
Bab 42
Meski ada terjadi kekacauan di pesta pernikahan Alika, tidak membuat pasangan pengantin baru ini bersedih. Bimo dan Alika langsung pergi ke hotel dan menghabiskan malam yang panas di sana.
Ruqoyah merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya. Ini dikarenakan dia terlalu memaksa diri yang seharusnya beristirahat malah bersikukuh ingin hadir di acara pernikahan Alika. Belum lagi dia lupa meminum obatnya. Padahal Hafsah sudah sering mengingatkan mertuanya untuk makan dan meminum obat. Namun, diabaikan olehnya.
"Aaaaa, sakit … Ya Allah!" teriak Ruqoyah saat tengah malam.
Hafsah dan Ali yang sedang terlelap tidur pun langsung terbangun karena mendengar teriakan wanita setengah paruh baya itu. Mereka bergegas menuju ke lantai bawah di mana kamar Ruqoyah berada.
"Bu, ada apa?" tanya Ali dengan khawatir.
Laki-laki itu menahan tangan ibunya yang memegang kepala yang lukanya mengeluarkan darah yang merembes pada perban. Sekuat tenaga Ali menahan tangan Ruqoyah.
"Bu, tahan dulu. Aku akan mengobati lukanya," ucap Hafsah sambil mencoba membuka bekas perban yang dipenuhi oleh darah.
"Sakit … sakit sekali!" rintih Ruqoyah.
Hafsah melihat ada darah yang keluar dari jahitan di kepalanya. Takut terjadi infeksi mereka pun memutuskan untuk membawa Ruqoyah ke rumah sakit.
Ali langsung membawa Ruqoyah ke UGD agar cepat mendapatkan penanganan. Apalagi saat ini tengah malam dan hanya ada satu dokter jaga.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya dokter yang memeriksa luka di kepala Ruqoyah.
__ADS_1
"Tidak tahu, Dok. Kita tadi mendengar ibu berteriak kesakitan dan melihat perbannya sudah dipenuhi oleh darah," jawab Ali.
Luka itu sudah kena infeksi dan harus mendapatkan penanganan serius. Jadi, Ruqoyah harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Hafsah merasa pusing mencium bau desinfektan yang sering tercium di rumah sakit. Rasanya dia sudah tidak kuat dan berkeringat dingin yang banyak.
"Ali, apa ibu akan mati?" tanya Ruqoyah saat mereka sudah berada di kamar inap.
"Ibu jangan bicara seperti itu. Insha Allah, ibu akan cepat sembuh jika menurut apa kata dokter dan perawat," jawab Ali sambil menatap iba kepada ibunya.
"Tidak, Ali. Ibu merasa kalau sekarang ini sudah dekat ajal itu. Beberapa hari yang lalu, ayahmu datang ke dalam mimpi dan bilang kangen. Mungkin itu pertanda kalau ibu akan segera menyusul ayahmu," ujar Ruqoyah sambil meneteskan air mata.
Melihat ibunya seperti ini Ali merasa sakit hatinya. Dia merasa belum bisa memberikan kebahagiaan untuk ibunya ini, jika ajal itu menjemput saat ini.
Lagi-lagi Ruqoyah mengerang kesakitan bahkan sampai tidak sadarkan diri. Tentu saja Ali dan Hafsah panik. Dengan cepat laki-laki itu menekan bel perawat agar segera datang.
Dokter dan perawat datang lalu memeriksa keadaan Ruqoyah. Tekanan darah tinggi dan darah di luka terlihat merembes kembali.
"Usahakan jangan sampai membuat pasien emosi atau marah. Buatlah perasaannya tenang dan senang. Lakukan apa pun yang membuatnya merasa bahagia jangan bebani pikirannya," kata Dokter dan Ali mengangguk.
Semalaman Hafsah dan Ali bergiliran menjaga Ruqoyah. Mereka mengaji Al-Qur'an sambil duduk di samping brankar. Mereka berharap bisa memberikan ketenangan hati dan pikiran untuk Ruqoyah.
***
__ADS_1
Pagi-pagi Ali mendapatkan laporan dari pengacara kalau kasusnya sudah menemukan titik terang, pelaku sebenarnya sudah tertangkap. Dia adalah laki-laki yang ditemui oleh Sarah di hotel dulu. Tujuan utama penyebaran video itu untuk memeras Sarah dan Ali. Namun, itu tidak bisa dia lanjutkan apa yang sudah direncanakan olehnya, karena sekarang sudah ditangkap oleh polisi.
"Ada apa, Bang?" tanya Hafsah begitu kembali dari kantin membeli sarapan.
"Alhamdulillah, Sayang, pelaku penyebar video sudah ditangkap sama polisi. Semoga saja kedepannya tidak ada masalah seperti ini lagi. Apalagi awal bulan nanti Abang sudah mulai masuk kerja di hotel," jawab Ali sambil duduk di sisi istrinya.
Mendengar ini tentu saja Hafsah merasa senang. Saat keduanya sedang sarapan, Alika dan Bimo datang untuk menjenguk Ruqoyah. Pasangan pengantin baru ini sengaja datang dan ingin tahu perkembangan keadaan wanita setengah paruh baya itu.
"Ibu jangan banyak pikiran dulu. Apa-apa dipikirkan, hal-hal yang tidak penting juga masih saja suka dipikirkan," ujar Alika dengan mimik kesal. Dia tahu seperti apa ibunya ini, suka mengurusi sesuatu yang tidak perlu dia urus.
"Bagaimana tidak ibu pikirkan kalau kakak kamu tidak punya anak. Ibu itu ingin agar keluarga kita punya keturunan. Ayah kamu juga pasti berpikir seperti itu jika masih hidup," sahut Ruqoyah dengan kesal dan menahan sakit di kepalanya.
Hafsah hanya bisa diam meski hatinya sangat sakit. Entah kenapa tiba-tiba saja menyusup dalam pikirannya sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan.
"Ali, Ibu minta menikahlah dengan Sarah. Dia wanita yang bisa memberi kamu anak. Buatlah ibumu ini tenang sebelum menghadap Allah dan bertemu dengan ayahmu!" pinta Ruqoyah dengan mata yang berlinang.
Jantung Hafsah terasa diremas kuat, sakit sekali. Air matanya juga sudah menumpuk di ujung kantung netranya dan sekali kedipan pasti jatuh meluncur di pipinya.
***
Apakah Ali akan mengabulkan permintaan ibunya? Apa yang ada di dalam pikiran Hafsah? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1