
Rasa ingin tahu Erina semakin besar begitu dia berada didalam kamar bersama suaminya dengan rasa tidak sabaran dia meminta Arief menceritakan apa saja yang dia bicarakan dengan putra bungsunya.
"Ayo..yah,bunda sudah ga sabar nih " ucap Erina yang duduk di atas kasur menunggu Arief yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ya.. Allah Bun,kayak tidak pernah merasakan saja,tenang Bun..mau gaya apa ?" balas Arief yang langsung membuka kaos yang dipakainya.
"Eh..eh,mau ngapain?" tanya Erina yang langsung melarang Arief membuka kaos yang melekat di tubuhnya.
"Memang mau ngapain lagi selain" ucapan Arief langsung di potong Erina.
"Aku mau ngajak ayah bercerita soal obrolan dengan Arhan bukan yang lain ya..yah " sangga Erina yang membuat Arief langsung tidak bersemangat.
"Kirain mau ngajak ayah yang lain gitu,ga tahunya cuma membahas Arhan lagi..bunda ga asyik " Erina hanya bisa tersenyum melihat suaminya yang kesal.
"Ga,malu sama umur masih suka ngambek kayak cucunya aja " goda Erina dengan mencubit pipi Arief.
"Mau nanya apa ?" dengan malas Arief memilih mengalah karena persoalan ini juga menyangkut kebahagiaan keluarganya juga.
"Kenapa dengan putra mu yah ?" akhirnya Erina bertanya.
"Anak mu lagi naksir anak gadis,masih anak kuliahan ehm.. mungkin seumuran Cila gitu kata putra mu dan Arhan sudah memintanya untuk jadi istrinya tapi dia selalu menolak dengan halus gitu ceritanya dan ini yang membuat putra mu galau " Arief dengan panjang lembar menjelaskan apa yang menjadi Arhan murung seorang diri beberapa waktu lalu di taman.
"Apa perlu bunda yang melamar ya..yah biar gadis itu mau ?" Erina meminta saran Arief.
"Jangan terlalu cepat juga Bun..kita juga harus menghargai keputusan anak itu bisa jadi dia menolak karena masih kuliah biar lebih fokus pada kuliahnya, bila menikah sekarang dia tidak bisa menjalankan dua tugas sekaligus satu sisi sebagai istri disisi lain sebagai anak kuliahan walaupun Arhan akan mengerti itu.. mungkin itu yang jadi pertimbangan gadis itu Bun.." Arief melihat dari sudut pandang sebagai seorang ayah yang anaknya masih kuliah dan masih muda untuk menikah.
"Tapi kan yah..semua bisa kita bicarakan tanpa harus menolak lamaran anak kita " Arief sangat memahami penuturan Erina sebagai seorang ibu yang menyayangi putranya.
"Akan ada waktunya kita harus menyerahkan keputusan pada Arhan Bun..dia bukan anak kecil lagi,dia sudah sangat dewasa untuk urusan seperti itu,kita cukup memberikan doa dan memberikan dukungan siapa pun itu yang akan menjadi pilihan putra kita nanti " Arief selalu bijak dalam menyikapi permasalahan ini yang membuat ketiga putranya bangga memiliki ayah sepertinya.
"Aku ikut kata ayah saja deh " Erina pun membaringkan tubuhnya bersiap untuk tidur.
"Bun..kok tidur,mana imbalan untuk ayah yang sudah mencari informasi dari putra mu " canda Arief yang membuat Erina langsung menutup mukanya dengan selimut.
"Aua.. waktunya tidur yah, nanti bangun kesiangan untuk bikin sarap kasihan cucu mu yah.." tolakan yang harus dari Erina,yang Arief hafal betul.
"Ya..ya,aku memang harus mengalah kalau ga anak ya.. cucu, aku mah urusan kesekian ya,kan Bun ?" Arief mengusap lembut kepala Erina yang sudah terdengar mendengkur halus yan Arief dengar.
__ADS_1
"Tapi aku cinta sama kamu Bun,I Love You " ucap Arief penuh rasa sayang dan mendaratkan ciuman di kepala Erina dengan lembut.
Arief lelaki penyayang keluarga dia selalu mengutamakan keluarga diatas kepentingan pribadinya, keluarga adalah prioritas baginya begitu juga ketiga putranya sangat mendengarkan pesan dan masukan dari kedua orang tuanya yang selalu ada baik dalam keadaan baik-baik saja atau pun dalam keadaan terpuruk mereka ada untuk memberikan semangat lagi untuk kembali bangkit.
🍁🍁🍁🍁🍁~~~🍁🍁🍁🍁🍁
Di kamar berbeda Arhan berusaha menghubungi seseorang yang selalu membuat hari-harinya bersemangat bila mengingat sosoknya.
"Ayo.. angkat,aku rindu kamu" Arhan sedikit kesal tapi dapat tersenyum seperti membayangkan gadis berkulit kuning langsat itu dengan segala sikapnya yang apa adanya.
Di tempat lain Aiza yang berusaha menahan kantuknya Merai ponsel miliknya yang dia letakkan di meja belajar miliknya.
Dengan malas Aiza menggeser posisi ponselnya menjadi mode menjawab panggilan telpon.
"Hallo, assalamualaikum" ucap Aiza dengan suara lirih karena menahan kantuk.
"Waalaikum salam, gimana kabar mu,za..?" dengan senang Arhan menjawab dan bertanya kabar Aiza.
"Ehm... alhamdulilah baik pak " Aiza menjawab sesuai yang Arhan tanyakan tidak lebih.
"Apa kamu tidak bertanya bagaimana kabar saya za...?" Arhan langsung menyampaikan keinginannya karena Aiza tidak seperti dirinya yang bertanya kabar.
"Bagaimana saya tidak merindukan kamu za.. Kamu selalu membuat suasana hati terhibur yang awalnya merasa suntuk " tutur Arhan dengan tawa kecil yang Aiza bisa dengar.
"Saya tidak sedang melawak ya.. pak, mengapa bapak merasa terhibur" sanggah Aiza dengan nada santai apa adanya.
"Memang kamu tidak sedang melawak za, tapi saya yang selalu merasa bahagia tiap kali mendengar suara kamu, apalagi kalau bertemu langsung dengan kamu saya lebih bahagia lagi "Arhan ingin Aiza tahu apa yang dia rasakan saat kebersamaan dengan Aiza.
"Ih.. bapak makin aneh aja sih, jangan melakukan hal yang aneh-aneh pak bisa menimbulkan fitnah nanti dikira kita berdua ada apa-apanya" Arhan menyadari ucapan Aiza itu benar adanya, dengan cara apalagi untuk lebih dekat dengan Aiza untuk menunjukkan keseriusannya.
"Kamu ga suka kalau didekati saya takut orang menilai aneh-aneh,ya.. udah kita nikah aja langsung biar kita melakukan aneh-aneh orang ga menilai aneh-aneh karena kita sudah halal" Arhan berkata serius, Aiza bisa membedakannya walaupun Aiza tidak melihat Arhan secara langsung.
"Bapak selalu saja seenaknya mengajak nikah seperti mengajak jalan untuk nongkrong, nikah itu hal yang serius pak" rasa kantuk yang Aiza rasakan langsung lenyap karena ucapan Arhan yang untuk kesekian kalinya mengajak untuk menikah.
'Memang kamu mendengarnya saya tidak serius,hem.. untuk mengajak kamu nikah ?" Aiza bisa merasakan perubahan Arhan yang kini terdengar tegas dalam berkata.
Aiza yang dalam keadaan lelah enggan untuk berdebat dengan Arhan apalagi menyangkut urusan pernikahan yang butuh pemikiran matang menurut sudut pandang Aiza.
__ADS_1
"Za..kamu masih disitu kan, kenapa aku diam..apa perkataan saya membuat kamu terluka? za..za" Arhan langsung berubah sikap begitu suara Aiza tidak lagi terdengar.
"Ya.. pak, saya masih mendengarkan suara bapak kok" ucap Aiza yang tidak ingin membuat suasana hati Arhan tidak enak apalagi waktunya menjelang tidur.
"Syukurlah kalau kamu masih mendengarkan suara saya, lalu bagaimana dengan jawaban kamu za... saya serius loh,za..." Arhan jujur ingin jawab serius dari Aiza.
"Pak, saya ga ingin memberikan harapan apapun sama bapak sebab saya masih ingin menyelesaikan kuliah saya dan menggapai impian saya yang selama ini sudah saya berusaha untuk menggapainya,dan bapak juga tahu saya masih bertingkah kekanakan-kanakan sedangkan bapak butuh sosok wanita sempurna yang bisa berpikir dewasa untuk menunjang karir bapak..bukan saya wanita yang bapak cari " Arhan bisa memahami tiap kata yang Aiza ucapkan.
"Za..saya ga ingin wanita sempurna cukup kamu ada untuk saya itu saja,saya tidak melarang kamu untuk menyelesaikan kuliah kamu dan menggapai mimpi kamu,saya hanya ingin jadi sandaran untuk kamu dan saya ingin jadi lelaki pertama yang ada untuk kamu dalam hal apapun " akhirnya Arhan mengeluarkan isi hatinya.
"Pak..kita akhiri saja pembicaraan ini, karena malam semakin larut bapak perlu istirahat begitu juga dengan saya " Aiza memberanikan diri menyampaikan apa yang dia rasakan karena rasa kantuk yang kembali Aiza rasakan.
"Baiklah..tapi besok saya akan jemput kamu untuk menyelesaikan pembicaraan ini yang akan kita lanjutkan besok " Arhan sepertinya sudah tidak sabar untuk mengetahui apa jawaban dari Aiza.
"Besok saya masuk kerja loh..pak,saya ga mau melalaikan tugas saya " Aiza dengan tegas menolak pertemuan besok.
"Saya yang akan ngomong sama Prasetyo,kamu tahu beres..ingat saya jemput kamu " suara Arhan terdengar tegas memerintah.
"Ih..bapak sudah berani memerintah padahal saya bukan apa-apa bapak " gerutu Aiza yang membuat Arhan terkekeh.
"Jadi mau secepatnya jadi nyonya Arhan nih.." goda Arhan masih dengan tawa kecilnya.
"Bapak terlalu percaya diri sekali kalau saya akan mau menjadi istri bapak " balas Aiza dengan suara terdengar kesal.
"Harus percaya diri lah.. tandanya saya memiliki kemampuan untuk membuat kamu percaya kalau saya masa depan kamu " Arhan kembali membuat Aiza kesal.
"Pak..pak, untuk anda bukan seumuran dengan saya kalau saja seumuran akan saya masukkan kedalam karung lalu saya buang ke laut paling dalam biar sekalian dimakan hiu, karena bapak terlalu narsis dengan rasa percaya diri over dosis " cecar Aiza yang Arhan bisa dengar suara Aiza terdengar kesal.
"Berarti saya bersyukur dong bukan jadi teman kamu tapi jadi calon suami kamu " ucapan Arhan memang selalu ada saja yang membuat Aiza menepuk jidatnya.
"Aua..sudah ya..pak,saya bobo cantik uaaah..." Aiza tanpa sadar menguap karena sudah beberapa kali dia menahan rasa kantuknya.
"Ya..sudah, selamat bobo cantik tapi ingat bawa saya dalam mimpi kamu ya.. assalamualaikum calon istri" ucap Arhan yang membuat Aiza berdecak malas.
"Waalaikum salam" hanya balasan salam yang Aiza berikan pada Arhan.
"Sabar Arhan dia masih anak-anak sesuai ucapnya" ucap Arhan menirukan ucapan Aiza.
__ADS_1
Arhan merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan tersenyum yang tidak ingin Arhan lepaskan selalu sosok gadis cantik yang membuat senyuman Arhan tidak mau hilang.