
Tanpa sepengetahuan Aiza Arhan menghampiri Aiza yang menatap langit senja beberapa saat lagi menjelang malam seperti tahu suasana hatinya yang merindukan kedua orang tuanya.
"Za..kenapa,apa ada perkataan saya melukai kamu ?" tanya Arhan yang melihat Aiza menyeka air matanya dari sudut matanya.
"Ga,ada pak..,saya kemasukan debu " balas Aiza yang pura-pura mengucek matanya.
"Ayo..jangan disini banyak angin " Arhan melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya untuk Aiza.
"Pak.. saya tidak apa-apa " balas Aiza menolak pemberian Arhan.
"Disini dingin Za.." Arhan menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Tapi saya baik-baik saja pak" Aiza menjelaskan keadaannya.
"Pak..bisa kita pulang sekarang ?" tanya Aiza melihat jam miliknya menunjukkan waktu magrib tiba.
"Baiklah" balas Arhan dengan memakai jaket kembali karena Aiza menolak memakai jaket miliknya.
"Pak..bisa kita sholat dulu sebelum kembali ?" pinta Aiza dengan sopan.
Arhan hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki Aiza dari samping namun sedikit kebelakang.
keduanya berpisah tempat untuk wudhu, terlihat beberapa orang bergantian berjamaah untuk menunjukan ketaatan kepada sang pencipta.
Arhan menuju di teras masjid selepas sholat dengan memainkan ponsel miliknya yang isinya pesan dari Prasetyo yang mengingatkan Arhan jangan berbuat macam-macam pada Aiza.
"Sesayang itukah diri mu pada za..Yo ?" gumam Arhan seorang diri.
"Maaf membuat bapak menunggu "'ucap Aiza mengejutkan Arhan.
"Tidak masalah,kita langsung pulang nih ?" tanya Arhan dengan tersenyum.
"Memang bapak berniat kemana lagi..?" Aiza hanya ingin memenuhi amanat dari Prasetyo.
"Kalau kamu setuju kita ke penghulu za.." untuk kesekian kalinya Arhan meminta dengan candaan namun serius pada Aiza.
"Pak..ada yang lebih baik dari saya, setidaknya sepadan dengan bapak" ucap Aiza sudah berada di dalam mobil.
"Apa saya meminta syarat sampai kamu bilang seperti itu za..?" Arhan terlihat tidak senang.
"Memang bapak tidak mengatakan itu,tapi selayaknya bapak mendapatkan pasangan yang sepadan akan lebih baik untuk kehidupan berumahtangga bukan seperti saya yang bapak belum tahu latar belakangnya " Aiza menjelaskan berharap Arhan memahami posisinya sebagai wanita yang untuk memenuhi kebutuhan hidup saja harus bekerja keras.
"Za..saya tidak peduli dengan semua yang kamu ucapkan, bagi saya kenyamanan bersama seseorang itu sudah cukup menjadi salah satu faktor penting dalam berumah tangga" ingin rasanya Arhan memeluk Aiza kalau dirinya membutuhkan sosok yang selama ini dirindukan setelah sekian lama merasakan kekosongan dihatinya.
"Bapak jangan gegabah untuk mencari pasangan hidup,bukan seperti pangeran kodok yang terkena sihir dengan berusaha mencari wanita yang berhati tulus untuk menerimanya lalu menikah..ini dunia nyata bukan dunia dongeng pak.., keluarga juga ikut menjadi penentu pantaskah putranya bersama dengan wanita yang akan menjadi calon pasangannya dan dari keluarga seperti apa,semua ikut dilibatkan..saya yakin bapak lebih faham hal itu " kali ini Aiza banyak bicara.
"Za..kamu belum mengenal keluarga saya, mereka tidak seperti yang kamu pikirkan..sudut pandang mereka itu simpel, melihat anaknya bahagia itu sudah lebih dari segalanya " Arhan tersenyum sendiri mendengar penuturan Aiza yang tidak berdasar.
"Latar belakang keluarga juga perlu pak.. untuk membentuk karakter keluarga yang akan dibangun " tutur Aiza yang Arhan satu pemahaman dalam hal ini.
__ADS_1
"Za..saya akui kalau kamu memang anak yang terbilang sangat cerdas,tapi banyak contoh di luaran sana pasangan dari keluarga yang gagal akibat korban perceraian tapi mereka bisa membentuk keluarga yang baik-baik saja bahkan lebaik dan orang tuanya, semua itu kembali pada kita yang akan membentuk karakter itu "Arhan kini yang memberikan pengertian pada Aiza.
"Tau..ah, sebenarnya siapa sih yang mau nikah kenapa harus membahas itu " Aiza kembali pada penolakan dengan cara halus.
"Yang mau nikah itu kita Za.." balas Arhan dengan santainya.
"Bapak kali..saya ga " balas Aiza dengan tersenyum jail.
"Jahat sekali kamu za.." balas Arhan dengan memelas.
"Pak,ayo jadi kita pulang kan ?" tanya Aiza dengan menggoyangkan tangan Arhan.
"Saya mau tetap disini sampai kamu mau saya ajak nikah " Arhan dengan sengaja tidak menghidupkan mobilnya.
"Bapak ini aneh banget sih,mengajak menikah kok seperti anak kecil yang merajuk minta di belikan mainan,apa tidak malu sama umur pak " Aiza bersikap seolah-olah seperti memarahi Arhan.
"Karena sudah cukup umur,makanya saya berani ngajak nikah " balas Arhan lebih terlihat tenang.
"Karena saya tahu bapak sudah cukup umur makanya harus dengan orang yang tepat dengan latar belakang yang bapak sudah sama-sama tahu untuk menunjang karir masa depan bapak jadi lebih baik lagi " ujar Aiza dengan sopan.
"Hanya saya yang tahu siapa orang yang akan saya pilih untuk menjadi pelabuhan terakhir hati saya...kamu orang yang dipilih oleh hati saya,Aiza Salamah " ucap Arhan tidak ada keraguan.
Kini Aiza menyadari kalau bukan hanya dirinya satu-satunya di dunia ini yang berpendirian teguh dan Arhan pun sama seperti dirinya, apakah ini pertanda jodoh?.
Aiza hanya tersenyum tipis seperti menertawakan dirinya sendiri,Arhan begitu yakin siapa jodohnya sedangkan Aiza sendiri jangankan mengharapkan seseorang bermimpi pun tidak.
"Ehm.. bagaimana?" tanya Arhan yang fokus pada jalanan yang terlihat sudah mulai gelap.
"Kamu berbeda,saat bersama kamu saya merasa nyaman dan kamu apa adanya..itu yang membuat saya yakin sama kamu Za.." Arhan mengungkapkan apa yang dia rasakan saat bersama Aiza.
"Tapi saya tidak ingin menikah dengan siapapun, apalagi dalam waktu dekat ini..saya masih ingin mengejar mimpi saya pak " Aiza langsung pada intinya.
"Saya akan menunggu sampai kamu siap " balas Arhan langsung tanpa berpikir panjang.
"Apa tidak kelamaan,bapak harus mempertimbangkan usia bapak "Aiza dengan berani berkata jujur tentang usia yang harus Arhan pertimbangkan.
"Memang kenapa dengan usia saya..?" balas Arhan yang seperti tahu Aiza hanya mencari-cari alasan saja untuk menolak.
"Usia bapak sudah cukup matang, berbanding terbalik dengan saya..bapak pasti butuh pasangan yang dewasa bukan seperti saya, banyak orang bilang masih ingin mencoba hal baru.. sudahlah pak,saya yakin banyak wanita di luaran sana yang tidak akan menolak lamaran bapak " Aiza sebisa mungkin menolak secara halus.
"Ok..intinya kamu menolak saya,tapi saya pasti kalau saya akan menunggu sampai kamu mau " Arhan berucap dengan sungguh-sungguh,Aiza dapat melihat Arhan tidak ragu mengucapkan ucapannya.
"Itu hak bapak.." balas Aiza dengan menghembuskan napasnya perlahan.
"Itu lebih baik " balas Arhan merasa menang dalam hal ini.
'Kenapa sih..…………maksa banget ' Aiza hanya bisa mengomel dalam hati.
Arhan tahu Aiza hanya bisa mengeluarkan rasa kesalnya dalam hati, terlihat Aiza lebih memilih memandang pemandangan di luar kaca mobil dari pada orang yang berada disampingnya.
__ADS_1
Tidak masalah bagi Arhan karena dia ingin menyakinkan Aiza dirinya tidak main-main dalam hal perasaan.
"Za..ehm, untuk sementara kamu pakai motor milik saya dulu, sampai Frengki kembali sehat" ucap Arhan setelah beberapa waktu keduanya diam.
"Saya bisa naik ojek pak.." balas Aiza menolak secara halus.
"Uang kamu buat jajan saja..,lagian saya cuma kasih kamu pinjem kok " balas Arhan dengan santainya.
"Pak.."
"Ehm.."
"Ih..apaan sih pak ?" Aiza terlihat kesal dengan ulah Arhan yang hanya tersenyum.
"Loh..kok saya,kamu panggil saya lalu menyahut terus kamu mau saya ngomong apa..ehm, kangen..saya masih ada disamping kamu za " Arhan asal bicara.
"Bisa ga sih pak ga bikin saya.." belum selesai Aiza berkata Arhan lebih dulu membalasnya.
"Jatuh cinta..sudah jelas ga bisa saya sudah jatuh cinta saat pertama melihat kamu " balas Arhan dengan santainya.
"Ih..bapa makin aneh aja sih, jangan-jangan bapak ketempelan penghuni panti tadi " ucap asal Aiza.
"Ya.. kamu penghuni bumi yang bikin saya jatuh cinta dan ingin terus menempel g MUA lepas sedetik pun kalau bisa " balas Arhan lagi dengan terkekeh.
Aiza malas membalas lebih memilih diam tapi memandang Arhan serius membuat Arhan salah tingkah.
"Za..saya tahu kalau saya lelaki yang baik hati dan itu tidak diragukan lagi " Arhan dengan percaya diri membanggakan dirinya.
"Pak..bisa tidak hentikan mobilnya " dengan meminta Aiza pada Arhan.
Beberapa saat Arhan bingung tapi beberapa saat kemudian dia tersenyum untuk menutupi rasa malunya.
"Maaf kelewat ya..?" mobil yang Arhan kendarai sudah melewati kediaman Aiza.
"Saya maafkan bapak..makanya jangan terlalu percaya diri pak.." ucap Aiza yang menahan tawa.
"Za.. motor saya sudah ada di rumah kamu, pakai ya..,saya hanya meminjamkan sampai Frengki kembali bisa kamu pakai,ok " ucap Arhan yang sudah pasti Aiza tidak bisa menolaknya.
"Ya..sudah, terimakasih pak sudah sering merepotkan " ucap Aiza tertunduk.
"Tidak perlu terimakasih.. cukup melihat kamu baik-baik saja sudah membuat saya senang Za.." balas Arhan yang memperhatikan Aiza hendak turun dari mobil.
"Saya pamit pak.. semoga bapak bisa lebih baik setelah berjalan-jalan " Aiza berkata dengan muka bisa saja.
"Saya sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama kamu.. kalau perlu setiap hari bersama kamu, saya akan lebih senang lagi Za " Arhan dengan tersenyum menyampaikan rasa senangnya.
"Sudah malam pak.. hati-hati di jalan " pinta Aiza yang akan membuka pintu.
Tapi niat itu Aiza urungkan setelah melihat Lidya turun dari mobil bersama laki-laki yang terlihat bahagia dapat Aiza lihat keduanya tertawa lepas.
__ADS_1
Hanya Arhan yang terlihat bingung melihat Aiza hanya diam memperhatikan keduanya dari dalam mobil milik Arhan.