
Entah pesona apa yang dimiliki Aiza sehingga membuat Titi ingin menjodohkannya dengan Arzan seorang dokter yang dia paksa untuk mengobati Aiza pada kejadian kemarin padahal bukan kapasitas Arzan sebagai dokter spesialis bedah,yang seharusnya memberikan pertolongan dokter umum.
"Apalagi sih ti..?" tegur Arzan sudah bisa menebak kedatangan Titi yang tidak biasanya datang ke ruang prakteknya,bila tidak ada keperluan penting.
"Memang gue ga boleh ke tempat loe?" canda Titi dengan pura-pura masam.
"Siapa juga yang bisa melarang loe..calon pemilik rumah sakit besar ini" Arzan bicara panjang,tidak seperti biasanya hanya sebatas gumaman.
"Loe ga asyik Ar.." dengan santai Titi duduk di kursi yang biasanya untuk pasien berkonsultasi.
"Memang gue begini dari sononya.." balas Arzan yang sudah sangat lama berteman dengan Titi dan suaminya.
"Cantik ga Ar ?" tanya Titi to the poin tidak sabar.
"Loe ?" balas Arzan dengan datar.
"Mau loe di bunuh pak su..Aiza,Ar..bukan gue dasar nyebelin " sewot Titi dengan mendengus.
"Ya..cantik, namanya juga cewek masa ganteng " balas seadanya Arzan.
"Ar..bukan itu yang mau gue denger " sewot Titi lagi dengan membuang muka.
"Mau loe apa sih ti..udah langsung aja, biasanya juga langsung nyablak" Arzan yang kali ini tersenyum simpul melihat kekesalan Titi.
"Loe ga ada naksir tuh sama dia Ar ?" akhirnya Titi mengungkapkan isi hatinya.
"Dia terlalu muda buat gue Ti..,kasihan dianya dan gue sudah terlalu nyaman sendiri ti..ada prioritas lain yang ada dalam benak gue, putra semata wayang gue yang harus gue pikirkan masa depannya ti.." Titi dibuat diam dengan penuturan Arzan.
"Memang loe bakal selamanya sendiri, jamuran tau.." Titi semakin jail pada Arzan.
"Loe kira gue roti..jamuran" Arzan mendengus dengan tatapan dingin.
"Dasar kulkas empat pintu " umpat Titi sebelum meninggalkan ruangan Arzan.
"Ucap salam ti.." Arzan mengingatkan.
"Ok..akan gue sampein.." goda Titi yang membuat Arzan menepuk jidatnya.
Titi tahu buka itu maksud dari ucapan Arzan,salam itu dia keluar tanpa mengucapkan salam bukan salam untuk seseorang.
Sepeninggal Titi Arzan termenung, seperti mengingat kembali perpisahan dirinya dengan seseorang di masa lalunya yang masih menyimpan luka dalam,entah kapan luka itu akan sembuh.
"Sialan loe ti..." umpat Arzan akibat dari ulah Titi dirinya kembali mengingat masa kelam itu.
Senyum simpul Arzan tanpakkan tanpa sadar, seperti ada sesuatu yang membuat dirinya tersadar apa maksud dari sahabatnya untuk mendekatkan dirinya dengan orang baru apa lagi dia seumur dengan keponakannya.
"Ti..ti,gue tahu maksud loe baik" ucap Arzan seorang diri.
__ADS_1
🌻
🌻
Di kota lain terlihat seorang lelaki yang duduk menyendiri seperti menunggu balasan chat dari seseorang.
"Masih menunggu?" tegur Agam yang kebetulan ingin merokok.
"Sudah ada kabar,cuma ingin mendengar cerita dari tempat baru dia bekerja saja" balas Arhan dengan memandang jauh hamparan tanah lapang.
"Memang kau akan kuat menunggu sesuatu tanpa kepastian hem..?" Agam seperti ingin tahu.
"Mana ada yang tidak pasti..hanya menunggu waktu saja,kuat lah.. untuk seseorang yang sudah memikat hati" Arhan tidak ingin Aiza di remehkan.
"Hati awak tak sekuat hati kau.." balas Agam yang memang sudah bertunangan beberapa bulan lalu.
"Itu yang membedakan kau dengannya" Ari datang langsung memberikan komentar.
"Kau bikin awak terkejut saja" tegur Agam pada Ari.
"Beta tak ada maksud membuat kau terkejut" Ari mengelak ucapan Agam.
"Sudahlah..itu tak penting" pinta Arhan menengahi.
"Si Bayu sama Dadang kemana tak nampak batang hidungnya sejak pagi tadi ?" tanya Agam yang meminta penjelasan.
"Kemana saja kalian.. sepanjang hari ini menghilang?" tanya Agam yang terlihat tidak sabar.
"Membantu petugas kesehatan untuk memberikan vaksin pada anak-anak" ucap Dadang yang mencari sandaran untuk merebahkan tubuhnya.
"Alah..awak lihat,ada udang di balik rempeyek itu" dengan tertawa Agam berucap.
"Terserah kau lah..aku lelah" Bayu yang menjawab.
"Janganlah kau marah,hilang nanti wajah tampan kau" goda Agam lagi.
"Siapa juga yang mau memikat kau..aku masih normal" saut Bayu dengan suara malas.
"Lagian siapa juga yang mau modus disana,semua ibu-ibu yang membawa balita" Dadang ikut menambahkan.
"Itu tandanya keberuntungan belum berpihak pada kau" kini Ari ikut bicara.
"Sesuatu itu untuk ibadah bukan karena ada sesuatu bro..nanti ujung-ujungnya ga ikhlas" Arhan ikut menengahi.
"Ini yang benar..memang pangeran kodok berhati mulia,pasti yang disana juga setia..betul apa betul, pangeran kodok" goda Bayu dengan cekikikan.
"Awas ya..nanti aku balas bila tiba waktunya" Arhan melempar rumput kering ke arah Bayu.
__ADS_1
"Gimana udah ada kabar darinya ?" tanya Bayu berganti topik.
"Sudah cuma beberapa waktu lalu aku chat belum dia balas,aku harap dia baik-baik saja sebab perasaan ku ga enak" ucap Arhan memperlihatkan muka khawatir.
"Bukannya di kota itu ada mas mu Ar.." ujar Bayu memberikan sedikit pencerahan.
"Ya..ampun kok bisa aku lupa ya.. thanks" Arhan langsung mengaktifkan ponselnya.
"Kau lihat sendiri orang cerdas bisa terlihat bodoh karena bucin.." ucap Dadang dengan tertawa lepas.
"Ya..itu hebatnya cinta" ucap Bayu dengan suara lantang.
🍁
🍁
Berbeda dengan sosok yang mereka bahas terlihat sibuk dengan setumpuk dokumen diatas meja kerja yang dia tempati.
"Za..ada salam dari dokter Arzan" bisik Titi dengan menepuk pelan pundak Aiza.
"Ha..aku tidak mengenalnya loh Bu" dengan wajah bingungnya Aiza berucap pelan.
"Salam kenal kali" dengan tersenyum Titi mengusap punggung Aiza.
"Ucapan terimakasih aja Bu,sudah menolong kemarin" Aiza sadar dirinya hanya anak baru dan bukan orang penting disana.
"Hanya terimakasih saja za..?" goda Titi dengan menahan senyumnya.
"Memang seharusnya bagaimana Bu ?" Titi hanya bisa menahan senyumnya, terlihat sekali kepolosan Aiza dimata Titi.
"Ga,pengen kenal gitu?" sepertinya Titi sengaja mendekatkan keduanya.
"Saya sadar Bu..siapa saya " Aiza merendah sebagai anak baru tidak ingin berulah,sebab dalam akal cerdasnya tidak mungkin seorang dokter Arzan mau berkenalan dengan dirinya yang notabene anak baru yang tidak mengenal siapa-siapa disini.
"Dia baik loh za,saling kenal aja dulu" Tit masih berusaha menyakinkan.
"Untuk sekedar mengenal memang tidak ada salahnya sih Bu" Aiza merasa aneh kenapa seorang dokter Arzan ingin mengenalnya.
"Itu..baru benar, setidaknya kamu bisa banyak kenal orang disini za.." penjelasan Titi masuk akal tapi ada apa dengan dokter Arzan itu yang jadi pertanyaan besar yang Aiza ingin tahu jawabannya.
Aiza lebih memilih tersenyum dari pada membalas dengan ucapan karena bukan prioritasnya saat ini,dia ingin bekerja dengan baik saat ini karena peluang ini tidak datang dua kali pikir Aiza.
Disaat otaknya banyak memikirkan seorang dokter Arzan terbersit sosok yang sudah beberapa bulan tidak bersua secara langsung hanya bertukar kabar lewat chat dan via telepon untuk saling bertukar kabar.
'Sedang apa dirinya saat ini, semoga dalam keadaan baik dan dalam lingkunganNya' Aiza bertutur dengan hatinya untuk sosok yang berjuang mati-matian untuk menyakinkan kalau dirinya ingin menjadi sosok tempatnya bersandar.
'Apakah aku sudah ada rasa padanya ?' Aiza tersenyum simpul dengan pandangan fokus pada layar monitor didepannya,mengingat sosok yang selalu menghibur lewat candanya walaupun garing.
__ADS_1