Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 43. Tekanan Ruqoyah


__ADS_3

Bab 43


Ruqoyah kembali berteriak karena merasakan sakit yang teramat sangat di kepalanya. Rasanya dia ingin memukul kepala untuk mengurangi rasa sakit. Namun, Ali menahan kedua tangannya kembali.


"Sakit, Ali. Sakit!" teriak Ruqoyah.


"Istighfar, Bu," ucap Hafsah mencoba menenangkan mertuanya.


"Diam kamu! Kamu tidak merasakan sakit yang aku rasakan!" bentak Ruqoyah kepada menantunya.


Bimo merasa kasihan kepada Hafsah. Dia belum mengenal kakak iparnya itu seperti apa, yang dia nilai darinya adalah seorang istri yang penyabar dalam menjalani biduk rumah tangga dan tegas dalam melakukan suatu pilihan. Semakin sering bertemu dan melihat Hafsah, Bimo akui kalau istrinya Ali ini adalah tipe istri idaman. Dia juga berharap Alika tidak beda jauh dengan Hafsah sifat dan kelakuannya.


Alika ikutan panik melihat ibunya yang terus mengerang kesakitan. Dia tidak mau kalau sampai ibunya meninggal.


"Kak, apa susahnya turuti keinginan ibu ini," ucap perempuan yang sedang hamil muda.


Sekarang pikiran Ali semakin kacau dan rasanya akan meledak. Entah sudah berapa kali mereka menyuruhnya untuk menikah lagi dan sebanyak itu juga dia menolaknya.


"Sayang, panggil dokter! Kenapa mereka lama sekali," perintah Ali kepada sang istri dan mengabaikan ucapan adiknya.


Hafsah pun berlari ke luar ruangan rawat menuju ruang perawat. Dia sebenarnya tidak tega melihat ibu mertuanya kesakitan karena meski dirinya sering disakiti. Rasa sakit yang dia rasakan juga tidak kalah sakitnya.


Dokter dan perawat pun masuk ke sana lalu memeriksa keadaan Ruqoyah. Orang berjas putih itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan agak keras.


"Pak, sudah saya bilang jangan sampai pasien terguncang emosinya. Dia itu butuh ketenangan hati dan pikirannya," ucap dokter itu dan Ali terdiam. Dia bukan tidak tahu dan sengaja memancing emosi ibunya, justru ibunya 'lah yang mencari-cari masalah.


"Ali, maukah kamu mengabulkan keinginan ibu yang terakhir ini," kata Ruqoyah dengan mata berkaca-kaca dan ekspresi wajah penuh kesedihan.


"Pak, jika ingin ibunya sembuh, buat dia bahagia. Turuti semua kemauannya selama itu demi kebaikan dirinya," tukas dokter tanpa tahu apa keinginan Ruqoyah.

__ADS_1


Ali semakin merasa dilema. Jika menuruti keinginan ibunya, maka dia akan melanggar janji kepada Hafsah. Namun, jika menolak keinginan ibunya maka nyawa sebagai taruhannya.


"Sudahlah, Kak. Turuti keinginan ibu itu, lagian tidak dilarang suami memiliki dua istri. Mbak Hafsah yang faham agama pasti tahu ini," tutur Alika dengan sedikit memaksa Ali dan menyindir kakak iparnya.


Dada Hafsah terasa sangat sesak seakan semua oksigen di dekat dirinya menghilang. Matanya juga terasa panas seakan semua air mata terkumpul di kantungnya dan akan siap meluncur kapan saja.


"Mbak, jangan egois dengan pendirian dan prinsip Mbak itu ada orang yang tersakiti dan menderita," lanjut Alika.


Bagai terkena ribuan anak panah yang terarah ke dadanya, rasa sakit itu semakin menjadi sampai kakinya tidak bisa lagi menopang berat tubuhnya. Air mata langsung tumpah tanpa dikomando. Wanita itu melihat ke arah suaminya dengan mengigit bibir bagian bawah menahan isak tangis.


Ali juga ternyata menangis, dia saat ini dalam keadaan terjepit. Bingung harus memilih yang mana.


"Sayang, Abang mohon …."


Hafsah masih diam sekuat tenaga agar tidak meraung melepaskan rasa sakit dan sedihnya. Kedua tangannya terkepal kuat.


Ditengah ketegangan itu Sarah datang bersama ibunya. Mereka datang mau menjenguk Ruqoyah. Begitu keduanya masuk ruangan itu atmosfer di sana semakin terasa mencekam.


"Sarah," panggil Ruqoyah.


"Iya, Bu. Ada apa?" tanya Sarah sambil mendekat dan menyenggol Hafsah saat melewatinya.


"Menikahlah dengan Ali," jawab Ruqoyah.


"Ibu. Aku mohon jangan seperti ini!" pinta Ali dengan frustrasi.


"Sarah, kamu tidak masalahkan menjadi istri kedua Ali?" tanya Ruqoyah mengabaikan ucapan Ali.


Sarah melirik dengan malu-malu ke arah Ali. Tanpa diminta pun dia sudah mau. Tidak masalah mau menjadi istri kedua atau ketiga asal suaminya adalah Ali.

__ADS_1


"I–ya, mau. Aku mau, Bu!" jawab Sarah dengan gugup sekaligus bahagia.


"Hafsah terima Sarah sebagai adik madu kamu. Ibu tidak akan menyuruh Ali untuk menceraikan dirimu, karena ibu tahu kalian saling mencintai. Salahkan dirimu yang mandul itu," ujar Ruqoyah dengan suara yang lemas, tetapi terasa seperti belati tajamnya.


Ali pun memegang tangan Hafsah, lalu dia mengusap mata indah milik sang istri. Dia bisa merasakan kesedihan wanita yang sudah menemaninya selama 5 tahun lebih. 


"Sayang, tolong bantu abang!" pinta Ali dengan tatapan memohon.


Hati Hafsah terasa hancur saat melihat tatapan mata suaminya. Dia tahu kalau Ali ingin dirinya mengabulkan keinginan sang mertua.


"Lakukan apa yang ingin Abang lakukan. Aku tidak akan melarang lagi," ucap Hafsah dengan tatapan kosong.


"Sayang, asal kamu tahu kalau hati ini hanya milikmu. Kamulah satu-satunya ratu di dalam hatiku," aku Ali dengan putus asa.


"Aku juga akan melakukan apa yang ingin aku lakukan," balas Hafsah seakan tidak peduli dengan ucapan suaminya barusan.


Ali langsung memeluk tubuh Hafsah dengan erat. Dia tidak mau berpisah dengan istrinya ini bagaimanapun juga.


"Tidak. Kita akan tetap menjadi pasangan suami istri," ujar Ali dalam isak tangisnya.


Hafsah tidak memberikan respon apa pun. Dia sudah tidak peduli lagi dengan pernikahan yang selama ini dia jaga dan pertahanan. Ucapan Ali yang tersirat akan menikahi Sarah sesuai keinginan ibunya itu sudah menjadi awal kehancuran rumah tangganya.


"Hafsah, aku janji tidak akan banyak menuntut kepada Ali. Kita juga bisa menjadi teman baik dan sama-sama membangun rumah tangga bersama dengan orang yang kita cintai," lanjut Sarah dengan lemah lembut.


***


Apa yang akan dilakukan oleh Hafsah? Akankah dia menerima dipoligami atau tidak? Ikuti terus kisah mereka, ya! Meski bikin emosi terus.


__ADS_1


__ADS_2