Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 28. Hamil!


__ADS_3

Bab 28


Saat ini Alika mondar-mandir di dalam kamar karena terbesit ketakutan di dalam hatinya semenjak pulang dari puncak. Dia terlambat datang bulan sudah 15 hari dari tanggal biasanya. 


"Apa aku harus melakukan tes dulu, ya?" gumam Alika dengan raut muka yang cemas dan takut.


Waktu sudah menunjukkan waktu pukul 09:15 sementara ada jadwal masuk kuliah jam 10:00 nanti. Sekarang dia harus segera berangkat jika tidak mau terlambat dan tidak mendapat omelan dosennya. Dengan langkah gontai perempuan itu pun keluar dari kamarnya.


"Kenapa muka kamu pucat begitu?" tanya Ruqoyah dengan berpapasan dengan anaknya.


"Kurang tidur mungkin, Bu. Karena banyak tugas dari dosen, jadi begadang terus tiap malam," jawab Alika lalu segera pergi agar tidak banyak ditanya oleh ibunya.


Hafsah yang sedang menyetrika di ruang keluarga, melihat adik iparnya yang memang terlihat pucat dan matanya yang cekung seperti orang sakit. Dalam hatinya dia juga mencemaskan keadaan Alika yang tidak biasanya.


Alika menyempatkan diri untuk membeli alat tes kehamilan di apotek saat berangkat ke kampus. Niatnya dia akan melakukan tes di kamar mandi yang ada di sana. Kalau dia melakukan tes di rumah takutnya akan ketahuan oleh penghuni rumah.


Waktu pun terus bergulir, seharian itu Alika tidak banyak bicara. Setelah habis jam mata kuliah pun dia cepat-cepat pergi sebelum diajak jalan-jalan oleh teman-temannya. Perempuan itu langsung pergi menuju toilet dan melakukan tes. Tadi dia membeli 3 alat tes kehamilan dengan merek yang berbeda. 


Setelah ditunggu beberapa saat dengan jantung yang berdebar kencang, Alika melihat semua alat tes itu menunjukan dua garis yang terlihat jelas. Tiba-tiba kaki dia terasa lemas setelah melihat hasilnya.


'Tidak. Bagaimana mungkin aku ha–mil. Padahal aku hanya melakukan hanya malam itu saja. Itu pun aku tidak ingat,' batin Alika dengan derai air mata yang tidak bisa dia tahan lagi.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' gumam Alika yang kini berjongkok sambil menangis.


***


Kondisi tangan Hafsah susah sembuh total jadi dia sudah bisa melakukan semua pekerjaan rumah sendiri. Selama dia sakit tangannya, Ruqoyah terus saja menyindirnya karena tidak melakukan pekerjaan apa pun dan menyebutnya manja. 

__ADS_1


"Hafsah, ibu mau pergi arisan. Jadi, kamu tidak perlu masak untuk makan siang," kata Ruqoyah.


Wanita itu lupa kalau Hafsah juga perlu makan siang. Hanya karena dia akan makan di restoran bersama teman-teman sosialita, jadi tidak perlu masak. Menurutnya itu akan mubah karena dia tidak akan makan. Hafsah pun hanya mengangguk dan dia bisa makan dengan membeli telur di warung Mpok Noni nanti.


"Ustadzah, aku lihat Bu Ruqoyah datang ke sebuah restoran mahal yang ada di kota. Apa dia sering makan di restoran mahal begitu?" tanya Tya saat mereka bertemu di warung Mpok Noni.


Orang-orang yang sedang ada di warung itu merasa penasaran. Selama ini semua orang tahunya uang Ali itu dikuasai oleh Hafsah dan Ruqoyah hanya diberi sedikit.


"Ada acara arisan bersama teman-temannya di sana. Biasanya mereka makan di tempat-tempat seperti itu jika sedang kumpul untuk arisan satu bulan sekali," jawab Hafsah dengan jujur.


"Apa? Hanya untuk acara arisan saja meski harus di restoran mewah seperti itu? Memangnya berapa bayaran arisan yang harus dibayar oleh Bu Ruqoyah bersama teman-teman itu?" lanjut Tya bertanya karena sangat penasaran.


Hafsah hanya menggelengkan kepala. Dia tidak tahu berapa uang yang harus dibayar dan berapa yang akan didapatkan. Uang 20 juta yang diatur oleh Ruqoyah itu tidak tahu untuk apa saja.


"Memangnya kenapa? Toh, yang bayar juga itu Bu Ruqoyah, bukan kamu!" ucap Bu Ratna kepada Tya dengan sinis.


Orang-orang yang mendengar itu pun jadi penasaran dengan uang arisannya Ruqoyah. Kalau tempat kumpul-kumpulnya saja di tempat mewah begitu, pastinya akan banyak mengeluarkan uang, sebaliknya uang yang bisa di dapatkan dari arisan itu juga pasti akan besar.


"Tapi, ngomong-ngomong Bu Ruqoyah bisa punya uang banyak dari mana? Apa Ustadzah yang memberi uang untuk arisan itu?" tanya ibu-ibu yang memakai daster batik.


***


Sementara itu, Ruqoyah dan teman-temannya arisan sedang bersenda gurau di restoran yang sudah di-booking. Mata Ruqoyah tanpa sengaja melihat Alika sedang bersama seorang laki-laki yang dia sendiri tidak tahu siapa itu.


'Bukannya Alika hari ini ada jadwal kuliah? Lalu, kenapa dia ada di sini? Apa sudah pulang? Awas saja kalau dia sampai bolos!' batin Ruqoyah bertanya-tanya.


Meski sudah tua, tetapi penglihatan Ruqoyah masih berfungsi dengan baik. Jadi, tidak mungkin salah mengenali putrinya sendiri. Hanya saja dia lupa dengan foto dan video yang dulu diperlihatkan oleh Hafsah.

__ADS_1


"Bu Ruqoyah, bukannya itu anak perempuan Ibu, ya?" tanya Bu Joko saat melihat Alika.


Mendengar ucapan wanita yang suka berdandan anggun ini, sontak ibu-ibu yang lainnya pun melihat ke arah meja Alika. Mereka yang sudah tahu Alika pun membenarkan akan kehadiran anaknya Ruqoyah itu.


'Ih, si Alika sedang bersama siap lagi, itu?' batin Ruqoyah dengan tatapan kesal melihat ke meja di mana Alika sedang duduk.


"Loh, sepertinya dia menangis, Bu. Kenapa dia? tanya Bu Budiman penasaran.


"Iya, dia menangis. Siapa laki-laki itu?" tanya Bu Darma.


Ditanya seperti ini Ruqoyah bingung harus menjawab apa. Dia sendiri tidak tahu siapa laki-laki itu. Kalau dia menjawab Om-nya, jelas akan ketahuan bohong, karena laki-laki yang dulu bersama Alika itu berbeda dengan yang sekarang.


"Mungkin dosennya. Sekarang Alika sedang masa-masanya sibuk dengan tugas kuliah," jawab Ruqoyah sambil tersenyum tipis.


"Oh." Semua ibu-ibu itu kompak.


"Hati-hati, loh, Bu. Ada kejadian seorang mahasiswi yang rela jadi simpanan dosennya agar bisa dapat nilai bagus," tukas Bu Budiman dan dibenarkan oleh yang lainnya.


Ruqoyah semakin takut dan khawatir kalau sampai Alika juga jadi seperti itu. Sekarang dia ingat dengan pertengkaran dan amukan Ali kepada Alika karena sudah pergi berduaan dengan laki-laki.


"Jaga anak gadis Ibu itu baik-baik," lanjut Bu Joko.


"Iya, tentu saja. Lagian Alika itu bisa menjaga dirinya sendiri," timpal Ruqoyah berusaha kuat dan tidak panik.


***


Apakah akan terjadi kehebohan di restoran itu? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1



__ADS_2