Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
23


__ADS_3

Setengah berlari Aiza memasuki ruang ganti seragam pelayan Cafe, padahal waktu belum menunjukkan pertukaran kerja tapi Aiza terbiasa datang lebih awal dan membantu karyawan lain.


"Ai..santai saja,belum waktunya loe kerja juga" ucap salah satu karyawan yang saat ini mempersiapkan pesanan pelanggan.


"Maaf mba sedikit telat biasa si Frengki ngadat minta disayang " semua tahu siapa Frengki.


"Sepertinya Frengki harus dilembiru,Ai " pungkas yang lain dengan tawanya.


"Aduh..jangan mba, terlalu banyak kenangan bareng dia.. kalau pun harus,saya ga akan menjualnya bila perlu dimuseumkan "mereka tertawa bersama mendengar ucapan Aiza


"Ai,Ai...memang loe udah sekelas Michael Jackson aja,semua barang-barangnya disimpan di museum " ujar Mila teman kerja Aiza,yang sedikit tahu masalah yang dihadapi Aiza.


"Frengki sudah berjasa buat hidup gue " Aiza membayangkan bagaimana pertama kali memiliki Frengki.


Mereka pun kembali melanjutkan tugas mereka masing-masing diselingi canda tawa, seperti biasanya.


🍁


🍁


Di tempat yang sama tapi berbeda sudut terlihat Arhan berbincang dengan pemilik Cafe yang merupakan teman satu almamater jaman putih abu-abu.


"Hey..kapan sampai ?" Prasetyo langsung menyambut Arhan yang tidak biasa berkunjung ke Cafe siang hari.


"Semalam gue sampai, gimana kabarnya bro ?" tanya balik Arhan pada Prasetyo.


"Alhamdulillah baik.. ngomong-ngomong ada apa gerangan yang membuat loe berkunjung tiba-tiba..ehm ?" tanya Prasetyo.


"Tapi loe janji ga kasih tahu yang lain dan loe juga harus janji ga menertawakan gue setelah loe mendengar apa yang nanti loe dengar " pinta Arhan yang membuat Prasetyo bingung.


"Ada apa sih bro..?" tanya Prasetyo lagi masih bingung belum bisa mencerna apa maksud dari permintaan Arhan.


"Boleh gue minta bantuan sesuatu sama loe ?" dengan sedikit hati-hati Arhan memulai bicara.


"Ar.. seumur-umur gue kenal loe ga pernah seserius ini, biasanya loe langsung nyablak tanpa permisi,ada apa ehm.. ngomong aja kali aja gue bisa bantu " Prasetyo memperhatikan Arhan serius.


"Boleh ga gue bawa salah satu karyawan loe untuk menemani gue jalan selama gue liburan ,gue bayar deh..sesuai jam kerja kalau loe merasa dirugikan " Arhan menyampaikan maksud dan tujuannya pada Prasetyo yang terlihat bingung.


"Sebelumnya maaf bro..semua karyawan wanita yang kerja disini wanita baik-baik jadi loe jangan macam-macam " Prasetyo terlihat kesal pada Arhan, walaupun tahu Arhan bukan lelaki yang suka main wanita tapi itu dulu yang saat ini Prasetyo tidak tahu.


"Gila..loe,mikir loe udah kejauhan..dari dulu sampai saat ini gue ga pernah melakukan apa yang saat ini ada dan dalam otak loe " Arhan langsung bisa menebak arah bicara Prasetyo.


"Maksud gue, loe kasih ijin untuk salah satu karyawan loe itu di jam kerjanya untuk jalan bareng gue, berhubung tuh anak jalan bareng gue maka gue bayar sama loe waktu yang seharusnya dia kerja.. sampai situ paham bro" tanya Arhan yang melihat Prasetyo masih tidak terima.


"Gue paham..tapi maksud dan tujuan loe apa ngajak jalan tuh anak ehm.." Prasetyo tidak mau asal tebak.


"Jangan-jangan loe ada rasa sama tuh anak, kalau iya..kenapa loe ga ajak serius aja sih ?" Prasetyo masih mencecar Arhan.


"Yo..gue bukan tersangka sampai loe cecar gue sampai segitunya ,sabar makanya gue minta ijin baik-baik sama loe untuk pendekatan dengan tuh anak..tapi loe sudah mengira yang aneh-aneh" Arhan cukup mengerti dengan semua ucapan Prasetyo.


"Ok..gue bisa kasih ijin dan soal bayaran loe jangan aneh-aneh,gue ga pungut biaya dan gue ga akan potong gaji tuh anak..tapi siapa yang jadi incaran loe..saat ini,gue harap bukan seseorang yang ada dalam benak gue " akhirnya keluar juga rasa kepo Prasetyo.


"Ehm..Aiza " ucap Arhan dengan tersenyum manis.


"Busyet..pinter juga loe, ternyata loe pemilih ulung..tapi loe harus janji sama gue jangan buat mainan sebab dia gadis baik-baik sudah gue anggap sebagai adik gue..sekali loe bikin nangis gue hajar loe tanpa ampun bila perlu masuk bui sekalian" Prasetyo tidak bercanda bahkan terlihat mimik muka tegas yang Arhan lihat dari Prasetyo saat ini.

__ADS_1


"Waduh..belum apa-apa sudah main ancam aja loe " canda Arhan pada Prasetyo.


"Gue ga lagi becanda Ar.. kenapa gue menerima dia kerja disini karena ingin melindungi sekaligus sebagai bentuk terimakasih untuk orang tua gue,karena pernah berhutang budi pada almarhum papanya Aiza dan yang tidak akan bisa dibalas dengan apapun bahkan nyawa sekalipun" raut wajah Prasetyo terlihat sedih.


"Almarhum.., lalu dia tinggal bersama siapa?" Arhan terlihat terkejut sekaligus prihatin.


Pikiran Arhan kembali pada saat membantu Aiza beberapa waktu lalu saat motornya mogok dan meminta pada Aiza untuk ditemani atau diantar jemput lelaki yang ada di rumah.


"Saat ini dia tinggal bersama om berserta keluarganya,di rumah milik almarhum papa dan mama Aiza dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dia bekerja di tempat gue serta mengajar di tempat privat karate, juga memberikan les disalah satu lembaga bimbingan belajar " Prasetyo membuka latar belakang Aiza.


"Apa gue langsung ajak nikah aja bro,biar dia ga usah gawe,biar gue yang jadi sandaran buat dia Yo.." Arhan meminta pendapat Prasetyo.


"Ga,akan semudah itu bro..gue tawarin untuk mengawasi salah satu cabang Cafe aja dia tolak, dengan alasan dia belum bisa memegang komitmen juga ingin fokus kuliah dan mandiri ga ingin merepotkan " Prasetyo memberikan penjelasan kepada Arhan.


"Terus gue bisa lakuin apa untuk dia bro" Arhan seperti kesal pada dirinya sendiri.


'Arhan mencoba mengingat semua kebersamaan dengan Aiza yang terlihat ceria, terlihat dewasa serta berwawasan luas tidak membosankan, tidak menunjukkan beban hidup yang sebenarnya tidak mudah untuk dia hadapi.


"Sekarang loe paham kalau gue sangat worry sama Aiza " Prasetyo memandang Arhan serius.


"Kenapa loe baru ngomong sekarang sih bro.." Arhan merasakan dadanya sakit setelah mendengar penjelasan Prasetyo.


"Lah.. kenapa gue yang loe salahkan, bukannya loe juga baru ngomong kalau dalam tahapan pendekatan dengan Aiza " elak Prasetyo pada Arhan yang terlihat melamun.


"Kalau mau ajak dia sekarang boleh..gue udah kasih ijin" Prasetyo percaya pada Arhan.


"Ok.. tunggu gue hubungi supir untuk bawa mobil kesini " jawab Arhan yang langsung mengambil keputusan.


"Jangan ajak jauh-jauh, nongkrong di angkringan juga dia mau tanpa gengsi" canda Prasetyo pada Arhan.


"Busyet deh.. spesial, pakai telor apa karetnya dua " goda Prastyo dengan tersenyum.


"Kau kira nasi goreng,jailnya mulut loe Yo.." balas Arhan yang terlihat menghubungi seseorang melalui ponsel miliknya.


🍁


🍁


Prasetyo meminta salah satu karyawan untuk memanggil Aiza ke ruangannya,sudah pasti bisa diartikan ada yang serius pikir karyawan itu yang langsung memanggil Aiza.


"Ai,loe bikin kesalahan apa ehm..loe di panggil pak Pras " ucap karyawan itu seperti ikut prihatin.


"Kesalahan apa..gue selalu minta ijin bila ada kegiatan kampus dan gue ga pernah telat di jam kerja gue " jawab Aiza yang merapikan pakaian sebelum menghadap Prasetyo.


"Loe..ga apa-apa Ai ?" tanya Mila yang ikut khawatir.


"Udah..ga usah khawatir paling dikeluarin,berarti disini bukan rejeki gue simpel aja " Aiza menenangkan temannya.


"Loe kira gampang cari kerja di tempat lain sedangkan loe sambil kuliah " ucap Mila lagi masih dengan rasa yang sama.


"Berdoa yang baik-baik aja,kali aja gue mau di kasih bonus.. gimana?" goda Aiza yang sebenarnya merasakan hal yang sama seperti Mila.


"Udah sana nanti di tunggu pak Pras.." tegur Aji yang baru masuk keruangan dimana Mila dan Aiza berada.


"Doain gue ya.." pinta Aiza dengan berjalan meninggalkan ruangan menuju ruangan Prasetyo.

__ADS_1


'Tok..tok'


"Masuk " ucap Prasetyo tidak memperhatikan Aiza.


"Duduk " perintah singkat Prasetyo pada Aiza.


"Terimakasih pak,maaf pak boleh saya tahu ada kepentingan apa ya..bapak memanggil saya ?" dengan sopan Aiza bertanya lebih dulu.


"Kesalahan apa yang pernah kamu lakukan sampai saya tidak mengetahuinya" nada bicara Prasetyo datar tidak tegas juga tidak dingin serta tidak mengintimidasi Aiza, cenderung biasa saja.


"Ehm..seingat saya,saya tidak melakukan kesalahan dalam bekerja atau terlambat datang, kalau pun tidak datang saya jauh-jauh sudah meminta persetujuan dari pak Aji,pak.." Aiza menjelaskan pada Prasetyo yang masih terlihat santai memperhatikan Aiza dengan seksama.


"Coba kamu pikir lagi pasti ada yang kamu lupa.." pinta Prasetyo dengan berkata serius terdengar ditelinga Aiza.


"Apa ada pelanggan yang mengadukan pelanggan saya pak ?" Aiza berbalik bertanya Prasetyo.


"Ehm.. sepertinya" Prasetyo asal bicara.


"Kalau soal itu maaf pak, saya tidak sengaja melihat mereka melakukan ciuman di Cafe, mungkin mereka merasa tidak nyaman dengan kehadiran saya saat membawakan pesanannya" Prasetyo ingin tertawa begitu mendengar penjelasan Aiza tapi seberat apapun harus dia tahan.


"Ada satu lagi yang kamu belum sampaikan ?" ucap Prasetyo membuat Aiza bingung.


"Saya sudah sampaikan semuanya sama bapak kok.." Aiza terlihat bingung.


"Ada hubungan apa kamu dengan pak Arhan ?" tanya Prasetyo pada akhirnya karena sudah tidak tahan menahan rasa penasaran.


"Pak Arhan..oh,pak Arhan hanya menolong Frengki" jawab jujur Aiza yang membuat Prasetyo bingung dengan sebuah nama yang Aiza sebut.


"Sakit apa Frengki ?" tanya Prasetyo yang menurut pemikiran Prasetyo salah satu kerabat Aiza.


"Biasa pak perlu perawatan intensif" ucap Aiza dengan tersenyum.


"Kenapa kamu ga ngomong Ai..saya bisa bantu?" Prasetyo terlihat khawatir.


"Alhamdulillah pak sudah lebih baik, karena pertolongan pak Arhan " balas Aiza dengan sikap biasa saja.


"Karena kamu sudah mengakui kesalahan kamu,maka saya kasih kamu hukuman dan sebagai hukumannya kamu temani pak Arhan jalan seharian ini "perintah Prasetyo pada Aiza yang terlihat bingung.


"Pak,apa ga salah dengan hukumannya ?" tanya Aiza yang masih terlihat bingung.


"Ga,apa kamu mau yang lebih berat lagi,saya nikahkan kamu dengan pak Arhan " ujar Prasetyo dengan menahan tawa.


"Hukuman macan apa itu pak ? bikin saya bingung" Prasetyo melihat waja Aiza yang bingung.


"Sudah jalani saja..atau " belum selesai Prasetyo berkata Aiza lebih dulu menyanggupi permintaan Prasetyo.


"Iya..pak saya terima hukuman dari bapak" Aiza tidak mau ada hukuman lain yang menurutnya akan ada hukuman yang tidak masuk akal lainnya.


"Ok..bersiap lah, kamu ditunggu di depan sama pak Arhan, kasihan dia kalau terlalu lama menunggu" pinta Prasetyo yang menahan tawa.


" Baik pak " dengan langkah pelan Aiza memikirkan hukuman yang diberikan Prasetyo.


"Dalam sebuah perusahaan setahu aku belum pernah ada hukuman seperti itu,paling ada dua kemungkinan kena skors atau di keluarkan dengan tidak hormat,tidak seperti yang pak Prasetyo berikan pada ku,ah.. sepertinya ada yang tidak beres ini " Aiza masih memikirkan hukuman yan diberikan Prasetyo.


Memang Prasetyo sengaja ingin mengabulkan keinginan Arhan dan berharap ada hal baik untuk masa depannya.

__ADS_1


__ADS_2