
Semalam Arhan susah memejamkan matanya,bayangan gadis itu bermain di pelupuk matanya seakan tidak ingin pergi.
Selepas sholat subuh Arhan berniat merebahkan tubuhnya yang terasa lemas begitu juga dengan kantuk yang berat dia rasakan, terdengar dering ponsel miliknya dengan malas Arhan meraih ponsel miliknya.
"Ehm..hallo,pagi.." ucap Arhan yang tidak memeriksa terlebih dahulu siap yang menghubunginya.
"......." suara diseberang sana.
"Siap dan.." dengan tegas Arhan menjawab perintah dari seseorang yang sudah bisa dipastikan komandan pasukan dimana dia ditugaskan.
"...."
"Siap laksanakan dan.." balas Arhan sebelum menutup ponselnya.
Arhan menghela napas panjang,yang jelas hanya Arhan yang tahu apa yang menyebabkan dirinya menarik napas panjang.
Rasa kantuk itu seakan lenyap seiring Arhan menjawab panggilan telpon dari komandan pasukan dimana dirinya di tugaskan.
"Apa aku mulai menyukai gadis itu..?" Arhan berdialog dengan dirinya sendiri sampai terdengar ketukan pintu kamar miliknya.
"Om..mau sarapan pagi bersama ga sih..dari tadi kami menunggu" pintu kamar Arhan terbuka nampak dengan jelas wajah cemberut Cila menegur Arhan.
"Maaf.. kesayangan om,baru aja om mau turun jangan marah nanti hilang cantiknya" Arhan mencubit salah satu pipi Arsyila.
"Papa..om cubit pipi Cila.." teriak Cila yang keluar dari kamar Arhan dengan berlari kecil menuruni tangga.
"Aduh..aduh,jangan lari sayang " teriak bunda Erina mengkhawatirkan cucunya.
"Arhan..bisa ga sih ga bikin cucu ku tidak menangis " tegur ayah Arief yang sangat menyayangi Cila.
"Maaf..aku hanya menggodanya saja " Arhan dengan cengar-cengir menjawab.
"Kelakuan kamu ga pernah berubah " tegur Arief lagi yang membuat Arhan tertunduk.
Arhan memang paling usil diantara saudara-saudaranya di tambah dirinya paling kecil saat itu jadi selalu mendapatkan pembelaan.
"Eyang kapan kita sarapannya..?" Arzu tidak berani mendahului yang lebih tua.
"Maaf eyang sampai lupa " Arief meminta istrinya mengambil makanan untuknya.
Mereka sarapan dengan hikmat tanpa bicara dalam keadaan makan, walaupun menu rumahan tapi mereka begitu menikmati dengan penuh rasa syukur.
Sepertinya biasanya Arhan membantu bunda Erina merapikan meja bekas sarapan pagi dibantu Cila yang sudah berpakaian rapi.
"Mau kuliah?" tanya Arhan yang merapikan piring kedalam rak.
"Iya..mau ikut ?" goda Cila yang pasti tidak mungkin ada apa Arhan harus datang ke kampus.
"Boleh..?" ucap Arhan serius membuat Cila terbelalak kaget, tidak percaya ada apa dengan omnya pikir Cila harus datang ke kampusnya.
__ADS_1
"Jangan bilang om mau yang aneh-aneh ya..Cila ga mau dibuat malu ya,om " protes Cila yang tidak berdasar.
"Anaknya siapa sih, percaya diri sekali.. sayangnya keponakan ku kalau bukan sudah ehm.." Arhan seperti gemas pada Cila.
"Wajar dong,Cila curiga sebab om suka yang aneh-aneh " Arsyila masih dengan alibinya.
"Dengar ya.. cantik,om hanya mau ketemu dengan dosen yang bernama Himawan,dia dosen yang bertanggungjawab untuk kegiatan pelatihan mahasiswa kemarin.." Arhan menjelaskan, memang Arhan diminta bertamu dengan dosen itu sesuai permintaan Bisma yang kebetulan tidak bisa datang karena ada pertemuan ditempat lain.
"Oh.." jawab Cila singkat padat.
"Cuma oh.. doang,tadi marah-marah " goda Arhan pada keponakannya.
"Habis om nyebelin " Arhan hanya bisa tersenyum mendengar Cila merajuk.
"Tapi sayangkan sama om.." pinta Arhan pada Cila yang berniat ke kamarnya.
"Ga.." dengan cemberut Cila meninggalkan Arhan yang membalas sebaiknya,dia tertawa dengan jawaban singkat Cila.
Pada akhirnya Cila berangkat ke kampus bersama Arhan yang sudah berpenampilan rapi terlihat berkharisma walaupun tidak dengan pakaian dinasnya.
"Cila..nanti antar om ya,dimana ruangan pak Himawan". pinta Arhan sebelum turun dari mobil.
"Ga..deh om,cari sendiri aja om bila perlu bertanya pada mahasiswa yang lain " tolak Cila yang memiliki sifat pemalu.
"Bukankah kamu juga mahasiswa sini..wajar dong bila om meminta bantuan kamu, apalagi cuma kamu yang om kenal disini " seperti biasanya Arhan selalu memaksa pada Cila.
"Ga.. ikhlas nih " Arhan menunjukkan sikap biasa saja padahal ingin melihat seberapa beraninya Cila berjalan di depan umum dengan dirinya,sebab selama ini Cila hanya mau diantar Arzu kemana pun.
"Iya..iya,om Cila ikhlas untuk om tapi kali ini aja ok.." muka Cila seperti menahan malu padahal belum juga keluar dari dalam mobil.
'Ku harap lelaki yang akan mendampingi mu lelaki yang terbaik dan sangat menyayangi mu Cila ' Arhan mendoakan Cila yang masih polos padahal usia Cila sudah memasuki 20 tahun.
🍁
🍁
Kedua insan berlawanan jenis dengan usia yang terpaut jauh berjalan beriringan hanya saja Cila lebih menundukkan kepalanya berbeda dengan Arhan yang menatap lurus ke depan.
Banyak pasang mata memandang keduanya dengan banyak pertanyaan di benaknya tapi mereka tidak berani bertanya hanya berbisik atau berucap dengan suara pelan bahkan nyaris tak terdengar.
"Om..ketuk saja pintunya,ini ruangan pak Himawan" Arsyila menjelaskan pada Arhan yang membalasnya dengan mengusap lembut kepala Arsyila dengan tersenyum penuh kasih sayang.
"Terimakasih sayangnya om.. terimakasih sudah mau membantu menunjukkan ruangan pak Himawan" ucap Arhan walaupun yang didapat penolakan dari Arsyila mungkin karena malu di perhatikan beberapa mahasiswa lain yang kebetulan melewatinya.
"Udah ya..om,aku ke kelas dulu dah om.." ucap Cila yang terlebih dahulu mencium tangan Arhan sebelum meninggalkannya.
"Ya.. hati-hati" Arhan kembali mengusap kelapa Arsyila sebelum pergi.
Cila terlihat malu dan bergegas meninggalkan Arhan dengan berlari kecil menuju kelasnya.
__ADS_1
"Cila..Cila,siapa lelaki tadi ?" tanya beberapa mahasiswa dengan rasa ingin tahu.
"Ehm..itu om aku " ucap jujur Cila dengan malu, padahal bisa saja Cila berbohong kalau dirinya tidak mengenal Arhan.
"Bilang sama om kamu salam kenal ya.." dengan percaya diri salah satu kakak tingkat menyampaikan salam pada Cila.
"Iya..nanti aku sampaikan" sebenarnya Cila merasa tidak nyaman.
'Awas..ya om,semua karena om nih..!!' Cila hanya bisa meremas ujung bajunya sebagai pelampiasan kekesalannya.
"Cila..Cila,boleh dong omnya buat aku " ujar kakak tingkat yang lain tidak kalah genit menurut Cila.
Cila menahan rasa kesalnya dengan tersenyum yang dipaksakan ingin rasanya dia menghilang saja detik itu juga.
Bersyukurnya malaikat yang tak bersayap selalu saja menolong Cila diwaktu yang tepat bila di butuhkan.
"Ayo..nanti telat loh " Aiza menggenggam erat tangan Cila dan melangkahkan kakinya meninggalkan para pengagum Arhan.
"Aiza.. terimakasih " dengan muka memerah Cila berucap seperti menahan marah.
"Untuk apa ?" Aiza bingung dengan ucapan terimakasih Cila.
"Pokoknya terimakasih kamu sudah menyelamatkan aku dari barisan kakak tingkat.
"Gue kira apa Cila.. sudahlah,ayo " ajak Aiza yang selalu memberikan kenyamanan kepada Cila.
Cila memperhatikan Aiza yang selalu memperhatikan dirinya dan selalu memberikan kenyamanan walaupun dirinya sendiri penuh dengan luka.
"Ada yang aneh dari wajah gue Cila ?" tanya Aiza yang sudah duduk didalam kelas.
"Ya..ada yang aneh,loe selalu bisa tersenyum" ujar Floren yang sudah datang lebih dulu.
"Bukankah senyum itu ibadah" balas Aiza dengan kembali tersenyum.
"Andai saja gue cowok,gue akan jatuh cinta sama loe Za.. " ucap Floren dengan serius.
"Tidak segampang itu orang jatuh cinta oyen..loe makin hari makin aneh saja " tegur Aiza pada Floren.
Arsyila sendiri hanya jadi pendengar dan penonton sebab dia mana mengerti soal semacam ini,dia lebih memilih buku bacaan, sedangkan Aiza dia cukup paham karena pamannya memiliki tiga putri ,dua diantaranya yang sudah lebih dewasa usianya dari Aiza dan selalu berganti pasangan yang Aiza tidak pernah mau tahu untuk urusan soal itu.
"Bukankah cinta datang tanpa alasan apapun.." kedua gadis dibuat bungkam dengan ucapan yang tidak diduga dari Cila yang tiba-tiba.
"Cila.." ujar Aiza dan Floren bersamaan.
"Seperti Aiza yang mau berteman dengan tulus dengan kekurangan gue begitu juga dengan loe Yen..yang selalu memberikan waktu loe bila gue butuh loe " dengan berkaca-kaca Cila berkata.
Akhirnya keduanya paham definisi cinta dimata Arsyila itu semacam kasih sayang yang tulus tanpa meminta balasan.
Ketiga gadis ini memiliki latar belakang keluarga yang berbeda tapi perbedaan itu membuat mereka saling melengkapi.
__ADS_1