Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
19


__ADS_3

Terik sinar matahari tidak menyurutkan langkah Arhan untuk tetap ingin pulang dengan harapan lekas melepaskan rasa rindu pada seseorang yang sudah hampir satu bulan lebih tak ada kabar beritanya.


"Jadi pulang kau ?" tanya Ari yang baru saja selesai membersihkan diri.


"Jadilah.. rasanya dada ku ini sesak untuk menahan rasa rindu "Arhan menunjuk pada dadanya.


"Gaya bahasa kau macam pujangga saja " ujar Agam dengan logat Acehnya menepuk bahu Arhan.


"Seperti kau tak pernah merasakan jatuh cinta saja kawan " balas Ari ikut menggoda Arhan.


"Apa kau tak merasa lelah.. istirahat lah dulu " Agam menasehati Arhan yang sudah bersiap untuk pergi.


"Soal istirahat itu gampang bisa didalam kereta, rasanya tak sanggup aku menanggung rasa rindu ini " Arhan tersenyum sendiri.


"Percaya cinta sudah mengalahkan segalanya" ujar Bayu dengan menggoda Arhan.


"Bikin aku penasaran saja,seperti apa sih rupa si Eneng itu bikin rekan kita ini mabuk kepayang" Dadang ikut menggoda Arhan.


"Sudahlah kalian membuat ku makin rindu aja..aku cabut dulu" Arhan pun berpamitan pada rekan setimnya.


"Hati-hati bro,sampaikan salam kenal untuk Eneng cantik ya.." goda Ari dengan tertawa.


"Sialan...kalian,akan aku balas nanti " cecar Arhan tanpa menengok ke belakang.


"Endang lekas dilamar..ben lekas digawa rene" saran Bayu pada Arhan.


"Aku ora iso janji Yu, lantaran masih kuliah urung rampung " Arhan menjelaskan keadaan Aiza sebenarnya.


"Ben ora kepikiran dilamar wae sik,Ar..ben jelas status " Bayu kembali memberikan masukan pada Arhan.


"Ya..dhelok situasi nang kana" ujar Arhan mempertimbangkan semua masukan dari Bayu.


"Yo..wis, ati-ati salam kango bunda karo ayah soko aku " ucap Bayu pada Arhan sebelum masuk kedalam stasiun kereta.


"Ya, waalaikum salam " balas Arhan yang terlebih dahulu memeluk Bayu.


Arhan dan rekan setimnya mendapatkan jatah libur setelah menyelesaikan tugas dari komandan sebagai bentuk apresiasi telah menjalankan tugas dengan baik dan sesuai harapan.


Di dalam gerbong kereta Arhan tidak bisa memejamkan matanya, semakin Arhan memejamkan mata semakin nyata bayangan Aiza yang memperlihatkan senyum manisnya.


'Tunggu aku akan pulang, untuk melepaskan semua rasa rinduku ' gumam Arhan dengan memandang pemandangan di luar jendela.


Rasa lelah setelah berhari-hari dalam menjalankan tugas seakan bisa Arhan tahan tapi tidak dengan rasa rindu membuat sesak di dadanya yang saat ini dia rasakan.


🍁


🍁


Hampir tengah malam Arhan sampai di kota yang menjadi tujuan untuk melepaskan rasa rindu pada seorang gadis yang selalu memanggilnya Bapak, padahal Arhan tidak setua itu untuk dipanggil Bapak.


"Turunkan saya disitu mas " pinta Arhan pada pengemudi ojek online.


"Iya..mas" saut pengemudi dengan sopan.

__ADS_1


Arhan memberikan ongkos sesuai tarif dan untuk sisa uangnya sebagai bentuk terimakasih.


Arhan sengaja tidak pulang ke rumah terlebih dahulu dia lebih dulu ingin melihat dari jauh Aiza tanpa ingin menemuinya walaupun rasa ingin bertemu menggebu tapi Arhan tahu Aiza harus lekas pulang karena hari makin malam.


Bayangan sosok itu kini melewati Arhan yang duduk disalah satu kedai kopi dipinggir jalan.


"Kamu masih saja tidak mendengarkan niat baik ku " ucap Arhan pelan melihat Aiza yang seperti biasa pulang seorang diri.


Tidak lama Arhan pun berniat pulang tapi di pertengahan jalan dia melihat Aiza yang berjongkok seperti memperbaiki motor miliknya.


"Mas saya berhenti disini saja " Arhan meminta pengemudi ojek online berhenti tidak jauh dari posisi Aiza dengan motornya.


Arhan memberikan ongkos sesuai tarif dan seperti biasanya Arhan memberikan kembali sebagai berikut terimakasih.


Langkah kaki Arhan di percepat karena rasa khawatir pada Aiza yang seorang diri, sedangkan malam makin larut.


"Mogok lagi ?" ucap Arhan mengejutkan Aiza yang tidak memperhatikan kehadiran laki-laki yang sangat dia kenal dari suaranya walaupun belum melihat sosoknya.


"Bapak..kapan sampai?" tanya Aiza dengan sedikit gugup karena terkejut.


"Saya nanya kok balik nanya jawab dulu baru kamu nanya balik,itu yang benar Aiza " Arhan sangat senang melihat gadis yang dirindukannya dalam keadaan baik-baik saja, Arhan memperhatikan motor Aiza yang kembali mogok.


"Maaf pak..si Frengki mogok lagi dan bapak lagi yang membantu" Aiza merasa tidak enak lebih tepatnya sungkan sudah pernah merepotkan.


"Itu namanya jodoh Aiza,ayo kita ke tempat yang lebih terang " Arhan yang mengantikan membawa motor milik Aiza.


"Kamu bisa duduk di tempat itu.. sepertinya disini kotor,nanti pakai mu juga ikut kotor " Arhan menunjukkan tempat yang layak untuk Aiza duduk menunggu dirinya memperbaiki motor Aiza.


"Za.. sebaiknya motor kamu saya bawa ke bengkel besok,sepertinya ada yang perlu di ganti " setelah Arhan mengecek kondisi motor Aiza.


"Kok gitu sih..bukankah kita berteman,sesama teman wajar dong saling membantu " Arhan mencari alasan yang menurutnya masuk akal.


"Tapikan itu motor saya pak, wajar juga bila saya yang membawanya ke bengkel tanpa harus merepotkan bapak " Aiza membalas dengan sopan.


"Ya..saya mengerti maksud kamu tapi mana kamu tahu apa yang harus di ganti?" Arhan mencari alasan lagi untuk dekat dengan Aiza dan Frengki yang jadi jembatan untuk keduanya lebih dekat.


"saya bisa bertanya pada pihak bengkelnya apa yang mesti di ganti,ga susah kok pak..jangan di bikin ribet pak " ujar Aiza santai.


'Ternyata otak pandai ku tak berguna dimata Aiza..' Arhan merasa jadi orang bodoh yang tidak berguna di depan Aiza.


"Kenapa sih..Za,kamu tidak menurut bukankah untuk kebaikan kamu " Arhan mengeluarkan kekesalannya.


"Maaf maksud bapak apa ya.. saya kurang paham ?" Aiza merasa bingung dengan ucapan Arhan.


"kamu memang bandel.. kalau ada apa-apa dengan kamu siapa yang rugi..hem,apa saya harus mengulang kalau pulang jangan sendiri.. mending kalau Frengki lagi ga mogok, jangan ulangi saya khawatir za.."Aiza bukan merasa bersalah malah tertawa.


"Diomelin kok malah ketawa " Arhan menggelengkan kepalanya karena merasa aneh.


"Kata bapak saya ga boleh takut sama bapak ya.. sudah saya ketawa aja,lagian bapak bukan marah tapi ngomel kayak emak-emak kehilangan anak ayam " Arhan kini membalas dengan tertawa.


"Za..mana ada emak-emak setampan saya " Arhan menunjuk dirinya sendiri.


"Ih.. bapak narsis,sok ngaku tampan kalau mau mendapatkan pujian itu dari orang lain bukan dari diri sendiri pak.." keduanya tertawa bersama .

__ADS_1


Malam semakin larut menghangatkan kebersamaan keduanya saling bertukar candaan walaupun kedekatan keduanya baru sebatas teman tapi tidak dengan Arhan yang sudah mengklaim Aiza teman tapi mesra yang selalu dirindukan.


"Ayo..kita pulang, Frengki sudah mau diajak jalan lagi" Arhan mengajak Aiza pulang.


"Biar saya yang bawa Frengki,za.. pakai ini angin malam ga baik untuk kesehatan, besok-besok pakai jaket yang tebal " Arhan melepaskan jaket miliknya untuk dipakai Aiza.


"Bagaimana dengan bapak ?" Aiza menolak jaket pemberian Arhan.


"Saya sudah terbiasa..pakai,bisa ga sih nurut " Arhan sedikit memerintah.


"Iya..bapak bawel deh " Aiza membalas dengan senyuman.


"Saya bawel karena kamu ga nurut, paham.. saya takut kamu sakit,karena saya sayang sama kamu " akhirnya lolos juga kata yang Arhan sudah berusaha untuk tidak terucap dari mulutnya.


"Apa..apa bapak ?" Aiza merasa tidak tuli dalam pendengaran tapi dia juga merasa apa yang diucapkan Arhan itu tidak salah ucap.


"Apa..apanya za.." Arhan berusaha mengelak walaupun dengan muka menahan malu bersyukur Aiza tidak melihatnya karena berada di belakang dirinya.


"Ga..ga apa-apa pak, sepertinya malam membuat seseorang sudah masuk kedalam alam bawah sadarnya, berhalusinasi " ucap Aiza yang tidak tahu didengar atau tidak oleh Arhan.


'Aiza..jujur aku takut kamu menolak ku kalau aku berkata jujur tentang perasaan ku, biarlah dengan seperti ini membuat mu nyaman akan aku lakukan,aku akan ikuti alur mu ' Arhan memperhatikan Aiza dari kaca spion yang menahan kantuk.


"Pegangan..nanti kamu jatuh" Aiza pura-pura tidak mendengar, akhirnya Arhan yang berinisiatif meraih tangan Aiza untuk melingkar di pinggangnya.


Arhan dapat merasakan kehangatan dari dekapan tangan Aiza dimalam yang dingin ini.


Tanpa sadar Aiza bersandar dipunggung Arhan karena rasa kantuknya yang membuat Arhan tersenyum.


"Za..za,sudah sampai depan rumah kamu..apa punggung saya tempat bersandar ternyaman ehm..sampai kamu tertidur " goda Arhan membuat Aiza malu.


"Terimakasih pak sudah mengantar hingga sampai rumah" Aiza berniat mengambil motor miliknya untuk di bawa masuk.


"Boleh saya pinjam motornya..sebab saya bingung mau naik apa untuk pulang ke rumah"alasan Arhan dan meminta persetujuan Aiza.


"Tapi pak..besok saya harus memakai Frengki untuk ke sekolah adik saya " Aiza bingung harus memakai kendaraan apa untuk ke sekolah Tita.


"Saya yang akan jemput kamu,jam berapa kamu akan pergi ?" tanya arhan dengan tersenyum.


"Ehm.. sekitar jam 9 atau 10,apa bapak tidak sibuk?" Aiza tidak ingin merepotkan Arhan.


"Untuk kamu saya free..siap saya akan jemput sesuai permintaan kamu,dah.. selamat istirahat jangan lupa mimpikan saya " goda Arhan dengan suara sedikit pelan.


"Apa pak.." Aiza ingin memastikan pendengarnya tidak salah.


"jangan lupa berdoa sebelum tidur" balas Arhan dengan malu.


"Sudah pasti saya akan berdoa,bapak hati-hati jangan ngantuk nanti tidur bareng polisi di jalan " ucap Aiza dengan santainya.


"Maksud kamu apa Za..?" Arhan bingung dengan ucapan Aiza.


"Maksud saya bapak jangan ngantuk nanti bisa tidur bareng polisi tidur, alhasil bapak lecet-lecet" Aiza masih dengan santainya menjelaskan.


"Bilang aja za.. kalau saya nyungsep di jalan pakai tidur bareng polisi tidur..sudah sana. masuk " usir Arhan pada Aiza yang langsung melambaikan tangannya langsung masuk kedalam gerbang rumah Aiza.

__ADS_1


Arhan merasa senang,rasa rindu yang terbendung beberapa hari kemarin telah hilang setelah bertemu Aiza yang awalnya tidak ingin bertemu, walaupun harus kembali berpisah.


__ADS_2