Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
03


__ADS_3

Pagi ini air dari langit membasahi bumi,membuat penghuni bumi enggan menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, termasuk gadis cantik yang biasanya lebih dulu membangunkan lelaki yang sering disapa om Han.


"Ehm..gagah bener,sudah masuk dinas lagi ?" tegur bunda Erina pada putra bungsunya.


"Sebenarnya masih libur Bun..ingin bersilaturahmi saja ke Kodim dari pada tidur terus ya..itung-itung melemaskan otot"


lelaki gagah itu duduk dengan menikmati teh hangat buatan bunda yang selalu dirindukan bila jauh.


"Bun..si cantik mana ?"


Arhan mencari sosok yang selalu mengalihkan dunianya dengan sifat manjanya.


" Cila, keponakan mu itu akan malas-malasan biasanya bila libur,memang ada apa menanyakan dia ?"


Bunda Erina seperti ibu-ibu lainnya selalu ingin tahu urusan anak dan cucunya.


"Tidak apa-apa, tumben saja biasanya dia sudah berisik"


Arhan tertawa kecil bila mengingat tingkah pola keponakan cantiknya yang sangat manja padanya layaknya ayah kandungnya.


Tidak lama keponakan cantik Arhan keluar dari persembunyiannya yang menuruni tangga dengan penampilan masih memakai baju tidur dan rambut di cepol asal.


"Pagi.."sapa gadis yang bernama Arsyila yang langsung duduk ikut bergabung dengan malas serta sesekali menguap.


"Sayang..anak perawan kok jorok banget sih"


Tegur papa Arsyila yang bernama Arslan yang sering di panggil papa Lan,tapi sayang teguran pada putrinya tidak berpengaruh malah pura-pura tidak mendengar.


Arhan hanya bisa tersenyum melihat keponakan cantiknya terlihat malas pagi ini.


"Cucu ku yang cantik,kenapa belum bersiap sayang " Arief selaku eyang kakung mengingatkan cucunya.


"Cila libur yang..,hanya anak-anak yang ikut kegiatan kampus yang masuk"


Sebenarnya Arsyila malas menjelaskan urusannya pada penghuni rumah, pagi ini dirinya tidak ingin ada pembahasan tentang kampus.


"Loh..kenapa kamu ga ikutan ?" Arhan yang memiliki jiwa kepemimpinan dan suka berorganisasi sangat senang dengan kegiatan sekolah apapun itu.


"Malas aja, capek om mending rebahan" penuturan Arsyila membuat Arhan geleng kepala.


Memang Arsyila tidak bisa di paksakan untuk ikut kegiatan kampus karena fisiknya mudah lelah ditambah sifat pemalunya membuat dia sering minder untuk bergaul.


"Ih..om rapi bener,mau kemana ?" Arsyila baru sadar kalau Arhan sudah berpakaian rapi pagi ini.

__ADS_1


"Kerja lah..masa ke kebon " goda Arhan pada keponakannya yang suka kepo dengan urusan Arhan.


"Katanya masih libur..bohong besar hem.." Arsyila pura-pura ngambek pada Arhan.


"Memang kalau libur harus malas-malasan seperti kamu ehm.." Arhan mengacak rambut Arsyila tanda sayang pada keponakannya yang sudah seperti anaknya.


"Om ga asyik" sewot Arsyila yang merapikan rambutnya sedikit acak-acakan karena ulah Arhan.


Berbeda dengan Arhan yang malah tersenyum melihat keponakannya kesal pada dirinya.


"Bener nih ga ngampus ?" goda Arhan yang ingin Cila marah pada dirinya.


"Engga, om ku yang baik dan paling cerewet" kini giliran Cila mencubit kedua pipi Arhan sebagai balasan keusilan Arhan.


"Ih..ga malu apa sudah mau punya pacar masih suka godain om " tegur eyang kakung pada Cila.


"Apa pacar ga,ga Cila ga boleh pacaran dulu " dengan tegas Arhan bicara.


"Loh..kok ku yang posesif sih.. papanya saja biasa aja tuh " tunjuk Arief pada putra pertamanya yang hanya diam menyaksikan perdebatan antara ayah dan adik bungsunya.


"Mas.. gimana sih,jadi papanya kok malah diam saja " Arhan seperti menegur Arslan yang memang sangat irit bicara.


"Ehm..coba kamu tanya dulu sama Cila apa dia sudah punya pacar apa belum, kalau belum kenapa juga aku harus melarangnya"


Arslan memang tidak banyak mengatur kehidupan Cila karena dia bercermin pada kehidupan masa lalu istrinya yang berselingkuh dengan lelaki lain dengan alasan Arslan sebagai suami terlalu membatasi ruang geraknya.


Cila hanya menggelengkan kepalanya menandakan dirinya masih fokus pada kuliahnya tidak dengan namanya pacaran.


"Good..girl,om suka..nanti akan om seleksi siapapun yang akan menjadi suami mu kelak" Arhan kembali menguap kepala Cila yang mendapatkan penolakan dari Cila.


"Kamu tuh aneh Han,wong yang jadi papanya aja ga seribet kamu kok.."kini giliran Erina sebagai eyang putri ikut bicara.


"Aku kan mewakili mas Lan,Bun" Arhan tidak mau kalah dalam perdebatan ini.


"Kamu urus saja diri mu dulu,kapan bunda dikenalkan dengan calon istri mu,ingat umur mu Han " bunda Erina kini menegur Arhan yang tidak bisa membantah.


"Gimana sih,eyang uti..calon istri, salah yang benar itu calon pacar yang perlu di kenalkan " giliran Arzu, keponakan laki-laki Arhan pun tidak mau kalah ikut memanasi Arhan.


"Oh..iya,eyang sudah terlalu mengharapkan om kamu cepat memiliki pendamping biar ada yang mengurusinya " Erina terlihat sangat berharap Arhan secepatnya mendapatkan pendamping hidup.


"Bunda..mana ada yang mau sama tentara kan gajinya kecil, bahkan tidak cukup untuk beli bedaknya " cecar Arhan asal bicara.


"Maaf ya..om, tidak semua wanita matre.. mereka hanya realistis saja jadi,jangan suka sama ratakan ya om ku yang tampan tapi nyebelin " Cila pura-pura ilfil pada Arhan karena mulut pedasnya.

__ADS_1


"Ceritanya bela cewek-cewek nih.." goda Arhan dengan menaik turunkan alisnya menggoda Arsyila.


"Lihat eyang..om genit,ih..aku jadi geli deket-deket om " Arsyila bergeser merapat ke papanya.


"Han..apa kamu ga kasihan sama putri ku,lihat sampai berkeringat karena kau goda" papa Arsyila menegur Arhan yang hanya bisa tertawa.


"Ini yang aku takutkan mas,bila Cila punya pacar.. putri mu itu masih polos" akhirnya Arhan menjelaskan fakta yang mendasari penolakannya.


"Tenang om ada aku yang akan menjaga mba Cila " Arzu dengan semangat menunjukkan kalau dirinya akan jadi orang terdepan untuk Cila.


"Om percaya dek..kamu bisa jaga mba mu " papa Cila menepuk pundak Arzu yang kebetulan duduk disampingnya.


"Tidak usah khawatir cucu eyang yang cantik ini di kelilingi bodyguard yang akan menjaga keamanannya" eyang Arief mematahkan kekhawatiran Arhan.


"Ingat jangan macam-macam di kampus,om punya mata-mata yang selalu mengawasi gerak-gerik mu " Arhan hanya menakut-nakuti Cila.


"Awasi aja ga takut,lagian aku ga bikin onar kok..aku selalu jadi anak manis " Cila menunjukkan muka polosnya.


"Jangan bikin om gemes ya..,lihat mas tuh kan putri mu bikin lelaki di luaran sana bisa memanfaatkan kepolosannya" Arhan kembali mengingatkan ayah Arsyila.


"Dia hanya bersikap seperti itu hanya dengan mu saja,sudah sana bukankah kamu ada janji dengan kolega mu.." Arslan mengusir adik bungsunya yang memang sangat menyayangi putrinya.


"Ingat om.. mengawasi mu " Arhan mencubit pipi Cila dengan gemas.


"Papa Lan..sakit,om nakal tuh " Cila merajuk pada papanya.


"Han..,ini masih pagi jangan bikin naik darah ya..!" tegur Arief yang juga sangat menyayangi Arsyila.


"Takut pawangnya marah..kabur " teriak Arhan yang sudah mencium tangan Arief dan Erina.


"Kamu sudah ga pantas seperti bocah Han...!!" teriak Arief dengan menggelengkan kepalanya.


"Mana yang sakit ?"tanya Arief pada Arsyila yang sebenarnya hanya merajuk saja.


"Maafkan om ya.." kini Erina yang menghampiri Arsyila dengan khawatir.


"Zu..kamu akan berangkat naik apa ?" tanya papa Cila yang bersiap untuk pergi bekerja.


"Naik ojek saja pak dhe" Arzu menjawab dengan tangannya sibuk mengikat tali sepatunya.


"Bareng pak dhe saja, gimana kebetulan pak dhe ada keperluan di dekat sekolah kamu " ajak Arslan pada keponakannya.


"Apa tidak merepotkan pak dhe?" Arzu memang anak yang mandiri.

__ADS_1


"Tidak,ayo nanti kamu kesiangan " Arzu pun langsung mengikuti langkah kaki lelaki yang seperti dia panggil pak dhe karena lelaki ini kakak dari ayahnya.


Keluarga ini sebenarnya sangat harmonis hanya saja menantu keluarga ini yang tidak bisa menjaga keutuhan rumah tangganya hingga berakhir dengan perceraian,yang diakibatkan adanya orang ketiga hubungan suami istri itu.


__ADS_2