Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
13


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa Aiza memasuki lorong kampus menuju kelasnya setelah memarkirkan motor kesayangannya terlebih dahulu yang dia beli walaupun bekas dari uang kerja kerasnya.


"Kebiasaan..telat " gerutu Floren pada Aiza yang langsung duduk dan mengatur napasnya.


"Sudahlah Yen.. biarkan Aiza bernafas dulu " Cila menengahi keduanya.


"Memang dari tadi Ai..ga sedang bernapas,mati dong dia " Floren dengan menepuk pundak Arsyila.


"Napas sih..tapi dia masih mengaturnya" ucap Cila yang memperhatikan Aiza yang hanya diam memperhatikan kedua kawannya berdebat yang sebenarnya tidak penting.


"Woi.. hari ini kita ga ada kelas Bu Rindi hanya kasih tugas " teriak Ardi ketua kelas menunjukkan selembar kertas.


"Kita bebas dong.." teriak Damar yang kebetulan dibelakang Floren yang langsung keluar latahnya karena kaget.


"Kodok monyong loe.." pekik Floren dengan suara nyaring.


"Tuh..kodoknya lompat " goda Damar lagi dengan terkekeh.


"Jangan lompat kodok " ucap Floren lagi dengan membanting buku miliknya spontan.


"Nah,loh..ayo kejar kodoknya nanti makin jauh"goda Rudi yang kebetulan lewat.


"Jangan lompat kodok " Floren mengejar sesuatu yang sudah jelas tidak ada.


"Floren..!" panggil Aiza yang iba dengan kejahilan kawan satu kelasnya yang selalu iseng pada Floren.


"Ya..Ai " Floren seperti tersadarkan langsung duduk mengatur napasnya.


Aiza dan Arsyila memperhatikan Floren dengan iba karena Floren selalu jadi bahan kejahilan temannya, menjadi seorang Floren pasti tidak nyaman.


"Ardi.. dikumpulkan sekarang atau nanti ?" tanya Aiza serius.


"Tidak sekarang.. nanti pas pertemuan selanjutnya sekalian kuis katanya " Ardi menjelaskan membuat seisi kelas bersorak kegirangan.


"Terimakasih Di.."'balas Aiza yang langsung memeriksa ponselnya, terlihat banyak pesan masuk dari seseorang yang tidak dia dikenal.


"Serius bener " tanya Floren yang memperhatikan Aiza yang terlihat membaca pesan masuk.


"Tau..nih,ada banyak pesan masuk dari nomor ga kenal " Aiza masih membaca isi pesan satu persatu.


"Awas penipuan loh " Cila ikut nimbrung.


"Ehm..." Aiza yang bergumam tidak berkata apa-apa pun.


Tapi tidak lama Aiza terlihat panik sebab dia mengingat janji dengan seseorang siang ini, yang awalnya dia tidak janji untuk dapat memenuhinya, berhubung jam pelajaran Bu Rindi hanya memberikan tugas tidak salah dirinya memenuhi janji itu sebagai ucapan terimakasih.


"Gue..cabut dulu ya,ada kerjaan yang perlu gue kerjain" pamit Aiza yang memeluk Floren lalu bergantian memeluk Arsyila. Floren dan Arsyila sudah terbiasa dengan Aiza yang tiba-tiba meninggalkan kebersamaan mereka karena tuntutan pekerjaan dan keduanya tahu Aiza bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya kalau urusan uang kuliah Aiza mendapatkan beasiswa jadi sedikit lega.


"Ya.. hati-hati jangan ngebut" pinta Arsyila pada Aiza yang berlari kecil.


"Ok" balas Aiza yang tidak menengok.


"Seandainya saja gue Aiza,sepertinya gue ga akan sanggup menjadi seperti dia " ujar Floren dengan merapikan bukunya kedalam tas.


"Bener gue juga ga akan sekuat Aiza " Cila ikut menambahkan.


Keduanya pun memilih pulang dari pada keluyuran tidak jelas, memang rumah tempat ternyaman.


🌻


🌻

__ADS_1


Aiza dengan sedikit berlari kecil memasuki sebuah Cafe yang tidak jauh dari stasiun kereta,Aiza tidak tahu kenapa Arhan memilih tempat ini untuk bertemu.


Isi pesan dari Arhan meminta Aiza datang untuk menagih janji dan dimana keduanya ketemuan, Aiza pun langsung meluncur ke titik lokasi yang Arhan tentukan.


Berhubung Arhan yang menentukan Arhan datang lebih awal untuk mencari tempat duduk yang nyaman menurut Arhan.


"Hey.." Arhan melambaikan tangannya begitu melihat Aiza membuka pintu Cafe.


Aiza hanya tersenyum simpul menghampiri Arhan yang berpakaian rapi walaupun tidak dengan seragam dinasnya,Arhan memilih tempat duduk disudut Cafe yang tidak dilalui banyak orang dengan harapan bisa ngobrol nyaman.


"Maaf terlambat,bapak pasti sudah menunggu lama " Aiza memulai bicara.


"Tidak masalah, untuk kamu menunggu seribu tahun lamanya bukan sesuatu yang membosankan" goda Arhan yang membuat Aiza geleng kepala.


"Umur saya ga akan sempai di titik itu pak,paling mentok 70 kalaupun sampai 80 itu bonus dari yang diatas untuk memperbaiki diri " balasan Aiza membuat Arhan menohok.


"Kamu jangan menanggapinya dengan seserius itu..mau minum atau mau makan apa biar saya pesankan " Arhan berniat untuk memesan sesuatu untuk Aiza.


"Cukup mocha fruit saja pak " pesan Aiza.


"Tidak mau menambahkan yang lain gitu " Arhan menawarkan pada Aiza.


Aiza hanya menggelengkan kepalanya, baginya sudah cukup dia hanya butuh minum saat ini.


Tidak lama Arhan datang membawa pesanan yang diminta Aiza, terlihat biasa saja tapi tidak dengan Arhan yang terlihat senang.


"Ini pesanan mu, selamat dinikmati " Arhan memberikan pesanan untuk Aiza yang mengangguk berterimakasih.


"Pak..saya sudah memenuhi permintaan bapak jadi saya tidak berhutang budi lagi ya..sama bapak " ucap Aiza yang membuat Arhan merasa tidak nyaman.


"Saya tidak merasa kamu berhutang budi pada saya Aiza..niat saya tulus untuk membantu, seandainya saat itu bukan kamu saya tetap akan membantu orang itu " Arhan menjelaskan berharap Aiza tidak lagi merasa berhutang budi.


Aiza begitu dewasa dimata Arhan baik dalam tutur kata maupun sikap,seakan menjaga kesopanan dan bisa menempatkan diri kapan waktu bercanda dan serius.


"Sebenarnya saya hanya ingin ditemani kamu untuk sekedar ngobrol sebelum saya kembali tugas " Arhan menjelaskan keinginannya.


"Kapan bapak akan kembali tugas ?" tanya Aiza sopan.


"besok tapi hari ini saya harus kembali, sebenarnya berat meninggalkan kota ini " ucap Arhan yang terlihat tidak bersemangat.


"Wajar pak..bila bapak merasa berat meninggalkan kota ini sebab disini keluarga besar bapak berada disini,mungkin juga kekasih bapak juga berada disini " Aiza sekedar berempati.


"Oh..ya,pak apa tidak ada yang marah dengan bapak mengajak saya ngobrol berdua ditempat umum seperti ini " Aiza baru menyadarinya.


"Tenang saya baru mau pendekatan,dia ga akan marah kok sebab dia sendiri tidak tahu kalau saya mulai menaruh hati" Arhan bersikap seperti ABG yang sedang jatuh cinta.


"Bapak ini gimana sih.. seharusnya bapak tunjukan dong kalau bapak ada hati sama cewek yang bapak taksir " Aiza memberikan masukan.


"Untuk urusan itu..sudah biarkan saja, tenang itu akan saya urus,yang terpenting saya bisa memanfaatkan waktu bisa ngobrol dengan kamu sebelum saya harus kembali berdinas" kalau boleh berkata jujur Arhan sedang berusaha keras menenangkan detak jantungnya,tapi dia pandai menyembunyikan hal itu.


"Bapak tuh aneh..ya,suka sama seseorang kok malah saya yang bapak ajak nongkrong di Cafe.. apalagi beberapa saat lagi bapak akan kembali ke tempat tugas,kalau saya yang jadi cewek yang sedang bapak taksir saya sudah pelototi bapak dengan cewek yang bapak ajak nongkrong dan saya akan coret dari daftar seseorang yang menaruh hati kepada saya " ucap Aiza dengan muka serius dan kesan kesal.


"Kan baru naksir, mana dia tahu kalau saya naksir sama dia " Arhan berdalih.


"Soal rasa mah bebas ya..pak " jawab Aiza dengan tersenyum.


'Aduh..bisa ga sih itu senyum disimpan dulu ' Arhan di buat salting dengan melihat senyuman milik Aiza.


"Kenapa pak..?" tanya Aiza yang melihat Arhan tertunduk menahan malu pada dirinya sendiri.


"Ga.. apa-apa " bohong Arhan.

__ADS_1


"Kamu ga nanya kapan saya akan kembali lagi kesini ?" Arhan memberanikan diri menyampaikan keinginannya berharap Aiza bertanya seperti maunya.


"Kok gitu sih pak,apa hak saya bertanya seperti itu sama pak.. saudara bukan,teman juga bukan " balasan dari Aiza begitu jujur.


"Ok.. mulai detik ini juga kita berteman " Arhan mengulurkan tangannya untuk memulai pertemanan dengan saling berjabat tangan.


"Arhan Prawira" ucap Arhan menyebutkan nama lengkapnya.


"Apa harus seperti ini ya..pak " ucap polos Aiza tanpa dosa.


"Katanya ingin memperjelas status kita gimana sih " balas Arhan dengan tersenyum.


"Iya..iya,pak..Aiza Salamah" Aiza pun menyebutkan nama lengkapnya.


"Nama kamu cantik ya.." puji Arhan.


"Nama bukan cantik pak,yang ada orangnya yang cantik pak " dengan apa adanya Aiza berkata dengan santainya.


"Kamu benar, orangnya lebih cantik" Arhan tertawa.


"Bapak baru sadar ya.. kalau saya sih biasa aja,malah lebih senang ga di bilang cantik lebih percaya diri malah " ucapan Aiza terdengar aneh bagi Arhan.


"Kamu tuh aneh.. biasanya cewek lebih suka bila di bilang cantik " Arhan menggelengkan kepalanya.


"Itu untuk cewek yang tidak percaya diri pak..sebab faktanya semua cewek itu terlahir sudah cantik secara garis besar, kalau ada yang tidak cantik itu baru pengecualian karena satu dan lain hal,sudahlah percaya saja kalau cewek itu sudah kodratnya cantik dari sananya " dengan bersikap biasa saja Aiza menjelaskan.


"Kamu itu berteman dengan siapa saja sih.. sampai terbentuk karakter seperti ini " Arhan semakin tahu kalau Aiza itu susah di tebak kepribadiannya tapi membuat Arhan nyaman.


"Ada beberapa teman sih tidak banyak, selebihnya buku teman setia saya pak " Aiza jujur menjelaskan tentang dirinya.


"Pantas..kamu duplikatnya" Arhan makin tertarik.


"Teman itu kebanyakan saat kita senang mereka ada, kalau sahabat akan ada disaat senang maupun saat kita butuh sandaran" Aiza hanya menyampaikan apa yang dia lihat dan rasakan.


Arhan kagum akan cara berpikir dan bicara Aiza yang tertata dengan wawasan yang Arhan akui sangat luas tidak seperti anak seusianya.


"Saya akui senang mengenal kamu Aiza "ucap Arhan tanpa bisa menahannya.


"Pak..jangan terlalu terburu-buru untuk menilai seseorang bisa saja penampilan itu menipu,bukankah sekarang ini lagi marak penipuan bermodalkan penampilan keren dan menyakinkan tidak tahunya penipu ulung " Aiza tidak ingin Arhan salah paham dengan apa yang dilihatnya.


"Kamu mau menipu saya,apa yang mau kamu tipu ?, yang ada saya yang dibuat tersipu-sipu dengan kepribadian kamu yang apa adanya dan berwawasan, saya suka perempuan yang tidak sempit dalam berpikir" puji Arhan.


"Bapak ini ada-ada saja "Aiza tidak ingin Arhan salah paham dengan kedatangannya memenuhi permintaan Arhan bukan berarti Aiza menaruh hati,Aiza sadar siapa dirinya apalagi melihat status sangat jauh baik dari segi usia maupun karir yang dimiliki Arhan pasti bukan orang biasa.


Walaupun tidak bisa di pungkiri Arhan memiliki pesona yang membuat setiap wanita terpikat dan akan merasa bahagia ada bersamanya,Arhan terlihat berkharisma,gagah, tampan dan terlihat sempurna pokoknya secara garis besar lelaki idaman.


"Saya serius Aiza, jujur saya tidak mudah mengenal orang baru dan saya paling susah dekat dengan orang baru kenal apalagi memberikan pujian..kamu orang pertama yang saya puji " Arhan memang sangat selektif untuk menilai seseorang.


"Jangan galak-galak pak..nanti saya jadi takut" jujur Aiza merasa takut begitu Arhan berkata serius.


"Saya ga akan pernah membuat kamu takut dan tidak ingin menakuti kamu karena saya ingin kamu nyaman didekat saya " Arhan kembali mengatakan apa yang dirasakan didalam hatinya.


"Nyaman ? jangan mengada-ada pak, nanti didengar orang bisa salah paham dan saya yang merasa dirugikan dalam hal ini karena dicap perebutan pacar orang" Aiza paling anti dengan sebutan itu.


"Kalau saya yang jadi pacar kamu gimana?" ucapan Arhan jujur dari hatinya.


"Bapak ini aneh..orang jelas-jelas lagi naksir cewek lain malah nembak saya..bapak ga konsisten" elak Aiza yang tidak ingin mengambil pacar orang lain.


"Sudahlah bapak..kita ganti topik saja " Aiza tidak ingin semakin jauh membahas ranah pribadi terutama hati.


Mendengar penolakan Aiza secara halus Arhan hanya tersenyum tipis, menurut Arhan pesona yang dimiliki tidak mampu memikat hati Aiza.

__ADS_1


__ADS_2