Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 47. Maafkan Ibu, Hafsah


__ADS_3

Bab 47


Setelah selesai sholat Subuh, Ali mengaji sambil memegang perut Hafsah. Mendapatkan perlakuan seperti ini membuat hati si calon ibu bahagia tiada terkira. Impian dia selama ini bisa terwujud juga. 


Ruqoyah yang baru bangun karena mendengar suara merdu putranya melihat ke arah pasangan suami istri itu. Dia mengingat kembali mimpinya semalam. Di mana dia bertemu dengan sang suami yang menggandeng seorang anak laki-laki yang memiliki wajah dengan Ali. Pertemuan itu terasa nyata baginya, apalagi saat suaminya banyak sekali memberikan nasehat kepadanya sampai membuat dia menangis dan memohon maaf kepadanya.


"Bu, apa tidak mau kita bisa berkumpul kembali bersama-sama di akhirat nanti?" tanya Said yang menggenggam tangan Ruqoyah.


"Tentu saja ibu ingin kita bisa berkumpul kembali bersama-sama ayah nanti di surga," jawab Ruqoyah.


"Lalu, apa ibu sudah pantas menjadi seorang hamba yang ditempatkan di surga, sementara ibu selalu menyakiti menantumu sendiri dan membuat kesulitan kepada putramu," tukas Said dan menohok bagi Ruqoyah.


"Bertaubatlah, Bu! Selagi Allah memberikan waktu sebelum nyawamu sampai di kerongkongan. Perbanyaklah ibadah, hentikan perbuatan suka ber-ghibah dan menyebar berita bohong. Takutlah sama Allah, Bu!" 


Ruqoyah menangis tergugu, kilasan segala perbuatannya muncul dalam ingatan secara tiba-tiba seakan dia sedang menonton video. Dia tahu karena keegoisan ingin memiliki cucu membuat dia bersikap seperti itu kepada Hafsah dan Ali. 


"Maafkan ibu, Yah. Ibu menyesal … ibu kapok dan tidak akan berbuat jahat lagi kepada Hafsah dan Ali," ucap Ruqoyah dalam rintihan tangisnya. 


Ruqoyah merasakan sesak dan sakit di dadanya. Dia pun memeluk tubuh suaminya dan menumpahkan semua tangis penyesalannya.


"Berjanjilah ibu akan mengubah tabiat buruk itu. Buang jauh-jauh dan jangan sampai kembali lagi."


Ruqoyah mengangguk. Dia berjanji di dalam hatinya.


"Kalau ibu ingin sesuatu mintalah kepada Allah, kita ini hanya makhluk lemah yang memerlukan kebesaran-Nya dan kasih sayang-Nya. Apa yang ibu ingatkan saat ini?" tanya Said.

__ADS_1


Ruqoyah menatap Said, bukannya sang suami tahu sekali apa yang diinginkan olehnya dari dahulu. Kenapa seolah-olah tidak tahu.


"Jujur ibu ingin kehadiran cucu. Ibu iri dengan para tetangga dan juga teman-teman ibu yang punya cucu dan selalu membanggakannya," jawab Ruqoyah.


"Siapa bilang kita tidak punya cucu. Ini cucu kita, Bu."


Said mengelus kepala anak kecil yang sejak tadi duduk di sampingnya. Ruqoyah menatap bocah kecil itu.


"Assalamualaikum, Nenek," salam bocah kecil itu kepada Ruqoyah.


Ruqoyah bukannya menjawab salam malah terdiam karena terkesima oleh panggilan anak laki-laki itu. Ada rasa rindu juga bahagia yang dia rasakan saat ini.


"Dia … cucu kita, Yah?" tanya Ruqoyah masih tidak percaya.


"Iya, cucu kita yang belum sempat melihat dunia," jawab Said masih mengelus kepala bocah yang memakai baju putih.


"Kita harus segera pergi," kata Said.


"Assalamualaikum, Nenek. Kami pergi dulu, ya!" Anak kecil itu melambaikan tangan kepada Ruqoyah.


"Tidak! Jangan tinggalkan aku," teriak Ruqoyah sambil berlari menyusul mereka. Namun, kedua orang itu berjalan dengan sangat cepat meninggalkan dirinya.


Ruqoyah kembali dari lamunannya. Dia mengusap air mata yang jatuh begitu saja di pipinya.


Ali mencium perut Hafsah beberapa kali. Dia sedang memberikan sentuhan kasih sayang untuk anak-anaknya.

__ADS_1


"Baik-baik di sana, ya, kalian. Ayah dan Bunda akan selalu menjaga kalian dengan baik-baik," kata Ali.


"Iya, Ayah. Kita tidak akan rewel karena sayang Ayah sama Bunda," balas Hafsah meniru suara anak kecil. Lalu keduanya pun tertawa bahagia.


Ruqoyah yang melihat itu merasa heran. Lalu dia pun bangun dari pembaringannya.


"Ali … Hafsah," panggil Ruqoyah.


Kedua orang yang sedang tertawa itu pun langsung mengalihkan perhatiannya kepada Ruqoyah yang sedang duduk di atas brankar. Lalu mereka mendekati sang ibu.


"Ibu sudah bangun? Mau ke kamar mandi?" tanya Hafsah dengan lembut.


Ruqoyah langsung memeluk Hafsah dan menangis keras. Dia malu kepada menantunya ini. Sering mendapatkan perlakuan kasar darinya, tetapi masih saja selalu memperlakukan dirinya dengan baik.


"Maafkan ibu, Hafsah. Ibu terlalu banyak dosa kepadamu. Ibu mohon maafkan semua dosa-dosa ibu yang begitu sangat banyak kepadamu!" pinta Ruqoyah sambil menangis meraung-raung.


Tubuh Hafsah mendadak kaku mendengar ucapan ibu mertuanya. Dia tidak menyangka kalau wanita yang sudah melahirkan suaminya ini akan meminta maaf bahkan sampai menangis seperti ini. Tanpa terasa air matanya juga ikut turun.


"Aku sudah memaafkan semua ke-khilaf-an yang sudah ibu lakukan kepadaku. Justru aku yang harus meminta maaf kepada ibu, karena belum bisa menjadi seorang menantu yang seperti ibu inginkan," ucap Hafsah dalam isak tangis yang tertahan.


"Tidak. Kamu selalu memberikan yang terbaik buat ibu. Hanya saja ibu bukan orang yang suka bersyukur dan selalu merasa kurang. Maafkan ibu, Nak," balas wanita setengah paruh baya ini.


Ali ikut menangis melihat pemandangan didekatnya ini. Kedua orang wanita yang berarti dalam hidupnya kini saling berpelukan. Sungguh dia merasa sangat terharu dan bahagia karena sang ibu sudah menyadari kesalahannya.


***

__ADS_1


Apakah kehidupan Hafsah dan Ali akan bahagia setelah ini? Bagaimana dengan kehidupan rumah tangga Alika dengan Bimo? Ikuti terus kisah mereka, ya!



__ADS_2