
Bab 60
Meski perut Hafsah sudah sangat besar karena akan memasuki usia 7 bulan, dia masih suka pergi mengajar mengaji anak-anak. Apalagi bocah-bocah berusia anak PAUD dan TK itu sering sulit diatur, hanya dia saja yang sabar menghadapi. Begitu juga sebaliknya dengan murid-murid itu lebih suka diajar mengaji oleh istri Ali.
"Ustadzah, di dalam perut ini ada dua Dede bayinya, ya?" tanya seorang gadis kecil sambil mengelus perut Hafsah.
"Iya, Sayang. Bayinya kembar," jawab Hafsah sambil tersenyum dan mengelus kepala si anak perempuan.
Wanita hamil itu malah merasa geli saat tangan-tangan mungil milik para murid berebut ingin ikutan mengelus perut besarnya. Bahkan ada yang menciumi saat melihat adanya pergerakan.
Celotehan anak-anak itu membuat Hafsah selalu bersemangat untuk pergi mengajar. Dia juga senang saat mendengar tawa dan senda gurau murid-muridnya.
Hafsah berangkat dan pulang selalu jalan kaki karena jaraknya dekat. Selain itu sekalian berolahraga. Kadang dia pulang dengan murid-muridnya yang searah rumahnya.
"Almira, mana ibumu?" tanya Hafsah saat melihat seorang anak kecil yang bisanya berangkat dan pulang dijemput oleh ibunya.
"Ibu sedang sakit. Jadi, aku sendiri berangkat dan pulang nanti," jawab Almira murid paling pintar.
Hafsah tidak bisa mengantarkan karena masih ada jadwal belajar untuk anak kelas 5 dan 6 tingkat sekolah dasar. Maka dia pun menyuruh tukang ojek untuk mengantarkan muridnya pulang.
"Terima kasih, Ustadzah. Assalamualaikum!" Almira mencium tangan Hafsah.
"Wa'alaikumsalam," balas istri Ali itu.
Hafsah berdiri di pinggir jalan dan setelah memastikan muridnya pulang, dia pun membalikkan badan dan hendak masuk ke pagar sekolah. Tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang menabrak tubuh ibu hamil itu sampai oleng untung ada muridnya yang berhasil menahan tubuh Hafsah.
"Astaghfirullahal'adzim. Ya Allah semua tidak terjadi apa-apa dengan bayiku," gumam Hafsah.
"Hei, kamu minta maaf sama Ustadzah! Sudah mendorong tubuh ibu hamil malah kabur," teriak seorang murid laki-laki yang terkenal jahil dan suka menggoda murid perempuan.
"Makasih, Akbar. Sudah menolong ibu," kata Hafsah.
__ADS_1
"Tapi, Ustadzah baik-baik saja? Atau mau pergi ke bidan untuk periksa dede bayi," tawar Akbar, murid kelas 6.
Hafsah pun pergi ke bidan yang ada di dekat rumah. Para guru dan muridnya menyuruh segera memeriksakan keadaan perutnya. Meski tidak terasa sakit, tetapi jaga-jaga untuk mencegah kejadian terburuk.
Ruqoyah yang mengantar Hafsah ke bidan dan ikut memberikan semangat kepada menantunya. Dia tidak mau terjadi sesuatu kepada cucu dan menantunya.
"Bagaimana keadaan calon cucu saya, Bu?" tanya Ruqoyah.
"Alhamdulillah semua dalam keadaan baik. Tadi mereka hanya terkejut saja. Mungkin karena terjadi tubrukan yang agak keras itu mereka terkejut. Hasil USG juga dalam keadaan baik," jawab bidan.
Hafsah dan Ruqoyah merasa senang mendengarnya. Mereka pun segera pulang dan begitu sampai di rumah terlihat Alika sudah sampai.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Alika.
"Alhamdulillah, baik," jawab Hafsah dengan senyum tipis.
***
"Untuk gertakan itu lumayan. Tadi dia ada yang menolong. Tapi, kedepannya tidak akan ada lagi yang bisa menolongnya," jawab laki-laki yang menabrak Hafsah tadi.
"Bagus. Aku ingin mereka menghabiskan sisa hidupnya dengan kesedihan dan penyesalan," kata Sarah dengan tatapan menyalang.
"Akan aku lakukan sebaik mungkin. Seolah-olah itu kecelakakan tunggal atau kecelakaan tanpa disengaja," tukas laki-laki itu.
***
Alika menunggu Ali pulang dia ingin membicarakan tentang rekaman cctv yang diberikan oleh Niken. Dia ingin mendapatkan dukungan dari semua keluarga terutama dari kakaknya.
Ali pulang sekitar pukul 22:00 dan Alika tetap menunggu di ruang depan. Tadi dia sudah menghubungi kakaknya dan bersedia untuk membicarakan hal ini.
Kini kedua kakak beradik itu sedang duduk saling bersisian. Ada laptop di depan yang diletakan di atas meja.
__ADS_1
"Dari mana Niken dapat video ini?" tanya Ali sambil memasukkan flashdisk dan memutar video rekaman cctv.
"Awalnya dia melihat Mas Bimo dengan seorang perempuan. Dia dulu memberi tahu aku dan mengirim foto. Wajah perempuan itu tidak begitu jelas karena terkena cahaya lampu. Semenjak dari sanalah sikap Mas Bimo menjadi berubah kepadaku. Saat itu aku tidak punya pikiran apa-apa sampai perubahan sikap orang-orang di rumah juga berbeda kepadaku. Mas Bimo yang pura-pura pergi ke luar kota, padahal pindah tempat tinggal di apartemennya," ucap Alika.
Ali melihat rekaman video dengan cermat bahkan beberapa kali memutar ulang. Apa yang dia lihat di video itu disimpannya baik-baik dalam memori otaknya.
"Siapa dia?" tanya Ali pada perempuan yang diketahui sebagai teman Niken.
"Kenapa dengan dia, Kak?" tanya Alika.
"Sepertinya kakak pernah melihatnya. Entah orang yang sama atau bukan. Tadi di hotel terjadi penggerebekan pelakor dan suami oleh istri sahnya. Nah, dia ini wajahnya mirip dengan si pelakor," jawab Ali.
"Aku tidak tahu. Mungkin saja dia karena malam itu dia juga datang sebagai sugar babby dari pengusaha batu bara," ucap Alika.
"Kenapa kamu bisa bergaul dengan orang-orang seperti ini? Apa kakak kurang memberi pengertian dan perhatian kepada kamu?" tanya Ali dengan kesal.
Alika tahu bukan salah kakaknya, tetapi ini salah dirinya yang tidak bisa menahan diri dan selalu iri kepada teman-temannya yang kaya dan untuk sejajar dengan mereka dia bersedia jadi teman kencan meski tidak mau sampai dibawa ke atas ranjang.
"Maaf, Kak. Dulu aku 'kan bodoh dan lemah imannya. Padahal kakak dan Mbak Hafsah selalu mengingatkan aku," jawab Alika dengan penuh penyesalan.
Ali pun melihat ke video kedua. Setiap video yang diputar pasti dia akan memutar ulang sampai beberapa kali. Dari keempat video itu Ali mendapatkan banyak petunjuk dan itu bisa memberatkan para pelaku.
"Sebaiknya kita laporkan ini kepada polisi jika kamu merasa terancam dengan keberadaan mereka," ucap Ali.
"Iya, Kak. Meski aku berharap mereka tidak berbuat nekad lagi," jawab Alika.
"Lalu, bagaimana dengan nasib pernikahan kamu?" tanya Ali.
***
Bagaimana nasib pernikahan Alika? Apakah Hafsah akan lolos dari orang suruhan Sarah? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1