
Bab 51
Alika lebih memilih libur bersama dengan keluarga Bimo mereka yang ada di puncak. Tanpa dia tahu kalau ibu dan kakaknya juga pergi berlibur ke sana.
"Alika, bawa koper ini dan masukan ke mobil milik papi!" perintah Bu Dewi kepada menantu keduanya.
Terlihat ada dua buah koper besar di depan pintu kamar mertuanya. Lalu, Alika menarik koper itu. Untungnya di rumah itu ada lift jadi tidak perlu menuruni tangga. Padahal dia sendiri juga membawa satu tas jinjing dan tas selempang.
Semalam giliran Bimo tidur bersama Anggun dan sampai sekarang belum terlihat batang hidung mereka. Tadinya Alika mau meminta bantuannya. Jadi, dia mau tidak mau harus membawa semua barang itu.
"Neng Alika, sini biar sama Mang masukan ke mobil kopernya," ucap Mang Soleh yang bekerja bagian satpam.
"Terima kasih, Mang," balas Alika sambil memberikan barang-barang itu untuk ditata di bagasi.
Tidak lama kemudian terlihat Bimo menggendong Bia dan Anggun menggendong Biru. Kedua mertua Alika juga berjalan di belakang mereka. Sungguh terlihat seperti keluarga harmonis dan bahagia.
Alika ikut masuk mobil mertuanya karena Anggun tidak mau satu mobil dengannya. Dalam perjalan itu tidak membawa sopir karena ini memang liburan keluarga dan tidak ingin melibatkan orang lain. Dalam perjalanan dari ibu kota ke puncak tidak ada yang mengajak bicara Alika. Seakan wanita itu adalah patung yang diletakkan di kursi penumpang.
'Kok, sekarang aku merasa menyesal ikut liburan keluarga Mas Bimo. Kenapa tidak ikut liburan dengan ibu dan kak Ali? Pasti lebih menyenangkan. Aku kira mereka akan liburan ke luar pulang atau liburan ke luar negeri,' batin Alika.
Begitu mereka sampai ke villa, Alika kembali disuruh untuk membawa koper. Ya, ini karena Pak Gunawan, papinya Bimo sedang sakit pinggang. Lalu, Bu Dewi tidak bisa bawa barang yang berat-berat.
Villa yang besar itu memiliki banyak kamar. Alika menempati kamar di samping kamar Anggun yang berhadapan dengan kamar kedua mertuanya. Sementara itu kamar Bia di depan kamar Alika atau lebih tepatnya di samping kamar kakek neneknya.
Begitu masuk ke kamar Alika ingin langsung tidur. Perjalanan ini membuatnya lelah dan sakit badannya. Baru juga memejamkan mata ibu mertuanya berteriak memanggilnya.
__ADS_1
'ish, Mak Lampir ini mau apa lagi, sih!' gerutu Alika dalam hatinya.
"Iya, Mami," balas Alika begitu kembali me dengar panggilan mertuanya.
"Kamu beli bahan-bahan sayuran ke petani di bawah tadi. Kamu lihat kan ada beberapa kios yang menjual hasil bumi. Tadi kita tidak membawa bahan makanan saat ke sini," ucap Bu Dewi menyuruh Alika.
Mau tidak mau Alika pun pergi belanja ke bagian lereng bukit itu. Tidak begitu jauh dari villa mereka, sekitar satu kilo. Kalau mau Alika boleh pakai mobil, tetapi wanita itu tidak bisa menyetir mobil jenis milik mertuanya. Jadi, dia harus jalan kaki untuk pergi belanja.
Alika tidak berani meminta Bimo untuk mengantarkan dirinya, karena saat ini adalah waktunya bersama Anggun dan kedua buah hatinya. Dengan berjalan di kawasan itu membuat Alika merasa senang, pemandangan indah dan udara segar.
Setelah berbelanja untuk jatah dua hari masak. Alika berjalan dengan pelan karena bawaannya berat.
Terdengar suara klakson mobil yang membuat Alika terkejut dan kembali ke alam sadarnya setelah sempat mengkhayalkan dirinya bisa pergi bulan madu keliling Eropa bersama Bimo.
"Alika?" tanya orang yang berada di dalam mobil.
Mereka berdua sering tidak akur karena Yasmin sering iri kepada Alika yang sering jadi incaran para lelaki keren di sekolah maupun kampus. Selain itu mereka juga sering saingan saat jadi model.
Yasmin menghentikan mobilnya dan melihat Alika yang membawa keresek di kedua tangannya. Dia tahu kalau saingannya ini baru saja menikah dengan seorang anak konglomerat.
"Ngapain kamu jalan kaki sambil bawa-bawa keresek," hina Yasmin dengan senyum mengejek.
Alika tidak memedulikan ocehan Yasmin dan lebih memilih melanjutkan perjalanan ke villa. Jaraknya ke tempat itu baru setengah jalan.
***
__ADS_1
Hafsah menjadi kepikiran tentang Alika. Dia takut kalau adik iparnya itu mendapat ketidakadilan dari keluarga barunya.
"Kenapa?" tanya Ali begitu selesai makan siang.
Mereka saat ini berada di balkon kamar yang berada di lantai dua. Hafsah dan Ali memang selalu makan berdua dan orang-orang paham akan prinsip guru mengaji itu.
Hafsah sempat ragu-ragu untuk memberi tahu Ali kalau tadi dia melihat Alika di villa yang ada di bagian bawah. Namun, dia takutnya membaut Ali marah karena mendapatkan adiknya diperlakukan seperti itu oleh keluarga suaminya.
Ali melihat adanya keraguan dari wajah istrinya. Dia yakin kalau ini adalah sesuatu yang cukup penting dan sensitif untuk dibicarakan.
"Katakan saja jangan dipendam. Insha Allah kalau bisa aku ingin bisa membantu," lanjut Ali.
"Berjanjilah, kalau Abang tidak akan marah setelah mendengar apa yang ingin aku bicarakan," kata Hafsah dan Ali pun mengangguk.
"Tadi aku melihat Alika dan keluarga Bimo ada di villa itu," kata Hafsah sambil menunjuk ke arah villa yang dimaksud olehnya.
"Wah, bagus. Kita nanti kunjungi mereka!" ajak Ali dengan penuh semangat.
"Sebenarnya aku ragu akan hal ini, tetapi bisa saja apa yang kita nilai pada keluarga Bimo ini sepertinya ada yang salah. Aku takut kalau Alika tidak bahagia dengan pernikahannya dan menutupinya dari kita," jelas Hafsah.
"Maksudnya bagaimana, Sayang?" tanya Ali masih tidak mengerti.
***
Kalau ada bagian yang aneh dan terasa janggal komentar, ya. Apa yang akan Ali lakukan? ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1