, bahkan berkali-kali dengan macam-macam tuduhan di arahkan kepadanya. Namun, saat anak gadisnya dikatakan yang tidak baik orang lain, dia tidak terima.


"Aku tidak sedang menuduhnya, Bu. Tapi ini adalah kenyataan. Anak gadis Ibu ini suka diajak pergi kencan oleh laki-laki mana pun yang mau membayar dirinya. Aku punya bukti dan saksi," balas Ali yang kini sudah bisa menahan dirinya. Nada bicaranya juga sudah kembali normal. Sentuhan dari Hafsah membuatnya merasa tenang.


Dada Ruqoyah merasa sesak, dia teringat dengan laki-laki yang dia lihat bersama Alika dulu saat di restoran, laki-laki yang ada di foto, juga yang ada di video itu berbeda semua. Dalam pikirannya kini tersirat kalau Alika sudah menjadi "Ayam Kampus" yang suka diajak pergi oleh laki-laki hidung belang.


"Mengaku saja Alika, aku akan mengirimkan kamu ke rumah Pak Dhe," ucap Ali.


Mendengar itu Alika langsung berlutut di depan Ali. Dia tidak mau pergi ke kampung itu. Di sana adalah tanah leluhur dari keluarga pihak ayahnya.


"Tidak, aku tidak mau, Kak," ujar Alika dengan lirih dalam isak tangisnya.


"Sudah berapa lama kamu melakukan hal ini?" tanya Ali melihat ke arah mata adiknya.


"Baru-baru ini," jawab Alika tidak mau jujur sepenuhnya.

__ADS_1


"Yang lebih jelas, sudah berapa lama? Satu bulan?" ucapan Ali terjeda, "dua bulan?" lanjutnya, "ti–ga bulan?"


Alika menggelengkan kepalanya setiap Ali bicara.


"Tiga minggu," akunya berbohong.


Ruqoyah tahu Alika sedang berbohong. Dia melihat saat di restoran itu juga bulan kemarin. Pastinya lebih dari satu bulan.


"Apa saja yang sudah kamu lakukan dengan para laki-laki itu?" Ali mencengkeram baju adiknya yang emosinya kembali tersulut.


Hafsah memegang tangan Ali dan mencoba melepaskan cengkeramannya itu. Dia melihat Alika kesakitan dan takut suaminya akan berbuat kasar.


"Istighfar, Bang. Jangan seperti ini. Mungkin saja Alika sedang khilaf. Kemarahan dan kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah," ucap Hafsah sambil menatap Ali dengan memohon.


Ali pun melepaskan cengkeraman tangannya pada baju sang adik. Hafsah pun memeluk Alika yang menangis.


Alika menangis tergugu. Jujur dia takut dan merasa bersalah.


"Kamu tidak sayang pada dirimu sendiri. Kamu tidak sayang kepada ayah, dan kamu juga tidak sayang kepada kakak," tutur Ali dengan mata yang berkaca-kaca.


Ruqoyah juga ikut menangis. Entah apa yang akan dia katakan nanti di akhirat. Suaminya selalu meminta untuk menjaga anak gadis mereka agar tidak jatuh ke pergaulan yang salah. Namun, dia kini lalai dan tidak memperhatikan pergaulan anaknya.


Setelah menenangkan Alika sampai tertidur, Hafsah pun mendatangi ibu mertuanya. Tadi dia melihat wanita paruh baya itu sangat shock. Dia membawakan teh manis hangat kesukaan ibu dari suaminya.


"Bu, minum dulu," kata Hafsah sambil menyerahkan gelasnya.


Ruqoyah pun meminum sampai habis. Perasaan sesak dan menekan di dadanya berangsur lebih baik. Dia duduk terdiam saat menantunya memijat bahu dan kepalanya.

__ADS_1


"Mau aku balur badannya pakai minyak, Bu?" tawar Hafsah dan Ruqoyah pun mengangguk.


Wanita itu menikmati pijatan dari sang menantu. Perasaannya kini terasa nyaman dan tubuhnya juga terasa rileks dan ringan. Sakit di kepala juga sudah hilang, sampai dia tidak sadar jatuh tertidur pulas.


Kini Hafsah datang menemui Ali yang duduk di balkon kamarnya. Laki-laki itu terdiam sambil melihat ke langit yang gelap tanpa adanya bulan atau pun bintang. Lalu, dipeluknya tubuh kekar itu dari belakang.


"Bang," panggil Hafsah dengan mesra.


"Hn," balas Ali sambil mengusap tangan sang istri yang melingkar di perutnya.


Dinginnya angin malam yang tadi dia rasakan untuk mengusir panas di hatinya, kini tidak terasa lagi. Hal yang dia rasakan saat ini adalah kehangatan dan kenyamanan. Wangi tubuh Hafsah yang dia sukai selalu membuatnya nyaman. Dia suka itu.


"Bersabarlah. Jangan main kekerasan kepada perempuan. Kita ini makhluk perasa dan mudah paham jika dikasih tahu dengan baik-baik meski harus terus selalu diingatkan," kata Hafsah dengan lembut.


"Maafkan abang yang tidak bisa mengendalikan diri tadi. Hati abang sakit sakit mengetahui hal itu tadi. Bayang-bayang ayah saat dia sedang sakit dan selalu mencemaskan Alika, terus berputar di dalam otak ini. Ayah meminta aku untuk menjaga Alika, tapi aku sudah gagal, Sayang." 


Hafsah bisa merasakan ada air yang jatuh ke punggung tangannya yang sedang memeluk Ali. Lalu, dengan lembut dia membalikan badan suaminya dan menghapus air mata di pipinya.


"Abang tidak gagal. Abang sudah sering memberi nasehat kepada Alika," balas Hafsah ikut merasa sedih melihat suaminya seperti ini.


Kedua pasangan suami istri itu pun saling berpelukan berbagi kesedihan. Tidak lama kemudian mereka masuk ke dalam kamar karena suhu udara semakin dingin. Malam ini tidak ada kegiatan membuat bayi. Libur dulu semalam karena kondisi yang sedang tidak memungkinkan.


***


Apakah sikap Alika akan berubah kepada Hafsah? Liburan di kantor Ali akan tiba seperti apa liburan mereka di sana? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_1


__ADS_2