
Keduanya masih bersama di Cafe,Arhan merasakan dirinya nyaman berada bersama dengan Aiza walaupun susah sekali menaklukkan hati Aiza walaupun lewat candaan.
"Pacar kamu marah ga nih.. saya ajak kamu kesini " kini giliran Arhan yang bertanya Aiza.
"Jangan mengalihkan pembicaraan ya..pak, sudah jelas bapak yang punya seseorang kalau saya orang bebas jadi ga akan ada yang marah " dengan tersenyum Aiza menjelaskan kalau dirinya tidak memiliki siapapun dan tidak dimiliki siapapun.
"Saja juga sama orang bebas tidak dalam penjara karena tidak melanggar hukum"ucap Arhan yang melantur kemana-mana.
"Kalau bapak melanggar hukum saya juga takut dekat bapak...takut dikira komplotan" balas Aiza membuat Arhan tersenyum sendiri.
"Kenapa pak senyum-senyum..ada yang lucu" tanya Aiza serius.
"Ya.. kamu yang lucu sedari awal kedatangan kamu selalu membuat saya merasa senang,saya semakin malas untuk kembali ke tempat dinas" Arhan terlihat menekuk mukanya seperti tidak semangat.
"Bapak harus ingat.. sesuatu itu harus diniatkan untuk ibadah jadi tidak merasa terbebani" Aiza seperti memberikan semangat pada Arhan.
"Aiza, apakah kamu mau saya ajak ke tempat dinas ?" Arhan serius bertanya pada Aiza.
"Bapak..ini aneh,kenapa mengajak saya ke tempat dinas.. jelas-jelas bapak mau bertugas dan saya juga punya kehidupan disini..." Aiza membalas sesuai fakta.
"Sebaiknya bapak ajak saja pacar bapak,tapi dinikahi dulu ya..pak biar tidak kumpul kebo,takut dosa" sepertinya Aiza memberikan saran.
"Kalau pacar saya kamu gimana,kamu mau saya ajak ketempat dinas?" seandainya saja Aiza faham ucapan Arhan yang berkata sesungguhnya.
"Susah ya..kasih tahu bapak, kalau saya tidak mau disebut perebut pacar orang pak"Aiza sedikit menaikkan suaranya.
"Aiza..saya singel,saya bebas memilih dengan siapa pun dan saya mau kamu yang jadi pacar saya " Arhan berkata bersungguh-sungguh.
"Bukankah kita baru berteman..kenapa secepat itu berganti status pak,kalau boleh kasih saran kenali dulu baru bapak mengajukan proposal untuk naik status" Aiza menjelaskan pada Arhan seperti menerangkan presentasi di kelas.
Arhan ternyata salah mengira yang dia kira Aiza gadis lugu ternyata suhu, pandai menebak dan dengan mudah membalikkan pembicaraan.
Arhan kini dapat menilai kalau seorang Aiza tidak mudah untuk ditaklukkan hatinya dan dia bukan gadis gampangan,tapi dia gadis yang asyik dan berwawasan luas serta mandiri.
"Ternyata harus lewat jalur resmi ya.. untuk menjadi pacar kamu " ujar Arhan yang langsung to the poin,sebab melalui candaan responnya tidak sesuai harapan.
"Harus yang resmi pak..biar diakui negara" balas Aiza membuat Arhan tersenyum.
"Selalu ada saja jawaban dari kamu" membuat Arhan tidak berhenti tersenyum.
"Kalau saya diam saja dikira bapak bersama orang bisu" Arhan kembali tersenyum mendengar jawaban dari Aiza.
__ADS_1
"Oh..ya, gimana motor kamu baik-baik saja kan ?" tanya Arhan serius.
"Alhamdulillah baik pak.. buktinya saya sampai ke tempat ini,bareng Frengki yang menunggu di luar " Aiza menunjuk ke tempat parkir motor.
"Apa ? kamu kesini sama Frengki..kenapa tidak disuruh masuk ?" Arhan terlihat tidak suka begitu Aiza menyebut nama Frengki.
"Apa ga salah pak menyuruh Frengki masuk,kita bisa kena marah sama pemilik Cafe pak,sebab dia sudah disediakan tempat khusus diluar " Aiza menjelaskan pada Arhan.
"Siapa juga yang akan marah..kita semua disini patut dilayani dengan baik,cepat ajak Frengki masuk nanti dikira saya tidak sanggup membayar apa yang dia mau pesan" Arhan berniat berdiri untuk mencari nama yang Aiza maksud.
Aiza langsung faham kalau Arhan salah mengartikan nama Frengki yang dimaksud Aiza adalah nama motor bukan orang.
"Pak..mau kemana, mencari Frengki ya..? ga akan bisa ikut gabung bareng kita pak, sudah bapak duduk saja nanti pas kita mau pulang baru bapak pamitan sama dia, sekaligus Frengki berterimakasih sudah pernah ditolong" Aiza dengan tenangnya menjelaskan pada Arhan yang terlihat percaya sekaligus bingung.
"Seberapa dekat kamu dengan Frengki?" aura kesal sekaligus tidak suka terlihat di wajah Arhan.
"Sangat dekat sekali bahkan kita berbagi suka dan duka bersama " ingin rasanya Aiza menertawakan kebodohan Arhan yang seorang berilmu tinggi serta cakap dengan mudahnya bisa di kelabui Aiza.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu ada hubungan dekat dengan Frengki,saya tidak ingin ada salah faham dalam hal ini " Arhan langsung membayar apa yang sudah di pesannya walaupun belum setengahnya Arhan habiskan.
"Kita pulang " Arhan langsung mengajak Aiza keluar dari Cafe.
"Bapak akan langsung berangkat ke tempat dinas ?" tanya Aiza yang terlihat bingung dengan perubahan sikap Arhan yang berubah drastis, bahkan terlihat dingin tidak sehangat beberapa saat lalu.
"Mana motor mu...?" tanya Arhan yang menggendong tas besar seperti anak mapala yang akan naik gunung.
"Itu disana.." Aiza menunjukkan tempat dimana motornya berada.
"Lalu dimana keberadaan Frengki yang mengantar mu kesini ?" Arhan mencari keberadaan seseorang yang bernama Frengki,mata tajamnya memperhatikan setiap orang yang berjenis kelamin laki-laki tapi mereka tidak ada yang menghampiri Aiza sampai keduanya berada di tempat motor Aiza parkir.
"Frengki ga kemana-mana pak..dia mah setia iya..kan Frengki " Aiza mengusap jok motor Aiza dengan tersenyum.
"Kamu..jangan bilang kalau Frengki itu nama motor kamu " Arhan jujur ingin marah tapi tidak bisa sebab ada rasa lain lebih dominan tidak ingin menyakiti hati Aiza.
"Memang bapak kira Frengki itu siapa..ehm ?" tanya Aiza yang pandai sekali menahan tawanya, dengan pura-pura tidak bersalah sudah membuat Arhan kesal beberapa saat lalu.
"Cowok kamu atau teman lelaki yang mengantar kamu ke sini " Arhan terlihat malu dengan kebodohannya terlalu cepat menyimpulkan.
Aiza hanya bisa tersenyum padahal ingin dia tertawa lepas tapi akan membuat malu Arhan, sebab mengejek Arhan atas kebodohannya.
"Kenapa kamu kasih nama Frengki yang membuat saya berpikir tidak-tidak ?" Arhan penasaran.
__ADS_1
" Karena dia sering mengerjai saya,sebentar mogok sebentar kemudian bisa jalan lagi..ya sudah saya kasih nama Frengki saja sebab dia hobi sekali ngefrank tapi saya sayang sekali sama dia, sebab dia bukti nyata hasil kerja keras saya bisa beli dia walaupun dia hanya motor bekas" Aiza merasa bangga pada dirinya sendiri.
Arhan hanya diam mendengar penuturan Aiza ,ada rasa kagum sekaligus sedih mendengar Aiza bekerja untuk membeli sebuah motor, padahal wajar bila seorang anak meminta dibelikan motor sebagai fasilitas penunjang aktivitasnya pikir Arhan.
"Bapak sudah kenalan dan pernah juga dikerjain Frengki..kan, sekarang bapak paham dan ga ada salah paham lagi sama Frengki " Aiza menepuk-nepuk jok motor miliknya.
"Nama yang keren" balas Arhan yang tersenyum sudah salah paham dan berpikir tidak-tidak.
"Ok..pak,kita berpisah.. terimakasih sudah mentraktir saya minuman dan selamat berdinas kembali serta sampaikan salam kenal untuk calon pacar bapak" ucap Aiza pada Arhan.
"Rasanya tidak adil secepat ini kita berpisah, kamu menyampaikan salam pada calon pacar saya tidak salah, bukankah calon pacar saya itu kamu ? " Arhan memulai kembali mengikis jarak diantara keduanya.
"Sudahlah pak..bapak masih bisa cari yang lebih pantas untuk bapak, pokoknya saya tunggu kabar baiknya " Aiza sudah menyalahkan mesin motornya.
"Hey.. tunggu enak saja langsung pergi " Arhan memegang motor bagian belakang milik Aiza.
"Apa lagi pak.. terimakasih sudah, mendoakan agar bapak selamat sampai tujuan juga sudah,lalu apa lagi ?" Aiza seperti berpikir.
"Apa kamu tidak ingin memberikan peluk cium sama saya " goda Arhan dengan tersenyum jail.
"Permintaan bapak sudah diluar batas,sudah nanti bapak terlambat " tegur Aiza pada Arhan yang terlihat berat untuk berpisah.
"Apa kamu tidak merindukan saya setelah saya sampai disana ?" Arhan masih enggan untuk berpisah.
"Sudah pasti merindukan tapi sebatas teman ya..pak,pesan saya selalu jaga kesehatan dan keselamatan karena keluarga mengharapkan bapak selalu baik-baik saja selama berdinas" ucap Aiza yang mendoakan.
"Terimakasih untuk doanya calon pacar" ujar Arhan dengan terkekeh senang,masih dengan percaya diri mengakui kalau mereka memiliki hubungan kedekatan.
"Sudahlah pak,ijinkan saya pulang karena saya harus bersiap untuk kerja" pinta Aiza dengan memelas.
"Bagaimana kalau saya menikahi kamu secepatnya biar kamu tidak bekerja lagi" ucap Arhan secara langsung dan tiba-tiba.
"Pak..ini sudah siang jangan mimpi disiang bolong,sudah ah..bapak makin ngelantur kemana saja " Aiza merasa semakin aneh sikap Arhan padanya.
"Jangan marah nanti tambah cantik" Arhan menepuk pundak Aiza.
"Ya..sudah hati-hati dijalan kalau mogok kabari saya,teman saya akan membantu kamu..ingat jangan pulang malam sendiri dan satu lagi balas pesan dari saya karena saya menunggu balasan dari kamu" ucap Arhan seperti memerintah.
"Siap pak.. sebelumnya terimakasih,tapi saya ga mau menyusahkan teman bapak" balas Aiza.
"Bisa tidak sih menurut ini demi kebaikan kamu" Arhan sedikit menekan dengan alasan dia mengkhawatirkan Aiza.
__ADS_1
"Ya..pak iya.."akhirnya Aiza mengalah.
Pada akhirnya keduanya berpisah setelah perdebatan diantara keduanya yang tidak akan usia bila satu diantara keduanya tidak ada yang mau mengalah untuk berpamitan lebih dulu meninggalkan tempat pertemuan keduanya.