
Hampir menjelang malam acara pelatihan selesai,hanya menyisakan anggota TNI yang masih merapikan perlengkapan latihan dengan obrolan santai.
"Ar..aku lihat kalian dekat " Bisma seperti mencari tahu.
"Tidak hanya membantunya saja tidak lebih,dari sisi mana komandan bicara seperti itu " Arhan berharap Bisma tidak asal bicara.
"Mulut kau bisa berbohong tapi tidak dengan bahasa tubuh kau "Bisma sebagai lelaki dewasa tidak dapat di bohongi.
"Sepertinya mulai sekarang komandan punya profesi tambahan jadi peramal " ujar Arhan membuat Bisma terbelalak kaget.
"Kau asal bicara yang benar itu anak dukun " ucap Bisma dengan tertawa.
"Parah..sudah mulai terlihat bibit sedikit aneh" balas Arhan.
"Maksud kau,aku gila gitu..jahat kali kau..adik durjana " Bisma menepuk jidatnya.
Keduanya tetap bersama meninggalkan tempat pelatihan yang sudah mulai gelap.
🌹
🌹
"Assalamualaikum..hay, cantiknya om " ucap Arhan yang mengusap lembut kepala Cila.
"Waalaikumsalam..ih,om bau " Arsyila menutup hidungnya.
"Bau apa sih ? segini wanginya " Arhan mencium kedua ketiaknya bergantian.
"Om bau matahari.." ujar Arsyila yang masih menutup hidungnya.
"Sudah sana mandi.." tegur bunda Erina pada putra bungsunya.
"Iya Bun,iya.." Arhan pun meninggalkan ruang keluarga bergerak ke lantai atas dimana letak kamarnya.
Arhan bergegas masuk kedalam kamar mandi yang berada didalam kamarnya.
Selepas membersihkan dirinya Arhan melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim walaupun sedikit telat karena perjalanan macet menjelang malam ini.
"Ehm..capek juga " Arhan merebahkan dirinya sekedar melemaskan otot-otot tubuhnya,tanpa diminta pikirannya terkoneksi dengan sosok bayangan gadis cantik yang seharian tadi menghabiskan waktu dengannya.
"Cantik..sih, ehm sedikit menarik,woi...ada apa dengan isi kepala ku ini " Arhan menepuk jidatnya beberapa kali.
Tapi bayangan gadis itu masih bermain didalam benaknya seakan enggan pergi dari pikirannya.
Sampai Arhan memejamkan matanya beberapa kali hingga membuat tertidur karena berusaha melupakan bayangan gadis itu.
"Ya..pantas saja tidak menjawab ucapan ku, ternyata om tertidur" ucap Arzu yang diminta eyang uti untuk mengajak Arhan makan malam bersama.
"Om..di tunggu,eyang untuk makan malam,om" Arzu beberapa kali menggoyangkan tubuh Arhan untuk bangun.
"Ehm..ya,nanti om nyusul " dengan suara parau Arhan menjawab dan membuka matanya dengan malas.
"Lagian om..magrib-magrib tidur,ga baik om untuk kesehatan " Arzu mengingatkan.
"Iya..pak dokter " ujar Arhan yang tahu keinginan Arzu akan melanjutkan kuliah kedokteran,dia ingin seperti ayahnya.
"Ayo..di tunggu eyang " ajak Arzu lagi yang melihat Arhan masih duduk seperti mengumpulkan nyawanya.
"Ehm..duluan saja dek " Arhan meminta Arzu keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Jangan lama ya..om, cacing dalam perut ku sudah mulai berdemo nih " Arzu menerangkan dengan mengusap perutnya.
"Ya..om cuci muka dulu,duluan sana" Arhan memerintahkan Arzu,dia sendiri masuk kedalam kamar mandi untuk membasuh mukanya.
Arhan bercermin dan tampak jelas terlintas bayangan gadis pagi tadi bermain di pikiran dan pelupuk matanya.
"Ada apa dengan isi otak ku " umpat Arhan pada dirinya sendiri.
💫
💫
"Ngapain sih..lama bener, seperti perempuan saja " tegur Arslan pada Arhan yang berjalan menuruni tangga dengan santainya.
"Sabar mas,ini juga lagi jalan " balas Arhan yang merasa tidak bersalah.
"Lihat dua keponakan mu sudah kelaparan,apa kamu tidak kasihan" tegur bunda Erina pada putranya.
"Ya..maaf Bun..aku ketiduran" Arhan muai duduk diantara keluarganya.
"Lagian magrib-magrib tidur ga baik nak " tegur ayah Arief yang menerima piring dari istrinya dengan makanan yang dia mau.
"Iya..yah, sebab capek sekali siang tadi " Arhan menjelaskan.
"Sudah makan dulu, ngobrolnya nanti dilanjutkan setelah makan " pinta bunda Erina pada keluarganya.
Makan malam pun begitu hening hanya suara sendok dan piring yang saling bersentuhan.
"Ayah..mau tambah " bunda Erina menawarkan pada suaminya.
"Sudah Bun.. terimakasih,ga enak kalau sampai kekenyangan" ayah Arief mengusap perutnya yang merasa penuh.
"Makanya secepatnya punya istri biar ada yang masakin " tegur ayah Arief pada putra bungsunya.
"Memang harus, bagaimana dengan...?" sudut mata Arhan tertuju pada Arslan yang pura-pura tidak mendengar.
"Akan tiba waktunya" jawab bunda Erina yang membuat Arhan tidak percaya.
"Serius Bun..?" tanya Arhan seperti tidak yakin,sebab dia tahu bagaimana hancurnya Arslan begitu tahu istrinya berselingkuh di depan matanya sehingga langsung mengambil keputusan bercerai dan Arsyila dalam hak asuhnya.
"Siapa Bun..?" tanya Arhan lagi dengan rasa ingin tahunya.
"Jangan kepo "balas Arslan yang langsung meninggalkan meja makan.
"Syukurlah.. berarti Cila akan punya mama baru " goda Arhan pada keponakannya.
"Ih.. siapa juga yang mau punya mama baru ada juga aku mau punya tante baru benarkan pa.." goda Cila pada Arhan meminta persetujuan papanya Arslan.
Arslan yang terbilang irit bicara hanya memberikan jari jempolnya tanda satu pendapat dengan putrinya, begitu juga dengan Arzu yang tertawa karena melihat Arhan kesal.
"Anak sama papanya satu frekuensi" gerutu Arhan yang membantu merapikan meja makan.
"Kalau niat membantu jangan sambil ngedumel ga baik,nanti nilai pahalanya hilang" tegur bunda Erina dengan tegas.
"Iya..Bun,ini juga ikhlas kok ngebantuin nya " ujar Arhan dengan tersenyum masam.
"Ikhlas kok cemberut" goda ayah Arief dengan tersenyum.
"Ini senyum yah.." Arhan melebarkan senyumnya.
__ADS_1
"Ini baru anak bunda " puji Erina dengan memeluk pundak Arhan.
"Jadi selama ini anak tetangga gitu " ujar arhan asal ngomong.
"Hus.. sembarangan,kamu menuduh bunda selingkuh dari ayah mu Han..!" teriak bunda yang sebenarnya hanya menegur Arhan.
"Ampun Bun..ga Bun,ampun Bun.." Arhan sampai bersujud di kaki bundanya yang membuat bunda ingin menangis melihat putranya merasa bersalah.
"Lagian kalau ngomong jangan asal mangap pikirin dulu,bikin orang tersakiti apa ga..itu namanya nuduh Han.." Arslan bicara banyak kali ini.
"Ya..ini juga aku minta maaf mas " dengan rasa bersalah Arhan terus memeluk bundanya.
"Bunda tahu kamu berniat bercanda,apa ada yang kamu pikirkan nak..?" filling seorang ibu itu kuat seakan tahu Arhan memikirkan sesuatu.
"Hanya capek aja sih Bun.." bohong Arhan pada bundanya.
"Kalau capek istirahat lah.. mumpung kamu libur, sesekali boleh kamu tolak lagian bukan tanggungjawab kamu kok " tegur ayah Arief sedikit tahu tanggungjawab putranya, walaupun dia bukan dari kalangan militer.
"Iya..yah,akan aku lakukan" balas Arhan yang tidak ingin berdebat.
"Iya..iya tapi giliran diminta jalan juga "terang bunda Erina pada Arhan.
"Bunda tuh pengen kamu cepat menemukan seseorang yang bisa mengurangi beban kerja kamu,bunda tidak tahu umur bunda sampai kapan,bisa jadi lebih dulu dari ayah mu bunda pulang " ucap bunda Erina dengan mengusap punggung Arhan.
"Bun..jangan ngomong gitu apa,aku belum bahagiain bunda sama ayah" mata Arhan berkaca-kaca.
"Melihat kamu sudah bahagia dengan keluarga kecil kamu bunda sudah bahagia tanpa harus kamu memberikan barang mewah ataupun mengajak jalan-jalan keliling dunia " bunda Erina menjelaskan.
"Iya..bunda nanti aku cari..bunda doakan saja seseorang itu yang sesuai dengan apa yang bunda mau " akhirnya Arhan mengalah.
"Tuh.. bener kan,aku mau punya tante baru" goda Cila usil membuat suasana mencair.
"Awas ya..anak nakal " Arhan mengejar Cila yang sudah berlari meminta papanya menjadi tameng untuk dirinya.
"Han..mau kau apakan putri ku..hem..?" tegur Arslan pada adiknya.
"Mau aku cium dan ku cubit pipinya" ucap Arhan asal.
"Ih..ga mau,om bau " tolak Cila yang semakin bersembunyi di balik tubuh papanya Arslan.
"Enak aja..kamu main cium-cium anak ku" protes Arslan yang membuat semua tertawa.
"Siapa juga yang bilang anak kucing..Cila juga keponakan ku mas " Arhan tidak mau kalah.
"Ya..tapi dia sudah gadis ga bakal mau dia kamu cium-cium,sebab bukan anak kecil lagi Han.." Arslan menjelaskan.
"Bener itu..om,Cila juga malu kalau sampai dilihat teman dikira pacaran dengan om-om" protes Arsyila pada Arhan.
"Biar aja.. bukankah om-om nya tampan dan gagah " dengan percaya diri Arhan bertutur.
"Jangan terlewat percaya diri om " Arzu ikut bicara.
"Wajar dong kalau om percaya diri dari pada minder" pungkas Arhan dengan tersenyum.
"Punya om..kok narsis bener " Arsyila menggelengkan kepalanya.
"Kita satu nasib mba.." ujar Arzu dengan tersenyum pada Cila.
Dan tawa pun memenuhi ruangan keluarga dalam ingin dengan canda tawa yang selalu memberikan kehangatan dalam keluarga besar ayah Arief dan bunda Erina.
__ADS_1