Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
36


__ADS_3

Gagal sudah semua yang telah Arhan rencanakan untuk mengungkapkan perasaan yang terpendam pada Aiza karena peristiwa tabrakan beruntun.


"Za..maaf saya tidak bisa mengajak kamu jalan-jalan" sesal Arhan yang sudah berpenampilan kusut dan terlihat lelah.


"Apa sih..pak,tidak perlu disesali semua pasti sudah diatur oleh tuhan,masih ada lain waktu pak" Aiza menunjukkan sikap tenang.


Sikap Aiza yang tenang menambah nilai plus dimata Arhan sangat berbeda dengan gadis seumuran dengannya pikir Arhan bisa dipastikan akan ngambek karena rencana jalannya gagal akibat insiden yang seharusnya tidak terjadi.


"Ada yang lucu pak ?" tanya Aiza yang melihat Arhan senyum-senyum sendiri.


"Ga,ada cuma saya makin kagum sama kamu Za..mungkin kalau cewek lain sudah uring-uringan karena rencana kita gagal total" ucap jujur Arhan dengan tersenyum.


"Ah..bapak hanya bikin saya gede kepala aja" tutur Aiza dengan biasa saja tanpa ekspresi.


"Bukan saya membandingkan,sebab keponakan saya sepertinya seumuran dengan kamu,em.. kalau sesuatu yang dia rencanakan tidak sesuai keinginannya dia akan ngambek seharian" senyum Arhan tunjukkan seperti membayangkan keponakannya yang super manja.


"Maaf pak setiap orang memiliki kepribadian berbeda-beda, ya..wajar saja bila tidak sama"


Setiap berbicara dengan Aiza Arhan selalu merasakan kenyamanan walaupun berbeda pandangan tapi akan bermuara pada satu pemahaman,ini yang membuat Arhan jatuh hati pada Aiza.


"Sebenarnya bapak mau mengajak saya kemana sih pak,didekat-dekat sini juga banyak tempat healing yang nyaman" tutur Aiza memecahkan keheningan beberapa saat.


"Memang kamu masih mau..saya ajak ke tempat itu?" semburat kebahagiaan menghiasi wajah tampan Arhan.


"Bukankah bapak yang ingin healing,kok bapak menanyakan kepada saya sih.." Aiza menunjukkan wajah bingungnya.


"Ok..,saya ikut pendapat kamu..boleh tunjukkan tempat itu za " Arhan semakin menunjukkan rasa bahagianya.


"Bisa, sepertinya bapak sudah tidak sabaran.. jangan-jangan bapak yang ngambekan karena tidak sesuai keinginan bapak jujur deh pak" goda Aiza dengan sikap biasa saja.


Dengan malu Arhan memegang tengkuknya dan menahan senyumnya pada Aiza,Arhan merasa dirinya yang seperti anak baru gede dengan emosi yang labil.


"Maklum Za,saya sudah lama tidak pulang dan tidak mengikuti perkembangan kota ini ya..wajar bila saya tidak banyak tahu dengan tempat-tempat yang dijadikan tongkrongan" Arhan mengakui dirinya kurang mengikuti perkembangan.


"Ehm.. mungkin saya juga akan seperti bapak beberapa waktu lagi" dengan santainya Aiza berkata tanpa beban.


Berbeda dengan Arhan yang langsung memikirkan ucapan Aiza secara tidak langsung Aiza akan pergi meninggalkan kota tercintanya.


"Memang kamu mau kemana za ?" dengan ragu Arhan bertanya.


"Kemana saja yang pasti tempat ternyaman yang membuat saya sukses" rona bahagia terpancar dari sorot mata Aiza.


"Kamu mau meninggalkan kota ini ?" Arhan ingin tahu lebih banyak.


"Sepertinya pak,disini terlalu banyak kenangan bareng orang yang tersayang walaupun pada akhirnya membuat saya terlukai" jujur ini pertama kalinya Aiza membuka luka batinnya yang lama disimpan karena ditinggalkan orang tercintanya.

__ADS_1


"Za..mau kah kamu ikut dengan saya ?" Arhan memberanikan diri menyampaikan keinginannya.


"Pak,pak..bapak itu bukan siapa-siapa saya, sudahlah pak itu baru keinginan saya jangan bapak ambil serius" dengan tersenyum getir Aiza berkata dan membuang napas panjang seperti melepaskan beban berat.


"Za..saya serius" ucap Arhan yang langsung menghentikan mobil miliknya dan menatap Aiza.


Aiza hanya diam membisu memandang jalan yang kebetulan masih ramai dilalui pengendara lain.


"Za,jadikan saya bagian orang yang paling penting untuk kamu za" Arhan semakin berani mengungkapkan apa yang dia mau.


"Ehm.. terimakasih pak,tapi saya tidak ingin ada hutang budi pada siapapun pak" yang ada dalam pikiran Aiza dirinya tidak ingin jadi beban siapapun dalam hidupnya.


"Kamu tidak membebani saya za,saya senang bila di butuhkan kamu za" Arhan memegang bahu Aiza berharap Aiza memandang Arhan yang kali ini berbicara serius.


"Pak..jadi ga sih kita ke tempat yang bapak mau ?" Aiza memilih mengalihkan pembicaraan.


"Ok.. sampai tempat kita lanjutkan pembicaraan ini" Arhan langsung menghidupkan mesin mobil miliknya.


Aiza hanya diam,dia seperti memikirkan ucapan Arhan secara tidak langsung Arhan serius dengan ucapan bahkan tidak main-main yang Aiza rasakan.


🌷


🌷


"Za..kamu mau naik bebek ontel itu" Arhan menunjuk kearah dua sejoli yang mengayuh diselingi canda tawa terlihat bahagia.


"Sepertinya tidak pak,tapi kalau bapak mau silahkan saja..saya akan lihat dari sini" ucap Aiza yang bersiap duduk disalah satu bangku yang disediakan.


"Mana asyik jika saya sendirian za,mereka saja berdua masa saya sendiri" Arhan menunjukkan rasa tidak suka.


"Ehm..bapak bisa cari seseorang untuk menemani bapak" ucap Aiza sekenanya.


"Bukankah saya kesini bareng kamu loh,kok malah mencari orang lain" Arhan memperhatikan Aiza dengan muka masam.


"Pak..pak,jangan ngambek muka bapak ga sesuai umur jadi ga usah pake acara ngambek pak.. bapak bukan ABG labil" Aiza memperhatikan tingkah Arhan yang memandang ke arah danau.


"Maksud kamu saya tua begitu ?"Arhan makin terlihat kesal.


"Saya ga bilang gitu ya pak" balas Aiza dengan biasa saja.


"Saya akui saya sudah umur tapi saya masih bisa dibilang muda loh..za, secara penampilan saya masih bisa bersaing dengan lelaki seumuran kamu" Arhan memberikan pembelaan.


"Siapa juga pak bilang bapak tua,makanya jangan baper pak..santai aja kalau memang ga merasa tua" kini Aiza menahan tawa dengan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Za..,kamu " Aiza langsung mengacak rambut Aiza dengan tersenyum.

__ADS_1


Kini Arhan tahu kalau Aiza hanya ingin menggoda dirinya tanpa bermaksud membuat Arhan kesal.


"Ih..bapak,jadi rusak rambut saya " protes Aiza dengan manyun.


"Za,kondisikan bibir kamu itu..apa mau saya cium" goda Arhan yang langsung membuat Aiza menutup mulutnya dengan kedua tangannya spontan.


"Maaf Za,lain kali jangan bersikap seperti itu apalagi didepan lawan jenis,tanpa sadar bibir kamu menggoda mereka paham.." ucap Arhan seperti meminta pada Aiza untuk tidak melakukan lagi.


"Paham pak,tapi saya tidak bermaksud menggoda bapak kok" ucap Aiza dengan pandangan ke depan.


"Ya,saya paham maksud kamu tapi tanpa kamu sadari apa yang kamu lakukan itu menggoda lawan jenis" Arhan semakin menunjukkan sikap posesif pada Aiza.


Arhan memperhatikan Aiza seperti berpikir tapi sesaat kemudian Arhan tersenyum sepertinya apa yang Arhan ucap dipahami oleh Aiza.


"Za, kamu tahu apa maksud saya mengajak kamu jalan ?" Arhan sudah tidak ingin menahan untuk menyampaikan rasa suka pada Aiza.


Aiza hanya menggelengkan kepalanya tanda dia tidak tahu apa tujuan Arhan mengajaknya jalan.


"Za, sebelum saya kembali ke tempat tugas saya ingin menyampaikan keinginannya saya yang selama ini saya pendam"


Arhan menghentikan ucapannya sesaat dengan melepaskan napas berat seperti menahan beban berat.


"Za..sejak pertama kali melihat kamu saya sudah menyukai kamu yang menunjukkan sikap apa adanya bahkan sudah beberapa kali saya secara langsung meminta dengan candaan bahkan sampai meminta dengan serius meminta kamu untuk menjadi seorang istri...tapi kamu balas dengan santai bahkan selalu memberikan jawaban kalau kamu bukan wanita yang tepat untuk saya"


Arhan kembali menghembuskan napasnya tapi sedikit perlahan seperti beban itu sedikit berkurang yang dia rasakan.


"Apa saya tidak pantas untuk bersama kamu Aiza Salamah binti Zahid Ahmad" ucap Arhan dengan pandangan mata tajam serius.


Aiza tersentak dengan ucapan Arhan yang menyebutkan nama lengkapnya beserta nama sang ayah di belakangnya, yang baru pertama kalinya dia dengar dari seorang lelaki yang baru beberapa bulan di kenalnya.


"Dari mana bapak tahu nama ayah saya?" Aiza bukan menjawab pertanyaan serta permintaan Arhan melainkan bertanya balik pada Arhan.


"Karena saya berniat serius untuk menjadikan kamu istri maka saya cari tahu siapa kamu dan keluarga kamu" Arhan dengan jelas menjawab pertanyaan Aiza.


Aiza terdiam seperti berusaha untuk mencerna semua ucapan Arhan,dan mencari jawaban apa yang harus dia sampaikan pada Arhan.


"Apa kamu meragukan keseriusan saya za.." Arhan asal menebak pikiran Aiza yang tidak seperti wanita lainnya yang pernah Arhan kenal.


"Saya tidak meragukan keseriusan bapak tapi.." Aiza kembali terdiam.


"Tapi apa Za.. saya terlihat tua dimata kamu" Arhan asal menebak.


"Ehm..bukan itu pak, saya ragu dengan diri saya sendiri..apakah pantas dimiliki oleh bapak seorang yang telah memiliki karir dan hidup mapan,dan saya bisa melihat kalau bapak dari keluarga yang berada,sedangkan saya apa..seorang anak yatim piatu dan tidak memiliki apa pun yang pantas saya banggakan di hadapan siapapun" Aiza tertunduk selepas menyampaikan ucapannya.


Ingin rasanya Arhan memeluk Aiza yang menjelaskan siapa dirinya, terlihat Aiza dalam kesedihan yang mendalam Arhan dapat dengan jelas melihat itu.

__ADS_1


__ADS_2