Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 45.


__ADS_3

Bab 45


Ali duduk di samping brankar ibunya dengan terisak. Dia mengingat kembali pembicaraan dengan Bidan Maryam tadi. Ternyata di tahun pertama pernikahan mereka Hafsah sempat hamil dan keguguran. Hal yang menyebabkan keguguran itu karena diduga Hafsah kelelahan. 


Memang dulu saat mereka baru menikah mereka langsung memutuskan untuk pisah rumah. Semua pekerjaan rumah juga dilakukan oleh sang istri karena saat itu Ali sering mendapatkan pekerjaan di luar kantor. Dia berada di bagian lapangan dan sering membuatnya berangkat pagi-pagi sekali dan pulang malam. Dulu laki-laki itu kadang menyuruh Hafsah untuk pergi ke rumah orang tuanya jika merasa bosan atau suntuk jika berada di rumah. Selain ada teman, perempuan itu juga bisa semakin dekat dengan keluarganya.


Suara Bidan Maryam yang menyatakan kegugurannya Hafsah itu ada hubungannya dengan Ruqoyah. Ali bertanya-tanya kenapa bisa sampai itu terjadi. Apakah ibunya tahu kalau Hafsah pernah keguguran.


'Hafsah pas keguguran itu aku sedang apa?' batin Ali.


Handphone di tangan entah keberapa ratus kali dilihat olehnya. Sudah ratusan kali dia melakukan panggilan dan puluhan pesan juga dikirim ke nomor sang istri. Namun, tidak ada balasan satupun dari wanita itu. Bahkan pesan itu masih centang satu menandakan kalau nomor itu tidak aktif.


'Ya Allah, lindungilah istri hamba di mana pun dia berada,' batin Ali mendoakan Hafsah.


***


Hafsah membuka mata dengan perlahan. Hal yang dia lihat untuk pertama kali adalah ruangan serba putih dan tercium bau desinfektan. Wanita itu merasakan kepalanya pusing.


"Astaghfirullahal'adzim. Ya Allah, ini sudah malam. Aku melewatkan beberapa waktu sholat," ucap Hafsah dan bergegas bangun dan saat dia hendak turun dari brankar tubuhnya hampir jatuh karena masih lemas.


"Kamu sudah bangun?" 


Hafsah melihat ke arah sumber suara, di sana ada Ghani sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Kedua netra mereka saling beradu.

__ADS_1


"Pak Ghani?" Hafsah terkejut dengan kehadiran orang itu.


"Iya, ini aku. Bagaimana keadaan kamu? Tadi aku melihat kamu pingsan untung langsung ditangani oleh dokter." Ghani tersenyum tipis dan berdiri sambil menunduk.


Hafsah baru sadar kalau cadar tidak terpasang di wajahnya. Dia langsung ambil kain itu kemudian izin ke kamar mandi karena hendak mau wudhu.


Tatapan mata Ghani tidak lepas dari sosok Hafsah yang sedang sholat. Perasaannya menjadi senang saat melihat wanita itu, di dalam hatinya pun terbesit ingin memiliki dirinya.


Dalam doanya Hafsah memohon petunjuk kepada Allah dan meminta dimudahkan segala urusannya. Dengan menumpahkan semua perasaan yang sedang dia rasakan saat ini lewat doa-doanya, membuat hati dan pikiran Hafsah tenang dan ringan.


Selesai sholat Hafsah melihat jam sudah menunjukkan pukul 20:00 dan dia harus giliran menunggui sang ibu mertua gantian dengan suaminya.


"Pak, aku harus kembali ke ruang rawat ibu," kata Hafsah dan membuyarkan lamunan Ghani.


"Maksud Pak Ghani, apa?" tanya Hafsah dengan jantung yang berdebar dan merasa sekujur tubuhnya merinding.


"Kamu sedang hamil muda dan harus banyak istirahat tidak boleh kelelahan apalagi sampai stress karena banyak pikiran," jawab Ghani khawatir.


"A–ku ha–mil?" tanya Hafsah terbata-bata.


"Ya, kamu sedang hamil. Hasil pemeriksaan ada di atas nakas di samping brankar," jawab Ghani dengan jujur.


"Alhamdulillah, Ya Allah akhirnya doa aku dan suamiku diijabah juga," ucap Hafsah dengan penuh haru karena mendengar kabar gembira ini.

__ADS_1


Hati Hafsah yang semula terasa gelap dan sempit, kini terasa hangat dan cerah. Air mata kesedihan kini berganti air mata kebahagiaan.


"Aku harus memberi tahu suamiku," ujar Hafsah dengan bergegas ke luar kamar itu dan pergi menuju lantai atas tempat Ruqoyah di rawat.


***


Ali duduk bersimpuh di atas sajadah memohon petunjuk dan dimudahkan segala yang sedang terjadi kepada keluarga. Dia juga memohon Allah yang membolak-balikkan semua hati, berharap ibunya berubah menjadi orang lebih baik. Laki-laki itu juga memohon kebaikan bagi sang istri yang saat ini tidak tahu di mana keberadaannya.


"Ya Allah, lembutkan hati ibu hamba. Hilanglah penyakit hati dan pikiran buruk padanya," kata Ali mendoakan wanita yang sudah berjuang mengandung dan melahirkan dirinya. 


Tiba-tiba pintu pun terbuka dan menampilkan sosok Hafsah yang melihat ke arahnya. Melihat sang istri datang, Ali pun bergegas lari ke arahnya. Laki-laki itu lupa kalau kakinya masih sakit.


"Sayang, ke mana saja? Aku bingung harus mencari saat pulang ke ruang kamu tidak ada di sana. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu," kata Ali yang memeluk erat Hafsah dan memberikan ciuman bertubi-tubi di kepala.


Hafsah yang mendengar isak tangis sang suami karena begitu mengkhawatirkan dirinya, jadi ikut bersedih. Dia juga sama belum siapa jika harus kehilangan kekasih hatinya. Perempuan itu ingin menjalani hari-harinya bersama laki-laki ini.


"Jangan tinggalkan abang!" pinta Ali kini menatap Hafsah sehingga keduanya saling beradu tatap.


"Selama Abang menyayangi dan menjaga aku juga anak kita, aku akan terus berada di sisi Abang sampai kehidupan kita di akhirat nanti," balas Hafsah dengan senyum manisnya.


***


Bagaimana reaksi Ali dan Ruqoyah saat tahu Hafsah hamil? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1



__ADS_2