
Selepas makan malam Arhan duduk seorang diri di taman belakang tanpa dia sadari Erina memperhatikan Arhan dari dalam, menurut penglihatan Erina Arhan seperti terlihat memikirkan beban yang berat membuat hati seorang ibu terenyuh.
"Beban berat apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan nak ?" gumam Erina yang berkata seorang diri dengan memperhatikan Arhan.
"Bun,lihat apa sih serius bener "tegur Arief yang kebetulan menghampiri.
"Tuh..,apa ayah tahu apa yang sebenarnya putra kita pikirkan saat ini ?, sepertinya dia memiliki beban berat yang orang lain tidak boleh tahu " terang Erina yang menunjukkan keberadaan Arhan duduk di taman belakang seorang diri.
"Persoalan kedinasan kali Bun..?" jawab seadanya Arief dengan entengnya.
"Ehm...apa ayah kurang peka,coba cari tahu sana" tegur Erina seperti kesal pada suaminya.
"Kalau persoalan anak,bunda paling peka tapi untuk urusan ayah bunda selalu ga peka " gerutu Arief yang dapat terdengar Erina.
"Apa masih kurang..ingat sakit pinggang mu yah..." tegur Erina dengan tersenyum jail.
"Aku masih kuat Bun.." jawab Arief tidak mau kalah.
"Kuat,kuat giliran ditengah jalan Bun..lanjutin ga kuat lemes " ledek Erina tidak mau kalah dari suaminya.
"Ga..lah masih kuat, mau coba ?" ajak Arief pada Erina untuk menyakinkan.
"Coba,coba ga ada coba-coba cepat cari tahu " tegur Erina pada Arief yang kini terkekeh karena usil pad istrinya.
,"Bunda kan belum lihat faktanya " goda Arief lagi.
"Fakta-fakta, lalu yang tadi siapa yang menyelesaikan sampai akhir ehm.." Erina menunjukkan muka tegasnya.
"Itu kan hanya kebetulan ayah lagi kurang semangat aja " dengan muka sedikit malu Arief berkata.
"Sudahlah banyak sekali alasan mu yah, cepat" pinta Erina lagi dengan mendorong Arief untuk menghampiri Arhan.
Dengan berat hati akhirnya Arief memenuhi keinginan istri tercintanya bagaimana pun juga kebahagiaan istrinya diatas segalanya bagi Arief.
🍁🍁🍁🍁🍁~~~🍁🍁🍁🍁🍁
Di tempat lain tepatnya kediaman Aiza terjadi perdebatan yang membuat seisi rumah menjadi saksi mata apa yang menyebabkan keributan itu terjadi pada jam-jam istirahat menjelang malam.
"Apa sih..mau kamu, sepertinya kamu tidak bisa mendengarkan peringatan dari ku,ehm..!! Gea memegang lengan tangan Lidya.
__ADS_1
"Ehm..aku ga mau apapun, untuk peringatan apa ga sebaiknya kakak langsung bicara dengan Bastian" terlihat Lidya tidak mau kalah.
"Kakak..aku ga punya adik yang kerjanya hanya bisa merebut pacar kakaknya !" dengan tegas Gea mengatakan itu, bahkan wajah Gea hampir tak berjarak untuk menyatakan ucapannya.
"Oh..jadi kakak ga mau punya adik aku,ok.. tidak masalah tapi bukan dari mulut aku ya.." dengan santainya Lidya membalas.
"Tidak tahu diri !!" cecar Gea lagi dengan menghentakkan tangan Lidya dari genggamannya.
"Kalian sadar tidak ini jam berapa?!! ehm " tegur Hendri dengan suara keras dan tegas.
Hampir semua penghuni rumah melihat perdebatan ini hanya saja mereka melihat secara sembunyi-sembunyi di balik pintu terkecuali Nella yang saat ini tidak ada di rumah,dia menghadiri acara ulangtahun salah satu teman sosialitanya.
"Lidya..pa !!" terdengar Gea menyampaikan kekesalannya.
"Ada apa dengan kamu Lidya ?" Hendri seperti tidak lagi sabar dengan masalah yang dia hadapi saat ini.
"Kok,aku sih?" balas Lidya dengan muka tidak bersalahnya.
Untuk kesekian kalinya Gea menjelaskan lagi pangkal masalah keributan keduanya yang membuat Hendri kembali kesal karena hanya masalah lelaki yang membuat kedua saudara ini kembali bertengkar hebat.
"Apa kalian berdua tidak bisa meninggalkan lelaki itu, yang hanya bisa membuat kalian berselisih paham ehm..masih banyak lelaki yang lebih baik di luar sana untuk menjadi pacar kalian berdua" Hendri tidak mau membela salah satu dari keduanya.
"Tapi pa, Bastian yang lebih dulu kenal aku " Gea merasa berat melepaskan Bastian.
"Kamu juga, mulai hari ini jangan pernah bertemu dengan lelaki itu titik..!!" tutur Hendri dengan menunjuk Lidya.
"Bastian pa, namanya" Lidya menjelaskan.
"Besti..apa Basi,siapa pun itu namanya pokoknya kalian harus ingat jika diantara kalian ada yang tidak mendengarkan perkataan ku,kalian boleh keluar dengan catatan aku tidak mau tahu apapun urusan yang kalian hadapi dan semua keperluan kalian penuhi sendiri, sepeserpun aku tidak akan memberikannya !" Hendri dengan tegas menyampaikan ucapannya.
Aiza yang kebetulan baru pulang hanya berjalan dengan sopan melewati ruangan yang masih bisa terdengar Hendri berkata pada kedua putrinya,tanpa ingin ikut campur bahkan terlihat masa bodoh.
"Baru pulang za..?" tanya Hendri yang langsung menghentikan langkah kaki Aiza
"Iya..om,maaf aku tidak menyapa om " balas Aiza dengan membungkukkan badannya.
"Tidak apa-apa, istirahat lah " balas Hendri dengan hangat selayaknya seorang ayah yang mengingatkan anaknya.
Membuat kedua putri Hendri terkejut sekaligus kesal,kenapa papanya begitu hangat dengan Aiza sedangkan kepada mereka Hendri terlihat memerintah dan tidak boleh membantah.
__ADS_1
"Terimakasih om " balas Aiza yang langsung meninggalkan mereka tanpa berkata lagi.
'Sebenarnya siapa sih yang putrinya ' gumam kesal Lidya dalam hati dengan membuang muka kearah lain.
'Mama harus tahu, kalau papa begitu baik pada Aiza ' Gea merasa papanya tidak berlaku adil pada keluarganya.
'Bakal ada perang besar nih " ucap Nia dengan berbisik.
"Ingat ucapan adalah doa " tegur Ima dengan suara pelan.
Nia hanya bisa menahan tersenyum miliknya yang merasa bersalah pada Aiza pastinya karena hanya Aiza satu-satunya orang yang tersakiti di rumah ini.
Berbeda dengan Tita yang merasa tidak nyaman dengan pertengkaran kedua kakak perempuannya karena memperebutkan lelaki yang jelas-jelas ingin membuat keduanya bertengkar.
Didalam kamar Aiza langsung membersihkan diri tanpa berpikir apapun dengan apa yang dia lihatnya beberapa saat lalu.
"Ah..aku rindu kalian " ucap Aiza pada bantal miliknya dengan memeluk erat.
"Kalian tempat ternyaman ku " Aiza merebahkan tubuhnya dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa lelah seharian ini selepas bekerja lalu menemani jalan kedua teman kuliahnya.
"Ma,pa nek..aku merindukan kalian semoga kalian bahagia disisinya" ucap Aiza dengan memandang langit-langit kamar seperti orang yang Aiza sebut namanya memperhatikan dirinya.
" Kalian tidak usah mengkhawatirkan aku, disini aku baik-baik saja " Aiza berkata dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihannya seorang diri.
"Aku hanya merindukan keberadaan kalian saat ini " ucap Aiza lagi seperti mengenang momen bersama orang yang tulus menyayangi dirinya.
Isi otak Aiza hanya momen bersama keluarga yang telah meninggalkan dirinya, kuliah dan kerja untuk membuat dirinya untuk tetap kuat menjalani hidup dan segera mencapai impiannya tanpa ada yang lain.
Sesimpel itu isi otak Aiza tapi itu tidak mudah yang Aiza jalani saat ini,dia bisa merasakan kekerasan dalam rumah miliknya sendiri,tapi dia tidak merasa jadi beban dalam menjalaninya dia terlihat baik-baik saja masih bisa tersenyum bila bersama teman dan menghadapi pelanggan.
Berbeda dengan seseorang yang saat ini masih memikirkan Aiza dengan tatapan matanya tajam memandang langit malam.
'Sedang apa dan dimana kamu sekarang?' tanya Arhan berkata seorang diri.
"Boleh ayah tahu siapa dia ?" Arief dengan tanpa permisi berkata yang secara otomatis mengejutkan arhan.
"Apa sih yah.. mengejutkan saja" Arhan memegang dadanya.
"Masa ayah.. mengejutkan mu,siapa dia ?" ujar Arief dengan tersenyum menggoda Arhan.
__ADS_1
"Siapa,apanya yah ?" balas Arhan yang pura-pura berharap ayahnya tidak salah dengar.
Arief bisa dengan jelas putra bungsunya saat ini merindukan seseorang yang jelas dia bahagia karena Arhan tidak lagi terbenam dengan masa lalu dengan seseorang yang sudah melukai hati dan harga dirinya sebagai lelaki.