Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
33


__ADS_3

Hampir saja Arhan terlambat untuk menjalankan sholat subuh karena semalam dirinya tidak dapat tidur sepertinya tidak sabar menunggu pagi datang.


"Kebiasaan kamu bangun kesiangan kalau libur " tegur Arslan pada Arhan yang baru keluar kamar.


Arhan hanya tersenyum sepertinya enggan dia membalas ucapan kakak laki-laki pertamanya hanya untuk membela diri,dan memang benar faktanya Arhan pagi ini bangun hampir kesiangan.


"Pagi semua" sapa Arhan yang langsung duduk dan mengambil gelas yang berisikan susu putih.


"Om..itu punya aku " tegur Arzu dengan suara pelan.


"Maaf om kira tidak ada pemiliknya" ucap Arhan yang langsung mengembalikan gelas milik Arzu.


"Ini punya mu..Ar " Erina menyuguhkan gelas berisikan susu hangat untuk Arhan.


"Terimakasih bun.." ucap Arhan yang masih belum bersemangat pagi ini.


"Sama-sama,apa kamu masih lama di sini Ar..?" Erina bertanya sebelum memulai sarapan pagi bersama anggota keluarga yang lain.


"Ga,sih Bun..paling dua tiga hari lagi aku kembali tugas,ehm..ada apa gitu Bun ?" Arhan seperti mencari tahu ada dengan bundanya yang tidak seperti biasanya bertanya kapan dia masih menikmati libur tugasnya.


"Tidak ada apa-apa,bunda hanya senang keluarga kita sering berkumpul seperti ini..entah kapan mas mu Arzan bisa berkumpul bersama di rumah " nampak raut kesedihan pada wajah Erina.


"Ingat Bun..putra mu jauh bukan berarti ingin jauh dari kita tapi karena tugas,doa kan saja dia baik-baik dalam lindungan Allah,dia juga merindukan kita dan saat libur dia pasti ingin pulang siapa sih yang tidak merindukan masakan mu..Bun " goda Arief yang selalu memberikan pengertian pada istrinya.


"Iya..eyang,papa juga pasti rindu eyang tapi jadwal kerja papa padat eyang...semalam papa menghubungi ku dan menitipkan salam untuk semuanya dan papa bilang jangan mengkhawatirkan dirinya.. papa baik dan dalam keadaan sehat " ucap Arzu dengan menunjukkan senyumnya.


"Kenapa papa mu tidak menghubungi eyang ?" protes Erina merasa dilupakan.


"Bukankah eyang semalam ikut pengajian bulanan di rumah eyang Wulan " balas Arzu seperti mengingatkan Erina.


"Oh..iya, eyang lupa.. maklum eyang sudah tua "dengan malu Erina mengakui dirinya salah.


"Siapa yang bilang bunda sudah tua dimata ayah bunda tetap sama seperti dulu ga ada yang berubah" ucap Arief dengan tersenyum manis.


"Ehm...apa ayah ga nyadar disini semua kami jomblo yah,hm..serasa dunia milik berdua dan kita semua ngontrak,em..em tapi lumayan juga sih gombalan ayah Bun.." ucap Arhan yang tidak sepenuhnya disetujui anggota keluarga yang lain.


"Om kali yang jomblo kita ga..bener kan Zu..papa "protes Arsyila dengan menaikkan volume suaranya.

__ADS_1


"Kok gitu.. buktinya kalian masih sendiri tanpa pasangan apa itu bukan namanya jomblo " pungkas Arhan dengan tegas.


"Single itu pilihan om..bukan berarti jomblo,om kali yang merasa jomblo kita ga tuh "kini Arzu yang bicara.


"Itu sama aja tidak ada bedanya " balas Arhan lagi yang membuat suasana pagi hangat.


"Sebenarnya kita semua mau sarapan pagi atau mau ngebahas combro" ucap Arief dengan memandang semua anggota keluarganya.


"Jomblo eyang..bukan combro " ucap Arzu dan Arsyila bersamaan.


"Apapun itu,ayo..kita sarapan perut eyang sudah mulai protes nih " Arief langsung memulai sarapan yang terlebih dahulu berdoa.


Semua anggota keluarga tertawa melihat tingkah Arief yang benar-benar menahan lapar dengan obrolan pagi yang sebenarnya hanya sekedar menambah keakraban keluarga.


🌷🌷🌷🌷~~~🌷🌷🌷🌷


Berbeda dengan kediaman Aiza yang masih belum ada pergerakan aktivitas pagi hanya di bagian dapur yang sudah ada kegiatan siapa lagi selain ketiga wanita yang sering menghidupkan suasana dapur.


"Mba..kok bisa ya,siapa itu bas..bas,naksir non Lidya padahal sudah jelas-jelas mempunyai non Gea" ucap Nia pada Ima yang membersihkan peralatan masak.


"Sttt..masih pagi,nanti yang di ghibah denger loh " tegur Aiza dengan tertawa kecil.


"Ketahuan ya..suka ghibah " tegur Aiza lagi dengan menggoda Nia.


"Mba..jangan kasih tahu mba " rengek Nia pada Aiza yang ikut merapikan dapur.


"Tahu tuh mba,Nia seneng bener lihat kehebohan semalam " ujar Ima dengan suara pelan.


"Alah.. bukannya mba juga ikut melihat" protes Nia pada Ima yang akhirnya malu karena mengakui kalau dirinya ikut melihat kehebohan semalam.


"Sudah,sudah..kita harus cepat menata makanan di meja nanti yang mba omongin datang " dengan tersenyum Aiza mengingatkan kedua art yang mengurusi urusan pekerjaan rumah membantu Aiza.


Benar saja beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki menuruni tangga.


"Ima..,kopi tuan sudah kamu siapkan !" Nella menuju meja makan untuk memeriksa menu sarapan pagi ini untuk keluarganya.


"Sudah.. nyonya,ada yang lain nyonya?" Ima yang masih dengan setia menunggu perintah Nella.

__ADS_1


"Kamu boleh kerjakan yang lain" Nella menyuruh Ima meninggalkan dirinya didukung gerakan tangan seperti mengusir.


"Nia..kamu sudah catat apa yang harus kamu beli untuk kebutuhan rumah" tegur Nella pada Nia yang kebetulan masih ada di dapur.


"Sudah nyonya,semalam sudah saya catat " Nia memberikan catatan pada Nella.


"Kenapa kamu berikan kepada saya, bukankah itu tugas Aiza " dengan muka kesal Nella menegur Nia.


"Maaf nyonya mba Aiza harus kuliah" Nia menjelaskan.


"Ga,ada alasan..terserah dia mau belanja kapan yang jelas untuk bahan makanan makan malam sudah harus ada sebelum kalian masak !!" Nia hanya bisa diam bila Nella sudah memberikan titah.


"Baik nyonya nanti saya beri tahu mba Aiza " balas Nia yang sebenarnya dia mau mengantikan tugas Aiza tapi takut ketahuan Nella bukan hanya dirinya Aiza pun akan kena akibatnya.


Tidak lama ketiga putri Nella turun untuk menikmati sarapan pagi seperti biasanya termasuk Hendri yang terlihat masih marah akibat kejadian semalam.


"Pa..mau sarapan pakai apa ?" Nella melayani suaminya.


"Mama..bisa tidak untuk tidak keluar rumah keluyuran untuk hal yang penting,papa minta fokus dengan putri-putri mu yang selalu bikin sakit kepala " tegur Hendri dengan tegas.


"Apa sih ini masih pagi pa..sudah membahas apa sih..mama ga ngerti ?" Nella seperti mencari tahu ada apa dengan permintaan suaminya yang terlihat marah dan kesal.


"Tanya putri mu,aku sarapan di tempat kerja saja " Hendri langsung meninggalkan meja makan dengan muka masih kesal.


"Tita juga.. langsung berangkat aja bareng papa" Tita langsung menyusul Hendri tanpa berpamitan pada Nella.


"Coba kalian berdua jelaskan ada apa ini, sampai papa marah..mama ga mengerti dengan kalian berdua yang selalu bikin ulah,apa ga bisa kalian berbaikan gitu " Nella ingin mencari tahu kejadian apa selama dirinya tidak di rumah.


"Tanya saja sama dia " Gea terlihat malas memanggil nama adiknya, dengan sudut matanya Gea melirik Lidya.


"Lidya..mama ga mau tahu jelaskan !" Nella menatap Lidya dengan muka menahan marah karena Hendri suah pasti akan melarangnya keluar rumah bila masih terjadi sesuatu pada putri-putrinya.


"Loh..kok aku sih,kamu saja lagian aku ga punya salah sama kamu kok " Lidya mengaskan kalau dirinya tidak bersalah.


"Selalu saja seperti ini.. pokoknya mama mau dengar dari kalian berdua,mau salah mau benar pokoknya mama mau dengar biar mama tahu siapa diantara kalian berdua yang bersalah " Nella semakin di buat kesal oleh kedua putrinya.


Gea dan Lidya saling berpandangan dengan tatapan seperti bermusuhan yang membuat Nella makin kesal sebab keduanya tidak ada yang mau memulai menjelaskan apa permasalahan yang sebenarnya.

__ADS_1


Sepertinya keduanya tidak ada yang mau disalahkan dan tidak ada yang mau mengalah hanya karena seorang laki-laki kedua bersaudara itu harus saling bermusuhan.


__ADS_2