Bukan Menantu Sempurna

Bukan Menantu Sempurna
Bab 52. Ruqoyah Menemui Alika


__ADS_3

Bab 52


Hafsah menceritakan apa yang dia lihat tadi kepada Ali. Terlihat raut wajah laki-laki itu berubah. Sungguh dia tidak suka saat mendengar adiknya diperlakukan seperti itu.


"Apa mereka lupa kalau saat ini Alika sedang hamil?" ucap Ali dengan geram.


"Bang, jangan terpancing emosi. Kita harus tahu seberapa apa yang sudah terjadi kepada Alika. Selain itu kita juga tidak boleh ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Aku percaya Alika punya alasan tersendiri, kenapa yang dia membicarakan kepada kita adalah hal-hal yang baik tentang keluarganya sekarang," ujar Hafsah.


Ali pun paham maksud istrinya. Dia cukup tahu, mengawasi, dan jika sampai terjadi sesuatu yang berbahaya kepada adik dan calon keponakannya, baru dia tidak akan tinggal diam.


"Kita doakan saja apa yang Alika sering diceritakan kepada kita itu adalah benar. Kalau keluarga barunya itu benar-benar menyayanginya," tukas Hafsah dan Ali pun mengangguk.


Berbeda dengan cara pandang Hafsah dan Ali. Ruqoyah merasa tidak terima melihat perlakuan besan dan keluarganya seperti itu kepada Alika. Dia bersama dengan Bu Ratna mendatangi villa yang tidak jauh jari tempat mereka menginap. Mereka ingin bertemu dan melihat langsung keadaan Alika.


Betapa terkejutnya Alika saat sampai ke villa bertepatan dengan ibunya. Saat ini dia tidak akan bisa mengelak lagi, jadi dia harus menjelaskan semuanya kepada sang ibu.


"Alika, kamu habis dari mana?" tanya Ruqoyah menatap nanar putrinya yang berjalan sambil menenteng dua buah kantong keresek di kedua tangannya.


Mereka berdiri di depan pintu gerbang villa. Alika bingung apa harus mengajak ibunya masuk atau tidak. Apalagi ada Bu Ratna yang suka bermulut ember.

__ADS_1


'Aduh, kenapa ibu bisa liburan ke puncak, sih! Aku kira ibu akan pergi makan-makan saja seperti biasa, bukan liburan menginap seperti ini,' batin Alika.


"Kamu itu ditanya sama ibumu malah diam saja," ujar Bu Ratna dengan delikan mata kesal.


Mendengar omongan teman ibunya, tentu saja Alika tidak suka. Dia memikirkan jawaban apa yang harus dia ucapkan kepada ibunya saat ini.


"Aku habis beli sayuran segar di sana, Bu. Aku ngidam ingin makan sayuran yang aku masak sendiri," jawab Alika dengan senyum lebarnya.


'Ya, dengan alasan ngidam pastinya tidak akan ada yang protes,' lanjut Alika dalam hatinya.


Ruqoyah maklum dengan keinginan wanita yang sedang hamil itu kadang punya keinginan yang aneh-aneh. Namun, dia tidak melihat Bimo menemani Alika.


"Mas Bimo juga tadi niatnya mau mengantar pakai mobil, tapi aku tolak karena ingin berjalan kaki sambil melihat pemandangan di sini. Selain itu kasihan sama Mas Bimo yang kelelahan menjadi sopir, sudah membawa kendaraan berjam-jam," jawab Alika.


Saat Ruqoyah ingin bertemu dengan besannya, Alika melarang hal itu karena kedua mertuanya sedang istirahat karena kelelahan sudah menempuh perjalanan yang sangat jauh dan butuh istirahat.


Meski dengan rasa kecewa, Ruqoyah berpesan kepada putrinya tetap meminta segala sesuatu itu kepada Allah, Tuhan Sang Maha Pemberi. Wanita itu juga meminta putrinya untuk selalu menghubunginya.


Setelah kepergian Ruqoyah, Alika bergegas masuk ke dalam villa. Lalu dia mempersiapkan bahan untuk masak makan siang. 

__ADS_1


Alika masak sebisanya karena ibu mertuanya sedang tidur. Begitu juga dengan Anggun. Meski mereka cerewet dan suka nyuruh-nyuruh, tepati dengan instruksi dari mereka Alika bisa masak.


Setelah selesai masak, Alika membangun semua orang dan tidak ada yang protes dengan hasil masakannya. Mungkin mereka kelaparan dan lelah jadi makan saja yang ada di depan mata mereka.


"Mas, ternyata ibu dan kak Ali liburan di puncak ini juga, loh! Boleh nggak kalau aku main ke villa tempat mereka menginap?" tanya Alika dengan ragu-ragu.


Ibu hamil muda itu merasa kesepian di sini. Jadi, dia berpikir kalau lebih baik jika mendatangi keluargnya sendiri. Setidaknya dia akan ada yang mengajaknya bicara.


Bimo terdiam tidak langsung menjawab. Dia takut kalau Ali akan marah jika dirinya tidak ikut bersama Alika untuk menemuinya. Sementara dia sudah berjanji akan bermain bersama Bia setelah ini.


"Biarkan saja Alika menemui keluarganya. Tapi, jangan bawa mereka ke sini. Aku tidak suka ada orang luar," ucap Bu Dewi.


Hati Alika merasakan sakit saat mendengar ucapan mertuanya barusan. Dia tidak terima kalau ibunya dibilang orang luar sudah jelas-jelas kalau sekarang mereka sudah menjadi keluarga dengan adanya ikatan tali pernikahan antara dirinya dengan Bimo.


'Apakah mereka akan mendepak aku begitu bayi ini lahir?' batin Alika.


***


Apakah yang ada di dalam pikiran Alika akan terjadi? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1



__ADS_2