Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
10


__ADS_3

Esok hari Arhan sudah kembali bertugas,dia harus kembali meninggalkan keluarganya karena dia bertugas di kota lain.


Malam ini dia habiskan dengan berkumpul dengan kawan-kawan lamanya untuk sekedar berbincang sekaligus berpamitan.


"Kapan loe akan kembali?" tanya Prasetyo dengan menepuk pundak Arhan.


"Entahlah gue ga janji" ucap Arhan karena tahu tugas dia sedikit berbeda dengan rekan satu kedinasan dengan dirinya sebab dia adalah salah satu anggota pasukan khusus, hanya sedikit tahu.


"Gimana mau ketemu jodoh..kerja..kerja terus, seperti ngejar setoran aja bang" ujar Adhi dengan tersenyum.


"Ya.. harus bagaimana lagi sudah konsekuensinya seperti itu"Arhan mengangkat kedua tangannya tanda pasrah.


"Ah..jodoh mah,pasti ketemu ga usah dipikirin"Arman menyemangati Arhan.


"Tapi gue lihat-lihat sepertinya dia lagi kasmaran sama seseorang nih..bener ga dugaan gue bro " pungkas Adhi dengan tersenyum jail.


"Sok..tahu,mau berganti profesi bro jadi dukun sok-sokan meramal takdir orang" Arhan berusaha menutupi.


"Maunya sih dukun beranak " seringai jail Adhi tunjukkan.


"Gila loe..apa ga cukup ada dokter spesialis kandungan sampai loe tergiur untuk menyainginya jadi dukun beranak,lagian ga ada dukun beranak cowok makin ngaco aja loe..jangan gila dhi, " Arman ikut bicara.


"Memang masih jaman ada dukun beranak bro ?" Prasetyo ikut menambahkan.


"Siapa juga yang gila,gue masih waras sebenarnya obsesi gue dari kecil ingin menjadi dokter spesialis kandungan,ingin membantu banyak nyawa baru sepertinya ada kepuasan sendiri bagi gue " Adhi terlihat senang bila mengingat cita-citanya walaupun kandas.


"Lah.. kenapa loe nurut aja masuk sekolah bisnis,parah loe " goda Arman dengan serius.


"Bokap ga ada gantiin bro..semua saudara gue cewek,mau hasil kerja keras bokap di embat mantunya" ada benarnya juga pikir kawan Adhi.


"Suruh bokap loe bikin anak laki lagi " goda Arhan dengan terkekeh.


"Jadi loe menyarankan bokap nikah lagi gitu..parah loe,gue ga mau punya emak tiri apalagi seumuran dengan gue bisa-bisa bini gue cemburu tiap ketemu..saran loe menyesatkan bro " ucap Adhi dengan tersenyum kecut.


"Lah.. namanya juga saran, diterima syukur ga ya..harus " Arhan terkekeh.


"Pemaksaan itu namanya mas bro..udah makin ngaco aja " protes Adhi.


Disaat asyik dengan obrolannya Arhan sekelebat melihat sosok yang beberapa hari ini senang bermain dipikirannya.


"Apa bro..ada sesuatu yang menarik ?" Prasetyo seakan tahu apa yang ada yang Arhan pikirkan.


"Ga " ucap singkat Arhan yang tidak ingin kawannya curiga.


Apa yang Arhan lihat itu benar bukan halu,Aiza bekerja sebagai salah satu pelayan di Cafe milik Prasetyo, walaupun waktunya disesuaikan dengan jadwal Aiza yang Prasetyo tahu Aiza seorang mahasiswa.


"Yo.. dimana letak kamar mandi" Arhan meminta Prastyo menunjukkan letak kamar mandi.

__ADS_1


"Lurus belok kiri..." Prasetyo menjelaskan.


"Belum juga satu gelas sudah bocor..payah loe.." canda Arman yang membuat Adhi tertawa.


"Loe kira gue botol bocor dasar kampret loe " balas Arhan pada Arman yang hanya tertawa.


🌷


🌷


Sebenarnya Arhan tidak ingin ke toilet dia hanya ingin memastikan penglihatannya tidak salah, maklum insting pemburunya lebih tajam.


Dan dugaan Arhan benar Aiza berada di dapur menyiapkan menu pesanan pelanggan, Aiza tidak sendiri ada beberapa orang yang sepertinya sama dengan Aiza sebagai pegawai di Cafe ini.


"Ai.. jangan lupa, yang mocha pesanan untuk meja nomor 3" pesan seorang wanita yang keluar dari dapur.


"Siap mba " balas Aiza dengan tersenyum.


Arhan memperhatikan dengan seksama dan tanpa disadari Arhan tersenyum sendiri,ada rasa senang sekaligus penasaran Aiza ada di Cafe milik Prasetyo apalagi sebagai pelayan.


'Sepertinya dia kerja disini... bagaimana dengan kuliahnya?' Arhan bergumam pelan dengan memperhatikan gerak-gerik Aiza.


Arhan cepat bergegas keluar dia tidak ingin kawannya menaruh curiga pada dirinya.


"Betah bener..apa ada cewek cantik didalam toilet sana ?" Adhi bertanya sekaligus menjaili Arhan.


"Ngawur loe, tanya tuh sama pemiliknya apa ada yang seperti kalian tanyakan dan bayangkan" Arhan menunjuk Prasetyo yang hanya tertawa.


"Lagian loe lama bener,loe boker ?" Adhi begitu penasaran.


"Aneh nih anak,yang ke toilet gue kenapa loe yang jadi banyak nanya, harusnya loe ikut masuk kedalam kayak jaman sekolah dulu " mereka tertawa bersama mengingat hal itu.


"Iya bener,apa lagi pas kebelet kencing sampai ga kuat nahan mana susah banget buka resleting alhasil nyembur kemana-mana" ucap Adhi dengan terkekeh.


"Bilang aja ngompol bro,ga harus di per halus jadi nyembur " balas Arhan yang membuat suasana makin riuh padahal mereka hanya berempat.


"Kalau bisa gue pengen kembali ke masa itu " ujar Prasetyo yang sudah tenang.


"Lah.. gampang,loe tinggal pakai seragam masa itu beres dimana letak susahnya " Arhan memang selalu berpikir cepat walaupun bukan itu keinginan dari Prasetyo.


"Kita semua tahu isi otak loe,emang cepat dari langkah kita tapi bukan seperti itu juga bro" protes Adhi,melempar Arhan dengan sedotan plastik.


Arhan hanya tertawa sebagai balasan dia hanya ingin momen kebersamaan mereka asyik sebab tidak setiap waktu dia bisa berkumpul bersama.


"Yo..ini Cafe loe tutup jam berapa sih?" tanya Arhan santai.


"Loe mau cabut, ya..udah kalau mau cabut,gue tahu loe perlu mempersiapkan diri sebelum perjalanan tugas " Prasetyo mengerti dengan maksud Arhan walaupun bukan itu yang dimaksud Arhan.

__ADS_1


"Gue nanya kapan Cafe loe nutup malah,loe jawab soal persiapan keberangkatan gue ga nyambung" Arhan terlihat tidak puas dengan jawab Prasetyo.


"Sebentar lagi tutup bro.." Prasetyo melihat jam di tangannya.


"Itu baru bener " ujar Arhan yang langsung terlihat senang.


"Nih..anak makin aneh ya " Adhi seperti yakin Arhan menyembunyikan sesuatu.


"Alhamdulillah gue masih waras, buktinya masih bareng kalian bukan berada di rumah sakit jiwa " Arhan memang selalu blak-blakkan.


"Lagian loe sendiri yang ngomong seperti itu bukan salah satu diantara kita ya.." ujar Arman dengan serius.


"Alah.. biasanya juga asal nyablak, sampai hilang kontrol " Arhan kembali berucap.


"Yo, kawan kita yang satu ini perlu di ruqyah karena kelamaan sendiri kesambet jin jomblo,jadi sedikit ngawur "ucap Arman yang membuat tawa kembali terdengar.


"Nasib jomblo ya.. seperti ini jadi bahan ghibahan terus..gosok sampai gosong,tarik mang " teriak Arhan yang membuat Prasetyo protes.


"Pelan kan suara loe,nanti dikira di Cafe gue nyediain minuman yang bikin mabok "tegur Prasetyo.


"Maaf..maaf,gue kelepasan "Arhan menutup mulutnya.


"Kebiasaan mimpin upacara loe,untung suara loe ga bergema jadi ga bikin gempa dadakan " ujar Adhi dengan terkekeh.


"Lah.. kalau gue pelan-pelan yang ada peserta upacara tidur di lapangan bukan apel" Arhan menjelaskan.


"Tapi awas aja kalau main ke rumah gue teriak-teriak bikin anak gue sawan dengan suara lantang loe itu" ucap Arman mengingatkan.


"Ya,udah gue cabut..kasihan karyawan loe ga bisa bersih-bersih kalau gue masih disini " Arhan pamit dengan memeluk satu persatu kawannya.


"Hati-hati dijalan selamat bertugas dan ingat cepat cari jodoh" pesan Arman.


"Ya..tapi untuk yang satu itu entahlah gue juga belum yakin apa bisa bertemu dan apa gue sudah bisa berdamai dengan hati gue " Arhan mengungkapkan apa yang dia rasakan.


"Gue yakin loe bisa sebab loe hanya korban,buka hati loe bro..itu masa lalu akan ada masa datang yang lebih baik" Prasetyo ikut menyemangati.


"Terus kapan pulangnya kita bila masih ngobrol" pungkas Arman yang sudah beberapa kali melihat ponsel miliknya,ada pesan masuk dari sang istri.


"Siapa..ayang beb ?" goda Arhan pada Arman.


"Ya..minta di beliin martabak" Arman menjelaskan.


"Beliin sekalian gerobaknya bro.." Arhan asal bicara.


"Ga bisa gitu nanti abangnya ga bisa jualan lagi" Adhi menambahkan.


"Bener juga sih.. sampai ketemu lagi " ucap Arhan yang langsung menghidupkan motornya.

__ADS_1


Waktu memang tidak bisa dibeli begitu juga dengan kenangan akan terus melekat di hati dan benak kita,baik suka maupun duka.


__ADS_2