Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
37


__ADS_3

Langit senja seakan ikut jadi saksi ungkapan rasa Arhan pada Aiza yang dari dalam hatinya dengan ketulusan.


Arhan menggenggam kedua tangan Aiza seperti ingin menyakinkan bahwa mereka berdua akan berjalan bersama tanpa rasa ragu dan tidak melihat latar belakang yang Arhan miliki.


"Za..lihat kedua mata ku,ada bayangan siapa yang kamu lihat?" tanya Arhan dengan serius.


Aiza terkejut dengan perubahan penyebutan panggilan yang biasanya formal dengan saya menjadi aku, Aiza pun menuruti permintaan Arhan untuk menatap dengan intens kedua bola mata Arhan yang tajam tapi menyejukkan.


"Hanya ada bayang kamu kan disana,apa kamu tahu artinya?" Arhan kembali meyakinkan Aiza.


Aiza hanya mengangguk dan menggeleng tanpa bisa berkata-kata seakan bibirnya keluh.


"Artinya aku hanya melihat dirimu apa adanya tanpa embel-embel lainnya,sebab pada akhirnya apa yang aku miliki,akan jadi milik mu za.." Arhan tanpa berpikir mencium punggung kedua tangan Aiza tanpa ijin pemiliknya.


"Pak..boleh kasih saya waktu untuk berpikir" akhirnya Aiza membuka suara.


"Boleh tapi ga pakai lama" tegas Arhan dengan menahan senyumnya.


"Ih..pemaksa" tegur Aiza dengan membuang muka ingin tersenyum.


"Memang kamu harus dipaksa,lewat kode-kode ga ada kepastian.." Arhan mengusap lembut kepala Aiza.


"Ih..nyebelin" pungkas Aiza lagi dengan tertunduk.


"Jujur aja za..tapi kamu suka kan dengan kehadiran ku didekat kamu" Arhan semakin mengacak rambut Aiza dengan tertawa kecil.


"Tau..ah" ucap Aiza pelan dengan membuang pandangan kearah lain.


"Jangan ngambek nanti aku makin sayang loh,za.." goda Arhan lagi dengan terkekeh.


Keduanya kini seperti pasangan yang baru jadian saling menggoda padahal belum ada status yang jelas.


🌹


🌹


"Sudah dapat jawabannya?" Arhan seperti tidak sabar menunggu jawaban dari Aiza.


"Memang harus sekarang pak " dengan bingung Aiza bertanya.


"Dua hari lagi aku sudah akan kembali ke tempat dinas ku za.." ucap jujur Arhan berharap Aiza secepatnya memberikan kepastian.

__ADS_1


"Pak.. kenapa sih,harus aku..kamu ?" ujar Aiza mengalihkan pembicaraan.


"Karena kamu belahan jiwa aku" Arhan lebih baik to the poin dari pada basa basi tanpa ada respon dari Aiza.


"Kok bisa sejak kapan ?" Aiza merasa Arhan memaksa.


"Sejak sekarang" Arhan dengan percaya diri mengungkapkan.


"Pak..belum ada pernyataan resmi dari saya saja,bapak sudah menunjukkan pribadi yang dominan apa lagi nanti " Aiza lebih menunjukkan sikap tegasnya.


"Sungguh za..aku bersikap seperti itu karena aku ingin kamu tahu,kalau aku benar-benar ingin menjadikan kamu istri ku za,tapi aku janji akan ku buktikan kalau aku tidak seperti yang kamu pikirkan" Arhan menjelaskan kenapa harus bersikap tegas saat ini.


"Entahlah pak..saya belum terpikirkan jawaban apa yang akan saya berikan kepada bapak, karena yang ada dalam pikiran saya saat ini hanya ingin lekas menyelesaikan kuliah dan bekerja sesuai ilmu saya..itu saja tidak ada kepikiran yang lain" Aiza berkata sesuai yang ada dalam pikirannya dan tidak ada pikiran mengecewakan Arhan.


"Aku tidak akan melarang apapun yang akan menjadi keinginan kamu za..kecuali kamu berniat menduakan ku" kata-kata yang terlontar dari mulut Arhan terdengar tegas dan tidak main-main.


"Pak, ijinkan saya untuk menyelesaikan kuliah saya terlebih dahulu tanpa ada beban lain please" dengan memohon Aiza meminta.


"Silahkan itu hak mu za..tapi aku hanya meminta kejelasan tentang hubungan kita itu saja yang saat ini aku butuhkan" Arhan lebih memperjelas.


"Maksud bapak kita pacaran gitu..ga saya ga mau pacaran,saya merasa terbebani dengan hubungan seperti itu" Aiza hanya menyampaikan keinginannya.


"Kita ga pacaran tapi langsung nikah saja" Arhan berkata serius.


"Memang selama ini kamu tidak kerja keras,ehm..apa keinginan terbesar kamu akan aku wujudkan sekarang juga aku bisa mengabulkannya" bukan berniat sombong tapi Arhan cukup tahu banyak tentang Aiza dari Prasetyo.


"Pak..saya tahu uang bapak banyak tapi itu lain rasanya buat saya,kalau bapak memaksa saya mundur teratur biarkan semua berjalan seperti selama ini saja" penuturan Aiza tidak menyakiti tapi membuat Arhan sadar diri siapa Aiza.


Aiza sebagai seorang gadis muda dengan sejuta harapan yang ingin diraihnya untuk masa depan, sangat wajar bila berambisi untuk menggapai mimpi-mimpi dan angan-angan masa depan apabila dia seorang diri tidak akan ada penghalang bagi dirinya dari tuntutan orang tua untuk secepatnya memiliki pasangan.


"Boleh aku tahu..jadi apa mau kamu?" Arhan harus mau mengalah kalau memang berkeinginan menjadikan Aiza seorang wanita istimewanya.


"Ehm..bener bapak mau tahu ?" dengan sedikit ragu Aiza bertanya.


"Ya..aku mau tahu " dengan melepaskan napas perlahan Arhan seperti menyakinkan dirinya harus mau mengalah.


"Saya ingin menyelesaikan kuliah dengan sebaik-baiknya, lalu bekerja sesuai dengan ilmu yang saya dapatkan hanya itu keinginan saya tidak lebih " terdengar simpel tapi itu perlu waktu yang Arhan pikirkan.


"Apa tidak bisa kamu tetap berkuliah dan bekerja dengan status kita pasangan yang sah gitu ?" dengan hati-hati Arhan mengutamakan maksud baiknya.


"Em..sepertinya tidak bisa pak, saya ingin bila menikah nanti suami dan keluarga prioritas utama dalam hidup saya bila itu semua di lakukan saat ini,bisa jadi saya tidak bisa menjalankan tugas utama saya sebagai istri karena masih ada kegiatan kuliah yang sedikit banyak menyita waktu"

__ADS_1


Dengan gamblang Aiza menjelaskan pada Arhan yang paham dengan menganggukkan kepalanya.


"Seumur hidup aku baru kamu wanita yang keras kepala dihadapan aku" Arhan menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.


"Jadi masalah gitu buat bapak ?" Aiza bisa menilai Arhan sedikit banyak memiliki banyak pengagum.


"Tidak ada masalah,bisa jadi makin besar keinginan aku ingin memiliki kamu" Arhan mengusap lembut kepala Aiza.


"Kenapa ga mencari yang lain saja sih pak" Arhan yang mendengar ucapan Aiza sebagai penolakan secara halus itu sudah biasa bagi Arhan tidak ada rasa sakit hati.


"Semakin kamu menolak aku, semakin penasaran sebenarnya ada apa dengan aku dimata kamu za.."


"Dimata saya bapak terlalu sempurna, sekarang bapak puas ehm..dan saya tidak bisa bersama bapak karena hal itu" Aiza sadar diri siapa dirinya.


"Kenapa harus itu sih za,asal Kamu tahu saya banyak kekurangan za..karena itu aku memintamu dengan tulus untuk menyempurnakan kekurangan ku za.." Arhan tertunduk sepertinya merasa dirinya gagal dalam hubungan masa lalunya dengan seseorang yang terlah meninggalkan dirinya.


"Apakah saya bisa memenuhi keinginan seperti ucapan bapak ?" dengan ragu Aiza bertanya.


"Za.. kenapa aku memilih kamu karena aku yakin kamu penyempurna hidup ku,aku harap kamu tidak ragu untuk menerima ku yang penuh kekurangan ini " ingin rasanya Arhan menangis bila mengingat masa itu dirinya di campakkan seperti tidak berguna.


"Kenapa bapak seyakin itu ?" Aiza seperti ingin Arhan bisa menyakinkan dirinya yang masih ragu.


"Hati tidak akan salah memilih kepada siapa dirinya akan menjadi tempat ternyaman untuknya " tutur Arhan tegas tanpa ragu.


"Ehm..bukan saya ragu pak,tapi.." Aiza masih merasa tidak yakin dengan dirinya.


"Aku kasih waktu kamu untuk menyelesaikan kuliah kamu dan bekerja selepas itu kita langsung nikah.. saya Arhan Prawira meminta dengan kesungguhan hati pada Aiza Salamah Zaid Ahmad untuk menjadi teman berbagi suka dan duka, sampai maut memisahkan dan aku mau kamu tidak ada kata penolakan"


Dengan tegas Arhan menyatakan kata demi kata sebagai bentuk lamaran secara tidak langsung pada Aiza yang hanya bisa diam bingung sekaligus tidak percaya dengan lelaki yang ada didekatnya tanpa ragu meminta pada dirinya untuk jadi masa depannya.


"Deal " Arhan meminta Aiza berjabat tangan sebagai bentuk kesepakatan.


Tanpa ada penolakan Aiza membalas jabat tangan Arhan,Aiza seperti terhipnotis dengan suasana yang bagi dirinya ini pertama kali dalam hidupnya.


"Yea..thank you,I Love You Aiza" tanpa sungkan lagi Arhan mengungkapkan rasa cinta pada Aiza.


"Ih..ga gitu ya,pak " tolak Aiza yang berniat memukul lengan Arhan.


Arhan menangkap tangan Aiza dan kedua mata keduanya bertatap secara langsung,tanpa ada kata kedua diam seakan hati keduanya yang bicara.


"Janji ya..za,jangan pernah dua kan aku ya.." pinta Arhan selepas rasa gugup menghampiri keduanya.

__ADS_1


Dan untuk kedua kalinya Aiza hanya bisa menurut dengan menganggukkan kepalanya tanda menuruti permintaan Arhan.


Arhan seakan yakin Aiza menerima lamaran secara tidak langsung walaupun Arhan belum mendengar secara langsung dari Aiza balasan lamaran itu.


__ADS_2