
Dari diamnya Aiza membuat Arhan ingin mengajukan pertanyaan tapi sayang Aiza lebih dulu berpamitan karena dia tidak ingin keluarga omnya mengetahui apa pun yang dia lakukan, apalagi saat ini bersama seorang lelaki, karena dia sendiri tidak pernah ikut campur urusan keluarga omnya.
Akhirnya Arhan melanjutkan perjalanan menuju kediamannya begitu juga dengan Aiza yang masuk ke rumah, melalui pintu samping menghindar bertemu dengan keluarga omnya.
"Mam...lihat tingkah putri mu !!!" teriak Gea dengan keras, yang Aiza dengar tanpa ingin mencari tahu,dia langsung masuk ke dalam kamarnya.
Terdengar derap langkah kaki seperti terburu-buru menuruni tangga dan suara menengahi keduanya.
"Apa lagi..sih, yang kalian perebutkan ?" Nella menghampiri kedua putri kesayangannya.
"Lidya..!" Nella terlihat terkejut melihat Lidya bersama laki-laki yang jelas-jelas baru beberapa minggu lalu di kenalkan sebagai teman dekat Gea,ya.. saat ini Lidya pulang bersama Bastian.
Gea terlihat menangis dan marah kepada Lidya karena pulang membawa serta Bastian yang sudah menjadi kekasihnya.
"Mam..jangan salahkan gue, kenapa Bastian lebih memilih gue" Lidya menjelaskan pada Nella.
"Bukannya kamu yang kegenitan.." balas Gea yang membuat Lidya tersulut emosi.
"Bisa ga sih jaga tuh..mulut !" Lidya merasa tidak terima dengan tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya.
"Ga..salah yang perlu di jaga itu kamu..sudah jelas-jelas Bastian sudah punya pacar kamu menggodanya " Gea tidak mau kalah hingga keduanya saling sahut-sahutan.
"Ha..ha,wajar Bastian berpaling..aku lebih segalanya dibanding.." Lidya enggan memanggil Gea kakak dalam pertengkaran saat ini.
"Sudah..sudah,hanya karena seorang laki-laki kalian bertengkar,bukankah kalian berdua bersaudara harus saling menghargai "Nella berusaha mengingatkan keduanya adalah bersaudara.
"Saudara mam,mana ada saudara merebut pacar saudaranya " Gea dengan jelas menjelaskan kesalahan Lidya.
"Percaya diri sekali..mana ada aku merebut Bastian,dia sendiri yang menemui aku di tempat tongkrongan kalau ga percaya bisa tanya Bastian sendiri atau teman-teman tongkrongan " Lidya tidak mau disalahkan oleh Gea selaku kakaknya.
Bastian sendiri sudah pulang tanpa memperlihatkan batang hidungnya didepan Gea, sebab dia hanya mengantarkan sampai pintu masuk lalu pergi, Nella sendiri melihatnya dari balik jendela kamarnya saat terdengar suara mobil merapat di depan pintu masuk rumah.
"Pokoknya aku ga mau tahu.. mulai hari ini jangan dekat-dekat dengan Bastian lagi dia pacar ku " dengan tegas Gea menjelaskan hubungan Bastian dengan dirinya.
"Ga,bisa Bastian sendiri yang datang meminta pada ku untuk menjadi pacarku didepan teman-teman tongkrongan" Lidya tidak mau kalah dalam ini.
Keduanya tidak mau kalah dan perkelahian pun tidak dapat terelakkan,saling menjambak rambut membuat Nella berteriak keras.
"Stop..!!!" teriak Nella membuat Hendri keluar dari dalam kamar dengan menahan kesal.
"Kalian itu perempuan tapi seperti laki-laki.. sebenarnya ada apa ?!!" tanya Hendri dengan memperhatikan satu persatu anggota keluarganya.
"Gea..yang mulai pap.." tuding Lidya dengan menunjuk Gea.
"Bukankah kamu yang lebih dulu memulai,malah menyalahkan orang lain..aneh" balas Gea dengan muka terlihat kesal.
__ADS_1
"Kalian berdua salah..!!" bentak Hendri dengan tegas.
"Coba jelaskan?" ucap Hendri dengan mata tajam.
Pada akhirnya Gea menjelaskan kalau dirinya ada hubungan dengan lelaki yang bernama Bastian tapi malam ini dia melihat Lidya pulang diantar Bastian layaknya pasangan kekasih ini yang memicu pertengkaran diantara mereka.
"Mulai hari ini kalian berdua tidak ada lagi hubungan dengan lelaki yang bernama Bastian karena dia bukan lelaki yang baik,nama ada lelaki baik mau menjalin hubungan dengan adik dari pacarnya..sudah, papa tidak mau dengar lagi kalian memperebutkan lelaki itu " Hendri meninggal mereka yang masih terlihat marah karena mau tidak mau perintah Hendri mutlak harus di lakukan.
"Ini semua gara-gara kamu !" tuding Gea pada Lidya yang pasti tidak mau disalahkan.
"Enak saja..salah ku " teriak Lidya tidak mau kalah.
"Apa kalian tidak dengar papa kalian bicara,sudah..kalian berdua masuk kamar " Nella merasa pusing dengan sikap kedua putrinya.
Kedua art yang melihat dari jauh hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyol keduanya yang merebutkan lelaki yang tidak berkomitmen.
"Kayak di sinetron aja ya..Nia " ucap Ima yang duduk di taman belakang melihat bulan.
"Ini tayangan live bukan sinetron mba.." ucap Nia dengan tersenyum mencemooh.
"Kamu bisa aja Nia " Ima tertawa kecil takut yang di ghibah mendengar.
"Kapan lagi kita lihat tontonan gratis mba " balas Nia dengan tersenyum.
"Sttt..ga baik membicarakan orang lain" tegur Aiza yang mengejutkan keduanya.
"Kalian ngapain disini, bukannya istirahat" goda Aiza dengan tersenyum.
"Ngadem mba..bosen dikamar terus " Nia menjelaskan keberadaan keduanya di taman belakang.
"Tapi ini waktunya kalian istirahat,besok sudah harus bangun pagi " Aiza hanya mengingatkan.
"Sebentar lagi mba.." Ima yang menjawab masih dengan duduk malas.
"Mba sudah makan ?" tanya Nia yang melihat Aiza ikut duduk.
"Sudah " balas Aiza singkat.
"Mba..yang tadi pagi itu polisi kan ?" tanya Ima dengan sedikit memelankan suaranya.
Bukannya dijawab Aiza malah tertawa dengan suara pelan, karena melihat muka Ima yang pagi tadi ketakutan.
"Kok malah ketawa " ujar Nia yang sudah tahu kalau Aiza pergi bersama lelaki yang Ima kira polisi.
"Dia pak Arhan bukan polisi " balas Aiza masih dengan tawanya.
__ADS_1
"Tapi kok mirip polisi ya..mba " ujar Ima dengan malu.
"Dia temannya polisi mba " Aiza menambahkan.
"Waduh..jadi mba di bawa ke kantor polisi ?" kini Nia yang bicara.
"Memang ada apa,saya harus ke kantor polisi?" Aiza ingin mengerjai kedua art rumahnya.
"Saya ga tahu, biasanya kalau yang di bawa ke kantor polisi itu yang melakukan kejahatan mba.. berarti mba Aiza ngelakuin ke.." dengan gugup Ima kembali ketakutan.
"Kejahatan maksud mba Ima,ga semua orang datang ke kantor polisi itu melakukan kejahatan mba..,bisa jadi ingin ketemu pacarnya yang seorang polisi " goda Aiza yang membuat Nia tertawa keras tapi tidak lama Nia menutup mulutnya karena takut kena marah.
"Jadi mba Aiza ga di bawa ke kantor polisikan ?" tanya Nia kini ikut penasaran.
"Ga,mba Nia aku ga punya salah kok.." ujar Aiza dengan tersenyum.
"Terus mba diajak kemana sama bapak itu ?" rasa penasaran Ima makin menjadi.
"Mba Ima kepo " goda Aiza dengan menyenggol pundak Ima.
"Jadi mba.. pacaran sama bapak itu..?" tanya Ima dengan tidak sabar.
"Mba..mba,aku ga mikirin pacaran kuliah ku saja sudah bikin pusing " balas Aiza asal.
" Tapi mba, sepertinya bapak itu baik sama mba " ucap Ima yang merasa senang ada seorang lelaki yang dekat dengan Aiza.
"Kami hanya berteman ga lebih mba "Aiza menjelaskan berharap Ima dan Nia tidak banyak bertanya lagi.
"Sayang mba..sudah capek punya kerjaan lagi,susah nyari yang seperti itu mba " Nia seperti menyakinkan Aiza.
"Kalau mba mau, nanti saya bilangin.. gimana ?" tanya Aiza dengan menggoda Nia.
"Saya ga akan nolak mba Aiza apalagi bapak itu punya masa depan lebih baik untuk saya,tapi sayang bapak itu ga akan mau sama saya mba " Nia mengungkapkan apa yang dirasakan dalam hatinya.
"Walah..mba Aiza salah menawarkan bapak itu sama Nia yang pasti dia ga akan pernah nolak malah ketiban bulan dia mba,wong abang-abang sayur keliling cuma nanya kenapa jarang belanja saja dia langsung kecentilan mba,dia seneng katanya abang sayur perhatian sama dia katanya.. padahal maksud abang sayur cuma sekedar tanya saja ga lebih,Nia jangan kepedean kamu" Ima menjelaskan pada Aiza, sedangkan Nia hanya tersenyum masam karena di buka aibnya.
"Lah..wajar mba,aku gede rasa sebab abang sayurnya cakep " elak Nia dengan tersenyum membalas Ima.
"Sudah..sudah,mba nanti pasti ketemu jodohnya masing-masing ga usah ribut, cepat tidur nanti kesiangan kena marah loh " Aiza mengingatkan.
"Ya..udah kamu pamit mba " ucap Nia mengandeng tangan Ima.
"Akur nih.." goda Aiza dengan tertawa kecil.
"Kasihan mba..dia nanti ga bisa tidur kalau aku marahan sama dia sebab Nia penakut" Ima mengejek Nia lagi yang hanya bisa diam karena memang dia penakut.
__ADS_1
Aiza hanya tersenyum memperhatikan keduanya meninggalkan dirinya yang masih duduk sendiri memang langit malam.