Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh

Bukan Pangeran Kodok Mencari Jodoh
38


__ADS_3

Jujur Arhan masih belum bisa menyatakan dalam hatinya kalau dirinya sudah diterima oleh gadis idamannya, karena belum ada kepastian pernyataan kalau gadis itu menerima hanya memberi pernyataan dirinya masih belum siap untuk menjalani hubungan serius saat ini.


Mungkin lebih tepatnya menggantung sebab Aiza tidak menolak tapi belum juga menerima sepenuhnya pernyataan resmi dari Arhan.


"Sok jual mahal, sebenarnya dia tuh mau apa jangan-jangan mempermainkan kamu saja" sewot salah satu rekan dinas Arhan yang tidak begitu dekat dengan Arhan, mendengar penjelasan Arhan yang kebetulan berbagi cerita.


"Ga,gitu bang ceritanya " sanggah Bayu yang banyak tahu langsung dari Arhan.


"Intinya semua perempuan itu sama !!" ujarnya dengan muka masam.


"Lah.. kenapa dia yang sewot" gerutu Bayu dengan suara pelan.


"Mungkin lagi mode garang " ujar Agam dengan menyembunyikan senyum mengejek.


"Hus..jangan kau bangunkan singa tidur" kini giliran Ari menegur dengan senyuman tidak kalah mengejek.


"Alah,apa bedahnya dengan loe bro" cibir Dadang yang menepuk pundak Ari.


"Sudahlah,mungkin gue butuh tidur bro.. kali aja mimpi indah " ucap Arhan yang meninggalkan tempat tongkrongan.


"Betul itu,awak juga setuju " Agam mengekor di belakang Arhan.


"Kau memang paling pandai memancing di air keruh sobat"sindir Ari dengan bahasa perumpamaan.


"Bahasa loe bro..sudah mewakili pujangga saja" Bayu tertawa kecil.


"Itu teman loe bro" ujar Dadang.


"Lah..bukannya dia juga teman loe" balas Bayu dengan melempar bungkus rokok kosong.


Arhan saat ini sudah kembali ke tempat dinas tanpa bisa berlama-lama sebab dia sadar siapa dirinya yang bukan seperti ayah dan kakak pertamanya yang seorang pengusaha bisa dengan mudah menyerahkan tugas pada asistennya bila ada kepentingan lain.


🌹


🌹


🌹


Seperti tidak terjadi sesuatu pada beberapa waktu yang lalu,Aiza menjalani hari-hari seperti biasanya bahkan dia lebih sibuk mengerjakan proposal sebagai tugas akhir kuliahnya yang butuh sedikit perbaikan setelah dinyatakan lulus oleh dosen pembimbing.


"Jujur gue angkat empat jempol untuk loe za" ucap Floren pada Aiza yang baru saja keluar dari ruangan dosen.

__ADS_1


"Biasa aja kali,ada yang lebih dari gue yen.." Aiza seperti biasanya merendahkan diri.


"Kalau gue ga salah lihat,ehm..sepertinya ada yang loe sembunyikan dari kita,jujur aja sih tante kecil sama kita " desak Arsyila pada Aiza.


"Apa sih,ga ada " ujar Aiza dengan bersikap biasa saja.


"Apa keluarga nenek sihir itu makin berulah ?" dengan muka masam Floren bertanya.


"Itu sudah biasa,bagi gue itu sudah tidak penting lagi " dengan melepaskan napas perlahan Aiza bertutur.


"Lalu apa ?" Aiza di buat bingung dengan Arsyila yang selalu tahu apa rencana dalam otak Aiza.


"Lalu apa ?" balas Aiza membalikkan pertanyaan pada Arsyila.


"Udahlah gue tahu loe,tante" goda Arsyila dengan tersenyum manis.


"Dasar bocah" balas Aiza dengan mengusap lembut kepala Arsyila.


"Gue perhatiin ehm..sepertinya makin cocok aja loe sama bocah pemalu ini seperti keponakan dan tante gitu" goda Floren dengan muka seperti berpikir.


"Benarkan gue bilang,gue emang cocok jadi keponakannya" balas Arsyila dengan semakin erat memeluk Aiza.


"Memang salah dengan permintaan gue,om gue cakep loh cocok dengan loe za" Arsyila dengan tegas mengakui kecocokan Aiza dengan Arhan selaku omnya.


"Sudah-sudah,Aminin aja dulu untuk sesuatu yang baik itu " kali ini Floren satu pendapat dengan Arsyila.


"Kalian ini" Aiza hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Ayo..lah,apa rencana loe ?" tanya Arsyila lagi yang masih penasaran.


"Ehm..ada lowongan kerja disalah satu rumah sakit besar di luar kota dengan gaji ya..cukup terbilang besar dan sesuai dengan ilmu gue,atas rekomendasi salah dosen yang percaya sama gue dan gue menerima permintaan dosen itu,bisa jadi gue ga akan ikut wisuda bareng kalian" Aiza dengan panjang lebar menjelaskan.


"Jujur gue ikut bahagia tapi di lain sisi gue sedih harus kehilangan loe, apalagi di momen bahagia nanti loe ga ada" terlihat kesedihan dimuka Floren.


"Ya.. kenapa harus ke kota lain sih,bisakan nanti perginya ?" pinta Arsyila yang sebenarnya dia juga bahagia melihat Aiza bahagia.


"Seperti tidak bisa ini kesempatan langkah dan tidak akan datang dua kali pada gue,ehm..kita masih bisa tukar kabar kok" jujur Aiza juga sedih tapi dia pandai menyembunyikan itu.


"Pasti ga asyik kalau ga ada loe" rengek Arsyila dengan memeluk satu tangan Aiza.


"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan,ambil sisi baiknya saja dan satu hal kita akan kembali di pertemukan pada waktu yang tepat" Aiza akan selalu bisa menenangkan hati orang lain.

__ADS_1


"Ih..gue jadi makin sedih jadinya" Arsyila mengusap lembut ujung matanya seperti dia sudah tidak kuat membendung air matanya.


"Loe jangan nangis bikin gue jadi ikut mewek" ucap Floren yang langsung membalikkan tubuhnya tidak mau memperlihatkan kesedihannya.


"Kalian itu..gue masih disini ga kemana-mana tapi udah mewek aja,ga asyik tahu" goda Aiza dengan tertawa kecil.


"Loe yang udah bikin kita mewek" Arsyila menggoyang tangan Aiza sebagai bentuk protes.


Aiza hanya tertawa padahal dia juga merasa sedih yang mendalam akan meninggalkan dua orang yang baik pada dirinya tapi kehidupan harus terus berputar dan dia sadar siapa lagi yang akan mengubah nasibnya bila bukan dirinya sendiri.


"Apa yang bisa gue bantu untuk kalian berdua sebelum gue mempersiapkan keberangkatan gue" Aiza sadar dia harus melakukan sesuatu untuk memberikan kesan baik pada keduanya.


"Ini yang gue suka dari loe..bantuin gue untuk mempermudah proses mendapatkan persetujuan pengajuan proposal ke dosen ya..ya" pinta Floren dengan mengedipkan matanya.


"Ya..ya,siap gue dengan senang hati membantu" senyum Aiza tampakkan.


"Oyen doang gue ga ?" pinta Arsyila dengan muka memelas.


"Apa sih, yang ga buat loe..24 jam waktu gue untuk kalian berdua" ucap Aiza yang langsung membuat kedua orang gadis disampingnya memeluk tanpa memberikan kode membuat Aiza sesak napas karena terhimpit.


"Kalian berdua mau membunuhku" ucap Aiza dengan suara tercekal.


"He..he,maaf " balas keduanya bersamaan.


"Bahagia boleh tapi ga bunuh orang juga" ucap Aiza dengan mengatur napasnya.


"Kita-kita kelewat bahagia sis.." Floren menjelaskan apa yang dirasakannya.


Kesedihan itu seakan menyuap begitu saja,kini yang terdengar canda tawa dari ketiganya yang membuat mahasiswa lain bertanya-tanya dalam benak mereka apa yang membuat mereka begitu bahagia hari ini.


"Sepertinya kita bahagia banget ya.." ucap Arsyila yang bersikap tidak biasanya.


"Alah.. perduli amat sih, pokoknya hari ini kita bahagia" Floren kembali tertawa kecil.


"Udah perut gue sakit " pinta Aiza dengan memegang perutnya.


"Lagian sebenarnya apa sih yang kita tertawakan sampai puas seperti ini" mereka sendiri bingung apa yang menyebabkan mereka bisa tertawa lepas seperti ini.


"Entahlah" mereka kembali tertawa.


Kebahagiaan mereka mungkin tidak seperti kebahagiaan yang lain,hanya dengan bisa bersama berbagi cerita sudah lebih dari cukup bagi mereka yang menyatakan pertemanan tapi ada embel-embel lainnya.

__ADS_1


__ADS_2