
Memendam rasa itu tidak mudah, seperti yang saat ini Arhan rasakan membuat gelisah seakan akal sehatnya tidak berfungsi dengan baik karena memikirkan seseorang yang selama ini belum pernah dia merasakan rasa seperti ini.
"Bisa gila aku,isi kepala ku hanya kamu isinya !!" teriak Arhan yang memandang cermin di kamar mandi.
"Pesona apa yang kamu miliki hingga aku bisa bertekuk lutut di hadapan mu tanpa malu untuk mengakui kalau aku mencintaimu" Arhan kembali berbicara seorang diri.
Arhan keluar dari kamar mandi dengan muka masam karena ingin sekali bertemu dengan wanita pujaannya saat ini juga untuk melepaskan rasa rindu yang semakin lama menyiksa dirinya.
"Assalamualaikum bro..ada dimana?" Arhan menghubungi seseorang.
Arhan terlihat bicara serius dengan seseorang melalui ponsel miliknya dan seseorang yang Arhan hubungi sepertinya cukup dekat hubungannya dengan Arhan.
"Ok..gue langsung ke tempat loe " ucap Arhan sebelum menutup ponselnya.
Arhan terlihat berpenampilan rapih walaupun dengan tidak formal namun masih terlihat garis ketampanannya.
"Mau kemana lagi..baru juga pulang " Erina melihat penampilan Arhan yang bisa diartikan putranya akan keluar dari rumah.
"Kumpul di Cafe Prasetyo Bun.. sebelum malam aku pulang " ucap Arhan sebelum Erina memintanya pulang cepat sebelum makan malam.
"Ehm.. kami tidak ingin menunggu,ingat itu !" tegur Erina sebelum Arhan melepaskan tangan Erina untuk menyalaminya sebelum berpamitan.
"Siap nyonya Arief perintah akan di laksanakan" ucap Arhan yang memberikan hormat pada Erina dengan tegas.
"Nyonya, nyonya..aku ini bunda mu Arhan..!!" pekik Erina dengan terlihat sedikit sewot.
"Iya..Bun,maaf " balas Arhan dengan memeluk pundak bundanya dan mencium pucuk kepala Erina dengan sayang.
"Sudah..sana nanti terlambat" pintar Erina dengan kembali tersenyum manis pada Arhan.
"Bunda memang yang terbaik" balas Arhan lagi dengan tersenyum.
Erina hanya tersenyum memperhatikan Arhan yang melambaikan tangannya sebelum menutup pintu.
Arhan mengunakan motor miliknya menuju ke tempat yang akan di datanginya dengan pikiran masih mengingat seseorang untuk bisa di taklukkan hatinya.
"Maaf bro..sudah menunggu" begitu sampai Arhan langsung masuk dan menyapa karena merasa tidak enak sudah meminta waktu pada seseorang yang tidak lain adalah Prasetyo.
__ADS_1
"Untuk loe..tidak masalah,ada apa lagi ?" Prasetyo mengerutkan keningnya seperti berpikir.
"Sepertinya Aiza ga mau gue ajak nikah" dengan muka murung Arhan menyampaikan isi hatinya.
"Cie..cie, akhirnya loe naksir seorang gadis " Arya dan Prasetyo di kejutkan dengan kedatangan Arman dan Adhi yang tanpa di undang.
"Berisik.. ngapain sih pada datang padahal ga di undang" sewot Arhan dengan muka masam.
"Jadi kita di usir nih,ayo dhi..kita pulang " Arman menarik tangan Adhi untuk keluar cafe dengan pura-pura ngambek.
"Kayak anak perawan aja,ngambekan " pada akhirnya Arhan merasa tidak enak hati.
"Siapa juga yang ngambek,kita kan disuruh pulang ya..pulang, bener ga dhi ?" Arman meminta persetujuan dari Adhi.
"Bener tuh.. kali aja loe udah merasa bedah circle sama kita berdua jadi ngusir kita, ayo.. " goda Adhi dengan muka pura-pura kesal.
"Maaf bukan itu maksud gue..loe ga paham sih apa yang gue rasain " akhirnya Arhan membuka apa yang saat ini dirasakan dalam hatinya.
"Serius..gue ikut senang, mendengarnya" ucap jujur Arman yang terlihat senang.
"Ayo..bro langsung tancap gas aja jangan kasih kendor " Adhi lebih bersemangat mendengar kabar bahagia yang Arhan rasakan.
"Ga,ga mungkin mana ada wanita yang akan menolak pesona loe..bro !" pekik Arman yang merasa tidak percaya.
"Loe..ga tahu aja,ada kok anak gadis yang berani menolak dengan mentah-mentah diajak si..bujang lapuk yang pesonanya ga pernah pudar " Prasetyo dengan terkekeh menjelaskan.
"Busyet..tuh anak kesirep apa sampai bisa berani nolak loe,bro !" teriak Adhi yang tidak kalah merasa tidak percaya.
"Kesirep,memang habis masuk hutan angker..gue juga bingung apa gue kelihatan tua dimatanya..?!" Arhan memperbaiki penampilannya.
"Loe..memang terlahir keturunan vampir ga ada tuanya,pesona loe makin kuat di umur loe yang semakin bertambah" ujar Prasetyo dengan menepuk pundak Arhan.
"Loe bisa aja bro " balas Arhan dengan tersenyum.
"Loe samperin aja langsung ke orang tuanya bro.." Adhi mengutarakan pendapatnya.
"Dia yatim piatu..bro " Prasetyo langsung menjawab.
__ADS_1
"Itu malah lebih mudah..datangi aja langsung walinya" Arman kini giliran bicara.
"Gue ga mau kalau anaknya sendiri belum menerima permintaan gue,ga ada dalam kamus gue memaksakan kehendak apa lagi untuk urusan pernikahan" Arhan dengan jelas menolak.
"Udah kita culik aja..dan kita paksa untuk langsung ke pernikahan "Adhi merasa Arhan lamban dalam ini.
" Culik..culik memang kita ga di ijinkan nikah,di sini anaknya yang belum mau di ajak nikah..bro,masa masih ga paham aja sih " Arhan terlihat kesal sendiri karena belum menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapinya.
"Jujur baru kali ini gue lihat muka loe kusut kayak cucian yang belum disetrika..." Arman tertawa terbahak-bahak.
" Loe ga ada prihatin-prihatinnya, senang ya.. melihat teman loe menderita" suara memelas terdengar dari Arhan.
"Siapa sih.. sebenarnya yang loe taksir ?" akhirnya Adhi bertanya karena penasaran.
"Aiza.. karyawan gue " Prasetyo menjelaskan walaupun tidak detail.
" Serius..ha ha ha,bocah kecil loe taksir pantas dia belum mau loe ajak nikah bro" ucap Adhi yang tertawa puas setelah mengetahui cewek yang Arhan taksir.
"Emang salah,yang jelas gue naksir cewek bukan cowok loe itu aneh..bro,gue masih dijalan yang lurus dan benar " menurut Arhan tidak ada yang salah dalam hal ini.
"Iya..loe ga salah tapi dia masih bocah bro,masih ingin bermain dengan bebas dengan kawan-kawan pastinya belum mau memikirkan beban rumah tangga" kini Arman ikut bicara.
"Jadi hati gue salah memilih maksud loe pada?" Arhan kini terlihat gamang.
" Hati loe ga salah, mungkin butuh waktu untuk bisa meyakinkan Aiza kalau loe serius pada dia " Prasetyo menjadi penengah dalam hal ini.
Sebab cinta tak akan pernah salah dalam menentukan kepada siapa hati ini akan berlabuh, untuk bersama orang yang tepat tentunya.
"Cara loe salah kali untuk meyakinkan Aiza karena itu dia belum mau loe ajak nikah" Adhi kembali bersuara.
" Ehm.. seingat gue, meminta baik-baik dengan serius tanpa main-main" Arhan dengan tenang menjelaskan.
"Mungkin Aiza juga perlu waktu untuk menyakinkan dirinya dengan lamaran loe yang terkesan mendadak dan bisa juga diartikan kalau loe mungkin main-main dimata Aiza " Prasetyo terlihat menjadi pribadi yang berpihak pada Aiza.
"Betul..itu, coba loe kasih waktu lagi buat Aiza,kali aja lamaran loe di waktu yang tepat Aiza akan langsung menerimanya dan tidak ada lagi penolakan " Arman terlihat bijak dalam hal ini.
"Baiklah..kali ini gue denger saran dari loe pada tapi besok-besok gue ga,gue akan dengan cara gue " suara tegas Arhan terdengar mendominasi.
__ADS_1
"Kembali ke mode awal..susah ini "Adhi tertawa kecil memandang Arhan yang meneguk minuman dingin seperti mendinginkan suasana hatinya.
Sahabat tempat terbaik untuk membagi keluh kesah serta menjadi tempat untuk mencari solusi dari sebuah masalah, seperti saat ini Arhan bersama sahabatnya yang menerima keras kepala Arhan tapi ada saat Arhan akan menerima kalau dirinya harus mengakui masukan dari sahabat juga untuk kebaikan dirinya.