
Kedai bakso saat Arhan dan Aiza berada, menurut sudut pandang Arhan dirinya tidak salah memilih Aiza untuk jadi partner dalam hidupnya, salah satunya Aiza lebih menunjukkan sifat sederhana dan tidak pernah memanfaatkan kesempatan yang Arhan tawarkan walaupun Arhan sering memaksanya.
"Ayo..pak dimakan,kenapa tidak suka ?" Aiza memperhatikan mangkok bakso milik Arhan yang belum tersentuh,Arhan sendiri malah memperhatikan dirinya makan.
"Su..suka saya suka,tapi melihat bakso yang dimakan kamu.. sepertinya saya lebih enak " Arhan terlihat gugup karena ketahuan memperhatikan Aiza makan.
"Bukankah ini bakso yang sama pak ?" Aiza terlihat bingung dengan ucapan Arhan.
"Sudahlah,ayo cepat habiskan saya akan mengajak kamu ke suatu tempat " Arhan langsung ikut menikmati bakso dengan sesekali memperhatikan Aiza menikmati bakso miliknya yang terlihat nikmat dimata Arhan sangat berbeda dengan miliknya.
'Za.., mengapa kamu berbeda wanita lain hanya dengan menikmati semangkuk bakso saja sudah membuat mu bahagia ' Arhan hanya bisa tersenyum tipis yang tanpa Aiza tahu dengan mencuri pandang.
Aiza masih menikmati bakso namun pikirannya memikirkan ucapan Arhan 'Ga..ga mungkin bedah mangkok bedah rasa,ehm.. mungkin lidah pak Arhan salah,kenapa juga aku mikirin bakso pak Arhan...za,za ' umpat Aiza dalam hati.
Seandainya saja Arhan tahu kenapa Aiza begitu menikmati bakso yang dia makan Arhan akan paham,Aiza belum makan apapun dari pagi hingga menjelang siang ini,wajar Aiza begitu menikmati bakso yang dia makan karena lapar.
"Alhamdulillah..." ucap Aiza setelah menghabiskan suapan bakso terakhirnya.
"Mau lagi..?" tanya Arhan dengan tersenyum.
"Kenyang pak.., pulangnya boleh lah " tanpa seadanya tanpa ada rasa sungkan.
"Boleh,mau berapa mangkok?" Arhan hanya ingin menggoda Aiza.
"Ehm..berapa ya,lima mungkin " ucap Aiza dengan biasa saja santai.
"Yakin za,lima mangkok?" Arhan seakan tidak percaya dengan ucapan yang terlontar dari mulut Aiza.
"Ya..yakin lah pak,he..he tapi di bungkus pak ga mungkin lah saya akan menghabiskan sebanyak itu memangnya perut saya karung " Aiza menunjukkan senyum dan mengusap perutnya yang rata.
"Saya kira makan di sini,ya..perut kamu bukan karung tapi kantong plastik" balas Arhan yang mengusap kepala Aiza.
"Ih..bapak itu mah sama aja ga ada bedanya " Aiza menunjukkan muka masam membuat Arhan ingin terus menggodanya.
"Za,jangan makin manis bisa-bisa saya diabetes saat ini juga " ucap Arhan dengan santainya.
"Apa sih pak " Aiza langsung bersikap biasa membuat Arhan terkekeh geli.
"Menikah yuk.." bisik Arhan dengan santainya.
"Bapak keselek bakso ya..?" balas Aiza dengan santainya bertanya.
"Bener nih..ga mau nambah ?" Arhan mengalihkan pembicaraan.
"Iyalah..pak mau ditaruh dimana,bapak kali mau di bungkus " membuat Arhan berpikir lain.
"Ya..sudah kamu tunggu di mobil,saya kan bayar dulu " pinta Arhan pada Aiza yang mengeluarkan uang dari tas yang dia bawa.
"Ini pak.." Aiza menyodorkan uang kertas berwarna merah muda pada Arhan.
"Biar saya yang bayar za..sudah kamu ke mobil saja " pinta Arhan lagi dengan muka serius yang Aiza lihat.
__ADS_1
Aiza yang tidak ingin berdebat memilih meninggalkan arah sesuai permintaan Arhan dan menunggu di depan mobil milik Arhan.
Tidak lama Arhan datang menghampiri Aiza dan membukakan pintu mobil untuk Aiza.
"Terimakasih pak " ucap Aiza sebelum masuk kedalam mobil.
"Terimakasih untuk apa ?" tanya Arhan sedikit heran.
"Traktiran baksonya pak..memang terimakasih untuk apa lagi ?" Aiza kini di buat bingung.
"Saya kira untuk rasa cinta kamu ke saya " dengan tanpa bersalah Atha bertutur.
"Kita mau kemana pak " ucap Aiza dengan sopan mengalihkan pembicaraan.
"Ke KUA " jawab Arhan dengan santainya setelah Aiza duduk.
'Makin aneh aja pak Arhan ' gumam Aiza dalam hati saya memperhatikan Arhan memutar untuk masuk kedalam mobil miliknya.
"Jangan bengong,kamu sudah siap kan ?" Arhan mendekatkan sedikit tubuh pada Aiza membuat Aiza gugup sekaligus takut Arhan bertindak lebih.
"Jangan mikir aneh-aneh " ucap Arhan yang memasangkan sabuk pengaman untuk Aiza yang langsung faham maksud Arhan mendekat.
"Si.. siapa juga yang mikir aneh-aneh,bapak kali " balas Aiza tanpa berani menatap pada Arhan.
"Aneh-anehnya nanti saja kalau sudah sah..iya kan za " goda Arhan dengan menghidupkan mesin mobil yang kini meninggalkan tempat parkir keduanya makan bakso.
"Apaan sih..pak "terlihat Aiza tidak suka dengan candaan Arhan.
"Sepertinya macet za.." ucap Arhan melihat mobil didepannya juga sama berhenti bahkan diam di tempat.
"Memang kita mau kemana sih pak ?" tanya Aiza dengan melihat ke depan banyaknya mobil yang terjebak kemacetan.
Belum sempat Arhan menjawab beberapa orang berlarian dengan muka khawatir serta ketakutan.
"Ada apa sih.. didepan sana ?" Arhan berniat keluar dari mobilnya untuk mencari tahu.
"Ada apa pak ?" tanya Arhan pada lelaki yang kebetulan lari didepan Arhan.
"Sebaiknya mas putra balik saja,di depan ada tabrakan beruntun dan banyak korban berjatuhan belum ada pihak kepolisian yang datang" ucap lelaki itu yang langsung meninggalkan Arhan.
"Za..kamu tunggu di sini atau ikut saya ?" tanya Arhan yang Aiza tahu apa maksud Arhan.
"Boleh saya ikut bapak ?" tanya Aiza dengan merapikan pakaiannya.
"Ehm..boleh tapi jangan jauh-jauh dari saya ya.." Arhan terlihat ragu.
"Memang kenapa pak?" dengan polosnya Aiza bertanya.
"Kamu tanggungjawab saya za.. kalau sampai kamu di culik orang gimana, sedangkan orang yang terakhir bersama kamu itu saya za.." ucap Arhan panjang menjelaskan.
"Pak..pak,saya sudah disebutkan dewasa mana bisa saya di culik orang pak " dengan tersenyum Aiza membalas dan menutup pintu mobil Arhan.
__ADS_1
Di jalanan orang berlarian tidak lama suara sirine mobil ambulan berdatangan membuat suasana makin mencekam dan panik.
"Apa yang mesti kita lakukan pak ?" Aiza dengan bingung bertanya pada Arhan.
"Kita sedikit mendekat ke tempat kejadian, siapa tahu ada yang bisa kita bantu " ujar Arhan yang mengandeng tangan Aiza menelusuri jalanan yang dipadati pengendara mobil yang turun ada juga yang putar balik untuk menghindari kemacetan.
"Ya.. Allah pak " Aiza menutup mulutnya seakan tidak percaya betapa banyaknya korban terutama yang selamat tapi berlumuran darah dari luka yang didapatkan dari kecelakaan itu.
"Za, tunggu di sini saya ambil perlengkapan obat di dalam mobil " Arhan langsung meninggalkan Aiza yang melihat sekeliling bahkan suara tangis dan kesakitan dapat dia dengar dengan jelas.
"Za.." panggil Arhan dengan menarik tangan Aiza.
"Kenapa ?" tanya Arhan pada Aiza yang memegang dadanya.
"Bapak mengejutkan saya " ucap Aiza yang masih memegang dadanya.
"Simpan dulu rasa terkejut kamu karena akan ada yang lebih mengejutkan lagi " senyum manis Arhan perlihatkan.
Ucapan Arhan membuat Aiza bingung tapi tidak lama Aiza sudah tersadar kembali begitu mendengar tangis kesakitan seorang anak kecil.
"Bunda.. bunda" teriak anak itu memanggil seseorang yang tergeletak bersimbah darah dibagian kepalanya.
"Pak.." tunjuk Aiza pada Arhan ke arah suara tangis.
Langkah kaki Arhan yang panjang tidak sulit untuk menjangkau beberapa serpihan badan mobil yang terpisah akibat benturan keras tabrakan antar mobil dan aspal jalanan.
"Hai.. jagoan, jangan nangis,anak laki-laki pantang menangis.." hibur Arhan pada bocah lelaki itu yang memegang tangan seorang wanita.
"Bunda,om..bunda " dalam isaknya meminta pada Arhan.
"Om.. periksa dulu ya ?" ucap Arhan mengusap lembut kepala bocah itu.
"Za,bantu bersihkan lukanya " pinta Arhan pada Aiza yang langsung paham.
Aiza menenangkan bocah lelaki itu sekaligus memberi pertolongan pada lukanya yang Aiza dapat lihat dengan jelas ada darah segar yang masih keluar dari luka yang di timbulkan.
"Bunda pasti ga apa-apa,jangan nangis lagi ya" pinta Aiza yang sebenarnya dia juga merasa sedih melihat bocah itu melihat Arhan memberikan pertolongan sementara pada seorang wanita yang di akui bunda bocah lelaki ini.
Tidak lama Arhan memanggil bocah lelaki itu dengan kode tangannya untuk mendekat kepada dirinya.
"Jangan nangis lagi ya.. bunda hanya pingsan,coba pegang" pinta Arhan pada bocah itu untuk memegang dada bunda yang masih bernafas.
"Bunda ga mati kan om " ucap polosnya bocah itu seperti ingin meminta Arhan untuk menyakinkan kalau keadaan bunda baik-baik saja.
"Tidak sayang " ucap Aiza yang ikut mendekat.
"Bunda " ucap bocah itu memeluk satu tangan milik bundanya.
Ingin rasanya Aiza ikut menangis melihat rasa khawatir yang bocah lelaki itu tunjukan.
Arhan yang tahu langsung memeluk Aiza dan mengusap lembut punggung Aiza untuk mengurangi rasa haru yang Aiza rasakan.
__ADS_1
Arhan seakan lupa akan rencana yang sudah dia susun dengan matang demi rasa kemanusiaan dan tanggungjawab sebagai abdi negara.