
Apa yang Bisma ucapkan benar tidak lama beberapa mahasiswa sudah berdatangan dengan pakaian lapangan, terbilang cukup banyak juga peserta pelatihan kepemimpinan saat ini yang Bisma lihat.
"Untuk suruh peserta pelatihan bersiap di lapangan dalam hitungan satu..dua..ti.." perintah anggota TNI yang sudah mendapatkan mandat dari Bisma untuk menjadi penanggung jawab.
"Tunggu.." teriak seorang gadis yang berlari dengan napas tidak beraturan.
"Baru latihan saja sudah terlambat !.. cepat masuk barisan!" terdengar tegas di telinga gadis itu.
"Aiza...sini !" seorang gadis memanggil nama gadis yang masih mengatur napasnya.
"Ayo..masuk barisan,malah bengong" bentak salah satu anggota TNI yang lain berdiri di belakang gadis yang datang terlambat.
Gadis yang datang terlambat itu bernama lengkap Aiza Salamah yang langsung memasuk kedalam barisan masih mengatur napasnya.
'Ga sabaran benget sih..' Aiza hanya bisa mengomel pada dirinya sendiri.
"Kok telat dari mana aja loe ?" bisik Floren pada Aiza yang masih mengatur napasnya.
"Hey..kalian berdua malah asyik ngobrol,sini maju..!!" tegur anggota TNI dengan menunjuk kearah Aiza dan Floren
Aiza hanya bisa menarik napasnya panjang karena sudah pasti akan kena hukuman.
"Ayo.." ajak Floren pada Aiza yang hanya bisa pasrah dengan malas dia melangkah ke depan barisan.
"Apa yang kalian berdua omongin, sekarang ulangi tapi jangan pakai bisik-bisik..ayo !!" perintah anggota TNI yang berkulit sawo matang.
"Ai..loe aja yang ngomong " ucap pelan Floren dengan tertunduk.
"Gue harus ngomong apa,sebab gue ga ngomong apa-apa Flo " Aiza bingung harus berkata apa sebenarnya Floren yang bicara.
"Hey..apa kalian tidak dengar apa perintahnya,jangan berbisik !!" tegur lelaki yang lain dengan suara lebih lantang membuat Floren terkejut sampai keluar kata-kata yang tidak seharusnya terucap bila terkejut karena Floren punya kebiasaan latah.
"Kodok lompat..! eee..kodok lompat " ucap Floren yang langsung menutup mulutnya.
"Mana kodoknya..!" ucap anggota TNI lain yang berusaha menahan tawa.
"Itu..loncat " Floren asal tunjuk.
"Bisa tangkap kodoknya ?" tanya anggota TNI yang lain makin jail.
"Ga bisa.." balas Floren dengan suara manja.
"Kembali ke barisan..!" akhirnya Aiza dan Floren kembali kedalam barisan.
"Ingat jangan ulangi lagi.." pinta anggota TNI yang menjadi pemimpin.
"Iya..jangan ulangi lagi !" Floren kembali mengeluarkan kebiasaan latahnya.
"Sudah diam.." anggota TNI kembali mengingatkan Floren.
__ADS_1
Floren menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sebenarnya semua orang yang ada di lapangan ingin tertawa kecuali Aiza yang merasa iba dengan kebiasaan Floren.
Lebih dari dua jam semua mahasiswa yang mengikuti pelatihan melakukan kegiatan baris-berbaris mengikuti instruksi.
"Gila..baru awal saja kita sudah di bikin capek" gerutu salah satu lelaki yang ikut pelatihan.
"Tapi loe mau ?" balas temannya dengan menepuk pundak lawan bicaranya.
"Gue suka tantangan" balasnya dengan tersenyum kecil.
"Dasar.. kampret" dengan malas kawan bicaranya kembali menimpuk dengan rumput yang baru saja dicabutnya.
Berbeda dengan Aiza dan Floren yang menikmati air mineral dari botol plastik yang di belinya dijalan sebelum ke tempat pelatihan.
"Loe masih berhutang penjelasan sama gue..kenapa loe telat Aiza Salamah?" Floren akan memanggil nama Aiza dengan lengkap bila meminta sesuatu yang Aiza sendiri belum memberikannya.
"Sabar Oyen.." panggilan sayang untuk Floren dari Aiza dan salah satu teman satunya lagi yang kebetulan tidak ikut dalam pelatihan ini, Arsyila dia sangat pemalu dan takut berhadapan dengan orang banyak.
"Apa loe seperti biasa dapat omelan lagi dari nenek sihir dan princess abal-abal yang tidak tahu terimakasih itu !" Floren terlihat kesal menyebutkan nama dua orang yang selalu menyiksa Aiza.
"Jangan suka su'udzon ga baik Yen..,nanti tensi loe naik " Aiza seperti mengingatkan Floren.
"Lagian loe betah banget sih..kalau loe ga mau tinggal di rumah gue loe bisa tinggal disalah satu kontrakan milik ortu gue,loe ga pernah turutin omongan gue sih..nyokap gue sudah menganggap loe keluarga Aiza.." Floren berkata seperti seorang ibu memarahi anaknya.
"Gue terimakasih untuk kebaikan loe dan keluarga tapi..itu rumah gue masa gue yang harus keluar,loe aneh..Yen " Aiza terlihat santai menjelaskan.
"Sudahlah cepat habiskan minuman loe..nanti telat kena omel lagi "Aiza mengingatkan Floren.
"Lah..kok gue sih,loe yang telat " dengan cemberut Floren membalikkan kata.
"He..he,ya maaf "balas Aiza dengan tersenyum manis tanpa bersalah.
Aiza seorang gadis yang pandai dia bisa kuliah melalui jalur beasiswa karena di sudah tidak memiliki orang tua, dengan fisik yang bisa di sebut ideal dengan kulit kuning langsat dan wajah cantik khas campuran Indonesia-Turki.
"Ayo.."pinta Floren yang setengah berlari begitu mendengar perintah untuk berkumpul.
"Sebentar Yen..perut gue sakit" Aiza memegang perutnya dengan berjalan pelan.
Dan benar saja Aiza kembali datang kelapangan dengan terlambat dengan keringat yang membasahi pelipisnya.
"Kamu lagi, kamu lagi..apa tidak bisa mendengar apa perintah untuk semua anggota pelatihan untuk berkumpul di lapangan " tegur anggota TNI dengan suara tegas.
Aiza hanya bisa diam tanpa membantah, memang Aiza sudah terbiasa dengan bentakan dan suara keras seperti memaki walaupun dirinya tidak melakukan kesalahan.
"Ada apa ?" Bisma langsung memperhatikan dari ujung kepala sampai kaki Aiza yang dalam posisi bersiap dan pandangan mata ke depan fokus hanya saja keringat yang tidak berhenti bercucuran dari pelipisnya,bisa diartikan dirinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Komando saya ambil alih..biar dia jadi urusan saya " perintah Bisma yang sepertinya tahu kondisi Aiza.
Bisma memanggil Arhan dengan bahasa tubuhnya dengan melambaikan tangannya meminta Arhan menghampiri dirinya.
__ADS_1
"Siap dan..ada yang bisa saya bantu?" tanya Arhan dengan tegas.
"Bisa kau gantikan aku.. sepertinya dia dalam keadaan tidak baik-baik saja " Bisma menunjukkan pada Arhan dengan ujung matanya kearah Aiza.
"Kau..?!!" ucap spontan Arhan yang membuat terkejut Aiza dan Bisma secara bersamaan.
"Bapak.."ucap Aiza dengan menahan sakit perutnya.
"Kalian berdua saling mengenal ?" tanya Bisma dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Tidak " balas keduanya bersamaan.
"Waduh..kok bisa kompak ya.." goda Bisma dengan tersenyum jail.
"Ar..coba kau tanya apa dia baik-baik saja ?" Bisma merasakan Aiza semakin lemah tapi gadis itu bisa menutupi rasa sakit itu.
"You ok..?" tanya Arhan setengah berbisik.
"Ih..bapak,jangan macam-macam ya.." spontan Aiza mendorong Arhan dengan sekuat tenaganya.
Beruntung Arhan yang memiliki tubuh proporsional dan sudah terlatih,dorongan dari Aiza tidak menyebabkan dirinya bergeser dari tempatnya.
"Siapa juga yang mau macam-macam bocah..kecil " protes Arhan dengan suara pelan tidak ingin dirinya dan Aiza di permalukan.
"Lihat keringat yang membasahi wajah mu..,apa yang kau rasakan ehm..masih berusaha mengelak ?" Arhan menahan tawa sebab Aiza tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya.
"Mari saya bantu.." Arhan mengajak Aiza meninggalkan lapangan menuju tempat yang lebih teduh.
"Apa yang kau rasakan..mana yang sakit ?" Arhan berusaha bertanya dengan baik-baik.
"Bisa tidak bapak tidak banyak bertanya,sebab akan sedikit lebih baik bila bapak membiarkan saya sendiri dan bapak cukup diam melihat" pinta Aiza dengan meringis menahan sakit.
"Ok..tapi setidaknya apa ada yang bisa saya bantu?" Arhan melihat Aiza semakin pucat dan keringat dingin makin membasah wajah Aiza yang terlihat menahan sakit.
"Saya tidak perlu apa pun.." Aiza menekan perutnya yang sakit semakin menjadi.
"Apa sakit mu disebabkan oleh masa periode mu yang datang?" tebak Arhan asal.
Aiza hanya bisa mengangguk tanpa berkata-kata, karena semakin dia banyak bicara semakin tidak nyaman yang dia rasakan.
"Maaf..kenapa tidak seharusnya kamu tidak meminta ijin saja untuk tidak datang ke tempat pelatihan ini " Arhan memberikan saran.
"Sayangnya ini pelatihan pertama saya bapak" dengan menahan sakit Aiza menjawab.
"Apa yang biasa kamu minum untuk meredakan rasa sakitnya " Arhan bertanya pada Aiza setidaknya dia bisa melakukan sesuatu hal dari pada hanya melihat Aiza yang sesekali meringis.
Arhan hanya iba sebab Aiza seumuran dengan Cila keponakannya yang Arhan perhatikan.
Awas..Arhan awalnya kasihan lalu..
__ADS_1