Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 29. Viral


__ADS_3

Bab 29


Sementara itu Alika sedang berbicara dengan Om Bimo. Gadis itu tadi menghubungi teman kencannya ini untuk memberi tahu kalau dia sedang hamil saat ini. Kejadian malam naas itu akhirnya membuahkan hasil.


"Apa kita gugurkan saja bayi itu?" tanya Om Bimo.


Laki-laki ini mana mungkin menikah dengan Alika sementara dia sendiri sudah mempunyai anak dan istri. Memang Om Bimo begitu cinta dan sayang kepada Alika. Tetapi dia sendiri tidak bisa menikahi gadis yang ada di depannya saat ini.


"A–pa? Maksud Om suruh aku aborsi!" Alika tanpa sadar menggebrak meja dan bicara lantang.


Perseteruan kedua orang ini membuat orang-orang di sana langsung mengalihkan pandangannya ke arah mereka. Begitu juga dengan Ruqoyah dan ibu-ibu arisan yang memang sejak tadi sempat memperhatikan mereka.


Melihat keadaan di sana sudah tidak terasa nyaman Om Bimo pun mencoba menenangkan Alika. Dia tahu banyak pengunjung yang melihat ke arah mereka, lalu dia menarik tangan perempuan itu untuk pergi dari sana. Laki-laki itu tidak menyangka kalau ajak makan siang dari teman kencannya ini untuk membahas kehamilan akibat kejadian di malam itu.


Alika menurut saja saat dibawa oleh laki-laki yang memiliki perawakan tinggi tegap. Sementara itu Ruqoyah merasa dunianya gelap. Kedua kakinya terasa tidak menapak ke bumi. Bahkan dia merasa udara tiba-tiba hilang dan membuat dadanya sesak. 


"Bu Ruqoyah!" teriak semua teman-teman arisannya saat melihat wanita paruh baya itu pingsan.


Restoran itu dibuat gaduh oleh kejadian dua insiden. Pertama pertengkaran dua orang karena hamil dan seorang ibu yang tiba-tiba pingsan.


***


Hafsah mendatangi restoran tempat Ruqoyah mengadakan arisan bersama teman-temannya. Tadi Bu Joko menelepomnya dan memberi tahu keadaan ibu mertuanya.


"Bu," panggil Hafsah sambil membalurkan minyak kayu putih pada dada, pundak, dan hidungnya.


Sudah hampir 30 menit Ruqoyah pingsan. Orang-orang di sana juga sudah berupaya untuk menyadarkan, tetapi belum juga bisa. Hafsah memijat jari kaki dan jari tangan. Terlihat wanita paruh baya mulai sadar. 


"Bu," panggil Hafsah dengan senyum tipis karena senang melihat mertuanya sudah sadar.


Hafsah membantu Ruqoyah untuk duduk. Lalu, memberinya minum dan akhirnya membawanya pulang. Dalam perjalanan pulang Ruqoyah diam karena masih shock. Dia juga tidak menjauhkan diri saat Hafsah memeluknya sampai rumah.

__ADS_1


Hafsah menidurkan Ruqoyah dan memijat kaki dan tangannya. Pandangan wanita yang sudah melahirkan Ali itu terlihat kosong.


"Alika …." Ruqoyah memanggil putrinya dengan lirih karena dia ingin tahu apa yang sudah terjadi kepadanya.


"Ibu, ingin bertemu Alika? Aku telepon dulu agar dia segera pulang," tanya Hafsah dan Ruqoyah mengangguk.


***


Alika dan Om Bimo bicara di taman kota yang kebetulan sepi siang ini. Kedua orang itu sedang memikirkan jalan keluar dari masalah mereka.


"Aku ingin kita menikah," kata Alika akhirnya bersuara.


Om Bimo memijat kepalanya karena dia tidak mau kalau harus bercerai dengan istrinya. Bagaimanapun juga dia sudah punya anak yang berumur 5 tahun dan 9 bulan. Dia juga mencintai istrinya itu, meski dia juga menyukai Alika.


"Apa kamu mau di madu? Karena aku tidak akan menceraikan istriku," tanya Om Bimo sambil menatap Alika.


Terlihat keraguan dari sorot mata Alika karena dia tidak mau di madu, tetapi sekarang dia bisa berbuat apa lagi. Perempuan itu tidak mau menggugurkan janin yang ada di dalam perutnya. Dia juga tidak mau mendapatkan cebiran dari orang-orang, apalagi nanti dituduh sebagai pelakor.


Akhirnya mereka sepakat untuk bicara lagi dua hari kedepannya. Keputusan final akan ditentukan nanti saat mereka bertemu.


***


Ali membuka aplikasi taktik yang sedang memuat berita viral, karena para karyawan sedang membicarakan perempuan yang ada di video itu. Mereka bertanya apa perempuan yang ada di video itu adalah adiknya, karena mereka pernah bertemu dengan Alika saat liburan ke puncak. Untuk memastikan hal itu, maka dia pun sengaja mendownload aplikasi itu hanya untuk melihat video yang sedang mereka bicarakan.


"Astaghfirullahal'adzim. Apa ini?"


Mata Ali terbelalak, dia yakin kalau itu adalah Alika. Sebagai saudara dia tahu bentuk bagaimana bentuk, tinggi, dan gerak tubuhnya. Bahkan dia juga tahu baju yang sedang dipakai oleh wanita itu adalah baju adiknya yang pernah dia lihat.


"Alika!" Ali begitu geram sampai memotong pensil yang sedang dia pegang.


Lalu, dia pun menghubungi Hafsah dan menanyakan keadaan ibu dan adiknya. Kekesalan Ali semakin membuncah setelah tahu kalau ibunya juga sampai pingsan tadi dan keberadaan Alika belum diketahui saat ini.

__ADS_1


"Ke mana perginya anak itu? Sudah bikin malu dan merusak nama baik keluarga, sekarang sulit dihubungi," kata Ali bermonolog.


***


Kini di ruangan itu ada empat orang. Alika pulang sebelum kedatangan Ali tadi. Laki-laki itu memasang wajah menahan amarah saat melihat ke arah adiknya yang duduk sambil menunduk sejak tadi.


"Apa benar perempuan yang ada di video itu adalah kamu?" tanya suami Hafsah dengan suara yang menggelegar sampai-sampai ketiga orang yang ada di ruangan itu terlonjak karena terkejut.


Alika hanya mengangguk dengan berderai air mata. Dia sungguh sangat takut dengan amukan kakaknya.


"Apa laki-laki itu juga yang sudah menghamili kamu?" tanya Ali masih dengan suara tinggi. Lagi-lagi Alika mengangguk.


Suasana di ruangan itu semakin terasa mencekam karena Ali memukul pegangan kursi. Andai saja ada laki-laki itu di sana saat ini, pasti dia akan menghajarnya.


Melihat suaminya seperti itu, Hafsah langsung mengusap-usap punggungnya dan menyuruhnya beristighfar. Dia tidak mau kalau sampai Ali berbuat sesuatu yang diluar kendali.


"Jadi, sudah berapa minggu usia kandungan kamu?" tanya Ali mulai lunak karena kini hatinya mulai terasa tenang karena sang istri selalu berusaha menenangkan dirinya.


"Belum tahu, Kak. Karena aku baru melakukan lewat tes kehamilan," jawab Alika dengan lirih.


"Sayang, besok ajak Alika ke dokter kandungan, untuk memeriksa kehamilannya!" titah Ali kepada Hafsah dan sang istri mengangguk.


Ali rasanya ingin mengamuk untuk melampiaskan amarahnya saat ini. Jika tidak ada Hafsah, mungkin saja dia sudah menampar Alika. Dirinya sering kali menasehati adiknya ini untuk bisa menjaga diri. Setelah adanya kejadian kemarin, rasanya tidak aneh kalau Alika bisa sampai hamil.


"Kamu juga suruh laki-laki itu untuk datang menemui kakak!" titah Ali dan lagi-lagi Alika mengangguk.


***


Apakah Om Bimo akan bertanggung jawab atau tidak karena sudah punya istri? Bagaimana dengan omongan para tetangga karena videonya sudah viral? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_1


__ADS_2