
Disaat Aiza berbicara dengan dirinya sendiri,Mila menghampiri dan bertanya pada Aiza.
"Ai.. gimana?" Mila dengan penuh harap menunggu Aiza menjelaskan keadaannya.
"Apanya yang gimana?" tanya balik Aiza yang membuat Mila bingung.
"Ini anak aneh,malah balik nanya?" ujar Mila dengan menepuk pundak Aiza.
"Mil..maaf gue,ganti baju dulu sudah ditunggu" Aiza langsung meninggalkan Mila yang hanya bisa bengong makin tidak dia mengerti dengan Aiza.
Tidak lama Aiza keluar dari ruang ganti dengan keadaan sudah rapi dan berpamitan pada yang lain.
"Dah..semua " pamit Aiza membuat mereka semua bengong hanya isi kepala mereka yang berasumsi banyak hal tentang Aiza.
Aiza keluar Cafe dan benar saja Arhan ada disana dan menyambutnya dengan tersenyum hangat menyabut kedatangan Aiza.
"Kita mau kemana nih..?" tanya Arhan pada Aiza yang tidak terlihat canggung karena sudah di jelaskan Prasetyo didalam ruangannya.
"Bukankah bapak yang meminta ditemani.. secara otomatis bapak yang akan menentukan mau kemana" jawab Aiza,Arhan mengerti dengan jawaban Aiza.
"Tapi tidak salahkan bila saya minta pendapat kamu za ?" Arhan tidak ingin menjadi lelaki yang egois dia ingin melibatkan Aiza dalam menentukan sesuatu hal.
"Tidak salah, mungkin bapak berkeinginan berkunjung ke suatu yang bapak mau " Aiza masi tidak ingin menentukan pendapatnya.
"Makan, nonton, ke pantai atau taman hiburan?" ucap Arhan menyebutkan tempat-tempat umum yang biasa di gunakan untuk melepaskan penat.
"Semua ok.. terserah bapak mau kemana?" balas Aiza yang tidak mau memberikan pendapat karena sesuai permintaan Prasetyo hanya menemani.
"Kasih masukan Za.." pinta Arhan pada Aiza yang memainkan gantungan kunci yang menggantung di tas gendong miliknya.
"Bagaimana kalau semua tempat kita coba ?" Arhan ingin melihat reaksi Aiza.
"Ga,salah pak..kita bisa sampai pagi menjelajahi semua tempat itu,hanya untuk keluar lalu masuk lagi..menghabiskan waktu tidak jelas,pilih salah satu saja pak yang membuat bapak nyaman di tempat itu " hal ini yang membuat Arhan tidak salah jika pilihannya jatuh pada Aiza.
"Ok..kamu yang tentukan,saya akan ikut " ucap Arhan yang membukakan pintu mobil miliknya.
"Mana Frengki pak ?" tanya Aiza yang mencari keberadaan motor miliknya.
"Dalam perawatan " jawab Arhan yang sudah duduk didepan kemudi.
"Terus nanti gimana saya kerja?" Aiza merasa sedih sekaligus bingung.
"Soal itu gampang,saat ini kamu temani saya dulu" ucap Arhan memasuki mobil sebelum meninggalkan Cafe menuju ke suatu tempat yang sebenarnya Aiza juga hanya sekali ketempat itu karena keterbatasan waktu yang habis untuk kerja dan kegiatan kampus.
”Bapak mau apa ?" Aiza dengan bersedekah dada memandang Arhan dengan sorot mata tajam dan dalam keadaan siaga.
"Maksud kamu saya mau apa?" balas Arhan yang sebenarnya tahu kalau Aiza takut Arhan berbuat macam-macam padanya.
"Saya mau memasangkan ini" Arhan memasang sabuk pengaman mobil pada Aiza.
__ADS_1
"Saya kira " dengan malu Aiza menjawab dan membuang pandangan ke luar kaca mobil.
"Kamu kira saya mau mencium kamu ehm.., kalau kamu minta di cium sini " goda Arhan dengan tersenyum jail.
"Ih..bapak,saya turun kalau bapak berniat macam-macam " gertak Aiza serius terdengar.
"Za..siapa juga yang mau macam-macam sama kamu, cuma satu macam mengajak kamu jalan.. sudahlah hilangkan pikiran kotor mu " Arhan menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang dengan sesekali melirik Aiza yang lebih asyik memperhatikan jalan dan pemandangan di luar jendela.
"Apa pemandangan di luar sana lebih menarik dari orang yang duduk di sebelah kamu za..? " tanya Arhan dengan muka biasa saja.
"Sepertinya seperti itu pak.. kalau saya memperhatikan bapak terus bisa-bisa bapak GR..saya jamin pak " ucap Aiza membuat pipi Arhan memerah menahan malu,sebab benar apa yang Aiza ucapkan.
"Za..." Arhan memanggil Aiza tanpa ada maksud lain hanya ingin memanggil nama Aiza saja.
"Ehm...iya pak" balas Aiza yang langsung menghadap sumber suara.
"Alhamdulillah.. ternyata telinga kamu masih berfungsi dengan baik"ucap Arhan tanpa berdosa.
"Alhamdulillah Allah masih kasih saya dapat mendengar dengan baik " balas Aiza santai.
Sesaat suasana hening keduanya diam tanpa bicara hanya melihat jalanan yang ramai lancar.
"Pak Arhan.." panggil Aiza pada Arhan yang langsung menengok ke Aiza.
"Ya..Za " ucap Arhan menunggu Aiza untuk kembali mengatakan sesuatu.
"Nungguin ya.. " ujar Aiza dengan muka polosnya, membuat Arhan gemas pada Aiza.
"Oh..itu, saya hanya memastikan saja kalau saya tidak salah memanggil nama bapak" begitu konyol ucapan yang Arhan terima.
"Kamu sudah pandai membalas ya.." balas Arhan dengan tersenyum.
Aiza merekomendasikan pada Arhan sebuah resto yang letaknya di pinggir pantai dengan pemandangan matahari terbenam.
"Za..kamu tahu dari mana tempat seindah ini ?" tanya Han yang mengikuti langkah kaki Aiza setelah turun dari mobil.
"Saya pernah kesini satu kali bersama-sama teman kampus.." Aiza menjelaskan pada Arhan yang melihat sekeliling.
tempat begitu indah bahkan berkesan romantis banyak pengunjung yang datang berpasangan tapi tidak sepenuhnya berpasangan ada beberapa pengunjung bersama kerabat atau keluarganya bisa dilihat dari seorang kakek yang bersama cucunya bermain pasir.
"Za..mau pesan makanan langsung atau menikmati keindahan pantai terlebih dahulu " tanya Arhan yang mencari tempat duduk di resto yang pemandangannya langsung ke pantai.
Bukannya menjawab Aiza sibuk memandang langit senja kemerahan sangat indah terlihat,tapi Arhan mengira Aiza memperhatikan dua sejoli yang bermesraan.
"Kamu mau seperti mereka ?" tanya Arhan yang tanpa sengaja melihat Aiza memperhatikan sepasang kekasih yang berciuman.
"Apaan sih pak.." Aiza membuang muka karena merasa risih.
"Kalau kamu mau,kita nikah dulu " Arhan berkata serius pada Aiza.
__ADS_1
"Pak..jangan mulai yang aneh-aneh ya..saya hanya menjalankan tugas dari pak Prasetyo untuk menemani bapak bukan mau di ajak nikah " balas Aiza dengan muka cemberut.
"Jadi kamu ga mau saya ajak nikah ?" goda Arhan yang sebenarnya dia bersungguh-sungguh.
"Sepertinya perkara nikah mudah ya..buat bapak " Aiza sudah sering mendengar Arhan mengajaknya untuk menikah.
"Dimana letak sulitnya tinggal saya melamar sama bapak kamu untuk jadi istri saya,lalu ijab kabul..sah,dimana letak susahnya "ucap Arhan dengan santainya.
"Sudahlah pak..kita kesini bukan untuk berdebat tapi untuk menikmati suasana senja..jika bapak masih ingin berdebat bukan disini tapi di dewan perwakilan rakyat untuk menyampaikan permasalahan rakyat yang makin menyengsarakan rakyat " balas Aiza panjang.
"Kamu pantas di juluki mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat " puji Arhan memberikan dua jempol pada Aiza.
"Pak..bisa kita diam ga sih, untuk menikmati suasana pantai tanpa bicara " pinta Aiza dengan jari telunjuknya ditempelkan pada mulutnya.
Hanya Aiza yang berani meminta Arhan selain keluarga di luar kedinasan, yang tidak membuat Arhan marah bahkan lebih cenderung menurut.
Arhan pun diam hanya menikmati suasana pantai sesuai permintaan Aiza walaupun sesekali memperhatikan Aiza yang memainkan kaki telanjangnya pada pasir putih.
Senja mulai berangsur menghilang, nampak bulan sabit di temani bintang-bintang terlihat begitu indah ditambah suara deburan ombak, dari kejauhan terlihat perahu nelayan.
"Za..kamu senang berada ditempat ini " tanya Arhan dengan memperhatikan Aiza.
"Dimana pun saya senang pak.." Aiza tersenyum, terlihat senang melihat suasana malam di pantai
"Apakah kamu pernah berpacaran?" tanya Arhan hati-hati.
"Pacaran itu menyusahkan yang saya lihat pak..saya lebih nyaman sendiri " Aiza menjawab pertanyaan dari Arhan tanpa melihat lawan bicaranya.
"Kok menyusahkan ?" Arhan kembali bertanya dan terlihat bingung.
"Saya sudah terbiasa sendiri dengan segala kesibukan saya bahkan waktu untuk diri sendiri saja saya tidak ada, bisa-bisa pacar saya marah dikira mendua..ga pak saya lebih nyaman seperti ini bebas apa yang saya mau" Aiza merentangkan kedua tangannya seperti mengapresiasikan kebebasan.
"Apa akan selamanya sendiri?" Arhan kembali berhati-hati bertanya.
"Ehm.. entahlah, untuk saat ini saya masih ingin menggapai impian saya tanpa terbebani dengan suatu ikatan apapun " Aiza menyuarakan suara hatinya.
"Walaupun seseorang itu bersungguh-sungguh meminta mu " Arhan berusaha mencari tahu.
"Saya masih ingin memantaskan diri dulu..sebab saya sadar saya ini siapa?" balas Aiza terdengar merendahkan diri sendiri.
"Apa yang hendak kamu pantaskah..kamu istimewa dimata saya za.." ujar Arhan dengan memandang Aiza sendu.
"Sudahlah..pak,tidak ada yang istimewa dari diri saya " Aiza memilih meninggalkan Arhan berjalan dipinggir pantai seorang diri.
'Maafkan saya pak, saya tahu maksud baik pak Arhan tapi saya tidak mau dipandang lemah.. apalagi sampai orang mengira memanfaatkan kebaikan pak Arhan' Aiza berkata pada dirinya sendiri dan air mata tanpa sadar menetes,dia teringat kedua orang tuanya.
Aiza membayangkan bila kehadiran orang tuanya masih ada mungkin dia akan seperti anak lainnya bisa memiliki waktu untuk bisa bermain tanpa memikirkan kebutuhan hidup.
"Ma..pa,Aiza rindu " Aiza mengusap air mata disudut matanya.
__ADS_1
Aiza sangat pandai menyimpan rahasia hatinya kepada siapapun walaupun itu perih yang dia rasakan dalam dadanya.