Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
15


__ADS_3

Di dalam sebuah gerbong kereta kelas eksekutif Arhan duduk bersebelahan dengan penumpang lain yang kebetulan seorang wanita cantik tapi sayang tidak membuat Arhan bisa teralihkan perhatiannya dari ponsel miliknya yang sudah beberapa kali mengirim pesan pada seseorang yang baru saja beberapa jam berpisah dengan dirinya.


"Maaf mas,apa boleh saya tahu tujuan mas mau kemana?" tanya wanita dengan ramah pada Arhan.


"Sampai kereta ini berhenti" jawab Arhan asal dengan dingin.


"Ha..ha,mas ini bisa aja " wanita yang usianya lebih muda darinya tapi lebih tua dari gadis pujaannya,tertawa mendengar balasan ucapan dari Arhan.


Arhan sendiri bersikap biasa saja malah cenderung serius dan masa bodoh tidak memperdulikan wanita itu.


"Dalam rangka apa mas ?" tanya wanita itu lagi masih dengan sopan yang Arhan rasakan.


"Menjemput istri" balas Arhan yang tidak ingin berkomunikasi sebenarnya.


"Saya kira mas masih sendiri" wanita itu mulai menunjukan sikap menggoda yang Arhan lihat.


Arhan mulai merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini,ingin rasanya waktu bergerak secepat kilat atau ada penolong untuk keluar dari situasi ini.


Ponsel Arhan bergetar menandakan ada notifikasi pesan masuk dan membuat Arhan senang bukan kepalang apalagi seseorang itu dalam keadaan ponselnya online,dan Arhan langsung menghubungi seseorang itu via telepon.


"Assalamualaikum,sayang " ucap Arhan dengan gembira.


Berbeda dengan orang yang berbeda di tempat lain yang Arhan hubungi,Aiza terlihat bingung sekaligus aneh dengan semua ucapan Arhan yang memanggilnya sayang pada dirinya.


Belum sempat Aiza menjawab salam Arhan sudah bicara banyak terlebih dahulu layaknya orang telah lama berpisah dan sangat merindukan seseorang layaknya sepasang kekasih yang saling merindukan.


"Sedang apa..?" ucap Arhan tanpa memberi jedah.


"Mas..sungguh merindukanmu,tunggu kita pasti secepatnya bertemu" Arhan tahu dirinya hanya berbicara seorang diri karena Aiza hanya diam mendengarkan setiap ucapan darinya karena Arhan tidak memberikan kesempatan Aiza untuk berbicara dan sepertinya Aiza di sana terkejut dengan ucapan Arhan.


"Sudah jelas rindu mas yang lebih besar... karena itu mas tidak membawa oleh-oleh mu sayang agar secepatnya bisa melepas rindu pada mu sayang, dan ingin secepatnya bertemu dengan mu sayang" sebenarnya Arhan senang bisa meluapkan rasa yang dia pendam dan dia juga sadar konsekuensinya Aiza akan marah atau lebih dari itu pada dirinya.


"Ingat jangan tidur dulu.." Aiza yang mendengar sampai merinding apa maksud dari perkataan Arhan pada dirinya.


"Jangan ngambek..sebab kamu makin cantik bila ngambek" Aiza makin curiga apa Arhan mabuk atau salah menghubungi seseorang pikir Aiza.


"Tunggu mas beberapa jam lagi kita akan saling melepaskan kerinduan yang secepatnya akan terobati.. sabar ya" ucapan Arhan terdengar romantis pada pasangannya.


"Ok..mas tutup dulu,dandan yang cantik ya..sayang assalamualaikum,muuaach..." Arhan memberikan cium dari jarak jauh sebelum menutup sambungan teleponnya.


Arhan terlihat sangat bahagia layaknya seorang suami yang akan bersua dengan istrinya setelah berpisah sekian lama.


Di kota yang berbeda Aiza kesal dengan seenaknya Arhan tanpa memberikan kesempatan untuk dirinya bertanya apa maksud dari semua ucapannya dan tanpa penjelasan ditambah memutuskan sambungan telepon seenaknya.


"Lelaki aneh..mana ngaku-ngaku kalau gue istrinya, seperti sakit tuh orang" sewot Aiza pada Arhan tapi sayang orang yang menyebabkan kemarahan tidak ada didepannya.

__ADS_1


"Ok..kita tunggu,anda berani main-main dengan gue, tunggu genderang perang sudah anda mulai ya..pak " dengan menahan emosi Aiza kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Romannya kesal bener non.. sampai kusut" tegur rekan kerja yang seumuran dengan Aiza bernama Mila.


"Biasa " balas Aiza dengan tersenyum tipis.


"Ada yang mengusik loe ?" tanya Mila asal.


"Ga..cuma mereka ga tahu tempat aja melakukan itu didepan umum" sebenarnya sebelum Aiza membalas pesan Arhan Aiza membawakan pesanan untuk pelanggan dan tanpa di duga pelanggan itu sedang berciuman membuat Aiza malu sekaligus kesal karena tidak tahu tempat.


"Apa..?" tanya Mila penasaran.


"Saling kiss.." wajah Aiza memerah karena menahan malu.


"Bilang aja loe ngiri non..mau kan ?" balas Mila dengan terkekeh.


"Ga..lah,ngiri itu tandanya ga percaya diri..gue percaya diri dan tidak akan melakukan di depan umum itu pun dengan pasangan halal gue " jawab Aiza dengan tegas membuat Mila makin terkekeh.


"Anak muda sekarang memang sudah hilang urat malunya" ujar Aji lelaki yang menjadi panutan semua karyawan selain usia diatas semua karyawan dia juga penanggungjawab Cafe milik Prasetyo.


"Ih..Abang ikut menguping " tegur Mila dengan muka masam.


"Ga..nguping juga suara kalian kencang terdengar" Aji menepuk bahu Mila.


"Sudah..ayo, kembali kerja " tegur Aji sudah bersikap biasa saja.


"Siap bang " balas Mila dan Aiza yang masih menahan tawa.


🌺


🌺


Masih di hari yang sama walaupun ditempat yang berbeda, Arhan merasa senang setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan Aiza karena Aiza sudah menjadi senjata ampuh untuk menolongnya pikir Arhan saat ini.


Berbeda dengan wanita yang duduk disebelahnya yang mulai menunjukan sikap tidak suka setelah Arhan menghubungi seseorang yang diklaim sebagai istrinya.


Dalam hal ini Arhan di untungkan sebab wanita itu kini lebih memilih diam tidak lagi banyak bertanya pada dirinya.


'Lagian situ mancing macan tidur,lebih baik diam...gue lebih suka itu, maafin gue Aiza kamu jadi tumbal saya..tapi saya jujur saya suka loe dan saat ini saya merasa separuh jiwa saya tertinggal bersama kamu di sana' dengan tersenyum tipis Arhan mengusap foto profil Aiza duduk diatas Frengki tidak terlihat anggun lebih terlihat setengah laki yang Arhan lihat, tapi tetap manis dimata Arhan, cinta membutakan mata bagi yang kena panas asmaranya.


'Aku bisa ga tenang nih.. belum sehari aku sudah dibuat ingin bertemu dengannya' Arhan bermonolog dengan hatinya.


Arhan pun bingung pada dirinya sendiri,dia bisa dengan mudah merasa nyaman dengan kehadiran Aiza yang baru dikenalnya padahal beberapa wanita baik seumuran dengan dirinya maupun yang lebih tepat dipanggil keponakannya menyukainya tapi susah hatinya untuk menerima dengan Aiza dia berbeda dengan mudahnya Arhan merasa tertarik dan merasa nyaman ada didekat Aiza.


"Mas..duluan " ucap wanita yang duduk disebelah Arhan tidak lama setelah kereta berhenti.

__ADS_1


Arhan hanya mengangguk tanpa mengeluarkan satu kata patah pun dari mulutnya,seakan enggan dirinya membalas.


Dipikiran Arhan hanya ada Aiza yang tersenyum manis membuat dunianya berwarna.


Tidak lama kereta kembali bergerak menuju tempat tujuan akhir dimana Arhan akan bertugas, biasanya Arhan senang bila mendapatkan tugas baru tapi tidak dengan saat ini.


Arhan bersiap begitu kereta berhenti di tempat tujuan, dengan malas Arhan turun dan disambut oleh rekan setimnya yang diminta Arhan untuk menjemputnya.


"Lemes amat bro " tanya Bayu yang sama-sama memiliki darah Jawa.


"Iso ora,libure ditambah" ungkap Arhan yang membalas pelukan Bayu.


"Kok ngomong karo aku..,nang komandan lah" balas Bayu yang sebenarnya aneh baginya karena tidak biasanya Arhan berkata seperti itu.


"Aku sejane males..arep mangkat " Arhan mengikuti langkah Bayu menuju tempat parkir mobil.


"Serius..opo wis kadung ana sing seg ning ati..ehm,pasti ayu tenan yo..sampe koe kepincut " Bayu di buat penasaran.


"Biasa wae tapi enak anake,karepe aku pengen cepet tak lamar tapi masih kuliah" Arhan susah untuk tidak terbuka bila bersama Bayu,dia sudah seperti saudara bagi Arhan.


Keduanya dalam perjalanan menuju tempat kedinasan,disana mereka tinggal di rumah dinas walaupun status mereka masih bujang.


"Ar..nih gue kembalikan kunci rumah loe,sudah bersih pagi tadi sudah di bersihkan anak-anak" ujar Bayu yang melemparkan kunci rumah Arhan.


"Terimakasih..maaf sudah merepotkan, gimana kabar kakak loe ?" tanya Arhan saling bertukar kabar.


"Alhamdulillah,gue pulang sudah pulang dari rumah sakit hanya perlu kontrol" Bayu menjelaskan.


"Syukurlah.." balas Arhan yang melihat sisi jalan yang dilalui.


"Jam berapa kita menghadap komandan?" tanya Arhan sebab hanya dirinya yang baru sampai.


"Seperti biasa selepas apel pagi "Bayu membagi informasi.


Bayu sesekali memperhatikan Arhan yang terlihat lesu tidak bersemangat,Bayu menggelengkan kepalanya merasa aneh.


"Dahsyat bener cinta bisa merubah lelaki kepala batu,dingin seakan tidak memiliki semangat hidup "Arhan membalikkan tubuhnya menghadap Bayu.


"Loe mengatakan itu kepada gue..?" Arhan menunjuk dirinya.


"Siapa lagi yang ada disini cuma gue dan loe" Bayu tersenyum melihat perubahan Arhan.


"Kejar cinta loe bro..jika loe yakin" Bayu menyemangati.


Arhan pun mengangguk satu pendapat dengan Bayu,dia tidak ingin melepaskan Aiza yang menurutnya belahan jiwanya yang tuhan siapkan untuk dirinya, mungkin kisah masa lalu hanya memberikan pelajaran hidup untuk jadi lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2