
Sepanjang perjalanan menuju sekolah banyak pertanyaan muncul dalam benak Arhan ada keperluan apa Aiza untuk mendatangi sekolah menengah atas,pagi menjelang siang ini.
"Apa ini alamat sekolahnya ?" tanya Arhan yang menghentikan motor milik Aiza tepat di depan gerbang utama sekolah.
"Bener..pak " Aiza lebih dulu turun dan menghampiri pos satpam untuk menunjukkan dimana letak kantor guru kesiswaan.
"Za..boleh saya tahu,ada urusan apa kamu datang ke sekolah ini ?" Arhan dengan tidak sabar bertanya setelah meninggalkan motor Aiza di parkiran.
"Bapak akan tahu nanti, itupun jika bapak ikut masuk,kalau tidak berkenan tidak masalah memang ini bukan ranah bapak " kali ini Arhan dapat melihat sosok Aiza yang tidak seperti biasanya, terlihat serius dengan tatapan mata tajam seakan siap menerkam siapa saja yang berniat menyakitinya.
"Ada apa sih..za ?" Arhan yang memiliki naluri pembunuh bisa dengan cepat menganalisa kalau ini bukan masalah biasa.
Aiza tidak memberikan jawab, mengijinkan atau tidak baginya hal ini Arhan bisa memilih sendiri tanpa meminta persetujuan dari Aiza karena Arhan lelaki dewasa yang bisa dengan cepat membaca situasi yang terlihat serius kali ini.
"Ok..saya ikut dan tolong libatkan saya dalam hal ini,karena saya mau kamu tidak merasa sendiri saat ini ada saya untuk kamu" Arhan ingin jadi seseorang yang Aiza andalkan.
Arhan dan Aiza berjalan beriringan tanpa bicara,hanya mata Aiza sesekali melihat beberapa ruangan untuk mencari ruangan yang dituju.
"Sepertinya ini pak ruang guru kesiswaan" Aiza menunjuk pintu masuk ruangan.
Arhan mengetuk pintu dan tidak lama keluar seorang laki-laki bertubuh tambun dengan sopan mempersilakan keduanya masuk.
"Selamat siang.." ucap lelaki tambun itu ramah pada keduanya.
"Selamat siang.." balas Arhan yang mewakili Aiza.
"Apa yang bisa saya bantu pak..dan mba maaf dengan siapa ya ?" tanya lelaki bertubuh tambun mencari tahu.
"Saya Arhan dan Aiza.." ujar Arhan menjelaskan pada lelaki itu.
"Maaf ada keperluan apa yang bisa saya bantu ?" tanya lelaki tambun lagi dengan sopan.
"Maaf sebelumnya, dengan bapak siapa, ya ?" kini Aiza yang bicara.
"Sandra Gunadi..cukup Sandra saja " balasnya dengan ramah.
"Ijinkan saya berbicara langsung pada inti masalah,ehm saya kakak dari Tita Widiya Ningrum siswa IPA X, saya yakin pak Sandra sangat mengenal semua siswa di sekolah ini termasuk siswa yang bernama Heru Kristanto siswa IPS XI " Aiza memberikan kesempatan untuk Sandra mencerna apa yang Aiza tuturkan.
"Ya..saya cukup tahu,salah satu siswa yang aktif di bidang olahraga khususnya basket" Aiza masih terlihat santai dan hanya mengerutkan dahinya.
"Apa hanya sebatas itu yang pak Sandra tahu sebagai guru kesiswaan ?" Aiza mulai menaikan volume suaranya.
__ADS_1
Arhan mulai bisa menerka-nerka arah pembicaraan Aiza yang mulai terlihat emosinya naik seperti menahan kesal.
"Emang ada hal lain,sebab yang saya tahu dia anak yang berprestasi di bidang olahraga dan terlihat mudah berinteraksi dengan sesama teman, apa ada hal lain yang saya tidak ketahui di luar itu ?" Sandra semakin penasaran sekaligus berpikir banyak hal baik atau buruk yang dia tidak tahu.
"Coba bapak lihat terlebih dahulu dan bapak bisa memberikan penilaian setelah melihatnya,apa yang sedang siswa bapak lakukan kepada siswi sekolah ini" Aiza menunjukkan video melalui ponsel miliknya.
Sandra terlihat biasa saja awalnya tapi beberapa saat kemudian Sandra menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Sebelum bapak menilai,saya tidak mau mendengar bapak berkata kalau video yang bapak lihat itu editan atau rekayasa, karena vidio yang bapak lihat di rekam secara sembunyi-sembunyi tanpa Heru tahu" terdengar tegas dan emosi suara Aiza.
"Saya yakin korbannya bukan saja adik saya tapi bisa jadi ada beberapa siswi lain yang tidak berani memberitahukan kepada pihak sekolah karena merasa aibnya akan terbongkar apabila menyampaikan masalah ini dan akan jadi bully siswa lain, padahal ini sudah tindakan kejahatan pak dan terjadi di lingkungan sekolah dimana tempat mendidik siswa menjadi lebih berakhlak baik" Aiza masih dengan lantang menyuarakan kebenaran.
Arhan mengepalkan tangannya seakan ikut marah, kenapa ada kejahatan seksual didalam lingkungan pendidikan apalagi dilakukan oleh salah satu siswanya kepada siswi satu sekolah itu.
"Saya mewakili sekolah akan mengecek kebenaran masalah nih.." tutur Sandra yang memberikan ponsel milik Aiza.
"Pak..ini sudah jelas tindakan pelecehan, pihak sekolah harus secepatnya mengambil tindakan bukan mengecek kebenarannya pak !" Aiza terlihat kesal.
"Maksud saya,kami pihak sekolah akan mencari tahu terlebih dahulu siapa saja dalam hal ini yang menjadi korbannya" Sandra cukup memahami apa yang menjadi keinginan Aiza.
"Dan saya mau bapak menyembunyikan identitas adik saya yang memberitahukan kebenaran ini" Aiza meminta Sandra menjamin kesehatan Tita.
"Saya janji akan merahasiakan nama adik mba Aiza, percayakan pada saya " Sandra merasa bertanggungjawab akan masalah yang cukup besar menyangkut nama baik sekolah.
"Kenapa harus pindah sekolah ?" tanya Sandra yang bingung sebab disisi lain kelakuan siswa yang bernama Heru terungkap melalui Tita tapi disisi lain Tita harus pindah sekolah sedangkan Tita salah satu korbannya juga.
"Untuk kebaikan mental adik saya,apa pak Sandra bisa menjamin adik saya akan baik-baik saja setelah kasus ini terbongkar?" Aiza masih dengan suara tegasnya mengutarakan maksudnya.
"Kalau pihak sekolah tidak biasa menindak tegas maka saya akan libatkan pihak kepolisian" kini Arhan yang bicara membuat Aiza sedikit terkejut.
"Sebaiknya kita selesaikan interen saja dulu oleh pihak sekolah,sebab bagaimana pun juga nama baik sekolah akan berdampak juga dalam hal ini" Sandra menengahi karena Arhan membawa nama polisi.
"Ok..saya meminta bapak hari juga membuat surat kepindahan adik saya,dan saya tunggu" tindakan Aiza yang seperti memaksa membuat Arhan tersenyum tipis.
'Dasar gadis kepala batu,tapi aku suka' terdengar konyol pikir Arhan tapi membuat Arhan yakin pasti Aiza sudah dengan pertimbangan yang matang.
"Baiklah..mba Aiza dan pak Arhan bisa tunggu atau mau bertemu dahulu dengan Tita terlebih dahulu" Sandra memberikan waktu untuk menemui Tita.
"Baiklah saya akan menemui adik saya.. berapa lama saya menunggu untuk mengambil surat kepindahan adik saya?" kini Arhan yang bicara berharap Sandra mempercepat proses administrasi kepindahan.
"Ehm..saya pastikan akan menghubungi bapak begitu selesai bisa meminta nomor ponselnya" Arhan memberikan nomor ponsel miliknya bukan milik Aiza.
__ADS_1
Begitu terlihat jiwa protektif seorang Arhan yang Aiza lihat,bahkan tidak suka melihat Sandra memberikan senyum ramah pada Aiza.
"Ayo..kita temui Tita " ajak Arhan begitu Sandra memberikan ponsel miliknya tanpa mau melihat Sandra berlama-lama memperhatikan Aiza.
"Saya ga tahu dimana kelas Tita pak?" ucap Aiza yang mencari sosok yang dicarinya.
"Makanya jangan terlalu emosi sampai akal sehat mu hilang, hubungi lewat ponsel mu pasti Tita yang akan menghampiri kamu" Aiza menepuk jidatnya karena kebodohannya membuat malu didepan Arhan.
"Tidak usah malu..saya tahu kalau kamu bisa jadi bodoh bila bersama saya " goda Arhan yang membuat pipi Aiza memerah karena menahan malu.
'Bodohnya aku..kenapa bisa sampai sebodoh itu' Aiza menyalahkan diri sendiri atas tindakannya.
Tidak lama Tita datang menghampiri Aiza setelah Aiza menghubunginya,tapi Tita bingung dengan kehadiran laki-laki didekat Aiza.
"Ga..usah bingung, kenalin pak Arhan" Aiza memperkenalkan Arhan pada Tita.
"Arhan " ucap Arhan berjabatan tangan dengan Tita begitu juga sebaliknya Tita membalasnya dengan memperkenalkan namanya.
"Tita adik mba Aiza " Tita memperjelas siapa dirinya.
"Ta, kamu langsung berkemas..kita langsung mendaftarkan kamu ke sekolah yang kamu mau,soal yang lain sudah mba urus" Aiza dengan jelas menjelaskan pada Tita yang terlihat senang langsung memeluk Aiza.
"Terimakasih mba Aiza,aku ga tahu kalau ga ada mba " interaksi keduanya tidak luput dari perhatian Arhan.
"Harus sekarang aku berkemas mba ?" tanya Tita ragu karena semuanya serba mendadak walaupun semalam sudah dibicarakan berdua.
"Besok-besok ga apa-apa tapi tanggung sendiri kalau penjahat **** itu akan membalas sama kamu" Aiza menakuti Tita.
"Ih..mba,aku kan jadi takut " Tita menyembunyikan tubuh montoknya yang sudah sedikit berkurang bobotnya di balik tubuh Aiza yang jelas masih dapat terlihat dengan jelas.
"Makanya ayo.. katanya mau nurut " goda Aiza pada Tita yang menarik tangan Aiza untuk kedalam kelasnya.
"Ta..mau pulang ?" tanya salah satu siswi yang memperhatikan Tita merapikan buku yang ada di meja kedalam tas miliknya.
"Ya..mulai besok aku ga sekolah disini lagi" ucap Tita tidak terlihat sedih.
"Hahaha..sih gendut pindah sekolah?" ejek salah satu siswa yang membuat Arhan yang langsung menghampirinya.
"Apa yang baru saja kamu ucapkan !!" Arhan mencengkram kuat kerah baju siswa itu yang langsung ketakutan.
"Untuk kalian semua jangan pernah melakukan bullying walaupun dengan kata-kata, pikirkan kalau yang terjadi itu kepada orang yang kalian sayangi..kalian tidak menyadari dampak dari bullying itu bisa menyebabkan bunuh diri bagi korbannya.. kalau masih ada yang melakukan itu perhatikan dengan jelas muka saya,dan ingat akan saya cari siapapun bahkan sampai kedalam lobang semut sekalipun akan saya cari !!!" sorot mata tajam Arhan membuat seisi kelas diam dan tertunduk.
__ADS_1
"Kalian sudah berbuat jahat pada kawan kalian sendiri.. pikirkan itu " Aiza memeluk satu bahu Tita untuk meyakinkan kalau dunia akan baik-baik saja tanpa mereka.
Dukungan terbaik adalah keluarga sebagai kekuatan untuk menghadapi kejamnya dunia di luaran sana tanpa belas kasih,tapi yakinlah masih ada orang baik di luaran sana.