Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
39


__ADS_3

Semua ucapan Aiza ternyata bukan isapan jempol belaka terbukti Aiza kini sudah berada di sebuah kota yang baginya ini pertama kalinya dirinya jauh dari kota kelahirannya apalagi seorang diri.


"Ehm.. Alhamdulillah waktunya pulang" gumam pelan Aiza yang merapihkan tumpukan dokumen diatas meja miliknya.


"Mau pulang bareng?" sapa ramah wanita yang baru beberapa minggu Aiza kenal.


"Terimakasih Bu.. tempat tinggal saya dekat sini" dengan ramah Aiza membalas.


"Ya..udah bareng aku aja, gimana cantik"goda salah satu pria yang tidak bedah usia dengan wanita yang baru saja Aiza tolak permintaannya.


"Modus loe..jangan mau za,fans fanatiknya ganas"canda wanita lain yang kebetulan lewat.


"Apa sih mba,jangan membuat opini yang aneh-aneh deh" sanggah lelaki itu yang biasa disapa Fandi.


Aiza merasa senang ditempat barunya dia diterima dengan baik,bahkan dia merasa mendapatkan keluarga baru karena dia paling muda secara usia tapi secara kemampuan akademik Aiza diatas mereka terbukti Aiza dapat membantu kesulitan mereka dalam mengolah data yang masih dengan cara lama yang menurut Aiza memakan waktu dan tidak efektif.


"Sebelumnya terimakasih, tempat tinggal saya tidak jauh kok cukup jalan kaki saja"


tolak Aiza dengan tersenyum.


"Bisa ga sih jangan senyum bikin rontok hati Abang neng" goda Fandi yang langsung disambut dengan sebuah tangan melayang di jidat Fandi.


"Modus terus" sewot wanita yang tidak suka Fandi menggoda Aiza.


"Sakit mba" ucap Fandi menguap jidatnya dengan cemberut.


"Lagian mau dikemanakan pacar mu itu yang seperti ulat nangka" wanita lain ikut menimpali.


"Iya..iya,sayang bodyguardnya lebih nyeremin dari neng cantiknya" gerutu Fandi dengan malas keluar lebih dulu.


Aiza hanya bisa tersenyum mendengar umpatan Fandi sebelum mendapatkan kembali balasan.


"Za..jangan dengerin Fandi,kamu santai aja jangan diambil hati, anggap kami kakak kamu.. enjoy" rangkul wanita manis yang Aiza tahu dia yang menjadi atasannya.


"Terimakasih Bu.." balas Aiza dengan sedikit membungkukkan kepalanya tanda hormat.


"Kapan-kapan main ke rumah,anak gadis ku pasti seneng dengan kamu" pinta wanita ramah yang bisa jadi seumuran Arhan.

__ADS_1


"Insyaallah..akan saya sempatkan untuk main ke rumah ibu" dengan malu Aiza menjawab.


Sepanjang jalan keluar ruangan sampai ke tempat parkir banyak pasang mata yang memperhatikan interaksi Aiza dengan wanita yang sedikit banyak mendapatkan sapaan dari pegawai yang Aiza tidak tahu seberapa penting peran wanita ini yang jelas menurut Aiza wanita yang berjalan bersamanya pasti bukan orang sembarangan di tempatnya bekerja ini.


"Janji ya..ibu tunggu loh" wajah wanita itu terlihat semakin cantik dengan tersenyum pada Aiza yang Aiza lihat.


Aiza semakin malu mendengar perkataan wanita itu sebelum membuka mobil miliknya, sebab dia sadar siapa dirinya yang anak baru di tempat kerjanya saat ini.


Masih dengan senyum malunya Aiza mempersilahkan wanita itu sebelum meninggalkan tempat parkir tapi tubuh Aiza sudah tersungkur di tanah yang berlapiskan blok dengan sedikit luka di bagian sikut dan lututnya.


"Aiza....!!!" teriak wanita itu yang langsung keluar dari mobil miliknya dengan muka khawatir.


"Maaf..." ucap wanita lain dari mobil yang menyeret Aiza dengan menghampiri Aiza.


"Tidak apa-apa, saya juga salah tidak memperhatikan jalan"ucap Aiza dengan meringis menahan luka.


"Maaf..ya,mba mohon hati-hati dan perhatian sekitar sebab disini banyak orang yang lalu lalang" tegur Titi dengan tegas walaupun dengan sikap ramah.


"Sekali lagi saya minta maaf dan saya akan bertanggungjawab untuk pengobatan mba" wanita yang Aiza dan Titi tidak kenal namanya itu menunjukkan sikap bersalahnya dengan siap bertanggungjawab.


"Tidak usah mba ini hanya luka kecil kok" tolak Aiza yang merasa tidak enak karena tidak sepenuhnya kesalahan wanita itu.


"Tapi Bu.. ini hanya luka kecil,saya obati di tempat kos saja" pinta Aiza dengan mengan sakit.


"Apa ? luka kecil,lihat " pinta Titi yang langsung membuka rok Aiza yang melebihi batas lutut.


"Iya mba,biar saya yang akan tanggungjawab" pinta wanita itu dengan menunjukkan rasa bersalah.


Tidak lama Titi datang dengan seorang dokter laki-laki yang terlihat dekat dengan Titi,Aiza dapat melihat dengan jelas keakraban keduanya walaupun dokter laki-laki itu terlihat sedikit bicara bahkan lebih terlihat dingin.


"Ga,harus di jahit kan Ar ?" tanya Titi dengan tersenyum jail.


"Ga,hanya luka lecet biasa" balas dokter yang Aiza tidak mengenalnya,hanya tatapan datar, cenderung dingin menjawab ucapan Titi.


"Serius Ar ?" Titi kembali bertanya.


"Apa sih ti,lagian ini bukan tanggung jawab ku..mana sih yang tugas jaga" lelaki itu terlihat suka.

__ADS_1


"Lah.. bukannya ini juga tugas kamu Ar ?" Titi kembali berucap.


"Ti, pasien ku menunggu dan ini bukan tugas ku " lelaki itu menghadap Titi yang melihat santai bahkan tersenyum lebar.


"Maaf.. terimakasih sudah membantu,bener nih g perlu di jahit ?" entah apa tujuan dari ucap Titi,Aiza hanya memperhatikan lukanya.


Lelaki yang Titi panggil Ar itu hanya melambaikan tangan sebagai jawaban sebelum meninggalkan Titi yang terlihat senang.


"Bu,apa boleh saya pulang?" tanya Aiza yang terlihat serba salah.


Begitu juga seorang wanita yang ingin bertanggungjawab karena membuat Aiza terluka.


"Ehm..mau saya antar "ucap Titi yang sebenarnya tahu Aiza hanya luka kecil.


"Terimakasih Bu,saya bisa pulang sendiri" ucap Aiza tidak ingin merepotkan.


"Biar sama saya saja, untuk biaya pengobatan juga biar saya saja" pinta wanita itu ingin mengambil alih.


"Maaf untuk biaya pengobatan sepertinya tidak usah,cukup antarka sampai rumah saja" Titi menjelaskan karena Aiza tidak memerlukan perawatan khusus.


"Tapi kan " Titi mengerti dengan ucapan wanita itu tapi dia sudah cukup memahami karena wanita itu juga sudah berusaha bertanggungjawab akibat dari perbuatannya.


"Sudahlah Aiza perlu istirahat, sebaiknya cepat bawa dia pulang " pinta Titi dengan tersenyum pada Aiza.


"Bila masih merasa sakit,kamu bisa ijin untuk tidak masuk besok" ucap Titi dengan memapah Aiza turun dari tempat tidur.


"Terimakasih Bu..saya akan usahakan masuk karena saya masih baru Bu" Aiza sadar dirinya masih juga diterima di kerja.


"Maaf karena saya kamu jadi terluka" ucap wanita itu dengan menunjukkan muka bersalah.


"Lain kali kalian berdua harus hati-hati lagi" ujar Titi menengahi.


Hanya senyum yang membuat perlihatkan sebagai bentuk jawaban atas tindakan ceroboh dan ketidak hati-hati mereka.


Baik Titi maupun Aiza yang di temani wanita yang ternyata memiliki nama Aina sudah meninggalkan bangunan tinggi dengan beberapa lantai yang enggan untuk orang datangi bila dalam keadaan sehat.


Aiza memang bekerja di sebuah rumah sakit besar di salah satu kota metropolitan,di bagian keuangan sesuai jurusan Aiza tekuni.

__ADS_1


Sebelumnya Aiza hanya meminta ijin pada paman dan salah satu putri bungsunya yang sudah dekat dengan dirinya, sebenarnya paman Aiza berat memberikan ijin Aiza untuk jauh darinya tapi Aiza berusaha menyakinkan pamannya kalau dirinya akan menjaga diri selama jauh darinya.


__ADS_2