Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 65. Pertemuan Semua Orang


__ADS_3

Bab 65


Sudah satu minggu Hafsah dan Alika dirawat. Mereka sengaja mengambil waktu selama ini karena kondisi Hafsah pasca melahir dan mendapatkan teror menakutkan membuat Ali jadi lebih posesif. Sebenarnya Alika hari kedua juga sudah bisa pulang, tetapi di rumah tidak akan ada yang jaga. Jadi, mereka semua tinggal dulu di rumah sakit sampai Hafsah dinyatakan sehat dan baik ketika dokter memeriksa perut sang istri karena operasi waktu itu.


"Alhamdulillah, akhirnya kita bisa pulang!" Ruqoyah sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah dan mengasuh cucu-cucunya.


Kepulangan mereka ke rumah juga bersamaan dengan acara aqiqah anak Ali dan anak Alika. Semua warga diundang bahkan dari kompleks perumahan yang lain yang turut diundang.


"Wah, Bu Ruqoyah cucunya ganteng-ganteng dan cantik," puji Bu Ratna sambil menatap gemas kepada tiga bayi yang baru saja di potong rambutnya.


"Sekali punya cucu, langsung dikasih tiga. Ini 'lah buah kesabaran Bu Ruqoyah," lanjut Mpok Noni.


Semua orang yang datang banyak yang memuji dan mendoakan kebaikan untuk ketiga bayi itu. Meski ada selentingan karena bayi yang dilahirkan oleh Alika berwajah bule dan rambutnya juga pirang. Namun, keluarga Ali tidak sakit hati atau balik menyindir orang itu.


"Eh, tadi lupa siapa saja namanya?" tanya Tya kepada Hafsah saat melihat bayi cantik di gendongan Ali dan bayi tampan di gendongan Hafsah.


"Yang ini mananya, Alvarendra Ilham Saadiq, Tante," jawab Hafsah dan bayi itu tersenyum.


"Ih, bagus banget namanya. Itu artinya apa?" tanya Tya penasaran.


"Artinya, laki-laki yang cerdas, jujur, dan dapat dipercaya," jawab istri Ali dan lagi-lagi bayi itu tersenyum.


"Lucu banget. Dia sepertinya sangat suka dengan namanya," ujar Tya.


"Lalu, si cantik ini siapa namanya?" lanjut Tya.


"Adiba Afsheen Myesha," jawab Ali.

__ADS_1


"Keren, nih, namanya. Apa artinya, Pak?" Lagi-lagi Tya merasa penasaran.


"Artinya, anak perempuan cerdas sebagai karunia kehidupan yang selalu bersinar seperti bintang di langit," jawab suami Hafsah.


"Kalau anaknya Alika ini siapa?" tanya Tya melihat bayi berwajah bule yang menatapnya tajam.


"Ih, galak banget tatapannya tapi bikin meleleh hati. Calon rebutan gadis kompleks ini nanti," ucap Tya dan mengundang tawa banyak orang yang mendengarnya.


"Ini namanya, Althaf Ezaz Ghathaf," jawab Alika sambil menoel-noel gemes pipi putranya.


"Kalau ini apa artinya?" tanya si ibu muda.


"Anak yang baik hati, lembut, dan calon pemimpin bangsa. Aku berharap dia bisa seperti pamannya yang hebat ini," jawab Alika dan membuat Ali juga Hafsah terharu.


Rekan-rekan kerja Ali baik yang di perusahaan milik Ghani ataupun rekan kerja di hotel banyak yang datang dan membawa kado juga mendoakan kebaikan untuk bayi-bayi mungil itu. Semua orang menikmati hidangan yang disajikan.


Pemuda itu menjadi saksi saat Bimo menjatuhkan talak kepada Alika saat di rumah sakit. Sebelumnya Bimo meminta maaf dan berharap hubungan mereka bisa baik seperti semula. Namun, Alika menolak keinginan suaminya itu. Dia lebih memilih membesarkan anaknya sendiri dari pada harus mengabaikan atau menyerahkan anaknya kepada Demitri.


"Alhamdulillah, aku baik," jawab Alika dengan sopan.


Ghani sekarang melihat sosok Alika yang berbeda jauh dengan Alika yang dia kenal dulu. Perempuan itu menjadi orang yang berbeda 180° dari sifat dan sikapnya yang dahulu.


"Lalu, bagaimana proses perceraian kamu dengan Bimo?" tanya Ghani karena dia sempat mengenalkan pengacaranya kepada Alika agar perempuan itu bisa mendapatkan haknya.


"Alhamdulillah, sebentar lagi sidang pertama. Semoga saja lancar dan tidak ada kendala," jawab Alika.


Terlihat ada dua mobil mewah parkir di luar pintu pagar rumah Ali. Para penumpang turun sambil membawa banyak kado. Terlihat gadis kecil berlari masuk ke halaman rumah Ali.

__ADS_1


"Bia," panggil Alika.


"Tante … mana dede bayinya? Aku ingin lihat."


Putri pasangan Bimo dan Anggun begitu semangat ingin melihat bayi yang dulu ada di perut Alika. Saat di rumah Bimo dulu, memang Bia sering memintanya main bersama. Bocah itu sering meniru Alika yang mengajak bayi di dalam perutnya bicara.


"Ini dede bayinya," jawab Alika sambil menurunkan badannya agar sejajar dengan bocah kecil itu.


"Wah, lucu sekali!" Bia pun mencium pipi gembul Ezaz.


Bimo, Anggun, dan kedua mantan mertua Alika mengucapkan selamat dan memberikan hadiah. Meski mereka sudah tidak lagi jadi keluarga, tetapi hubungan mereka tetap terjalin baik. Bu Dewi merasa sangat kehilangan Alika begitu dia memutuskan untuk tinggal bersama ibu dan kakaknya. Biasanya dia suka ngomel tiap hari karena kebodohan dan kecerobohan Alika. Namun, dia jadi punya teman untuk ngobrol dengan bebas karena Alika bisa menyeimbangkan obrolannya.


Bimo dan Anggun juga merasa kehilangan Alika yang biasanya wara-wiri dan masak sesuatu yang sederhana karena tidak bisa memasak.


"Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan yang tidak bisa aku berikan kepadamu, dulu," ucap Bimo dan Alika pun mengangguk.


Bimo memberikan sebuah amplop kepada Alika. Itu adalah tabungan yang selama ini diisi untuk kepentingan Alika. Namun, istri mudanya itu dulu jarang menggunakan uangnya.


"Ini milik kamu. Hak yang kamu dapatkan selama menjadi istri aku," lanjut Bimo.


Alika tadinya mau menolak, tetapi Anggun me nyuruhnya menerima itu. Sebab, itu adalah salah satu bentuk keadilan Bimo saat dirinya berpoligami.


***


Sarah yang baru mendapatkan kabar kalau di rumah Ali sedang diadakan acara aqiqah anak mereka, langsung saja tancap gas ke tempat tujuan. Dalam otaknya sudah terencana apa yang akan dia lakukan kepada keluarga Ali.


"Kali ini aku tidak boleh gagal. Pokoknya harus berhasil!"

__ADS_1


***


__ADS_2