Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
20


__ADS_3

Pagi menyapa penghuni bumi dengan senyum menteri yang hangat ditambah kicauan burung bersahutan menambah cerah pagi ini.


"Hey..kapan sampai?" tanya Arslan pada sang adik yang sudah berpakaian rapi duduk di meja makan.


"Semalam " jawab singkat Arhan yang sebenarnya masih merasa ngantuk tapi sudah terlanjur janji dengan seseorang yang akan dia kejar untuk menjadi pelabuhan terakhir hatinya.


"Libur ?" tanya Arief yang baru datang.


"Iya..yah " Arhan langsung menghampiri Arief mencium tangannya.


Arief tidak mengetahui kedatangan putranya,Arhan memang sampai rumah hampir lewat dari jam satu.


"Terus mau kemana lagi sudah rapih katanya libur ?" Erina meminta penjelasan dari Arhan sebab kalau Arhan berkata libur biasanya akan bermalas-malasan di rumah tidak akan kemana-mana.


"Ada janji Bun..nanti jam 9,tenang Bun..nanti balik lagi ga kemana-mana ini masih di sekitar sini saja " Arhan tahu Erina mengkhawatirkan dirinya.


"Om..kapan sampai ?" Arsyila langsung mencium tangan Arhan,kali ini ada yang berbeda yang Arhan lihat Arsyila begitu senang melihat kedatangan Arhan.


"Om..ga kemana-mana kan ?" Arsyila bertanya menunjukkan rasa bahagianya.


"Memang om mau kamu ajak kemana sayang ?" tanya Arief pada Arsyila.


"Aku ajak jalan aja eyang.." Arsyila terlihat bahagia pikir Arief dan hal ini tidak seperti biasanya Arsyila mengajak Arhan biasanya selalu Arzu yang menemaninya.


"Tapi jangan sekarang ya..sayang,om ada janji mungkin sampai siang,ehm..atau bisa jadi sampai sore" Arhan belum bisa menduga berapa lama dirinya akan bersama Aiza.


"Kok ga pasti sih om,ok hari ini om bisa temui teman om,tapi besok harus janji waktunya om bareng aku " Cila mengancam Arhan yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Mana bodyguard mu, sampai om yang kamu ajak?" tanya Erina pada Cila.


"Arzu lagi banyak belajar eyang.. untuk persiapan masuk kuliah,dan tidak bisa diganggu "Cila menjelaskan dengan cemberut.


Tiba-tiba Arzu datang untuk menikmati sarapan bersama dan menyapa penghuni rumah.


"Pagi semua..wih,kapan sampai om ?" Arzu terkejut melihat kehadiran Arhan.


"Semalam..kalian semua sudah terlelap di alam mimpi " balas Arhan dengan tersenyum.


"Lagian datang kok malam-malam kayak ga ada siang aja sih om" cibir Arzu dengan menaikkan satu alisnya.


"Sudah..sudah mau sarapan apa mau terus lanjut ngobrol " tegur Erina yang datang membawa piring tambahan untuk di berikan pada Arhan.


Mereka menikmati sarapan dengan hikmat tanpa ada yang bicara sesuai permintaan Erina.


"Sayang ga ke kampus?" tanya Arslan pada putrinya.

__ADS_1


"Papa lupa,mulai hari ini aku libur semester pa" ucap Arsyila sebelum meninggalkan papanya yang masih berbincang dengan Arhan dan eyang kakung.


"Cantik mau kemana kamu ?" tegur Arhan pada Cila yang langsung menengok ke arah Arhan.


"Mau ke teras samping, memang om kira aku mau kemana?" tanya balik Arsyila.


"Om..kira kamu mau jalan keluar rumah tanpa ganti baju" Arhan memperhatikan penampilan Arsyila yang memakai baju rumahan,kaos longgar bergambar Tedy Bear dan celana kulot di bawah lutut


"Tenang om..aku juga tahu kalau mau keluar ga akan pakai baju yang tidak sopan" Arsyila melanjutkan rencana selepas menjelaskan pada Arhan menuju teras samping.


Untuk menuju teras samping Arsyila harus melewati garasi yang terdapat beberapa mobil dan motor Arhan sebab hanya Arhan yang memiliki motor, Arsyila terkejut melihat motor yang sama seperti milik Aiza.


"Frengki ? ga,ga mungkin Frengki ada disini tapi ini sama persis dengan Frengki,kok bisa Frengky ada disini ? mungkin hanya kebetulan mirip Frengki" Arsyila memeriksa dengan seksama untuk menyakinkan kalau motor yang ada di garasi rumah eyangnya adalah motor Aiza.


Setelah memeriksa motor,Arsyila kembali melanjutkan rencana awalnya untuk menuju teras samping untuk bersantai,yang masih memikirkan keberadaan Frengki di garasi rumah keluarganya.


Sinar mentari beranjak naik dan terdengar suara motor melaju keluar dari kediaman keluarga Arhan.


"Pak kumis,mana motor yang ada disini tadi kok sekarang tidak ada ?" tanya Arsyila pada supir keluarganya yang sering disapa pak kumis dari pada nama sebenarnya.


"Eh..non Cila,tuan Arhan yang baru saja keluar yang memakai motor itu dan tidak memakai motor milik tuan Arhan dan bapak kurang tahu motor siapa yang tuan Arhan pakai sebab bapak juga baru lihat pas tuan Arhan datang semalam non" pak kumis menjelaskan dengan detail yang dia tahu.


"Oh..ya sudah terimakasih pak" Arsyila meninggalkan pak kumis dengan menduga-duga setelah melihat kehadiran Frengki yang ada garasi rumahnya.


🌷


🌷


Arhan menekan bel rumah yang Arhan tahu ini kediaman Aiza dengan berpenampilan rapih tapi tetap bisa terlihat dari perawakannya kalau dirinya seorang abdi negara.


Tidak lama seorang wanita membuka pintu dan memperhatikan penampilan Arhan dengan sedikit cemas sebab terlihat seperti seorang polisi.


"Assalamualaikum..bisa saya bertemu dengan Aiza " suara Arhan yang terdengar tegas semakin membuat wanita itu semakin gugup.


"Waalaikumsalam..mba Aiza, tunggu sebentar saya panggilkan" jawab wanita yang Arhan tidak tahu namanya tapi terlihat gugup dengan melihat kehadiran Arhan.


Ima yang berniat memanggil Aiza berpapasan dengan Gea yang membuka pintu kamarnya.


"Ada tamu mba..siapa ?" tanya Gea dengan muka yang tidak pernah ramah.


"Iya..non polisi, mencari mba Aiza " jawab Ima yang takut Aiza akan di bawah sama lelaki yang diyakini Ima seorang polisi berpakaian bebas.


"Polisi..bikin malu saja, kesalahan apa yang dia buat sampai polisi datang mencarinya ke rumah " Gea terlihat kesal tapi juga senang, bisa dilihat dia bisa tersenyum walaupun terlihat senyum sinis.


"Mba..jangan pernah bilang sama papa kalau ada tamu ingin menemui Aiza ataupun sampai membawa Aiza ke kantor polisi..awas kalau sampai ngadu ke papa,kamu saya akan bilang mama untuk memecat mba" gertak Gea dengan muka galak.

__ADS_1


Ima merasa sedih dan sangat prihatin akan nasib Aiza bila benar akan di bawah sama polisi pikir Ima, sedangkan tuan Hendri tidak ada di rumah siapa yang akan membebaskan Aiza,Ima masih berpikir buruk tentang Aiza.


"Mba..ada tamu didepan ingin bertemu mba " suara Ima terdengar seperti menahan tangisnya.


"Ya.. sebentar" jawab Aiza membuka pintu kamar miliknya.


"Kenapa mba..,kok mba terlihat sedih ?" tanya Aiza setelah membuka pintu melihat Ima yang menahan tangisnya.


"Mba Aiza salah apa sampai Polisi datang,dan mau membawa mba Aiza ?" Ima langsung memeluk Aiza dengan erat dan tangisnya yang sudah pecah.


"Polisi..?" Aiza bingung dengan ucapan Ima.


"Iya..mba dia menunggu mba diruang tamu" ujar Ima dengan terisak.


"Tenang mba.. polisi ga akan bawa saya kok kalau kita ga salah,mungkin salah orang mba..saya akan temui polisi itu,sudah jangan nangis saya ga melakukan kejahatan mba,bisa buatkan minuman untuk polisi itu mba" Aiza meminta bantuan Ima.


"Ya..mba nanti saya antar ke ruang tamu" Aiza bergegas turun untuk menemui yang menurut penuturan Ima polisi.


"Apa yang sudah kamu lakukan sampai polisi datang untuk menjemput kamu..bikin malu saja " Gea menegur Aiza dengan ketus yang langsung menuju kamarnya sepertinya tidak mau ikut campur dengan urusan Aiza.


"Polisi ? ini pasti ada yang salah " Aiza mempercepat langkahnya.


"Bapak !?" ucap Aiza yang langsung paham kalau Arhan orang yang dimaksud Ima.


"Kita jadi pergi kan ? saya tidak terlambat untuk menjemput kamu sesuai permintaan tuan putri " goda Arhan pada Aiza.


"Kedatangan bapak sudah bikin seisi rumah salah paham " tegur Aiza pada Arhan yang terlihat bingung dengan menaikkan satu alisnya seperti berpikir.


"Saya hanya berkata ingin bertemu Aiza tidak lebih,dimana letak orang rumah kamu salah paham sama saya..apa karena saya terlalu tampan sehingga membuat mereka kagum sehingga tidak percaya kalau salah satu penghuni rumah didatangi lelaki seperti saya" Arhan berasumsi sendiri tentang dirinya.


"Saya mohon pak.. hilangkan sifat narsis bapak, karena percaya diri bapak terlalu tinggi kalau jatuh bikin sakit pak.." dengan gelengan kepala Aiza berkata.


"Za..pagi-pagi kamu sudah bikin mood saya hancur saja"ujar Arhan yang sebenarnya hanya ingin membangun kedekatan dengan Aiza.


"Langsung cabut saja ya..pak,ga enak juga sama pihak sekolah" Aiza langsung mengajak Arhan keluar.


"Mba.. bagaimana dengan minumannya?" tanya Ima yang masih memegang baki berisikan teh hangat.


"Biar saya minum dulu za..kasihan mbanya sudah repot-repot membuatkan minuman" Arhan langsung menghabiskannya sampai tandas.


"Bilang saja bapak haus " sangga Aiza dengan muka biasa.


"Kamu paling mengerti saya za.." balas Arhan dengan tersenyum manis yang membuat Ima jadi bingung sebenarnya siapa lelaki yang akan pergi bersama Aiza polisi atau bukan, Ima hanya bisa memandang dalam kebingungan.


Aiza keluar dari rumah bersama Arhan yang di perhatikan Gea dari jendela kamar dengan menatap sinis sekaligus senang dan hanya Gea yang tahu apa yang terpikirkan dalam pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2