
Bab 46
Ali tersentak mendengar ucapan Hafsah. Diuraikannya pelukan mereka lalu menatap netra sang istri. Dia takut salah dengar dan sang istri itu sedang menggoda dirinya.
"Sa–yang, barusan bi–lang an–ak?" tanya Ali gagap dengan tatapan terkejut.
Betapa bahagianya Hafsah saat ini. Dia sudah menduga reaksi pertama suaminya akan seperti apa.
"I–ya, Bang. Di sini ada buah hati kita," jawab Hafsah dengan tangis bahagia sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Ali yang masih shock dengan berita mengejutkannya ini masih tidak percaya. Mata tajamnya kini berbinar menunjukkan betapa bahagianya dia.
"Masya Allah, Ya Allah … Alhamdulillah."
Ali menciumi wajah istrinya lalu pada perutnya di mana ada calon penerus kini sedang mulai tumbuh. Tangis bahagia laki-laki itu pecah sambil mengucapkan rasa syukurnya.
"Sayang, ini ayah," kata Ali sambil menciumi perut Hafsah tidak henti sampai merasa puas.
Hati Hafsah bahagia mendengar ucapan suaminya sampai sekujur tubuhnya bergetar. Dia tahu betapa Ali menantikan buah cinta mereka selama 5 tahun lebih.
"Sudah berapa minggu, Sayang?" tanya Ali yang kini kembali berdiri dan memeluk tubuh istrinya.
Ali tidak bosan-bosannya memandang netra sang istri yang basah oleh air mata kebahagiaan. Dia sendiri tidak kalau sejak tadi dia menangis.
"Baru empat minggu," jawab Hafsah sambil menghapus air mata yang ada di pipi Ali.
"Ya Allah, semoga kehamilan kali ini anak kami ini bisa terlahir dan menjadi pelita kebahagiaan dalam keluarga kami," kata Ali berdoa dengan sepenuh hati sambil meletakan tangannya di atas perut Hafsah.
"Bang, mereka kembar," bisik Hafsah dengan senyum manisnya.
"Kem–bar?" Ali kembali terkejut saat mendengar kembali kebahagiaan yang semakin berlipat ganda.
"Ya Allah, Alhamdulillah. Engkau Maha Pemurah sudah menghadirkan langsung dua buah calon anak untuk kami," lanjut Ali kembali menangis tergugu.
__ADS_1
Hafsah juga tadi sempat tidak percaya kalau di dalam perutnya sedang tumbuh dua janin. Tangis bahagia langsung pecah karena dia merasa anak yang dulu tidak sempat lahir, kini Allah ganti kembali.
Ali dan Hafsah langsung ambil air wudhu dan melakukan sholat sunah. Mereka bersyukur atas rezeki berupa anak yang Tuhan berikan. Apalagi di dalam perutnya ada dua buah cinta yang akan hadir nanti.
Ghani yang sejak tadi mencemaskan keadaan Hafsah, diam-diam mengikutinya. Kini laki-laki itu sedang berdiri di dekat kaca jendela dan memperhatikan pasangan suami istri yang sedang berbahagia.
'Syukurlah kalian baik-baik saja. Semoga dengan kehadiran buah hati kalian ini bisa meluluhkan hati Bu Ruqoyah,' batin Ghani. Lalu, dia pun pergi setelah melihat Ali dan Hafsah selesai sholat.
Sebagai tanda syukur Ali mengirim uang kepada salah seorang temannya untuk mengadakan syukur nikmat untuk anak-anak yatim di panti asuhan besok. Dia tidak bisa datang langsung ke panti asuhan karena harus menunggui ibunya dan Hafsah juga harus banyak istirahat. Dia tidak mau lagi kalau harus kehilangan calon anak mereka.
"Sayang, tidur, ya!" pinta Ali kepada Hafsah untuk tidur di sofa yang ada di ruangan itu.
"Aku tidak mengantuk, Bang. Seharian ini aku terus berbaring dan beberapa jam yang lalu baru bangun," ucap Hafsah.
"Oh, iya. Tadi kamu pergi ke mana? Abang mencari kamu seperti orang linglung yang tidak tahu apa yang harus diperbuat," tanya Ali dengan malu-malu.
Lalu Hafsah pun menceritakan apa yang terjadi kepada dirinya tadi siang sampai malam. Ali merasa sangat bersalah karena telah membuat wanita yang dicintainya itu terluka hatinya.
"Astaghfirullahal'adzim, aku sampai hampir lupa sama Ibu Bidan Maryam itu. Bagaimana kabar beliau, Bang?" tanya Hafsah yang baru ingat kepada wanita yang pernah menolongnya dahulu.
Ali pun menceritakan pertemuan mereka tadi. Dia juga bilang kalau baru tahu Hafsah pernah hamil dan keguguran.
"Kenapa kamu menyembunyikannya kejadian itu dari abang?" tanya Ali dengan penasaran.
"Maafkan aku, Bang. Aku takut Abang marah dan membenciku karena tidak bisa menjaga calon bayi kita," jawab Hafsah dengan tercekat dan air mata berderai.
Hafsah kembali mengingat kejadian di hari paling menyakitkan dalam hidupnya. Di mana dia keguguran dan harus kehilangan janin yang baru berusia 6 minggu.
"Apa waktu itu kamu kelelahan sampai mengalami keguguran?" tanya Ali dengan tatapan sendu.
Terlihat sorot kesedihan dan terluka dari pancaran mata Hafsah. Tentu saja hati ibu mana yang tidak akan bersedih ketika kehilangan calon anaknya.
"Bidan Maryam mengatakan hal seperti itu," jawab Hafsah karena di tidak mau suaminya memandang dia sebagai perempuan yang picik atau pendusta dan memfitnah ibu mertuanya.
__ADS_1
"Abang sudah dengar semuanya dari bidan Maryam dan Bu Hajar. Kalau selama Abang pergi ke luar kota, ibu selalu menyuruh kamu untuk bantu-bantu di rumah, ya?"
Ali menatap Hafsah dengan penuh iba. Air matanya kembali menggenang di pelupuk netra. Sungguh dia yang merasa sudah menjadi suami dan ayah yang tidak bisa menjaga dan melindungi keluarga.
"Abang ingin dengar sendiri dari mulut kamu, Sayang. Apa yang terjadi pada hari itu? Bicaralah dengan jujur. Abang tidak akan marah kepada siapa pun baik itu sama ibu atau sama kamu, Sayang," ucap Ali.
Sebenarnya dari dahulu Hafsah sering merasa ketakutan untuk menceritakan tentang dirinya yang pernah hamil, tetapi mengalami keguguran. Tuduhan ibu mertuanya yang sering bilang dia mandul itu selalu dia sangkal. Ini dikarenakan memang dia tidak mandul. Begitu juga dengan tes kesuburan menyangka dirinya dalam keadaan siap hamil dan sehat keadaan rahimnya.
"Tolong, Sayang. Jangan biarkan abang seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tentang istri yang sangat aku cintai ini!" pinta Ali.
Hafsah pun mengangguk dengan pelan.
"Saat Abang ada tugas ke luar kota, dua hari aku di rumah orang tua Abang. Ibu meminta aku ke sana karena akan ada cara ulang tahun Alika dan diminta untuk membantu persiapan acara itu," kata Hafsah dengan pelan. Dia kembali membuka memori 5 tahun yang lalu.
"Sehari sebelum acara ibu meminta aku untuk membantu membersihkan rumah dan halaman. Seharian itu aku membersihkan seluruh rumah bersama Bu Hajar. Saat sore hari turun hujan badai dan dahan pohon rambutan yang tumbuh di halaman belakang patah menimpa genting gudang dan merusaknya. Begitu hujan reda kami semua membereskan semua sisa kekacauan akibat hujan badai dan sampah juga jadi berserakan di seluruh halaman rumah, kita membersihkan sampai Magrib," lanjut Hafsah.
"Keesokan harinya acara ulang tahun Alika, setelah sholat subuh aku dan ibu pergi berbelanja ke pasar. Aku dan ibu belanja banyak untuk masak hari itu karena Alika mengundang semua teman satu kelas dan beberapa guru. Ayah juga meminta untuk melebihkan porsi untuk diberikan kepada tetangga. Jadi ibu memutuskan untuk memasak dua kali lipat dari rencana semula. Akhirnya aku pun kembali belanja ke pasar sendirian," tambah wanita yang kini berada dalam pelukan Ali.
Laki-laki itu bisa membayangkan betapa sibuk dan capeknya sang istri dikala itu. Seandainya saja dia meminta bantuan orang lain dalam menyiapkan acara ulang tahun adiknya, mungkin saja Hafsah tidak akan kelelahan dan tidak akan keguguran.
'Astaghfirullah. Apa yang aku pikirkan barusan. Ampuni aku Ya Allah, bukannya aku menolak takdir yang sudah terjadi kepada keluarga hamba,' batin Ali.
"Acara ulang tahun Alika selesai begitu Magrib. Tetapi, ada beberapa temannya yang tidak pulang dan memutuskan untuk menginap di rumah. Ibu meminta aku jangan dulu pulang karena besok pagi harus menyiapkan sarapan untuk mereka. Aku baru pulang ke rumah setelah Zuhur karena harus membereskan bekas acara ulang tahun. Apalagi ibu meminjam alat-alat prasmanan milik RT, jadi harus dikembalikan secepatnya," tutur Hafsah dan Ali yang mendengar cerita istrinya merasa sesak dadanya.
"Aku pulang dalam keadaan lelah dan perut aku sejak semalam memang sakit sekali. Waktu itu aku mengira hanya maag, karena dua hari itu aku selalu telat makan. Namun, saat kaki menginjakkan di teras rumah aku merasa ada yang mengalir di paha ke kakiku. Ternyata itu adalah darah dan kebetulan ada Bu Bidan sedang di depan rumah, dia pun membawa aku ke klinik miliknya. Perasaan aku di hari itu benar-benar hancur, Bang. Aku merutuki diriku karena tidak tahu akan kehadiran calon bayi kita," ucap Hafsah dengan menangis tergugu.
"Sudah, Sayang. Maafkan abang yang malah memintamu untuk menceritakan kenangan buru kamu. Maafkan abang yang tidak berada di sisimu saat kamu berjuang dalam kesakitan dan kesedihan," tukas Ali.
Pasangan suami istri itu kini menangis dan saling menguatkan satu sama lain. Mereka juga berjanji akan selalu menjaga apa yang sudah diamanahkan oleh Allah kepada mereka.
***
__ADS_1