
Waktu bergerak begitu cepat berlalu,Arhan sesampainya di rumah malah semakin susah untuk memejamkan matanya, akhirnya dia memilih memeriksa ponselnya.
"Kenapa aku bisa sebahagia ini hanya mendapatkan nomor ponsel Aiza " Arhan menjelaskan pada dirinya sendiri suasana hatinya.
Pada akhirnya Arhan bisa terpejam walaupun hanya beberapa jam saja tidak lama dia kembali membuka matanya saat telinganya mendengar sayup-sayup suara adzan subuh.
Sebelum ke kamar mandi Arhan kembali memeriksa ponselnya berharap Aiza membalas pesannya yang dia kirim begitu sampai di rumah.
Pesan yang Arhan kirim menjelaskan kalau dirinya sudah sampai rumah dengan selamat dan ucapan selamat beristirahat untuk Aiza, terlihat konyol menurut Arhan sendiri seakan Aiza adalah kekasih hatinya yang harus saling bertukar kabar.
"Apa kamu langsung tidur dan sampai saat ini belum bangun...mungkin dia terlalu capek" pikir Arhan yang langsung meninggalkan ponsel miliknya diatas tempat tidur.
🍁
🍁
Di tempat berbeda Aiza sudah bangun sebelum adzan subuh berkumandang,dia selalu melakukan sholat sunah sebelum subuh untuk berserah diri kepada Rabb pemilik alam semesta sampai waktu subuh datang,dia yakin akan ada kebahagiaan didepan sana yang telah Rabb sediakan untuk dirinya.
"Mba..Ima sudah sholat subuh ?" tanya Aiza yang kebetulan berpapasan dengan Ima yang merapikan ruang tamu.
"Belum mba..saya baru selesai membereskan ruang tamu" Ima menjelaskan membuat bingung Aiza sebab tidak biasanya ruang tamu berantakan.
"Ya..sudah,mba Ima sholat subuh saja dulu nanti telat loh pekerjaan tidak akan pernah habis" Aiza mengingatkan.
"Iya..mba " Ima pun langsung meninggalkan Aiza yang akan membuat sarapan pagi.
"Pagi mba Nia" seperti biasanya Aiza ramah pada art di rumahnya.
"Pagi mba Ai.." sapa Bali Nia yang selalu merasa senang bila bersama Aiza.
"Kita bikin sarapan apa hari ini mba..?" Aiza seperti meminta pendapat Nia.
"Itu loh mba..tadi malam non Tita mencari mba Aiza" Aiza sudah bisa menebak Tita pasti dalam kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan sekolahnya.
"Motor saya mogok mba, makanya saya telat pulang untung ada orang baik yang membantu memperbaiki motor saya, Alhamdulillah saya sampai ke rumah dengan selamat " Aiza menerangkan kenapa dirinya terlambat pulang.
"Kenapa motor mu..nak ?" Hendri yang mendengar langsung merespon dan bertanya pada Aiza.
"Ehm..om,mengejutkan saja" balas Aiza mengalihkan pembicaraan.
"Ada apa dengan motor mu nak..?" Hendri kembali bertanya.
"Hanya mogok semalam om" Aiza menjelaskan.
"Bagaimana tidak mogok, motor mu sudah lama,sudah semestinya di ganti dengan yang baru..biar nanti om akan membelikan untuk mu yang baru" Hendri sadar betul semua Fasilitas yang dikelolanya milik Aiza sepenuhnya dia hanya menjalankan saja.
"Tidak usah om..masih bisa di servis kok" Aiza tidak ingin menyusahkan Hendri sebab ujung-ujungnya Aiza yang akan jadi tumbal kemarahan Nella.
"Itu hak mu nak.." ingin Hendri menjelaskan pada Aiza tapi dia juga takut akan murka Nella yang selalu mengancam akan meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"Terimakasih om, untuk kebaikan om tapi Ai tahu kebutuhan om juga banyak,motor Ai masih bisa di pakai kok" Aiza berusaha untuk menolak dengan halus.
"Ya..sudah,tapi kamu harus bilang sama om jika motor mu kembali mogok" Hendri mengusap lembut kepala Aiza.
"Ya..om " dengan tersenyum Aiza menjawab.
"Kenapa ga mau aja sih mba.." Nia memberanikan diri mendesak Aiza.
"Manfaatkan dulu yang masih bisa mba Nia" Aiza paham dengan maksud baik Nia tapi dia juga tidak ingin ada pertengkaran di rumah miliknya.
Nia hany bisa mendengus kesal karena Aiza selalu saja mengalah walaupun sudah di perlakukan tidak baik.
"Aiza...semalam kamu pulang jam berapa !?" hardik Nella dengan bertolak pinggang.
"Hampir setengah satu Tante,maaf motor saya mogok" Aiza menjelaskan walaupun tetap saja tidak berguna.
"Cepat ke kamar Tita..dia perlu bantuan mu,ada tugas sekolah yang dia tidak bisa kerjakan" perintah Nella dengan muka kesal.
"Siapa yang punya tugas,siapa yang harus direpotkan " ucap pelan Nia dengan setengah berbisik.
"Hus..nanti didengar loh mba" ujar Aiza yang mempercepat pekerjaannya.
"Sudah sana nanti nyonya besar makin marah,soal kerjaan biar mba selesaikan" Nia menyuruh Aiza meninggalkan dirinya dengan setumpuk pekerjaan di dapur.
Aiza mengetuk pintu kamar Tita dan masuk pemandangan yang dilihat oleh Aiza sungguhan membuat Aiza iba.
Tita langsung memeluk Aiza dengan erat, seperti ketakutan dan memendam sesuatu sepertinya tidak membuatnya nyaman.
"Ada apa..?, kalau kamu percaya kepada saya kamu boleh berbagi cerita apa yang saat ini kamu rasakan" Aiza mengusap punggung Tita yang masih menangis.
"Apakah kamu bisa memegang janji ?" seakan Tita tidak percaya kepada orang lain.
"Saya janji..bukan sebagai saudara tapi juga sebagai teman kamu" Aiza berusaha menyakinkan Tita.
Dengan terisak Tita menceritakan masalah yang dihadapinya disekolah,kalau dirinya sering di perlakukan tidak nyaman oleh beberapa siswa di sekolahnya dikarenakan tubuh Tita yang bobotnya super jumbo sehingga menjadi bahan bully siswa di sekolah.
Sebenarnya Tita gadis berparas cantik dengan rambut panjang yang dimilikinya menunjang penampilannya hanya saja Nella selaku mamanya selalu menuruti semua keinginan Tita dalam hal ini nafsu makan Tita yang terbilang berlebihan,dan ini yang di dapat Tita memiliki bobot tubuh yang tidak seperti anak seusianya bahkan bisa di sebut obesitas.
"Kenapa kamu tidak menceritakan masalahmu pada kakak atau mana mu ta.. setidaknya ada yang membantu menyelesaikan masalahmu dengan pihak sekolah" saran Aiza bijak.
"Mana ada waktu kakak dan mama untuk mendengarkan curhatan ku" Tita sudah lebih tenang.
"Apa ada masalah lainnya..?" Aiza yakin bukan hal ini masalah terberat Tita.
Tita kembali menangis yang membuat Aiza kembali memeluk Tita yang semakin terisak.
"Ada seorang anak yang berusaha untuk melecehkan ku Ai.. dengan memegang payudara ku " Tita menceritakan dengan terisak seakan sesak di dadanya.
"Ha..kurang ajar sekali ini sudah tindakan pelecehan ta..kamu harus sampaikan pada pihak sekolah,saya akan bilang sama om" Aiza sedikit menaikkan volume suaranya dengan geram.
__ADS_1
"Jangan aku ga mau papa tahu Ai..nanti mama akan marah karena aku tidak bisa menjaga diri" Tita melarang Aiza.
"Ini sudah keterlaluan ta..pihak sekolah harus tahu, pasti ada korban lainnya bis jadi bukan kamu saja salah satu korbannya" Aiza terlihat semakin geram karena Tita membiarkan pelaku bertindak makin bebas.
"Tapi aku takut Ai..dia mengancam ku" Tita menjelaskan terlihat muka ketakutan yang Aiza dengan jelas melihatnya.
"Apa boleh saya membantu menyelesaikan masalah yang kamu hadapi..saya janji tidak akan melibatkan om juga Tante,semua beres dengan cara saya tapi kamu juga harus bekerja sama untuk menyelesaikan masalahmu ini " Aiza berusaha menyakinkan Tita.
Tita yang awalnya bersikap seperti kedua kakak dan mamanya pada Aiza kini berubah haluan,dia merasa Aiza sangat baik padanya walaupun keluarganya memperlakukan dengan tidak baik.
"Apa yang harus aku lakukan..?" tanya Tita yang terlihat bingung.
"Manfaatkan ponsel milik kamu untuk merekam tindakan yang tidak menyenangkan mereka kepada kamu sebagai bukti, dari bukti itu kita bisa bertindak dan mereka tidak akan mengelak karena kita memiliki bukti kuat untuk menyakinkan pihak sekolah bila perlu pihak kepolisian " Tita seakan tidak percaya seorang Aiza yang ada didepannya bukan hanya pandai tapi juga banyak bicara.
"Aku baru tahu ternyata kamu cerewet juga" dengan sisa tangisnya Tita berkata dan tersenyum.
Aiza hanya tersenyum mendengar penuturan Tita yang mengetahui sesuatu yang selama ini tidak pernah di perlihatkan tentang dirinya.
"Kapan misi kita mulai?" tanya Aiza pada Tita yang masih terlihat lesu.
"Sepertinya hari ini aku bolos sekolah saja sebab aku yakin mata ku bengkak karena banyak menangis " Tita melihat dirinya melalui ponsel.
"Ya..sangat jelek seperti mata panda" goda Aiza yang membuat Tita kembali tersenyum.
"Ingat ..misi kita, sebelumnya maaf apakah kamu tidak ingin merubah penampilan mu..?" Aiza terlihat hati-hati membahas hal ini karena terlalu sensitif.
"Apakah aku bisa seperti kamu..yang terlihat ideal ?" Tita mengakui bentuk tubuh Aiza begitu proposal sepertinya Aiza sangat menjaga pola makannya padahal tidak seperti itu,Aiza terlalu banyak bergerak sehingga makanan yang masuk kedalam tubuhnya sebagian besar menjadi energi bukan lemak.
"Asalkan kamu ada niat untuk memperbaiki diri pasti bisa bahkan saya yakin mereka yang sudah mengejek kamu menyesal, mungkin bisa jadi lebih dari yang tidak kamu duga mereka nanti akan berbalik menyukai mu dan menyesal sudah mengejek kamu" Aiza menyemangati Tita.
Tita terlihat senang dan ada semangat untuk merubah penampilannya untuk jadi lebih baik.
"Niatkan untuk sehat terlebih dahulu bukan untuk kepentingan yang lain,biar kamu semakin bersemangat.. karena kesehatan itu penting" Aiza berkata seperti motivator saja.
Tita mengangguk bersemangat, membuat Aiza ikut senang.
"Boleh..saya yang mengatur menu apa yang harus kamu makan serta hindari dan jadwal latihan apa yang harus kamu lakukan?" Aiza meminta persetujuan dari Tita.
"Ok..tidak masalah,malah aku senang ada yang mengawasi kegiatan dan pola makan ku" Tita memeluk erat satu tangan Aiza.
"Semoga semua berjalan sesuai rencana ya.." Aiza seperti meminta Tita yakin.
"Semoga.. apakah boleh mulai hari ini kita berteman lebih dekat?" dengan ragu Tita bertanya.
"Selama ini saya sudah merasa berteman dengan mu ta..,mungkin kamu yang tidak ingin berteman dengan saya" Aiza sadar akan posisinya.
"Maaf " Tita merasa bersalah pada Aiza.
Keduanya berpelukan melupakan masalah lalu kini ada masa depan yang menanti keduanya untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi.
__ADS_1