
Bab 41
Acara pengajian ibu-ibu berjalan baik dan Alika terlihat senang. Sudah tidak ada lagi perasaan tertekan seperti dahulu saat dirinya baru tahu hamil. Begitu juga dengan Ruqoyah tidak ada rasa malu karena anak sudah hamil diluar nikah. Emang zaman sudah akan kiamat, dosa besar yang tampak dan diketahui oleh orang lain pun tidak membuatnya jadi malu dan takut. Sungguh sangat miris sekali.
Sarah mendekati Ali yang sedang mengatur para tamu yang antri untuk prasmanan. Wanita itu sengaja mendekati Ali dan ingin mencari perhatian darinya.
"Ali, bagaimana dengan kelanjutan kasus video itu? Apakah polisi mau menerima pembelaan dirimu?" tanya Sarah.
Ali yang sedang membantu orang-orang mengambil makanan sampai menghentikan pekerjaannya itu. Dia kesal kepada Sarah, karena membahas masalah itu di saat seperti ini.
Sebenarnya tadi pengacara yang membantunya sudah memberikan kabar gembira dan dirinya memang bukan orang yang menyebarkan video itu. Status dia juga menjadi sekarang menjadi korban. Polisi pun akan mencari tahu siapa pelaku yang sudah memberi obat perang_sang itu. Karyawan hotel yang bertemu dengan Sarah juga barusan ditetapkan menjadi pelaku oleh pihak berwajib. Berita ini belum sampai kepada Sarah, karena Ali juga baru mendapatkan kabar ini baru saja begitu selesai acara pengajian.
Hafsah merasa cemburu saat melihat Sarah berbicara dengan Ali begitu lama. Tentu saja dia tidak akan tinggal diam. Wanita itu tidak akan berbuat barbar dalam menghadapi wanita yang licik seperti Sarah. Namun, dia akan menjaga suaminya agar tidak berpaling darinya. Dia tidak akan membiarkan suaminya melirik wanita lain. Perselingkuhan itu tidak akan terjadi jika hanya satu belah pihak saja yang menginginkan, sebaliknya perselingkuhan akan terjadi jika ada keinginan dari kedua belah pihak.
"Semoga Hafsah segera bisa hamil," ucap Mpok Noni dan di-aamiin-kan oleh yang lainnya.
"Aamiin. Insha Allah, semoga doa ibu-ibu barusan diijabah oleh Allah," balas Hafsah dengan senyum lebar.
Entah apa yang terjadi tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh dan menimbulkan bunyi pecahan. Ruqoyah tergeletak di lantai dan sebuah guci kesayangan miliknya pecah.
"Ada apa ini?" tanya Ali.
"Sepertinya Bu Ruqoyah mau memindahkan guci itu lalu terpeleset atau apa gitu karena dia tiba-tiba saja jatuh sendiri dan gucinya mengenai kepala," ucap Bu Ratna yang berdiri tidak jauh dari sana.
Tamu undangan pun membantu membawa Ruqoyah ke rumah sakit karena kepalanya mengeluarkan banyak darah. Ali dan Hafsah ikut mengantarkan ke rumah sakit. Sementara Alika mengurus tamu yang masih ada di rumah.
"Dokter, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya Ali.
__ADS_1
"Pasien mengalami luka di kepala dan akan mendapatkan jahitan," jawab dokter.
Ruqoyah mendapatkan jahitan di kepalanya sebanyak sepuluh jahitan. Dia juga menjalani rawat inap, Hafsah dan Ali pun menjaganya.
Sebenarnya sudah banyak teguran dari Allah untuk Ruqoyah. Namun, wanita itu selalu tidak melihat atau mentafakuri dirinya. Kenapa banyak sekali kejadian tidak menyenangkan terjadi kepada dirinya atau keluarganya. Dia malah sibuk menyalahkan orang lain, terutama kepada Hafsah.
"Semoga tidak terjadi apa-apa kedepannya untuk Ibu," kata Ali mengingat luka ini ada dibagian kepala dan usia Ruqoyah sudah tua.
Hafsah pun berharap seperti itu. Bahkan dia berharap ibu mertuanya bisa menyayangi dirinya dan menerima menjadi menantu yang sesuai dengan harapannya.
***
Hari pernikahan Alika dengan Bimo akan digelar hari ini. Ruqoyah memaksakan diri untuk hadir di acara itu. Bagaimanapun juga bagi dia harus bisa berdiri di pelaminan dan menyambut para tamu. Dia ingin menunjukkan kalau Alika menikah dengan orang kaya.
Hafsah mengkhawatirkan keadaan ibu mertuanya, tetapi Ruqoyah bersikukuh untuk tampil dengan sempurna di pernikahan putrinya. Ali pun tidak bisa menasehati ibunya.
"Pasti nanti bisa ikut arisan yang 100 juta, dong!" sindir Bu Budiman.
"Ya, pasti. Masa punya menantu pengusaha tidak mampu memberi uang segitu untuk mertuanya," balas Ruqoyah dengan tidak tahu malu.
Teman-teman arisan Ruqoyah menjadi tidak simpati kepadanya setelah mereka bertamu dahulu ke rumah Ali. Mereka jadi tahu sifat asli Hafsah yang sering dijelek-jelekkan oleh Ruqoyah itu tidak benar. Ditambah dengan cara Ruqoyah menyikapi kasus Alika, membuat mereka jengah.
Sarah datang dengan penampilan yang sempurna dan sedikit glamour. Ini membuat Ruqoyah semakin suka. Dia paling suka melihat penampilan yang dianggap berkelas. Tidak seperti Hafsah yang memakai baju gamis yang longgar dan sederhana juga jilbab besar serta bercadar.
"Ibu, selamat, ya! Semoga bahagia dan sehat selalu," ucap Sarah dengan riang.
"Aamiin. Terima kasih, Sayang. Semoga kamu juga cepat menikah," balas Ruqoyah.
__ADS_1
"Nunggu dilamar oleh Ali," ucap Sarah masih berharap.
Hafsah yang mendengar pembicaraan antara kedua wanita beda generasi itu hanya bisa beristighfar. Dia hanya berharap Allah membolak-balikkan hati keduanya. Entah berapa kali hati dia tersakiti oleh mereka berdua.
"Alika selamat menempuh hidup baru!" Sarah memeluk dan cipika-cipiki kepada Alika.
"Terima kasih, Kak," balas Alika.
Orang tua Bimo tidak hadir dan digantikan oleh pengasuhnya sejak masih kecil yang sudah dianggap ibu oleh laki-laki itu. Mana mau orang kaya dan terkenal itu hadir di acara yang mencoreng nama baik keluarga.
Saat Sarah berjalan ke arah meja prasmanan ada anak-anak kecil berlarian. Salah satu dari mereka menubruk Sarah sampai jatuh. Naasnya muka dia terjerembab tepat di kue pengantin.
Para tamu undangan yang hadir pun tertawa saat melihat muka dan rambut Sarah penuh dengan krim. Saat dia bangun kakinya tergelincir karena menginjak krim kue yang ada di lantai sehingga dia jatuh dan tangan yang dipakai untuk menahan tubuhnya malah menarik kain taplak meja tempat nasi berada. Wadah nasi itu pun tumpah di tubuh Sarah.
Ruqoyah dan Alika hanya melotot melihat kejadian yang menimpa Sarah. Sementara yang lain tertawa. Hafsah langsung membantu Sarah untuk berdiri dan meminta pihak catering untuk membereskan kekacauan itu.
'Kenapa, sih, Kak Sarah malah mengacau di acara pernikahan aku!' Alika hanya bisa mengamuk di dalam hatinya.
'Ya Allah, Sarah malu-maluin saja. Apa dia sengaja melakukan ini semua?' batin Ruqoyah.
Ali meminta pihak WO untuk membantu mengatur para tamu undangan kembali. Suasana pesta itu malah menjadi bahan tertawaan orang-orang.
Bimo malu dan marah rasanya dia ingin kabur saja saat itu juga. Alika hanya bisa mengusap lengan suaminya agar jangan marah.
"Aku paling tidak suka kalau ada yang mengacau di acaraku," bisik Bimo dengan tatapan tajam dan Alika bingung harus berbuat apa.
***
__ADS_1