Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
27


__ADS_3

Pagi ini Arhan tidak semangat seperti pagi kemarin karena dia tidak ada janji untuk bertemu dengan Aiza yang masih belum bisa menerima permintaannya untuk di jadikan pasangan hidup.


"Kenapa ehm.. pagi-pagi kok ngelamun?" tanya Erina yang melihat Arhan duduk sendiri di meja makan.


"Bunda.. bikin kaget aja " Arhan memilih menikmati secangkir kopi hangat dari pada membalas pertanyaan Erina.


"Apa yang membuat kamu melamun?" tanya Erina lagi yang duduk disamping Arhan.


"Bun.. gimana sih, caranya menyakinkan perempuan untuk mau diajak nikah ?" Arhan langsung pada topik saja tanpa basa-basi.


"Kamu mau ngelamar anak gadis orang ?" tanya Erina dengan muka bahagia yang tidak bisa dia sembunyikan.


"Anaknya siapa,anak mana..dimana rumahnya ?" cecar Erina dengan penasaran dan bahagia.


"Bun..bisa ga satu-satu nanyanya ?" dengan tersenyum kecut Arhan meminta pada Erina.


"Kamu ga tahu apa,bunda senang banget dengernya kamu ingin melamar anak gadis orang " ujar Erina yang tidak mau Arhan berlama-lama menjelaskan tentang gadis yang disukai putranya.


"Ehm.. anaknya seumuran dengan Cila Bun,tapi dia dewasa, mandiri dan sudah tidak mempunyai orang tua.." Arhan sedikit memberi gambaran pada Erina.


"Bunda ga masalah asalkan,dia anak baik-baik dan dari keluarga baik-baik,untuk , selebihnya kamu yang akan menjalani" Erina cukup paham pada Arhan yang tidak akan asal dalam memilih pasangan pasti dengan pertimbangan apalagi ada trauma masa lalu yang menyakitkan dalam diri Arhan.


"Tapi dia dari keluarga biasa-biasa saja Bun..apa bunda tidak masalah nanti kedepannya karena perbedaan status " arahan hanya ingin mengetahui pendapat Erina.


"Memang selama ini bunda pernah melihat status mantan pacar kamu dan manta menantu bunda.. mereka yang sudah mengecewakan bukan bunda,apa kamu masih kurang paham dalam hal ini" balas Erina sedikit sewot karena Arhan membahas status yang tidak pernah melihat seseorang dari status asalkan dari keluarga baik-baik saja tidak jadi masalah.


"Maaf Bun..sudah bikin bunda kecewa " Arhan merasa kembali membuka luka lama di hati Erina.


"Kenapa kamu yang minta maaf Han..kamu ga salah mereka yang sudah menyalah gunakan kepercayaan kita,bunda harap kamu mendapatkan yang lebih baik lagi" Erina memberikan semangat pada Arhan yang memeluk tubuh wanita yang sangat di cintai tanpa ada balasan.


"Amin..mohon doakan aku Bun.." ucap Arhan mencium punggung tangan Erina berulang kali.


"Tanpa kalian minta bunda selalu mendoakan untuk kebahagiaan kalian.." Erina menguap lembut kepala Arhan.


"Apa dia cantik ?" tanya Erina penasaran sebab dia tahu Arhan sangat tidak mudah untuk jatuh cinta pada seorang wanita hanya melihat dari sisi bentuk fisik saja.


"Cantik Bun..cuma dia tidak memperhatikan kecantikannya sebab dia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seorang diri " Arhan kembali membuka identitas gadis yang mengusik hari-harinya.

__ADS_1


"Aduh.. kasihan bener calon mantu bunda, cepat kenalkan sama bunda biar secepatnya jadi anak bunda " pinta Erina dengan mata berkaca-kaca karena merasa iba sekaligus prihatin mendengar penuturan Arhan.


"Jadi benar bunda ga permasalahan soal status dan keadaan dia saat ini " Arhan kembali meminta kepastian dari Erina.


"Sudah..bosan jadi anak bunda ya,kamu jadi bawel sih..bunda akan terima dengan kedua tangan bunda untuk menyambut dia datang ke rumah ini,puas kamu ehm.." Erina merentangkan kedua tangannya memberikan keyakinan pada Arhan kalau dia akan menerima seperti apapun keadaan calon menantunya nanti.


"Terimakasih bunda sayang..aku makin sayang sama bunda " ucap Arhan yang mendaratkan ciuman di kedua pipi Erina.


"Oh..jadi kalau bunda tidak terima dengan baik kamu ga sayang bunda gitu..kurang asem kamu Arhan" Erina menjewer telinga Arhan yang membuat Arhan memekik minta tolong agar telinganya di lepaskan dari jeweran tangan Erina.


"Ada apa sih..anak udah gede kok masih di jewer Bun.." Arief yang baru datang mengomentari.


"Anak mu itu ga tahu terimakasih sudah di besarkan dengan baik malah ngelunjak" omel Erina pada putranya.


"Han.. kenapa sih,kamu ?" Arief bertanya pada putranya yang terlihat merasa bersalah.


"Maaf Bun.. bercanda" balas Arhan yang memeluk Erina dengan kasih sayang.


"Cie..cie,yang lagi mengambil hati eyang uti.." goda Arzu yang sebenarnya hanya menebak-nebak.


"Tahu apa anak kecil " Arhan membalas ucapan Arzu.


"Sepertinya ayah ketinggalan berita besar di rumah ini " Arief merasa penasaran.


"Tenang yang.., Eyang pasti akan bertemu, sebab om sudah ga sabar pengen nikah " Arzu langsung mendapatkan lemparan kain lap yang ada di meja makan.


"Sok tahu.." Arhan kembali membatah ucapan Arzu.


"Serius nih..ga pengen cepat nikah ?" goda Erina pada putranya yang kini salah tingkah.


"Ga, gitu Bun.." Arhan menggaruk tengkuknya dengan tersenyum malu-malu.


"Om..mau nikah,ya.. padahal aku mau kenalkan om dengan teman baik ku " Arsyila terlihat kecewa setelah mendengar Arhan akan memperkenalkan seseorang pada keluarga besarnya.


"Telat mba.." ucap Arzu semakin membuat Arsyila kecewa yang dalam.


"Ayo..kita lihat calon dari siapa yang cocok untuk om " Arzu mengutarakan permintaan pada Arsyila dan Arhan.

__ADS_1


"Aku pastikan teman ku yang cocok dan pas untuk om.., pilihan om lewat ga akan sesuai dengan kriteria pilihan aku.. pasti perempuan itu menyebalkan walaupun cantik " Arsyila memberikan ultimatum pada keluarganya.


"Sayangnya om, yang mau nikah itu om bukan ayah kamu kok kamu yang menentukan kriteria sih..ga bener ini " Arhan memprotes tindakan keponakannya.


"Sebentar aku mau,dia jadi bunda aku.. berhubung om belum menikah jadi om terlebih dahulu untuk ayah nanti aku cari yang lain "Arsyila menjelaskan maksud permintaannya yang membuat Arslan mengerutkan keningnya seperti berpikir.


"Memang kamu mau punya bunda baru ?" tanya Erina dengan muka penasaran.


"Mau eyang asalkan aku yang carikan,dia harus baik dan tidak meninggalkan ayah lagi " ucap Arsyila dengan tersenyum bahagia.


"Ya..sudah teman kamu saja untuk ayah Cila " ucap Arief pada Arsyila.


"Ga,yang.. untuk ayah sepertinya tidak cocok terlihat anak dan ayah tapi kalau sama om seperti keponakan dan omnya" Arsyila tersenyum terlihat gigi rapihnya.


"Itu sih sama aja dong" balas Erina dengan muka masam.


"Maksudnya ga gitu eyang,dia cocok sama om yang keras akan mudah bikin om jadi lembut"ucap Cila dengan tertawa.


"Eh.. kok keras kepala sih,darimana omongan seperti itu cantik ?" Arhan menunggu klarifikasi dari Cila.


"Bukankah selama ini om suka melakukan sesuatu sesuai keinginan om..tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu,ehm.." Cila dengan bertolak pinggang menghadap Arhan yang hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku Cila yang membuat seisi rumah tertawa.


"Oh..jadi sikap om seperti itu kamu sebut keras kepala " balas Arhan dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Iya..terus apa lagi namanya ?" tanya polos Cila membuat Arslan mengerutkan keningnya, karena tidak biasanya putrinya cerewet.


"Sepertinya kamu cepat cari pendamping,putri mu butuh figur seorang ibu untuk jadi teman " bisik Erina pada Arslan yang hanya diam seperti berpikir.


"Apa bunda tahu siapa teman Cila ?" tanya Arslan pada akhirnya buka suara.


"Bunda ga pernah perhatikan satu persatu teman putri mu sebab kalau main cuma sebentar lebih sering pas bunda ga ada di rumah, itu pun tahu dari mba Marni yang bilang kalau tadi ada teman Cila main " Erina menjelaskan yang Arslan tanyakan pada dirinya.


"Emm.. apa kamu juga penasaran dengan teman Cila ?" Erina hanya sekedar bertanya tanpa ada maksud lain.


"Kok, bunda bertanya seperti itu ?" Arslan seperti mencurigai Erina.


"Sebab tidak seperti biasanya kamu bertanya dengan siapa putri mu berteman?" balas Erina dengan senyuman penuh misteri.

__ADS_1


"Bunda bisa saja " dengan malu Arslan membalas.


Erina seorang ibu yang dapat merasakan bagaimana ketiga putranya merasakan di kecewakan oleh pasangan masing-masing yang membuat rasa enggan untuk memulai kembali menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis untuk mendapatkan kembali rasa percaya pada pasangan karena rasa sakit itu begitu membekas dalam hati.


__ADS_2