Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
34


__ADS_3

Arhan sesuai janji sudah berada didepan pagar rumah Aiza tanpa menekan bel rumah dia sengaja menunggu tanpa menghubungi Aiza terlebih dahulu.


"Astaghfirullah,bapak !" pekik Aiza dengan mengusap dadanya karena terkejut Arhan yang berdiri di pintu pagar rumahnya, menunjukkan senyumnya.


"Kenapa kamu terkejut bukankah kita sudah membuat janji untuk bertemu " dengan santainya Arhan membalas.


"Astaghfirullah pak..kok bisa ya,saya sampai lupa untuk bertemu bapak " dengan muka tanpa bersalahnya Aiza bertutur.


"Apa bisa..kita langsung jalan,tapi kok kamu bawa keranjang memang mau kemana kamu ?" ajak Arhan pada Aiza yang terlihat bingung dengan membawa keranjang belanjaan.


"Tapi pak,saya harus pergi belanja " ucap polos Aiza dengan menunjukkan keranjang belanjaan yang terbilang besar dengan wajah memelas.


"Ayo..saya temani kamu belanja dulu" Arhan tidak mau Aiza melalaikan tugasnya sebisa mungkin Arhan memahami dulu dunia Aiza.


"Bener bapak mau menemani saya ?" Aiza terlihat ragu untuk seorang Arhan mau diajak berbelanja.


"Memang kenapa kalau harus menemani kamu belanja,ga ada yang salahkan atau kamu yang malu saya temani ?" goda Arhan yang menarik tangan Aiza untuk masuk kedalam mobil miliknya.


"Tapi pak..nanti mobil bapak kotor sebab saya bukan ke supermarket tapi ke pasar tradisional pak " Aiza terlebih dahulu menjelaskan berharap Arhan bisa mempertimbangkan keinginan untuk menemani berbelanja.


"Kotor ? itu gampang bisa dicuci yang penting saya bisa menemani kamu kemanapun dan Prasetyo sudah mengijinkan kamu untuk tidak masuk kerja, jadi bisa jalan dengan saya hari ini "Arhan menunjukkan muka bahagianya.


"Aneh.." gumam Aiza pada Arhan "kotor kok malah seneng "


"Kamu bilang apa Za..?" tanya Arhan yang sebenarnya dapat mendengar dengan jelas, mohon di fahami Arhan seorang pasukan khusus wajar telinganya terlatih untuk dapat mendengar suara sekecil apapun bahkan kemana suara arah angin berhembus bisa Arhan dengar dengan jelas.


"Apa pak? saya tidak bicara apapun " sanggah Aiza dengan pura-pura memperhatikan jalanan, karena Arhan sudah memacu kendaraan miliknya menuju pasar tempat Aiza berbelanja.


Setibanya di pasar Arhan mengambil keranjang belanjaan yang Aiza pegang dan berjalan dibelakang Aiza yang sesekali mampir di kios pedagang sayur mayur, buah-buahan,ikan,daging,ayam dan telor juga tidak lupa kios sembako.


Arhan berasa sudah seperti suami beneran yang menemani istrinya berbelanja, senyum simpul tidak mau lepas dari bibirnya karena merasa senang bisa dekat dengan Aiza.


"Mba.. tumben di temani " ujar seorang ibu pedagang ikan pada Aiza.


"Iya..Bu, kebetulan bapak libur " terang Aiza yang membuat Arhan merasa kurang senang karena Aiza memanggilnya bapak.


'Apa aku setua itu za.. sampai kamu selalu memanggil aku bapak' jujur Arhan merasa tidak suka Aiza selalu memanggilnya bapak.


"Mba bapaknya masih muda sekali,apa ga salah mba ? " tanya pedagang sebelah ibu yang kebetulan sama seperti Aiza berbelanja.

__ADS_1


Aiza hanya bisa tersenyum tanpa memberikan jawaban balasan karena akan berujung lama nantinya pikir Aiza.


Arhan memasukkan semua barang belanjaan kedalam keranjang tanpa merasa malu mengekor di belakang Aiza,Arhan begitu menikmati kebersamaan dengan Aiza walaupun saat ini berada di pasar.


"Pak,bapak haus ga..mau saya belikan minuman?" tanya Aiza yang melihat Arhan tenang tanpa sedikitpun protes.


"Saya ga haus za,kamu kali yang haus..mau saya belikan minuman ?" kini Arhan yang balik bertanya.


"Ehm.. sebenarnya saya ingin makan bakso pak sepertinya enak tapi bagaimana dengan nasib belanjaannya nanti sebab ada ikan,daging juga ayam bisa bau nanti " Aiza menerangkan.


"Memang kamu sudah selesai belanjanya?" tanya Arhan yang ingin mengabulkan keinginan Aiza.


"Sudah..." ucap singkat Aiza.


"Ya..sudah kalau begitu kita pulang dulu untuk menaruh semua belanjaan lalu lanjut untuk membeli bakso yang kamu mau " Arhan memberikan solusi.


"Ide bapak hebat..ayo kita pulang " Aiza langsung berjalan lebih dulu.


"Za..za " Arhan tersenyum melihat tingkah Aiza yang tidak seperti biasanya, Arhan lihat saat ini Aiza begitu mengemaskan.


Berhubung Aiza ditemani Arhan berbelanja sudah pasti tidak memakan waktu lama dan hal ini membuat Nia dan Ima bertanya,sebab baru beberapa saat lalu Aiza pergi kini sudah kembali dengan membawa belanjaan.


"Kebetulan ada tukang ojek dadakan yang mau bantuin,mana gratis lagi..ya jadi cepat" ucap Aiza langsung meninggalkan Ima dan Nia yang masih terlihat bingung.


"Memang biasanya ga naik ojek,mba Aiza ini aneh ya.." gerutu Nia yang hanya di sambut Ima dengan kenaikan kedua bahunya tanda tidak tahu.


"Sudahlah itu urusan mba Aiza " Ima menegur Nia yang suka sekali kepo.


"Baguslah..kita bisa cepat istirahat setelah merapikan ini semua" pungkas Ima yang langsung memindahkan isi keranjang sesuai tempatnya.


Tidak lama Aiza keluar dengan pakaian cukup rapi, terlihat cantik dan manis padahal pakaian yang melekat di tubuhnya bukan pakaian mewah tapi membuat penampilan Aiza berbeda hari ini,hal ini membuat Nia dan Ima saling berpandangan seperti mencari tahu.


"Aku pamit keluar dulu ya..mau aku bawain apa pulang nanti ?" Nia dan Ima kembali berpandangan.


"Apa aja deh mba yang penting enak " ucap Ima yang masih bingung melihat penampilan Aiza yang tidak seperti biasanya.


"Siap.. assalamualaikum,aku pergi dulu" pamit Aiza dengan tersenyum meninggalkan kedua art yang hanya bisa diam membisu.


"Sebenarnya mba Aiza mau kemana mba ?" tanya Nia dengan bingung.

__ADS_1


"Mana aku tahu, kenapa kamu ga tanya langsung ke orangnya giliran orangnya pergi kamu nanya" gerutu Ima yang membuat Nia menggaruk tengkuknya malu.


"Ayo..pak jadi ga ?" tegur Aiza yang menepuk pundak Arhan yang secara tidak langsung membuyarkan lamunan Arhan yang memandang Aiza dengan mengangumi penampilannya yang berbeda saat ini.


"Ja..jadi lah " ucap Arhan gugup dan langsung membukakan pintu mobil untuk Aiza.


"Terimakasih pak " balas Aiza,Arhan hanya tersenyum.


"Za.. kenapa kamu berpenampilan seperti ini ?" penuturan Arhan membuat Aiza bingung.


"Seperti ini bagaimana pak,saya jadi bingung?" Aiza memperhatikan penampilannya, apakah ada yang salah pikir Aiza.


"Kamu terlalu cantik za..saya ga mau mata laki-laki lain melihat kamu secantik ini " ucap Arhan jujur.


"Ha..ha, seperti ini bapak bilang cantik?" dengan tertawa Aiza membalas ucapan Arhan.


"Ya..kamu cantik sekali hari ini " Arhan begitu mengagumi penampilan Aiza yang tidak seperti hari biasanya.


"Pak..pak,kasihan sekali nasib bapak tapi ya.. sudahlah memang saya maklumi lingkungan pertemanan bapak didominasi kaum Adam jadi saya faham maksud ucap bapak " Aiza masih dengan tawanya bertutur walaupun tidak seperti beberapa waktu lalu yang tertawa lepas.


Dan pemandangan seperti ini baru pertama kali Arhan lihat,Aiza biasanya hanya tertawa biasa saja tapi kali ini cukup membuat Arhan sedikit terkejut sebab Aiza tidak terlihat malu dia lebih jadi dirinya sendiri.


"Za..saya berkata jujur loh,kamu malah menertawakan saya " Arhan menunjukkan muka serius.


"Maaf pak..saya bukan menertawakan bapak cuma saya bingung aja dengan penilaian bapak soal penampilan saya yang menurut saya biasa aja tetap seperti biasa kok,lalu dari sisi mananya bapak bilang tidak seperti biasanya kan aneh menurut saya" Aiza kembali ingin tertawa tapi dia lebih dulu menutup mulutnya.


"Terus ya..za,tertawakan saya kamu puas ehm.." akhirnya Arhan menepikan mobilnya.


"Jujur za.. kamu cantik sekali hari ini " Arhan langsung memandang Aiza dengan intens yang membuat bulu kuduk Aiza berdiri karena takut Arhan bertindak lebih.


"Saya turun saja pak.." ucap Aiza gugup.


"Kok,turun ?" tanya Arhan dengan tatapan bingung.


"Saya takut bapak berbuat aneh-aneh sama saya " ucap Aiza dengan jujur.


"Ha..ha,za..za,saya hanya ingin mengambil sesuatu untuk kamu ini..dasar bocah,apa sih isi otak kamu ehm.. jangan-jangan kamu berpikir yang kotor-kotor ya..kan ?" Arhan tertawa dan memberi kantong besar yang Aiza tidak tahu isinya.


Wajar Aiza merasa sedikit takut akan apa yang akan Arhan lakukan pada dirinya,Arhan lelaki dewasa berduaan didalam mobil tapi Aiza masih berpikir positif sebab selama ini Arhan tidak pernah bersikap diluar batas kesopanan walaupun sesekali pernah memegang tangan Aiza itupun dalam keadaan wajar tidak lebih.

__ADS_1


__ADS_2