
Bab 50
Alika menerima telepon dari ibunya dan mengajak liburan bersama. Lalu, dia pun mendatangi suaminya yang sedang bermain dengan anaknya yang masih bayi ditemani sama Anggun. Kamar tidur di ruangan ini sangat mewah dan jauh sekali dengan kamar miliknya. Bisa dibilang seperti bumi dan langit perbedaannya.
"Mas, boleh tidak aku ikut liburan bersama ibu hari Minggu nanti?" Alika berdiri agak jauh dari suaminya.
Bimo melirik ke arah Anggun, tadi mereka juga berencana untuk pergi liburan bersama dan akan mengajak Alika juga. Anggun pura-pura tidak peduli dan asyik bermain dengan anaknya.
"Sebenarnya kita juga akan pergi liburan dan kamu juga diajak. Tapi, aku tidak memaksa jika kamu memang mau pergi dengan keluarga kamu itu," balas Bimo.
Alika pun jadi merasa bingung harus ikut mana. Satu sisi dia ingin pergi liburan dengan ibunya, tetapi pastinya mereka pergi liburan ke tempat rekreasi yang ada di kota. Sementara itu, jika ikut liburan keluarga suami pastinya liburannya ke luar kota bahkan bisa liburan ke luar negeri.
"Aku ikut kamu saja, Mas," ucap Alika.
Bimo mungkin termasuk laki-laki beruntung punya dua istri dan dua-duanya mau melayani dirinya dengan baik. Meski ada harga yang harus dibayar untuk Anggun. Setengah harta miliknya diberikan untuk istri pertama. Uang bulanan juga sepuluh kali lipat dari yang diberikan kepada Alika. Tentu saja untuk Bia dan Banyubiru ada uang jatah terpisah.
Malam ini giliran Bimo tidur dengan Alika. Istri keduanya ini selalu bisa memuaskan dirinya. Meski Alika sedang hamil muda laki-laki itu tidak bisa menahan dirinya.
Bimo juga sering memanjakan Alika jika sedang berdua saja, meski ini jarang sekali karena selalu saja ada keluarga Bimo yang menempel kepadanya. Laki-laki ini memang mencintai istri kedua. Dia merasa kembali muda jika sedang bersama dengan Alika.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan anak kita?" tanya Bimo sambil mengelus perut Alika.
"Sepertinya dia baik karena sering dijenguk oleh papanya. Aku juga tidak pernah mual atau lemas. Hanya saja aku sering merasa lapar dan ingin makanan tertentu," ucap Alika.
"Syukurlah," ucap Bimo.
***
Ruqoyah sebenarnya ingin Alika ikut pergi bersama keluarganya, tetapi dia lebih memilih bersama keluarga suaminya. Untungnya Hafsah berhasil menghibur mertuanya jadi semangat lagi untuk pergi liburan.
Ternyata para tetangga juga ada yang ingin ikut liburan bersama. Jadinya mereka satu RT pergi liburan bersama dengan kendaraan masing-masing, karena ini dadakan tidak ada waktu untuk menyewa bus.
Ali begitu memperhatikan Hafsah, dia tidak mau kalau sang istri sampai merasa kecapaian. Makanan juga sangat dijaga dan hanya boleh makan makanan yang dibekal dari rumah.
Mereka tadi sampai jam 10-an lalu bermain di area perkebunan teh dan sayuran. Banyak yang beli sayuran untuk bahan makan siang dan malam. Sebenarnya mereka ingin Hafsah yang masak karena rasa masakannya enak, tetapi dilarang oleh Ruqoyah karena tidak mau menantunya kecapaian.
Hafsah, Ruqoyah, dan Bu Ratna duduk di bangku sambil menikmati pemandangan kebun teh yang terhampar luas. Sementara Ali sedang bersama kaum laki-laki di belakang rumah menyiapkan masakan untuk makan siang mereka.
"Eh, itu kayak mobil Bimo?" tunjuk Hafsah ke sebuah mobil yang sedang memasuki sebuah villa yang ada di bagian bawah.
__ADS_1
Ruqoyah sudah tidak bisa melihat dengan jelas untuk jarak jauh efek dari luka di kepalanya dulu. Sementara itu, Bu Ratna yang masih bisa melihat dengan jelas membenarkan apa yang dilihat oleh Hafsah.
"Iya, benar. Tuh, itu Alika dan mertuanya!" Bu Ratna ikut menunjuk ke mobil yang pernah di pakai oleh orang tua Bimo saat datang ke rumah Ali dahulu.
Terlihat Alika membawa dua koper yang di turunkan olehnya dari mobil mertuanya. Dia terlihat kepayahan setelah melampirkan tas selempang miliknya. Tidak ada yang membantunya dan kedua mertuanya pergi duluan masuk ke villa.
Mobil satunya lagi adalah milik Bimo, dari sana turun Bimo dan istri pertamanya bersama dua orang baby sitter yang membawa kedua anak Bimo. Terlihat kedua pasangan suami istri itu berjalan sambil saling merangkul.
Hafsah merasa kasihan melihat Alika seperti itu. Seakan dia adalah pembantu yang membawakan barang tuannya.
"Kok, Alika kayak diperlakukan seperti pembantu oleh mereka?" Bu Ratna melirik ke arah Ruqoyah.
Selama ini ibunya Ali selalu mengatakan kalau kehidupan Alika sangat beruntung punya suami kaya dan semua keluarganya juga menyayanginya. Namun, yang terlihat saat ini justru berbeda dengan apa yang dalam bayangan mereka.
Ruqoyah membulatkan matanya saat mendengar ucapan temannya ini. Dia berani bilang ke orang-orang kalau kehidupan rumah tangga anak-anaknya sangat bahagia dan dia sangat bangga. Itu karena Alika yang bilang sendiri. Akan tetapi, sekarang yang dikatakan oleh Bu Ratna ini membuatnya marah dan sakit hati.
'Beraninya mereka memperlakukan Alika seperti layaknya pembantu!' batin Ruqoyah.
***
__ADS_1
Apakah yang akan dilakukan oleh Ruqoyah terhadap keluarga Bimo? Bagaimana reaksi Ali saat tahu adiknya diperlakukan seperti itu? Ikuti terus kisah mereka, ya!